Skip to main content

Rough Guide to Bali

Penjor "Hey I am coming to Bali, can you recommend me things to do?" I got that question a lot. I get it, I live in Bali so people would think that I master everything about Bali. Well... 50:50. I happened to travel around Bali since 2017. So it wasn't wrong to assume me knowing Bali. But I am also a lazy traveler so I don't always do many things in one place.  That is why we will call this a rough guide to Bali.  First thing first, define your style of traveling. Because we all know that Bali is an island. Not a city. So it is quite big, you know. You can not explore all of it in two weeks. Well you might be able to do so, but probably not immersing enough of it.  So... what is your style of traveling? Bali offers you some cultures, quiet normal life, party hotspots, quiet beaches, busy beaches, temples, and so on.  Mt Batur West part of Bali (Canggu, Seminyak, Kuta) If you enjoy partying, you might want to spend your time more in the west part of Bali like Canggu, ...

Budaya pamer

Budaya pamer yang mengakar di hati rakyat Indonesia.

"Apapun yang terjadi yg penting dilihat orang itu keren".
Nah tau nggak itu gimana asalnya? Gimana caranya, yg pentin keliatan wah. Dilihat dari status negara kita yang berstatus negara berkembang, dengan pendapatan perkapita yg masih rendah. UMR pun untuk Surabaya sekitar 3juta lebih dikit, itu juga baru ada kenaikan taun 2016 ini.

Anggap saja dengan gaji 3 juta, kita masih sewa atau kontrak rumah seharga 500ribu (minimal), masih perlu biaya makan anggap saja perhari 30ribu, belum lagi bayar kebutuhan pokok lainnya misal listrik, air, pulsa, bensin dan lain2. Pukul rata dg perhitungan seperti itu, sisa gaji perbulan sekitar 1juta. Udah bagus sih kalo emang sisa segitu. Tapii dengan sisa gaji segitu dia maunya beli hp merk buah yg terbaru *you know what I mean kan*. Tasnya pengen yg merk Hermes, Sepatunya maunya cuman jimmy choo, bajunya minta Prada, jam tangannya maunya yg Alexander Christy. Nah maksa gak? Hanya demi pengakuan orang lain yg ketika melihat dia akan berujar "Wahhh... gila ya, keren tuh orang. Barang2nya bermerk semuanya".
Padahal ada temen dari barat sana punya gaji gede tp masih ngerasa hp merk buah itu masih mahal lho

Poinnya apa kalo orang bisa bilang gitu? Seneng? Bangga karena dikira kaya?? Eh jangan salah lho, tindak kejahatan bisa muncul krn kebodohan diri sendiri yg suka pamer. Tapi kasian malingnya sih jadinya karena salah sasaran haha.

Kadang bingung juga kenapa kita harus pamer kekayaan ke orang lain? Apa karena status sosial yg tinggi itu jauh lebih dipandang begitu? Jauh lebih dihargai karena kita memiliki banyak uang? Hmm mungkin karena budaya yg membudidaya seperti itu dari jaman kolonial. Tapi mikir deh sekali lagi, apa pentingnya pamer? Salah salah malah mendatangkan musibah krn kita jd incaran penjahat.

Jadi social climber itu nggak salah kok, setiap manusia pastinya ingin memiliki status sosial yg lebih tinggi. Tapi kalau tujuannya untuk pamer, ya buat apa. Nambahin dosa kali hehe..

Pengen nunjukkin ke orang kalau traveling suka naik pesawat *meskipun dg rupiah kurang dari 100ribu you can fly*? pengen nunjukin ke orang laen kalau nginep maunya cuman di hotel bintang 5 dengan biaya sekali gaji UMR permalamnya? Apalah apalah itu fungsinya...

Menurut kacamata saya sendiri sih, tidaklah kita perlu pamer demi memuaskan diri sendiri dg pujian dari orang lain seperti itu. Karena itu tiada guna kawan. Bolehlah kita sekali2 menjajal bepergian dengan pesawat, tapi kita juga tidak alergi ketika kita harus naek angkot dg tarif jauh dekat 4ribu. Bolehlah sekali2 makan di restoran mahal dan enak dg gaya elegan tp tidak katrok, dan janganlah lebai ketika makan di warteg seharga 10ribu per porsi yg enaknya udah luar biasa *kalo pas beruntung sih hehe*.

Hidup itu yg penting dinikmati tanpa pamer sana sini. Bahagia itu sederhana kok sebenernya. Yang paling penting value dalam diri kita yg menjadikan kita jadi orang yg disegani orang lain bukan karena kita kaya dan banyak uangnya, tp karena kecerdasan dan kebersahajaan diri kita yg memang membuat diri kita pantas dihargai tinggi dan diperhitungkan.

Karena dimata Tuhan, sejatinya engkau tidak dilihat dari berapa benda bermerk yg kau miliki. Tapi dari akhlak dan bermanfaat atau tidaknya kau untuk orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...

UN menentukan nasib pelajar Indonesia

Sekali lagi, tulisan ini hanya mengungkapkan apa yg ada dipikiran, benak, emosi, dan semuanya lah soal UAN. Mungkin ada juga orang yg berpikiran sama seperti saya. Ini saya hanya mengungkapkan apa yg ingin saya ungkapkan saja. Bukan maksud lain. Kalau toh dijadikan bahan renungan bagi pihak yg bersangkutan ya ndak apa-apa sih. Ok, here is what I think about UAN UAN, ato banyak juga yg bilang UN, kemarin saya melihat tayangan acara Sudut Pandang-nya mbak Fifi Aleyda Yahya di Metro TV, judulnya UN = Ujian Nasib. Bener ndak? Menurut saya iya. Saya sempat mengikuti beberapa segmen saja, namun yg sangat saya ingat adalah seorang anak juara kelas tidak lulus dan mengikuti UN sampai 3 kali hingga lulus. Hal ini dikarenakan dia ingin mendapatkan hasil UN yg jujur. Kasus pertama. Kasus kedua, ada seorang anak yang baru saja mengikuti UN, dan mengirim surat ke menteri pendidikan. Surat yg dia tulis dishare melalui semua media masa yang ada. Hingga akhirnya dia diundang di acara Hitam Putih-ny...

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena suami gw dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya dia dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya dia. Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. Dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Gw belum pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ada pengalaman bikin visa kecuali  Visa Sosial...