Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Bayar kantong plastik

Yeay... finally... kebijakan plastik berbayar akhirnya terealisasi juga.

Fyi, Indonesia adalah penyumbang sampah terbesar di lautan nomor 2 setelah China. Jadi sudah saatnya merubah kebijakan dengan cara melabeli kantong plastik belanjaan sebesar 200 rupiah. Iya, hanya 200 rupiah saja. Untuk beli permen pun masih kurang uangnya. 

Kenapa saya senang sekali dengan kebijakan itu? Karena saya sudah amat sangat sebal dengan sampah plastik yang serba dimana-mana. Buang sampah juga sembarangan, akhirnya plastik dimana-mana. Semua pasti sudah mengerti lah kalau plastik itu proses terurainya 500-1000 tahun. Lamaaaá banget. Itu satu plastik. Dan nggak mungkin kan hanya ada satu?

Saya memang sudah terbiasa membeli tanpa meminta plastik belanjaan, selama barangnya memang bisa masuk tas. Beberapa kali belanja sama si pacar juga begitu. Dia selalu ngomel-ngomel kalau sudah mulai ngeliat sampah tercecer sembarangan. Dia sering bilang kalau Indonesia itu bagus, kenapa sih malah orang-orang Indonesia nggak sayang sama lingkungannya, sampah plastik dimana-mana, kan sayang. Gue mah buang sampah ditempat sampah, kalau dia ngomel-ngomel ke orang yg buang sampah sembarangan, imbasnya jadi ke gue deh, padahal gue buang sampah selalu ditempat sampah.

Teman saya yg di Jerman mengatakan kantong plastik disana dihargai sangat mahal, sehingga mereka yg belanjapun ogah ngeluarin uang banyak hanya untuk hal yg nantinya akan dibuang sia-sia. Jika di konversi ke rupiah, satu kantong plastik disana bisa seharga ratusan ribu. The question is : kenapa harga kantong plastik disini hanya 200 rupiah? Bukannya itu harga masih murah dan mungkin sebagian dari kita akan berpikir 'ahh cuman 200 juga, itu masih belom dapet kerupuk tuh'. Iya nggak?

Ok saya tidak mau terlalu mengkritisi, mungkin saja ini adalah tahap awal dari realisasi ini. Bisa jadi nanti satu kantong plastik seharga 10ribu. Nah kalau segini mah bener-bener males buat bayar kantong aja.

Hanya bisa berharap banyak orang yg akan sadar dengan adanya kebijakan ini. sudah saatnya kita menyelamatkan bumi yg sudah mulai kritis. Kasian buminya kalau setiap hari terus dibebani dengan sampah plastik kita.

Yuk.. safe earth! Love your family and environment ❤

Comments

  1. Iya, kebijakan gak banget. Cuman 200 rupiah mah gak ngefek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku jd mentrinya, langsung dah sekantong seratus ribu

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men