Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Budaya pamer

Budaya pamer yang mengakar di hati rakyat Indonesia.

"Apapun yang terjadi yg penting dilihat orang itu keren".
Nah tau nggak itu gimana asalnya? Gimana caranya, yg pentin keliatan wah. Dilihat dari status negara kita yang berstatus negara berkembang, dengan pendapatan perkapita yg masih rendah. UMR pun untuk Surabaya sekitar 3juta lebih dikit, itu juga baru ada kenaikan taun 2016 ini.

Anggap saja dengan gaji 3 juta, kita masih sewa atau kontrak rumah seharga 500ribu (minimal), masih perlu biaya makan anggap saja perhari 30ribu, belum lagi bayar kebutuhan pokok lainnya misal listrik, air, pulsa, bensin dan lain2. Pukul rata dg perhitungan seperti itu, sisa gaji perbulan sekitar 1juta. Udah bagus sih kalo emang sisa segitu. Tapii dengan sisa gaji segitu dia maunya beli hp merk buah yg terbaru *you know what I mean kan*. Tasnya pengen yg merk Hermes, Sepatunya maunya cuman jimmy choo, bajunya minta Prada, jam tangannya maunya yg Alexander Christy. Nah maksa gak? Hanya demi pengakuan orang lain yg ketika melihat dia akan berujar "Wahhh... gila ya, keren tuh orang. Barang2nya bermerk semuanya".
Padahal ada temen dari barat sana punya gaji gede tp masih ngerasa hp merk buah itu masih mahal lho

Poinnya apa kalo orang bisa bilang gitu? Seneng? Bangga karena dikira kaya?? Eh jangan salah lho, tindak kejahatan bisa muncul krn kebodohan diri sendiri yg suka pamer. Tapi kasian malingnya sih jadinya karena salah sasaran haha.

Kadang bingung juga kenapa kita harus pamer kekayaan ke orang lain? Apa karena status sosial yg tinggi itu jauh lebih dipandang begitu? Jauh lebih dihargai karena kita memiliki banyak uang? Hmm mungkin karena budaya yg membudidaya seperti itu dari jaman kolonial. Tapi mikir deh sekali lagi, apa pentingnya pamer? Salah salah malah mendatangkan musibah krn kita jd incaran penjahat.

Jadi social climber itu nggak salah kok, setiap manusia pastinya ingin memiliki status sosial yg lebih tinggi. Tapi kalau tujuannya untuk pamer, ya buat apa. Nambahin dosa kali hehe..

Pengen nunjukkin ke orang kalau traveling suka naik pesawat *meskipun dg rupiah kurang dari 100ribu you can fly*? pengen nunjukin ke orang laen kalau nginep maunya cuman di hotel bintang 5 dengan biaya sekali gaji UMR permalamnya? Apalah apalah itu fungsinya...

Menurut kacamata saya sendiri sih, tidaklah kita perlu pamer demi memuaskan diri sendiri dg pujian dari orang lain seperti itu. Karena itu tiada guna kawan. Bolehlah kita sekali2 menjajal bepergian dengan pesawat, tapi kita juga tidak alergi ketika kita harus naek angkot dg tarif jauh dekat 4ribu. Bolehlah sekali2 makan di restoran mahal dan enak dg gaya elegan tp tidak katrok, dan janganlah lebai ketika makan di warteg seharga 10ribu per porsi yg enaknya udah luar biasa *kalo pas beruntung sih hehe*.

Hidup itu yg penting dinikmati tanpa pamer sana sini. Bahagia itu sederhana kok sebenernya. Yang paling penting value dalam diri kita yg menjadikan kita jadi orang yg disegani orang lain bukan karena kita kaya dan banyak uangnya, tp karena kecerdasan dan kebersahajaan diri kita yg memang membuat diri kita pantas dihargai tinggi dan diperhitungkan.

Karena dimata Tuhan, sejatinya engkau tidak dilihat dari berapa benda bermerk yg kau miliki. Tapi dari akhlak dan bermanfaat atau tidaknya kau untuk orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...