Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Sekolah menengah atau Sarjana

Kadangkala, atau mungkin bisa dibilang sering, kita para lulusan sarjana merasa belum memiliki asset apapun hingga beberapa tahun setelah lulus kuliah. Dan kemudian berucap “Ah, dia lulusan SMA/SMK aja udah punya mobil, punya rumah, aku kapan ya? Aku iri deh”. Nah, iri dalam hal apa? Pengumpulan asset kah? Jika iya, mari ditelisik satu-satu.

Lulusan SMA, terutama SMK adalah lulusan yang deprogram kerja setelah selesai kuliah. Apa program yang ditujukan untuk mereka? Mencari uang dan uang. Meskipun banyak dari mereka yang masih ingin sekolah, namun dituntut bekerja demi tuntutan. Otak mereka, kebanyakan tidak banyak berkomentar. Maaf, bukan maksud hati merendahkan, tapi kebanyakan atasan yang ditentang oleh karyawannya yang lulusan SMA akan beranggapan bahwa mereka para lulusan SMA “nggak punya hak” untuk mengungkapkan ide mereka. Syukur-syukur kalau kerja ditempat yang bisa mengembangkan daya pikir dan imajinasi mereka. Tapi kalau bekerja di tempat yang justru semakin membodohkan mereka ya gimana?

Mereka ditempa terlalu keras oleh lingkungan kerja. Maksud saya adalah mereka bekerja “sangat keras” setiap harinya dan mendapatkan gaji setara UMR. Sudah bagus, karena untuk perusahaan kecil-kecilan juga bisa menggaji sesuai UMR atau malah dibawahnya.

Sekarang bandingkan dengan para sarjana. Otak mereka dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir aja, tapi tindakannya dikit. Saya tidak akan mengatakan tindakannya nol lho ya. Hanya saja mereka memerlukan protein yang banyak untuk asupan selama bekerja. Bukan karbo macam nasi dua piring, singkong satu batang, karena mereka nggak akan bekerja dengan fisik mereka. Mereka bekerja dengan otak.

Dilihat dari tingkat sekolahnya, mereka jelas berbeda dalam berpikir dan dalam mencari kerja. Bagi para lulusan SMA/SMK, ketika mereka mencari kerja, mereka tidak akan pilih kasih. Maksudnya adalah semua pekerjaan dilamar dan apapun mereka mau menerimanya. Mau ditempatkan dibagian manapun juga mereka mau menerima. Asal mereka bisa kerja, tidak membebani orangtua, dan bisa beli jajan sendiri. untung-untung kalo bisa ngasih uang lebih ke orangtua. Karena mereka lebih bekerja menggunakan fisiknya, bukan otaknya.

Nah kalau dari lulusan sarjana nih, mereka cenderung pilih-pilih. Mau nyari kerja aja pilih-pilih, posisi juga pilih-pilih, gaji kalau nggak jauh dari UMR juga pilih-pilih, belom lagi yang iseng masih suka pilih-pilih penempatan lokasi kerja. Tuh kan, banyak maunya kan. Ya memang sih otak kita diprogram untuk menjadi pemilih. Memilih sesuatu yang sesuai dengan ilmu yang kita pelajari. Tapi kalau terlalu pemilih juga nggak baik.

Sekarang, bandingin lagi nih, lulusan SMA memiliki masa menabung selama 4 tahun sampai si sarjana lulus dari kuliahnya. Selama masa itu, mungkin mereka sudah bisa menyicil motor, rumah, ataupun properti yang lainnya disaat para sarjana sedang bingung dengan pekerjaan mana yang mereka pilih. Pekerjaannya lo yang dipilih, dipilih untuk dilamar..

Kenapa harus pilih-pilih pekerjaan untuk fresh graduate? Padahal nggak pernah ada jaminan kita akan stay ditempat yang sama sampai kita pensiun. Iya nggak? Kecuali kalau kita sebelum lulus sudah engaged by perusahaan multinasional atau malah internasional. Beda lagi urusannya. Anggap saja itu sebagai batu loncatan. Dan maksud saya bukan kita harus benar-benar nggak memilih semisal kerjaan yang ditawarkan itu menentang asal moralitas dan prinsip diri kita sendiri lho ya. Yah pinter-pinternya gimana lah. Sarjana harus pinter mikir lho, kan diprogram seperti itu 😀

Jadi jangan iri kalau lulusan SMA memiliki asset lebih banyak dari diri anda yang lulusan sarjana, karena mereka sudah save up 4 tahun lebih awal dari anda. Dan jangan juga salahkan jika mereka sudah memiliki jenjang karir yang bagus disaat anda baru mulai berkarir.

Lagi-lagi kembali kepada diri sendiri, apa yang anda prioritaskan? Mencari ilmu atau mencari uang? Karena saya yakin, mencari kedua hal itu sama sulitnya kok.nggak semudah ngepoin barang branded terbarunya mbak Syahrini.

 

Comments

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter