Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Sekolah menengah atau Sarjana

Kadangkala, atau mungkin bisa dibilang sering, kita para lulusan sarjana merasa belum memiliki asset apapun hingga beberapa tahun setelah lulus kuliah. Dan kemudian berucap “Ah, dia lulusan SMA/SMK aja udah punya mobil, punya rumah, aku kapan ya? Aku iri deh”. Nah, iri dalam hal apa? Pengumpulan asset kah? Jika iya, mari ditelisik satu-satu.

Lulusan SMA, terutama SMK adalah lulusan yang deprogram kerja setelah selesai kuliah. Apa program yang ditujukan untuk mereka? Mencari uang dan uang. Meskipun banyak dari mereka yang masih ingin sekolah, namun dituntut bekerja demi tuntutan. Otak mereka, kebanyakan tidak banyak berkomentar. Maaf, bukan maksud hati merendahkan, tapi kebanyakan atasan yang ditentang oleh karyawannya yang lulusan SMA akan beranggapan bahwa mereka para lulusan SMA “nggak punya hak” untuk mengungkapkan ide mereka. Syukur-syukur kalau kerja ditempat yang bisa mengembangkan daya pikir dan imajinasi mereka. Tapi kalau bekerja di tempat yang justru semakin membodohkan mereka ya gimana?

Mereka ditempa terlalu keras oleh lingkungan kerja. Maksud saya adalah mereka bekerja “sangat keras” setiap harinya dan mendapatkan gaji setara UMR. Sudah bagus, karena untuk perusahaan kecil-kecilan juga bisa menggaji sesuai UMR atau malah dibawahnya.

Sekarang bandingkan dengan para sarjana. Otak mereka dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir aja, tapi tindakannya dikit. Saya tidak akan mengatakan tindakannya nol lho ya. Hanya saja mereka memerlukan protein yang banyak untuk asupan selama bekerja. Bukan karbo macam nasi dua piring, singkong satu batang, karena mereka nggak akan bekerja dengan fisik mereka. Mereka bekerja dengan otak.

Dilihat dari tingkat sekolahnya, mereka jelas berbeda dalam berpikir dan dalam mencari kerja. Bagi para lulusan SMA/SMK, ketika mereka mencari kerja, mereka tidak akan pilih kasih. Maksudnya adalah semua pekerjaan dilamar dan apapun mereka mau menerimanya. Mau ditempatkan dibagian manapun juga mereka mau menerima. Asal mereka bisa kerja, tidak membebani orangtua, dan bisa beli jajan sendiri. untung-untung kalo bisa ngasih uang lebih ke orangtua. Karena mereka lebih bekerja menggunakan fisiknya, bukan otaknya.

Nah kalau dari lulusan sarjana nih, mereka cenderung pilih-pilih. Mau nyari kerja aja pilih-pilih, posisi juga pilih-pilih, gaji kalau nggak jauh dari UMR juga pilih-pilih, belom lagi yang iseng masih suka pilih-pilih penempatan lokasi kerja. Tuh kan, banyak maunya kan. Ya memang sih otak kita diprogram untuk menjadi pemilih. Memilih sesuatu yang sesuai dengan ilmu yang kita pelajari. Tapi kalau terlalu pemilih juga nggak baik.

Sekarang, bandingin lagi nih, lulusan SMA memiliki masa menabung selama 4 tahun sampai si sarjana lulus dari kuliahnya. Selama masa itu, mungkin mereka sudah bisa menyicil motor, rumah, ataupun properti yang lainnya disaat para sarjana sedang bingung dengan pekerjaan mana yang mereka pilih. Pekerjaannya lo yang dipilih, dipilih untuk dilamar..

Kenapa harus pilih-pilih pekerjaan untuk fresh graduate? Padahal nggak pernah ada jaminan kita akan stay ditempat yang sama sampai kita pensiun. Iya nggak? Kecuali kalau kita sebelum lulus sudah engaged by perusahaan multinasional atau malah internasional. Beda lagi urusannya. Anggap saja itu sebagai batu loncatan. Dan maksud saya bukan kita harus benar-benar nggak memilih semisal kerjaan yang ditawarkan itu menentang asal moralitas dan prinsip diri kita sendiri lho ya. Yah pinter-pinternya gimana lah. Sarjana harus pinter mikir lho, kan diprogram seperti itu 😀

Jadi jangan iri kalau lulusan SMA memiliki asset lebih banyak dari diri anda yang lulusan sarjana, karena mereka sudah save up 4 tahun lebih awal dari anda. Dan jangan juga salahkan jika mereka sudah memiliki jenjang karir yang bagus disaat anda baru mulai berkarir.

Lagi-lagi kembali kepada diri sendiri, apa yang anda prioritaskan? Mencari ilmu atau mencari uang? Karena saya yakin, mencari kedua hal itu sama sulitnya kok.nggak semudah ngepoin barang branded terbarunya mbak Syahrini.

 

Comments

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

BERDIKARI

Kau tahu kawan kepanjangan dari Berdikari?? Aku rasa, kebanyakan dari kita pasti tau itu kan??!! Yah, BERDIKARI adalah berdiri di kaki sendiri. Artinya??? Mandiri, tangguh, tidak bergantung pada orang lain. Itu yang sejak dulu di gaung-gaungkan kepada kita. Indonesia merupakan salah satu negara yg berkembang. Kita emang sih belum menjadi negara maju seperti Eropa atau Amerika atau negara manapun lah itu. Tapi jika sedikit ditelisik nih ya, kita merdeka adalah hasil perjuangan atau hasil pemberian?! Pasti kita dengan kepala tegak akan mengatakan "Perjuangan sendiri, kerja keras kami selama ratusan tahun". Iya! Benar. Kita merdeka atas keringat dan darah seluruh warga negara. Kita berdiri di tanah merdeka ini dengan kerja keras. Patut bangga? Patut!!! Karena merdeka dengan hasil sendiri, tidak ada negara lain yg menopang hidup kita. Kita berdiri, berjalan, dan berlari atas kemauan kita sendiri. Akibatnya apa? Akibatnya tidak akan ada negara lain yg mengurus kepentingan intern...