Skip to main content

Surviving -20 Celcius in Moscow

frozen lake in Moscow I'd say surviving because I am a tropical girl coming from 30-35 degree Celcius. So yes, this is about surviving such differences in temperature. I spent my whole life in a tropical country then I have to be in a -20 celcius, not an easy situation.  Obviously, I came prepared. I have been in a 0 celcius and learned that double triple layering is the right answer. Moscow has heater that runs nonstop since the beginning of (probably, I dont remember) November until early May. So you technically can not turn it off or on. Many days it gets too hot inside. Going to the mall in Moscow got me super sleepy and tired because it feels most of the time like in Sauna. So, double triple layering in Moscow is the right thing to do.  November temperature usually started to feel chilly, still not lower than 0. December will get colder can be minus. But January and February are the coldest season. This year dropped to -20 (that I can remember). The average temperature wa...

Sekolah menengah atau Sarjana

Kadangkala, atau mungkin bisa dibilang sering, kita para lulusan sarjana merasa belum memiliki asset apapun hingga beberapa tahun setelah lulus kuliah. Dan kemudian berucap “Ah, dia lulusan SMA/SMK aja udah punya mobil, punya rumah, aku kapan ya? Aku iri deh”. Nah, iri dalam hal apa? Pengumpulan asset kah? Jika iya, mari ditelisik satu-satu.

Lulusan SMA, terutama SMK adalah lulusan yang deprogram kerja setelah selesai kuliah. Apa program yang ditujukan untuk mereka? Mencari uang dan uang. Meskipun banyak dari mereka yang masih ingin sekolah, namun dituntut bekerja demi tuntutan. Otak mereka, kebanyakan tidak banyak berkomentar. Maaf, bukan maksud hati merendahkan, tapi kebanyakan atasan yang ditentang oleh karyawannya yang lulusan SMA akan beranggapan bahwa mereka para lulusan SMA “nggak punya hak” untuk mengungkapkan ide mereka. Syukur-syukur kalau kerja ditempat yang bisa mengembangkan daya pikir dan imajinasi mereka. Tapi kalau bekerja di tempat yang justru semakin membodohkan mereka ya gimana?

Mereka ditempa terlalu keras oleh lingkungan kerja. Maksud saya adalah mereka bekerja “sangat keras” setiap harinya dan mendapatkan gaji setara UMR. Sudah bagus, karena untuk perusahaan kecil-kecilan juga bisa menggaji sesuai UMR atau malah dibawahnya.

Sekarang bandingkan dengan para sarjana. Otak mereka dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir aja, tapi tindakannya dikit. Saya tidak akan mengatakan tindakannya nol lho ya. Hanya saja mereka memerlukan protein yang banyak untuk asupan selama bekerja. Bukan karbo macam nasi dua piring, singkong satu batang, karena mereka nggak akan bekerja dengan fisik mereka. Mereka bekerja dengan otak.

Dilihat dari tingkat sekolahnya, mereka jelas berbeda dalam berpikir dan dalam mencari kerja. Bagi para lulusan SMA/SMK, ketika mereka mencari kerja, mereka tidak akan pilih kasih. Maksudnya adalah semua pekerjaan dilamar dan apapun mereka mau menerimanya. Mau ditempatkan dibagian manapun juga mereka mau menerima. Asal mereka bisa kerja, tidak membebani orangtua, dan bisa beli jajan sendiri. untung-untung kalo bisa ngasih uang lebih ke orangtua. Karena mereka lebih bekerja menggunakan fisiknya, bukan otaknya.

Nah kalau dari lulusan sarjana nih, mereka cenderung pilih-pilih. Mau nyari kerja aja pilih-pilih, posisi juga pilih-pilih, gaji kalau nggak jauh dari UMR juga pilih-pilih, belom lagi yang iseng masih suka pilih-pilih penempatan lokasi kerja. Tuh kan, banyak maunya kan. Ya memang sih otak kita diprogram untuk menjadi pemilih. Memilih sesuatu yang sesuai dengan ilmu yang kita pelajari. Tapi kalau terlalu pemilih juga nggak baik.

Sekarang, bandingin lagi nih, lulusan SMA memiliki masa menabung selama 4 tahun sampai si sarjana lulus dari kuliahnya. Selama masa itu, mungkin mereka sudah bisa menyicil motor, rumah, ataupun properti yang lainnya disaat para sarjana sedang bingung dengan pekerjaan mana yang mereka pilih. Pekerjaannya lo yang dipilih, dipilih untuk dilamar..

Kenapa harus pilih-pilih pekerjaan untuk fresh graduate? Padahal nggak pernah ada jaminan kita akan stay ditempat yang sama sampai kita pensiun. Iya nggak? Kecuali kalau kita sebelum lulus sudah engaged by perusahaan multinasional atau malah internasional. Beda lagi urusannya. Anggap saja itu sebagai batu loncatan. Dan maksud saya bukan kita harus benar-benar nggak memilih semisal kerjaan yang ditawarkan itu menentang asal moralitas dan prinsip diri kita sendiri lho ya. Yah pinter-pinternya gimana lah. Sarjana harus pinter mikir lho, kan diprogram seperti itu 😀

Jadi jangan iri kalau lulusan SMA memiliki asset lebih banyak dari diri anda yang lulusan sarjana, karena mereka sudah save up 4 tahun lebih awal dari anda. Dan jangan juga salahkan jika mereka sudah memiliki jenjang karir yang bagus disaat anda baru mulai berkarir.

Lagi-lagi kembali kepada diri sendiri, apa yang anda prioritaskan? Mencari ilmu atau mencari uang? Karena saya yakin, mencari kedua hal itu sama sulitnya kok.nggak semudah ngepoin barang branded terbarunya mbak Syahrini.

 

Comments

Popular posts from this blog

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...

Rough Guide to Bali

Penjor "Hey I am coming to Bali, can you recommend me things to do?" I got that question a lot. I get it, I live in Bali so people would think that I master everything about Bali. Well... 50:50. I happened to travel around Bali since 2017. So it wasn't wrong to assume me knowing Bali. But I am also a lazy traveler so I don't always do many things in one place.  That is why we will call this a rough guide to Bali.  First thing first, define your style of traveling. Because we all know that Bali is an island. Not a city. So it is quite big, you know. You can not explore all of it in two weeks. Well you might be able to do so, but probably not immersing enough of it.  So... what is your style of traveling? Bali offers you some cultures, quiet normal life, party hotspots, quiet beaches, busy beaches, temples, and so on.  Mt Batur West part of Bali (Canggu, Seminyak, Kuta) If you enjoy partying, you might want to spend your time more in the west part of Bali like Canggu, ...

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...