Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

Sekolah menengah atau Sarjana

Kadangkala, atau mungkin bisa dibilang sering, kita para lulusan sarjana merasa belum memiliki asset apapun hingga beberapa tahun setelah lulus kuliah. Dan kemudian berucap “Ah, dia lulusan SMA/SMK aja udah punya mobil, punya rumah, aku kapan ya? Aku iri deh”. Nah, iri dalam hal apa? Pengumpulan asset kah? Jika iya, mari ditelisik satu-satu.

Lulusan SMA, terutama SMK adalah lulusan yang deprogram kerja setelah selesai kuliah. Apa program yang ditujukan untuk mereka? Mencari uang dan uang. Meskipun banyak dari mereka yang masih ingin sekolah, namun dituntut bekerja demi tuntutan. Otak mereka, kebanyakan tidak banyak berkomentar. Maaf, bukan maksud hati merendahkan, tapi kebanyakan atasan yang ditentang oleh karyawannya yang lulusan SMA akan beranggapan bahwa mereka para lulusan SMA “nggak punya hak” untuk mengungkapkan ide mereka. Syukur-syukur kalau kerja ditempat yang bisa mengembangkan daya pikir dan imajinasi mereka. Tapi kalau bekerja di tempat yang justru semakin membodohkan mereka ya gimana?

Mereka ditempa terlalu keras oleh lingkungan kerja. Maksud saya adalah mereka bekerja “sangat keras” setiap harinya dan mendapatkan gaji setara UMR. Sudah bagus, karena untuk perusahaan kecil-kecilan juga bisa menggaji sesuai UMR atau malah dibawahnya.

Sekarang bandingkan dengan para sarjana. Otak mereka dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir aja, tapi tindakannya dikit. Saya tidak akan mengatakan tindakannya nol lho ya. Hanya saja mereka memerlukan protein yang banyak untuk asupan selama bekerja. Bukan karbo macam nasi dua piring, singkong satu batang, karena mereka nggak akan bekerja dengan fisik mereka. Mereka bekerja dengan otak.

Dilihat dari tingkat sekolahnya, mereka jelas berbeda dalam berpikir dan dalam mencari kerja. Bagi para lulusan SMA/SMK, ketika mereka mencari kerja, mereka tidak akan pilih kasih. Maksudnya adalah semua pekerjaan dilamar dan apapun mereka mau menerimanya. Mau ditempatkan dibagian manapun juga mereka mau menerima. Asal mereka bisa kerja, tidak membebani orangtua, dan bisa beli jajan sendiri. untung-untung kalo bisa ngasih uang lebih ke orangtua. Karena mereka lebih bekerja menggunakan fisiknya, bukan otaknya.

Nah kalau dari lulusan sarjana nih, mereka cenderung pilih-pilih. Mau nyari kerja aja pilih-pilih, posisi juga pilih-pilih, gaji kalau nggak jauh dari UMR juga pilih-pilih, belom lagi yang iseng masih suka pilih-pilih penempatan lokasi kerja. Tuh kan, banyak maunya kan. Ya memang sih otak kita diprogram untuk menjadi pemilih. Memilih sesuatu yang sesuai dengan ilmu yang kita pelajari. Tapi kalau terlalu pemilih juga nggak baik.

Sekarang, bandingin lagi nih, lulusan SMA memiliki masa menabung selama 4 tahun sampai si sarjana lulus dari kuliahnya. Selama masa itu, mungkin mereka sudah bisa menyicil motor, rumah, ataupun properti yang lainnya disaat para sarjana sedang bingung dengan pekerjaan mana yang mereka pilih. Pekerjaannya lo yang dipilih, dipilih untuk dilamar..

Kenapa harus pilih-pilih pekerjaan untuk fresh graduate? Padahal nggak pernah ada jaminan kita akan stay ditempat yang sama sampai kita pensiun. Iya nggak? Kecuali kalau kita sebelum lulus sudah engaged by perusahaan multinasional atau malah internasional. Beda lagi urusannya. Anggap saja itu sebagai batu loncatan. Dan maksud saya bukan kita harus benar-benar nggak memilih semisal kerjaan yang ditawarkan itu menentang asal moralitas dan prinsip diri kita sendiri lho ya. Yah pinter-pinternya gimana lah. Sarjana harus pinter mikir lho, kan diprogram seperti itu 😀

Jadi jangan iri kalau lulusan SMA memiliki asset lebih banyak dari diri anda yang lulusan sarjana, karena mereka sudah save up 4 tahun lebih awal dari anda. Dan jangan juga salahkan jika mereka sudah memiliki jenjang karir yang bagus disaat anda baru mulai berkarir.

Lagi-lagi kembali kepada diri sendiri, apa yang anda prioritaskan? Mencari ilmu atau mencari uang? Karena saya yakin, mencari kedua hal itu sama sulitnya kok.nggak semudah ngepoin barang branded terbarunya mbak Syahrini.

 

Comments

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Selamat hari guru

Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem. Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua! Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya.  ...