Minggu, 29 Januari 2017

[Piknik] Belajar Menenun di Sukarara

Setelah melihat pembuatan kerambah di Banyumulek, kita geser langkah kaki kita menuju Desa Sukarara. Waktu pertama kali ke Lombok, kita hanya sempat ke Desa Sade tanpa ke Sukarara. Katanya sih Sukarara motifnya lebih cerah gitu.



Disana, ada display beberapa ibu-ibu yang lagi nenun dan pake baju tradisional gitu. Kitapun disambut bapak pemandu yang secara otomatis manduin kita. Dan you know what, kita difoto sama salah satu pemandu disana buat koleksi pribadi dia sendiri dan seneng gitu katanya liat aku sama HJ. Lapo coba seneng iku?

 
Dijelaskanlah semua hal yang berhubungan dengan Desa Sukarara ini. Kalau Desa Sade mempertahankan desain rumah adat dan keadatannya, Sukarara lebih ke sentra tenunannya. Jadi semacem workshop tenunan Lombok.



Aku sempet nenun lho. Dengan harapan nggak merusak tenunan si ibu, akhirnya aku cobain nenun. Sambil nenun sambil mikir juga ini bikin motifnya gimana, kok bisa rapi begini. Benangnya dimasuk-masukin pokoknya sama si ibu terus 2 kali hentakan buat ratain benangnya biar nempel sama desain sebelumnya. Yes! I didnt screw it up!


mukaknya nggak ramah banget ya aku? hahaha




Trus kita berdua diajak kedalam workshop buat liat-liat kain yang udah jadi. Harga paling murah sih sekitar 250ribuan gitu, yang paling mahal ada kali 8-10 juta gitu deh. Kita cuman liat-liat aja sih didalemnya. Udah nggak pengen beli, udah banyak pengeluaran haha

Motif kainnya jauh lebih beragam dan cerah daripada yang ada di Desa Sade. Jadi lebih banyak pilihan aja kalau mau beli kain. Jujur bagus-bagus, tapi bawaan udah banyak jadi ogah mau bawa barang lagi. Bisa dimarahin HJ aku nanti 😄



Photos are taken by me and HJ  
Share:

Jumat, 27 Januari 2017

Stigma Memiliki Pasangan Bule



Disclaimer : This post will be a long post and I will write this in Indonesian. I am sure that a lot of people who are in relationship with a foreigner man/woman feel the same as me. This also has been written everywhere. I am not unintentionally offend some parties by publishing this post. But here, I want to write to change your mindset regarding us, Indonesian who are in relationship with foreigner (bule). If you have negative thoughts whenever you see mixed couple, then you should read this!

Stigma negatif kebanyakan masyarakat Indonesia masih sangat tinggi terhadap pasangan pelaku kawin campur. Pelaku kawin campur adalah warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara asing. Dalam hal ini, stigma lebih banyak mengarah kepada wanita Indonesia yang menjadi pasangan dari lelaki ras kaukasoid. Dalam hal ini, masyarakat sering menyebutnya 'bule'. Hal ini jarang sekali berlaku bagi lelaki asing yang berasal dari ras selain kaukasoid.

Mengapa hal ini terjadi?

Simple, alasan pertama adalah fisik. Alasan kedua adalah karena konversi EUR/USD menjadi IDR adalah sesuatu yang tidak sedikit.

Karena kebanyakan masyarakat masih memandang bahwa kriteria tampan maupun cantik adalah orang yang memiliki kulit berwarna putih. Ras kaukasoid, tentu saja warna kulitnya cenderung putih dengan mata cenderung berwarna selain coklat. Tentu saja hal ini membuat mereka terlihat berbeda dari kebanyakan masyarakat Indonesia.

Perbedaan warna kulit yang 'mencolok' ini menyebabkan ada beberapa hal yang dipandang sedikit miring ketika melihat seorang wanita WNI yang memiliki pasangan WNA.

Saya adalah seorang wanita Indonesia yang sedang menjalin hubungan dengan lelaki asing yang berasal dari Belanda. Sebagai seorang Indonesia yang berkulit coklat dan berjalan dengan seorang lelaki asing yang berwarna kulit putih dengan mata biru, tentu saja dalam sekejap menarik perhatian orang dijalanan, terlebih karena saya menggunakan jilbab.

At first, kebanyakan dari mereka akan mengatakan 'Wow, pacarnya (pasangannya) bule'. Komentar selanjutnya, bisa menjadi 'Hmm.. yaiyalah sama bule, kan bule punya banyak uang'. Komentar selanjutnya yang mulai agak kurang ajar adalah 'Dibeli mahal mungkin semalamnya?'. Saya pernah mengalaminya ketika berlibur ke Jogjakarta bersamanya. Berjalan kemanapun bisa menjadi pusat perhatian. Belum lagi diperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Membeli tiket di Prambanan pun hanya kami berdua yang diperhatikan puluhan orang yang sedang antri membeli tiket masuk. Mengganggu? SANGAT.

Mungkin seorang wanita Indonesia yang sedang jalan dengan lelaki bule dianggap alien yang harus diperhatikan dengan detail.

Apa yang akan terjadi ketika kita berdua menikah?

Oh tentu saja, saya akan kehilangan sebagian hak saya sebagai warga negara Indonesia, terutama dalam hal kepemilikan properti. Technically, saya masih tercatat sebagai WNI, tapi hak saya berkurang. Artinya apa? Bagi kalian yang paham perbedaan antara Surat Hak Milik (SHM) dan Hak Guna Bangunan (HGB), tentunya memahami kerugian yang akan saya (WNI) alami ketika menikah nantinya. Membeli rumahpun suratnya mentok sampai HGB, bukan menjadi hak milik. Kenapa? Karena Indonesia mengharamkan tanahnya dimiliki pihak asing. Bisa dicek di UU Agraria selama belum di amandemen. Karena pelaku kawin campur sedang memperjuangkan hak untuk memiliki tanah dan rumah di negaranya sendiri.

Berbicara tentang hasil konversi EUR/USD ke IDR, tentunya menjadi hal yang menarik. Kenapa? Karena harga satu dolar atau satu euro ketika dijadikan rupiah sekitar 13,000 - 16,000. Menarik bukan? Bagi orang yang 'mata duitan' tentu hal ini menarik. Income saya yang sepuluh kali lipat pendapatan pasangan saya, akan membuat orang silau. Karena memang jumlahnya banyak dalam bentuk IDR. Kalau bentuk EUR dan dipakai hidup di negaranya gimana? Ya sama saja seperti gaji dua juta rupiah disini digunakan untuk hidup di Jakarta.

Memang, masih banyak bule hunters  diluar sana yang bertujuan menguras harta si bule. Tapi apakah adil menganggap saya atau orang yang seperti saya sebagai bule hunters yang hanya mengeruk kekayaan si bule? Kalau itu tujuan utama saya, saya pasti akan mencari bule yang jauh lebih kaya dari pasangan saya saat ini. Kalau bisa anak tunggal, pengusaha, anak orang kaya, hartanya yang nggak akan pernah habis selama 10 keturunan kalau perlu.

Apa hal tidak mengenakkan yang sering saya alami selama berpasangan dengan orang asing?

Bicara tentang hal yang tidak mengenakkan, ada beberapa poin antara lain : Pertama, perbedaan fisik yang dianggap tidak pantas karena dia seperti juragan dan saya seperti pembantu. Kedua, dianggap matrealistis dan mata duitan. Ketiga, dianggap wanita jalang yang hanya menjajakan dirinya demi segelintir dolar. Keempat, dicurigai bertujuan menguras harta pasangan asingnya (yang ini berhubungan dengan poin nomor dua). Kelima, diremehkan karena bisa 'mendapatkan' pasangan bule yang katanya 'superior'. Keenam, sering dianggap 'agen bule' yang punya stok bule untuk teman-temannya yang sedang mencari jodoh bule. Ketujuh, wisata kemana-mana diberikan harga khusus bule.

Mbak, mas, pak, bu, pakdhe, budhe, mbah, tante, om, kakak, tolong ya, orang asing itu bukan bank berjalan yang menggunakan baju terbuat dari uang seratusribuan warna merah. Tolong ya jangan seenaknya bilang 'Kan punya bule, minta dia uang dong!', jujur saja itu mungkin pernyataan candaan tapi itu sangat menyakitkan bagi saya. Seolah saya menggaet bule hanya demi uang.

Ada juga yang pernah bertanya kalau ngobrol menggunakan bahasa apa. Ya bahasa Inggris. Karena saya dilihat kurang mahir berbahasa Inggris mungkin ya, jadinya agak meragukan. In fact, kita berdua kalau sedang bertengkar bisa menggunakan 4 bahasa sekaligus. Inggris, Indonesia, Jawa, Belanda.

Pernahkah saya kecewa? 

Tentu saja. Seolah saya tidak pantas berpasangan dengan orang asing yang karena saya cinta dia. Seolah saya ini pencuri harta orang lain. I am not money minded person. Uang memang diperlukan untuk hidup, tapi bukan berarti saya menjadi gelap mata dan mengambil barang orang lain dengan sembarangan. Saya bukan orang yang dididik untuk hidup menumpuk dan mencuri harta orang. Bukan juga orang yang dididik untuk mengambil harta atau memiliki harta dengan cara yang haram dan tidak semestinya.

Saya hanya seorang wanita Indonesia yang ingin dengan bahagia menikah dengan lelaki (asing) pilihannya. Menikah dengan lelaki asing bukan demi menumpuk pundi-pundi uang, tapi hanya karena perasaan klik dan cinta yang memang kami berdua miliki.



Karena yang mengerti perasaan ini sepenuhnya hanyalah orang yang mengalami hal yang sama seperti kami dan orang yang bukan money minded person. 

I only want to live happily with my choosen man. Want to grow old with him in our simple house together with our kids. I love you HJL 💖💗
Share:

Senin, 23 Januari 2017

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest.



Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek.





sampahnya nggak seharusnya disitu ya?

Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana.

Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mungkin. Trus lagi perhatikan mood si monyet kalo mau foto. Maksudnya yaaa jangan asal demi selfie aja tapi malah monyetnya marah-marah. kalo sampe marah, bahaya lho. Ditarik jatoh kejurang nanti. Udah banyak juga kan kejadian selfie berujung maut ya.

dia nggak minum kola kok, cuman air putih



Intinya sih satu, apapun yang kita lakukan, jangan lupa jaga alam dan seisinya ya. Bumi udah mulai sekarat lho. Plis jaga bumi 😙
Share:

Artcraft dari Banyumulek



Masih disekitar BIL (Bandara Internasional Lombok), dibawalah kita menuju Banyumulek. Banyumulek ini dijadikan sentra art craft dari tanah liat semacem gentong, vas, hiasan kecil-kecil begitu, dan bisa melihat proses pembuatannya. Bisa praktek juga sih. Cukup bayar 10ribu (atau 15ribu deh), kita bisa praktek bikin yang dari tanah liat itu trus hasilnya dibawa pulang juga. 

Kita nggak sempet ikutan karena antri banget dan kita nggak bisa lama-lama disana. 

Hasil desain artcraftnya unik-unik. HJ suka litany, aku juga suka litany, pengen beli banyak yang gede-gede tapi ya gimana cara bawanya coba? Rempong duluan masuk pesawatnya. Jadilah kita cuman beli hiasan dinding. Itupun dibawa HJ ke Afganistan sana buat ditaro di kantor buat temennya. Bawa hiasan yang tulisannya Allah sama Muhammad. 

 
Awalnya satu itu harganya 250ribu. Wehhhhh yang bener aja. Aku tawar lah itu, maunya 100ribu satu. Eh sama yang jual malah dibilang 150ribu dua deh. Yaudah kita beli deh. Udah bayar langsung mikir lagi ‘wah harusnya bisa lebih murah ini’. sadarnya selalu setelah beli deh ya. Sorry, otak emak-emak 😄


 
Kalau main ke Lombok, jangan lupa mampir sini ya... nggak jauh kok dari desa Sukarara 😙
Share:

Sabtu, 21 Januari 2017

[Piknik] Segerin diri di Pantai Seger, Mandalika

Pernah denger cerita soal Putri Mandalika nggak? Kalo udah, berarti wawasannya luas. Kalo belom berarti nggak doyan baca 😋


Sini sini merapat tak ceritain singkatnya yaaaa...

Konon katanya, Putri Mandalika ini orangnya cuantikk dan baek hati. Yakali yaaaa kalo putri-putri di legenda kebanyakan kayak gitu deh karakternya. Terus si putri cantik ini saking baeknya, disukai semua orang. Nah kalo udah disukai semua orang, nasibnya gimana hayo???? Ya disuruh milih suami sama bapaknya. Soalnya banyak pangeran yang mau jadi suaminya. heeemm interesting. Seandainya kita juga direbutin banyak orang kayak gitu ya hahaa

gapapa ya meskipun dari belakang, gara-gara salah arah

Karena ini mitos dan karena dia bijak, akhirnya dia bilang ke bapaknya kalo nggak mau milih salah satu buat dijadiin suami karena dia dan tubuhnya adalah milik orang Mandalika. Satu untuk semuaaaaaa. Jargon tipi ini mah

Kemudian si putri nyemplungin dirinya ke laut. Dan bilang, 'karena aku untuk rakyatku, jadi aku akan pergi ke laut dan ketika ....(gatau ketika apa gitu, bulan purnama ato apalah itu), aku akan berubah menjadi nyale yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyatku'. Intinya gitu sih, redaksi gimana juga nggak tau ya. Namanya jaman segitu, nyak babe juga belom pada lair kan. Dan lagi ini legenda.



Akhirnya jadilah tradisi warga tiap bulan Februari kayaknya, 2 kali pokoknya dalam setaun, ada upacara bau nyale. Ya gitu, nyale ini sejenis worm yang bisa dimakan. Abis diambil dari laut, dimakan deh. Anggep aja agar-agar 😄

Kemaren pas ke Lombok pertama kali, kita mampir sini. Si Candra bilang 'itu tuh bisa kamu fotoin patung mandalikanya'. Ya kali mau fotoin dia dari depan, eh kita dibawa ke spot yang cuman keliatan pantatnya aja. Sayang sih, tapi yawes lah. Lumayan kok hohoho

Trus sodaranya Candra yang nyetirin mau nyeritain legenda itu. Aku nggak berniat nyela sih, tapi cuman pingin mastiin, tapi terkesan nyela. Jadilah aku yang cerita. Trus dia pasang muka kayak 'sialan nih bocah, kok udah tau sih ceritanya? nggak surprise dong'. Aku dengan muka yang rada bangga dikit sambil bilang 'Yaiyalah, aku kan banyak baca 😏'. Dalem ati tapi ngomongnya.

just a pity, the bridge is broken. otherwise I could take the picture from there. can see the face instead of the back


Pantai ini namanya pantai Seger. Dan emang segeeeeeeeeeeerrrrr banget disana. Kita manjat dikit ke bukit kecil disana. Saat itulah Desi takut jatoh gara-gara takut ketinggian. Sedangkan aku dengan liarnya mendaki-daki dan mrosot-mrosotin diri. Padahal juga takutttttt. Mana nggak bisa renang lagi. Jatoh ke laut kan nggak lucu banget ya!!!!!!




just a perfect combination and colors are so amazing


Enjoy the pictures I share here. Really, it sooooo fresh and really fresh.






I found this pose is funny

iya, waktu itu liburan rasa kerja kok beneran. harus kejar-kejaran sama pesawat sama kerjaan juga haha


these girls sometimes are having pose disorder in front of camera

 
Disana kamu pasti cuman bisa bilang 'Thank God. You show me this amazing view and unbelievable creatures for us. Alhamdulillah Thanks for giving me chance to see this wonderful view'
Share:

Teman terbaikku


Aku mulai memiliki teman baik sejak aku duduk dibangku SMP. Sejak itu, waktu usia 13 tahun, aku mulai mengenal yang namanya teman baik. Bersahabat dan menjadi selayaknya keluarga.


Geng SMP
Yang namanya geng-geng an identik dengan yang namanya kekerasan. HAHA! At least that what I know about geng. Seolah berandal begitu kesannya. Tapi gimana mau dibilang berandal anak jalanan kalo fotonya aja seperti ini ⇓

nggak ada tampang berandal sama sekali kan? Above pic was taken on 2003 and 2012

It's like our transformation. From left to right - Sunan Andry - me - Milla - Gebby. Sunan studied Japanese lit and a photographer. Seorang lelaki unyu yang bisa sampai kenal Farah Quin dengan baiknya (BBM, WA juga sama mbak seksi itu), dan diteriakkan namanya di konsernya Siti Nurhaliza. Apa nggak keren itu?

Me, you know it. A crazy one who studied math and a bit Korean. Milla has already become a mum of little boy, live next to my parents' house. And Gebby is still studying Pharmacy. Itu orang nggak doyan yang namanya biologi dan kimia la kok belajar jadi farmasis haha 

We are still in contact to each other. 

SCAL-Q 
This is one of my best part in my life. They are my lovely sisters as I wrote about them here. Kita menjadi saudara sejak belasan tahun yang lalu. Mulai mengakrabkan diri sejak sama-sama dikelas 3 SMP walaupun kita kelas 2 SMPnya satu kelas karena kita masuk kelas unggulan. AHem!! aku pinter lho dulu sampe bisa masuk kelas unggulan hahahaa

this photo was taken on hmmm guess 2010?

From left to right - Maya - Novia - Radin - Dina - me again. Maya become a teacher in the same place we were together. She found her passion there. Novia seorang bidan. Radin juga seorang pengajar. Dina menjadi pekerja kantoran. And me? nggak usah diceritain lah ya haha

Autumn of Yosinbi

Ini ketemu pas kuliah (kecuali Maya). Tadinya karena Febby yang teman sekelas Maya yang nggak tau kalau Universitas Brawijaya itu didepan kampus kita dan karena kebodohannya lah yang membuat kita bersahabat hingga kini. Setelah mengenal Febby, kenallah kita berdua dengan Isa. Ini cowok sih, tapi hobi dance ala Korea gitu, Kpopers juga, suka nulis juga, dan dia jurusan pemrograman komputer (yang kala itu aku juga ambil sebagai minor jurusanku). Nggak butuh waktu lama, kita berempat langsung akrab. 

Banyak topik yang bisa kita obrolin. Jadilah ini mereka berdua matte ku pas kuliah, meskipun nggak dikelas. Tapi temen bolos, temen nongkrong, Isa temen ngerjain program webku, dan kita hobi muterin Malang seharian selama 4 tahun masa kuliah kita. 
Lucunya si Isa ini, kalau mau ketemuan sama cewek yang dia taksir pasti ngajakin kita atau salah satu dari kita. Bilangnya 'Anterin dong, temenin dong. aku malu'. Tapi kalau dia suruh milih diantara kita berdua, dia selalu bilang 'Ehh gue kalo suruh milih juga mikir ya. Biarpun nggak pernah pacaran, aku nggak mau milih salah satu dari kalian. Emang kalian cantik apa?'. Cuiiihh emang situ ganteng apa????

tapi dia sangat perhatian dan pengertian kepada kita bertiga. Dia tulus banget sayangnya kalo ngelindungi kita. Padahal in fact, dia yang butuh perlindungan kita sihh 

Febby baru saja menyelesaikan S2 nya, Isa sedang bekerja di perusahaan swasta dan menjadi penulis lepas yang hobinya nyeritain pasangan homo. Apa jangan-jangan dia homo???? 😱 tapi dia suka cewek kok haha

Frontsummer
Yang ini ketemuannya waktu kuliah, taun 2009. Kita nggak sedekat ini kala itu. Tapi waktu membuat kita makin dekat satu sama lain hingga saat ini. Semoga bisa akan selalu dekat. I wrote a bit about them here and here

I just wish that we will grow old together as best friends and long last forever. I love you all
Share: