Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Serba serbi pernikahan

Tiba-tiba ingin menuliskan sesuatu tentang pernikahan di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Yang mana ketika menikah, mereka akan menikah secara agama dan mencatatkan pernikahan mereka secara sipil. Untuk orang Islam, biasanya dilakukan ijab Kabul (untuk umat yang lainnya tentunya mereka memiliki cara tersendiri untuk menikah secara agama) kemudian lanjut dengan resepsi pernikahan.

Untuk ijab Kabul, bisa dilakukan di KUA atau di rumah atau di masjid tergantung keinginan si empunya hajat. Kalau saya sih ingin dirumah. Nah  setelah acara prosesi nikah secara agama ini selesai, barulah mereka mengadakan resepsi yang biasanya mengundang ribuan orang *beken amat nih orang punya ribuan kenalan*. Resepsi di Indonesia biasanya si pengantin baru duduk (sebut saja berdiri) dipelaminan, senyum sampai giginya kering, cipika cipiki sama undangan yang ngasih ucapan selamat, berfoto begitu seterusnya hingga acara selesai. Kalau di gedung sih biasanya maksimal 4-5 jam. Kalau dirumah bisa 24 jam bahkan lebih, apalagi bagi yang ingin pernikahan ala adat *adat Jawa misalnya*. Dijamin deh perlu minimal 3 hari untuk menyelesaikan semua sesi acara nikahan itu.

Bisa dibayangkan bagaimana ribetnya?

Bisa, ini mah yang jadi hal paling horror dari sesi hura-hura di nikahan

Ada banyak alasan yang melatarbelakangi orang ingin “membuang” banyak uang untuk resepsi pernikahan, diantara adalah :

1.       Syukuran. Boleh lah kita berniat acara nikahan sebagai acara syukuran dan berbagi kebahagiaan dihari bahagia kita. Tapi kalau sudah diniati syukuran, jangan berharap pada isi amplop yang akan diberikan undangan ya. Saya heran, ada tetangga yang niat syukuran dan memang nggak mau dikasih amplopan tapi yang ribet malah tetangga-tetangganya. Malah dibilang “ya meskipun ingin syukuran tapi kan nggak etis kalau nggak nerima amplopan kita”. Nggak etis dari mana sih, wong yang punya hajat aja udah terang-terangan bilang nggak usah ngamplopin.

2.       Melestarikan budaya. Indonesia yang punya jutaan budaya termasuk budaya dalam menikahkan anak, sayang kalau hilang tergerus jaman. Okelah ini alasan yang masih agak bisa diterima akal karena memang saya pun suka dengan pernikahan ala Jawa. Hanya saja saya agak ogah kalau pernikahan saya yang dibikin ala Jawa. Ribet. Suka liat orang lain yang ribet aja.

3.       Nah yang satu ini agak gak penting banget. Karena GENGSI. Apalah gengsi, kenapa juga gengsi? Apa mentang-mentang kita punya jabatan tinggi kemudian kita harus menikah yang super mewah dan menghabiskan banyak dana dalam semalam? Hanya karena untuk mengejar gengsi. Let say kita pukul rata biaya nikah disini sekitar 50 juta itu kalau pakai gedung. Itu yang paling murah lho.. ada yang diatas 100juta. Dan habis dalam semalam. Saya hanya bisa mengelus dada dan mikir “itu bisa buat DP rumah”.

Mau pesen makanan vendor ini, dibilang jangan nanti diomongin orang. Mau pakai yg itu, jangan nanti diomongin jelek sama orang. Ahh sudahlah.. memaki dan menghina itu manusiawi kok. Sebagus-bagusnya nikahan, atau sejelek-jeleknya pesta nikahan, pasti masih ada yang cacat. Beneran lho, kalau Cuma demi gengsi, mending jangan deh. Karena berapapun jumlah uang yang kita habiskan, cibiran tetap akan datang. Negative thinking banget nih gue.

Siapa sih yang ingin pernikahannya diingat sepanjang masa? Pastilah kita semua ingin membuat pernikahan yang berkesan bahkan bagi orang lain. Kalau saya sih, ingin pernikahan yg sederhana, yang elegan, dan tidak menghabiskan banyak uang hahaha. Tentunya hanya dengan mengundang keluarga besar dan teman dekat saja. Dan tidak menghabiskan banyak waktu. Buat apa acara pesta gede-gedean kalau ujung-ujungnya pusing dan gak jadi malam pertama sama suami. Kan sayang. Mana mau mereka tanggung jawab. Iya kan??

Saya melihat satu hal yang minus disini, ketika menggelar acara hajatan dan harus berada dipelaminan. Kita mengundang tamu, untuk datang ke acara bahagia kita, mendoakan kita yang terbaik, tapi kita justru ada didepan dan hanya berbicara dengan mereka ketika berfoto. Agak miris sih sebenarnya. Karena ada beberapa teman dekat yang berada jauh dari kita, merelakan waktunya untuk datang ke acara kita, tapi kita nggak ada waktu untuk ngobrol dengan mereka. Momen ini harusnya menjadi momen kumpul-kumpul yang menyenangkan. Jadi bukan senyum palsu yang ditampilkan. Melainkan senyum yang benar-benar bahagia karena di hari bahagia kita bisa berbicara dengan teman dekat kita dan juga keluarga yang lainnya. Jadi pesta bukan sekedar formalitas you know.

Semakin kesini saya semakin menginginkan pernikahan yang sederhana. Pernikahan yang sah dimata agama dan negara. Cukup dengan ijab Kabul yang dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat saja. Tentunya tidak akan menghabiskan banyak uang sia-sia. Bukannya pelit untuk acara huru hara, tapi akan lebih baik jika diminimalisir pengeluaran untuk pesta. Memang, menurut ajaran islam, disarankan menggelar pesta pernikahan untuk mengumumkan bahwa seorang telah menikah. Tapi jaman segini, media sosial juga udah banyak sih buat ngumumin kalau udah nikah. Biar nggak jadi fitnah begitu.

Kembali lagi kepada keinginan masing-masing. kalau memang budget mencukupi, niatnya baik, semua ok, ya why not?

Tapi inget juga, jangan hanya mengejar gengsi yang hanya menimbulkan banyak masalah esok harinya

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...