Budaya pamer

11:17 AM

Budaya pamer yang mengakar di hati rakyat Indonesia.

"Apapun yang terjadi yg penting dilihat orang itu keren".
Nah tau nggak itu gimana asalnya? Gimana caranya, yg pentin keliatan wah. Dilihat dari status negara kita yang berstatus negara berkembang, dengan pendapatan perkapita yg masih rendah. UMR pun untuk Surabaya sekitar 3juta lebih dikit, itu juga baru ada kenaikan taun 2016 ini.

Anggap saja dengan gaji 3 juta, kita masih sewa atau kontrak rumah seharga 500ribu (minimal), masih perlu biaya makan anggap saja perhari 30ribu, belum lagi bayar kebutuhan pokok lainnya misal listrik, air, pulsa, bensin dan lain2. Pukul rata dg perhitungan seperti itu, sisa gaji perbulan sekitar 1juta. Udah bagus sih kalo emang sisa segitu. Tapii dengan sisa gaji segitu dia maunya beli hp merk buah yg terbaru *you know what I mean kan*. Tasnya pengen yg merk Hermes, Sepatunya maunya cuman jimmy choo, bajunya minta Prada, jam tangannya maunya yg Alexander Christy. Nah maksa gak? Hanya demi pengakuan orang lain yg ketika melihat dia akan berujar "Wahhh... gila ya, keren tuh orang. Barang2nya bermerk semuanya".
Padahal ada temen dari barat sana punya gaji gede tp masih ngerasa hp merk buah itu masih mahal lho

Poinnya apa kalo orang bisa bilang gitu? Seneng? Bangga karena dikira kaya?? Eh jangan salah lho, tindak kejahatan bisa muncul krn kebodohan diri sendiri yg suka pamer. Tapi kasian malingnya sih jadinya karena salah sasaran haha.

Kadang bingung juga kenapa kita harus pamer kekayaan ke orang lain? Apa karena status sosial yg tinggi itu jauh lebih dipandang begitu? Jauh lebih dihargai karena kita memiliki banyak uang? Hmm mungkin karena budaya yg membudidaya seperti itu dari jaman kolonial. Tapi mikir deh sekali lagi, apa pentingnya pamer? Salah salah malah mendatangkan musibah krn kita jd incaran penjahat.

Jadi social climber itu nggak salah kok, setiap manusia pastinya ingin memiliki status sosial yg lebih tinggi. Tapi kalau tujuannya untuk pamer, ya buat apa. Nambahin dosa kali hehe..

Pengen nunjukkin ke orang kalau traveling suka naik pesawat *meskipun dg rupiah kurang dari 100ribu you can fly*? pengen nunjukin ke orang laen kalau nginep maunya cuman di hotel bintang 5 dengan biaya sekali gaji UMR permalamnya? Apalah apalah itu fungsinya...

Menurut kacamata saya sendiri sih, tidaklah kita perlu pamer demi memuaskan diri sendiri dg pujian dari orang lain seperti itu. Karena itu tiada guna kawan. Bolehlah kita sekali2 menjajal bepergian dengan pesawat, tapi kita juga tidak alergi ketika kita harus naek angkot dg tarif jauh dekat 4ribu. Bolehlah sekali2 makan di restoran mahal dan enak dg gaya elegan tp tidak katrok, dan janganlah lebai ketika makan di warteg seharga 10ribu per porsi yg enaknya udah luar biasa *kalo pas beruntung sih hehe*.

Hidup itu yg penting dinikmati tanpa pamer sana sini. Bahagia itu sederhana kok sebenernya. Yang paling penting value dalam diri kita yg menjadikan kita jadi orang yg disegani orang lain bukan karena kita kaya dan banyak uangnya, tp karena kecerdasan dan kebersahajaan diri kita yg memang membuat diri kita pantas dihargai tinggi dan diperhitungkan.

Karena dimata Tuhan, sejatinya engkau tidak dilihat dari berapa benda bermerk yg kau miliki. Tapi dari akhlak dan bermanfaat atau tidaknya kau untuk orang lain.

You Might Also Like

0 komentar

Let me know what you think about mine ~ Share it here