Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Bayar kantong plastik

Yeay... finally... kebijakan plastik berbayar akhirnya terealisasi juga.

Fyi, Indonesia adalah penyumbang sampah terbesar di lautan nomor 2 setelah China. Jadi sudah saatnya merubah kebijakan dengan cara melabeli kantong plastik belanjaan sebesar 200 rupiah. Iya, hanya 200 rupiah saja. Untuk beli permen pun masih kurang uangnya. 

Kenapa saya senang sekali dengan kebijakan itu? Karena saya sudah amat sangat sebal dengan sampah plastik yang serba dimana-mana. Buang sampah juga sembarangan, akhirnya plastik dimana-mana. Semua pasti sudah mengerti lah kalau plastik itu proses terurainya 500-1000 tahun. Lamaaaá banget. Itu satu plastik. Dan nggak mungkin kan hanya ada satu?

Saya memang sudah terbiasa membeli tanpa meminta plastik belanjaan, selama barangnya memang bisa masuk tas. Beberapa kali belanja sama si pacar juga begitu. Dia selalu ngomel-ngomel kalau sudah mulai ngeliat sampah tercecer sembarangan. Dia sering bilang kalau Indonesia itu bagus, kenapa sih malah orang-orang Indonesia nggak sayang sama lingkungannya, sampah plastik dimana-mana, kan sayang. Gue mah buang sampah ditempat sampah, kalau dia ngomel-ngomel ke orang yg buang sampah sembarangan, imbasnya jadi ke gue deh, padahal gue buang sampah selalu ditempat sampah.

Teman saya yg di Jerman mengatakan kantong plastik disana dihargai sangat mahal, sehingga mereka yg belanjapun ogah ngeluarin uang banyak hanya untuk hal yg nantinya akan dibuang sia-sia. Jika di konversi ke rupiah, satu kantong plastik disana bisa seharga ratusan ribu. The question is : kenapa harga kantong plastik disini hanya 200 rupiah? Bukannya itu harga masih murah dan mungkin sebagian dari kita akan berpikir 'ahh cuman 200 juga, itu masih belom dapet kerupuk tuh'. Iya nggak?

Ok saya tidak mau terlalu mengkritisi, mungkin saja ini adalah tahap awal dari realisasi ini. Bisa jadi nanti satu kantong plastik seharga 10ribu. Nah kalau segini mah bener-bener males buat bayar kantong aja.

Hanya bisa berharap banyak orang yg akan sadar dengan adanya kebijakan ini. sudah saatnya kita menyelamatkan bumi yg sudah mulai kritis. Kasian buminya kalau setiap hari terus dibebani dengan sampah plastik kita.

Yuk.. safe earth! Love your family and environment ❤

Comments

  1. Iya, kebijakan gak banget. Cuman 200 rupiah mah gak ngefek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku jd mentrinya, langsung dah sekantong seratus ribu

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...