Jumat, 29 September 2017

Work

Anybody know how to earn money easily? Well hmm I can't work in formal institution as I am in long distance relationship with my husband. It is all about time and quality time with my husband. I remember when we were dating, he said "I come to Indonesia for you, and you dont have time for me". You dont know how hurt it was as I can't make time as much as he want (he always come for 2 weeks and I only have 2 days off -4days including weekend-). So that time I told myself, "I have responsibility in my job. But later when I am officially your wife, I will resign from work and make time as much as you need". The problem is only about the flexibility. Being in long distance relationship as a married couple is hard indeed. For a husband maybe what is matter is job, job is important. For a wife, what you feel is the problem. I wish I could show you what I feel without even talking.

I wish I could live with him, do something there even just writing some papers without getting paid is totally fine as long as I live with him.

So... anybody could suggest me what can I do to earn money? Preferably to work online like maybe writing or something else that I can do whenever I want (flexible working time), or anybody wanna take me to work together in a project of something maybe? 😃
Share:

Rabu, 27 September 2017

Tentang Istanbul


Sebelum menginjakkan kaki di Istanbul, jelas lah kita napak kaki dulu di bandaranya ya. Soale kita terbang cui, kecuali kalo kita jalur darat dari Siria uhhh.

Okay... kali ini saya cuma nulis hal-hal yang tampak mata dan nggak semuanya menyenangkan tentang Istanbul. Kotanya cantik sih, saya akui cantik dan saya suka apalagi sejarahnya. Nah pertama kita napak kaki dulu di bandara ya. Sumpah demi apapun, antrian customnya panjang banget. Mungkin sekali antrian kita maEh tapi ada lho yang begitu. sedih liatnya.
suk, kita harus menanti ratusan orang didepan kita. Kita 2 kali antri custom sekitar 20 menit. Termasuk leletnya petugas imigrasi cek visa dan paspor kita. Suami sih prosesnya cepet (mungkin karena doi orang EU ya), saya butuh hmmm 3-5 menit ketika pertama kali masuk imigrasi Istanbul. Sampai depan mas loket imigrasi juga deg deg ser, jangan sampe lah suruh balik visa suruh pake VoA bisa nangis ditempat ini. Antrinya panjang bener.

Singapura juga rame lho, tapi cepet prosesnya (karena sekalinya ada yg bermasalah pasti langsung dilempar ke tim khusus, jadi bukan loket yang ngurus masalah tersebut)

Selain antri imigrasi yang ga cepet, koper mertua juga katanya di pos nomer sekian ternyata ada di nomer keberapa. Jadilah pas menanti mertua, kita nunggu selama 1,5 jam.

Selain itu bandaranya termasuk sempit, terlalu crowded. Kalau diliat dari jumlah orang yang masuk imigrasi, tentunya dapat dengan mudah disimpulkan kalau Istanbul jadi destinasi favorit ya. Karena banyak orang datang kesana. Tapi kenapa bandaranya kesannya sumpek banget. Kayak jalan pun pasti nyenggol orang. Dubai juga banyak orang di bandaranya tapi nggak pernah tuh senggolan sama orang disana. Pengap lah istilahnya ini bandara.

Petugasnya, nggak ada senyumnya. Paling pelit senyum deh, kecuali staf Emirates disana yang bahkan sempet muji dress yang saya pakai hari itu katanya cantik dan lucu (dress-nya lah). Petugas Turkish juga agak kurang responsif. Meskipun di akhir kita sudah dapet penyelesaian sih, tapi butuh 30 menit juga. Dan ada petugas security check yang nggak senyum blas, dia yang ngambil frame kayu lukisan saya. Bisa dimaklumi sih frame kayunya pasti suruh buang nggak boleh dibawa ke kabin tapi mbok ya senyum dikit kek. Kita nanya alesan jawabannya cuma NO NO NO. Apapun pertanyaan kita jawabnya no. Dan ya, mereka nggak bisa Bahasa Inggris. Ini bandara internasional hello. Dan juga nggak ada wifi ya. wifi ada sih tapi nggak gitu bisa. Jangankan bisa, ngirim code ke nomer hape kita aja nggak nyampe. Padahal kan ya kena roaming kan kita yang bayar.

Oke cukup ya tentang bandaranya. Intinya saya nggak suka sama bandaranya dan suami nyesel kenapa juga kudu flight balik ke Istanbul abis dari Tbilisi.

Nah, di Istanbul itu kayaknya kota penuh perokok aktif semua. Jadi lebih sedikit perokok pasifnya. Ciwi ciwi pada pake baju syari juga ngerokok. Ini yang bikin kaget. Bukan soal kaget banyak wanita perokoknya sih, tapi cukup kaget banyaknya perokok aktif disana. Mungkin lebih banyak daripada orang Indonesia. Yang gw pikirin 'wah, ini pasar gede nih buat ex kantor gw' 😂

Mungkin karena hobi mereka juga pake water pipe juga (shisha) jadi kesannya udah biasa aja. Ngerokok itu sama kayak bernafas. Kita cobain water pipe tapi saya yang nggak suka begituan nggak doyan. Sekali hisap langsung batuk batuk. Harga untuk satu varian sih kisaran 20-40 lira. Tergantung rasa yang dipesan.

Banyak pengemis juga. Itu sih pengungsi dari Siria. jadi mereka ini nggak ada di pagi hari tapi ada mulai sore hari sampai malam hari. Tiap hari kita sedia uang receh buat dikasih mereka. Ada juga pemulung disana. Kita kirain orang Indonesia ini yang paling menyedihkan level kemampuan bahasa inggrisnya, ternyata Istanbul juga.

Yang paling asik, penjual jagung bakar, jagung rebus sama kestane nya. Itu bener-bener snack pas buat brunch atopun sore hari. harga jagungnya 2-3 lira, kestane 10 lira untuk 100gram. Kestanenya dibakar, kalo mertua lebih suka yang raw dan setelah cobain, yang raw ternyata enak juga sih.

Tapi kalau ada pertanyaan, bakalan dateng lagi kesini nggak? Uhmm kita berdua kompak bilang 'Maybe... but not that soon. Maybe in future' (rada males sama bandaranya huhu)

Ini cuman sisi nggak asiknya ya, tapi kalo kotanya cantik kok. Saya suka sama old town nya Istanbul 💙
Share:

Minggu, 24 September 2017

Strolling Around Oldtown : Istanbul

Pardon me for silly English

little cafe

We both love history, but his knowledge about history much deeper than I have (for sure).

We spent our first days by strolling around Oldtown, where Haghia Sophia (Ayasofya), Blue Mosque, Basilica Cistern, Galata tower and another iconic things in Istanbul exist (including those corn sellers. This is what I am going to miss about Istanbul actually).

 
authentic Istanbul

We arrived in Istanbul a day before, at around 7pm I believe, then we walked around to have dinner. That was the first time I ate the corn. I like that kind of corn, and I am too hungry to walk that far from hotel to find a good place to eat (instead, it was a 'zonk'!), so let say this corn is kind of appetizer before dinner (and become our daily snack during the day).


haghia sophia (ayasofya) dari rooftop restoran

 
blue mosque

  

First we walk around Column of Constantine and Nourusmaniye mosque. There are so many birds in Column of Constantine. And the mosque is close to it. Close to the grand bazaar gate as well (there are so many gates of grand bazaar).

 
column of Constantine

 
sekitar grand bazaar, sepi karena libur Idul Adha

 

 
open air mosque 

 
sekitar Istanbul universitas

 
grand bazaar

 
sepi, masih libur idul adha

 

Then we walked to Ayasofya and blue mosque. There was a hippodrome there. Small pieces of hippodrome wall is left there, the rest was damaged. Imagine yourself standing there, in a place where history happened... horse racing and all of those stuff going on. Well hmm maybe it is just me who feels that weird way 😕 but that was amazing really.

 

 

 

 
medusa (Basilica Cistern)

I saw some fountains there, and an Egyptian Obelisk (dunno why and how it is there), another monument which we believe that a lot of people try to climb it and died there. Well...uhmm.. at least that was he read..


 
tembok hippodrome yang tersisa (sejenis coloseum di Roma)

 
sekitar Galata 

 
Galata bridge 

 
Galata tower

We walked around neighborhood, small roads, getting lost, tired of course but a lot fun. I really love this oldtown of Istanbul. And oh! Istanbul is the city of cats 😽

craziest cat, paling berisik, paling seducing

 

 


💕😍😘
Share:

Cerita Marji Tentang Persepolis

 
Persepolis (taken from hitchhikershandbook.com)

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata Iran? Kalau mama papa sih mikirnya Iran negara yang tidak aman. Sesaat setelah terjadi bom di Tehran, kita merencanakan untuk pergi kesana yang ternyata berubah destinasi menjadi Dubai, mereka mikir Iran sedang dalam keadaan darurat teroris. Ya untuk kota-kota penting dan besar yang sering jadi sasaran teror layaknya Jakarta sih masih bisa dimaklumi (karena sejatinya ancaman teroris selalu mengejar kita).

Kalau kata suami, Iran itu negaranya cantik. Semacam persuasif bagi saya ya, jadi pengen ke Iran juga (tapi kabarnya urus visanya agak panjang prosesnya sekarang ini).

Tiba-tiba saya menemukan buku yang judulnya Persepolis. Dan buku ini adalah one of the best books yang pernah saya baca. Suami aja kaget kok saya bisa nemu buku ini (soale biasanya saya baca buku bagus hasil rekomendasi dia tapi kali ini dapet sendiri).

Buku ini adalah salah satu karya cerdas Marjane Satrapi. Marji menggambarkan bagaimana hidupnya sedari kecil hingga keluar dari Iran untuk melihat hal baru hingga kembali lagi ke Iran. Kita semua tau bahwa Iran yang di embargo Amerika sampai-sampai Iran tidak menerima segala macam bentuk kartu kredit (karena kartu kredit produknya Amerika katanya). Sik sik ini kok kayaknya nggak nyambung ya? gapapa wis buat nambah ilmu. 

Buku ini dimulai dari kejadian tahun 1979 ketika revolusi terjadi, they call it revolusi Islam. Semua hal yang tadinya bebas berubah menggunakan hukum islam. Termasuk menyuruh wanita menggunakan penutup kepala dan tidak boleh menggunakan celana. Kalau nggak pakai gimana? Ya kalau ketauan pengontrol jalanan, otomatis suruh bayar denda atau dipenjara. Tergantung hukum apa yang dilanggar. Tapi cara mengenakan kerudung bagi Iranian berbeda dengan orang lain kebanyakan. Pokoknya asal dislempangin aja pokoknya di kepalanya ada penutupnya, meskipun nggak cover semua rambutnya.

Nah sejak tahun 1980 ini semuanya berubah total. Sekolah bilingual harus ditutup semua, segala macam jenis pendidikan harus di perbanyak porsinya untuk agama islam, sederhananya mereka di doktrin secara strict dengan hukum islam. Hingga pemerintahan memiliki petugas patroli jalanan yang fungsinya mengontrol setiap perilaku orang dijalanan, termasuk jika ada sepasang sejoli berjalan bersama, besar kemungkinan mereka akan di intrograsi hubungan mereka apa (yang ini suami pernah liat sendiri katanya).

Spoiler alert!

Marji merupakan sosok perempuan yang dibesarkan secara bebas dan demokratis oleh keluarganya. let say, Marji is such kind of rebel girl. Marji tumbuh menjadi sosok yang berani. Berani melawan apapun yang tidak sesuai logikanya. Marji kecil merupakan sosok yang lebih spiritual, bahkan bercita-cita menjadi seorang nabi. Hingga suatu ketika peristiwa revolusi itu terjadi, Marji kecil mulai tidak 'percaya' kepada tuhan yang selalu dipujinya. Menurut pandangan saya pribadi, sosok tuhan yang kita percayai pasti mengajarkan semua kebaikan bagi pengikutnya. Tidak ada yang mengajarkan keburukan, meskipun dalam kitab yang saya percayai ada beberapa hal yang terdengar seperti kekerasan, tapi kembali lagi, kitab tersebut diturunkan di jaman orang yang tidak bisa sama sekali diberitahu dengan lembut dan santai, jadi kudu agak keras agar mereka paham. Seiring dengan berkembangnya jaman, tentunya cara berpikir manusia juga berubah menjadi lebih canggih dan lebih luas. Tentu saja kita tidak bisa semena-mena dengan mata tertutup melakukan kekerasan dan menjustifikasinya dengan alasan bahwa kitab kita menyuruh kita melakukannya (bahkan untuk hal yang katanya baik sekalipun, kita harus berpikir panjang dengan alasan yang logis agar tidak menyakiti orang lain, tentunya dengan alasan yang rasional dan jangan pernah sekali-kali justifikasi nafsu kita menggunakan kitab kita).

Revolusi Iran mengubah hidupnya. Orangtua Marji merasa mereka harus menyelamatkan putri mereka dengan cara mengirimkannya ke Amerika. Tapi karena alasan politik mereka tidak semudah tahun sebelumnya mengeluarkan visa Amerika untuk warga Iran. Marji pun dikirim ke Eropa. Surprisingly, banyak orang Eropa yang tidak mengetahui keberadaan Iran. Bahkan tidak tahu bahwa Iran itu ada. Marji meninggalkan Iran yang sedang dibombardir sana sini.

Marji hidup bertahun-tahun di negeri orang, dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Tapi Marji merasa gagal. Marji terlalu terlena mendapatkan kebebasannya diluar sana. Merasa gagal dengan kehidupan asmara, pendidikannya, kehidupan sosialnya, Marji rindu akan kampung halamannya dan memutuskan untuk pulang.

Enough for spoiler!

 

Kenapa buku ini layak baca? Karena buku ini memberikan gambaran politik dari revolusi yang ada disana dari sudut pandang citizen yang tertarik akan politik. Buku ini ringan tapi berbobot. Bentuknya komik, tapi baru kali ini saya bisa baca komik. Penyajian grafiknya juga menarik. Bahkan filmnya pun juga bentuknya persis seperti bukunya, bedanya buku dengan filmnya hanya terletak pada gambar bergerak dan gambar diam saja. Papa mertua memberikan copy filmnya, tapi sayang dalam bahasa Prancis dan belum nemu subtitle nya.

Harga buku ini, karena impor ya, tapi saya beli di tokopedia dengan harga sekitar 170ribuan (kalau nggak salah inget sih). Yang jelas buku ini worth to read 👍

Tenang, gw udah update review gw di goodreads huhhu
Share:

Selasa, 19 September 2017

Merhaba Istanbul



 
Traditional Turkish coffee in an authentic cup and a traditional bread called Simit.

Sebenarnya sih udah nulis soal Istanbul, tapi ada di iPad HJ dan lupa belum transfer. Jadi kita re-type aja meskipun feelingnya nggak sama huhu.

I was writing about Istanbul when we traveled to Kazbegi. It took so long time and boring because my husband was sitting next to driver, and I sat next to a couple who doesn’t speak English and so proud to speak Russian. So I was the only one who said nothing during the trip. Percuma, Bahasa Inggrisnya adekku yang masih SD aja jauh lebih oke dari mereka.

Oke… sebelumnya nggak pernah mikir bakal ke Turki. Tapi karena beberapa pertimbangan, serta ada satu misi penting yaitu ketemu mertua, akhirnya kita (lebih tepatnya, dia) putuskan untuk ketemu di Turki. Karena mertua nggak bisa travel terlalu jauh, dipilihlah Istanbul sebagai titik temu kita berempat. Yang paling jauh ya tentu saja saya. Jauh dan tentunya penuh drama (dramanya nanti aja, banyak pelajarannya kok huhu).

Kita berdua sampai di Istanbul 5 hari lebih awal dari mereka. Karena kita inginnya familiar dulu dengan keadaan sekitar, jadi nanti pas jalan sama mertua bisa jelasin satu dua tiga hal (yang ternyata nyampe ratusan).

Hmmm.. tentunya yang pertama diinjak di Istanbul adalah bandaranya dong ya. Nggak Cuma Istanbul aja sih haha. Ceritanya begini, kita berdua baru kali ini ke Istanbul, mana ada sih orang betah antri lama-lama ya, eh kita surprisingly kaget banget ketika melihat antrian di imigrasi sepanjang ular piton mau beranak. Luar biasa panjangnya. I mean, gw pernah antri di Singapore panjang banget, tapi nggak sampe 5 menit udah kelar.

Saya pernah baca di blog mana-mana kalo antrian di Istanbul itu panjang, ya saya kira sih hanya mentok 100 lah, atau orang sejumlah satu pesawat. Ternyata ya Tuhan, panjangnya bukan main. Biasanya ada penanda buat kita jalan mengular itu kan ya, nah panjangnya itu lebih panjang dari imigrasi Surabaya, Dubai, Singapore, panjang banget lah intinya, dan juga ada sekitar 10-15 baris. Kita perlu waktu sekitar 20-30 menitan, sampe antrian koper bagasi udah kelar malahan. Coba bayangin aja, misal nih (amit-amit) kita udah punya e-visa, ehh ternyata e-visa kita keliatan ga valid, trus suruh antri bikin VoA, opo yo ora mateng kuwi mbaleni antri tekan kaitan? nangis nggelundung nang pojokan wis 😂

Udah antri lama, dan pas cek nama saya, ada kali 5 menit lebih. Gatau lah mungkin mereka takut kali ya kalo gw mau nyebrang ke Suriah. Demi nama siapapun deh gw ga minat nyebrang nyusup berkorban bodoh demi join grup asal Suriah sana. 

Oke enough about it here, gonna write it later.

Ya namanya juga travel ke tempat baru, pasti banyak lessons to learn. Yang jelas saya seneng banget bisa ketemu mertua disana, yaa meskipun mereka berkorban banget bisa travel kesana. Semoga lain kali saya yang bisa kesana biar mereka nggak jauh-jauh keluar dari rumah. Visa ohhhh visaaaa...

Ditulis sesaat setelah landed di bandara Juanda, Surabaya. (sesaat??? 4 jam setelah mendarat)

See ya..


Strictly prohibited to take my photos without permission
Share:

Kamis, 14 September 2017

Gamarjoba Tbilisi

Karena fotonya masih ada di mamer, jadi skip dulu soal bahasan Ayasofya yang keren itu


Menjejakkan kaki di Georgia tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Beruntung sekali paspor hijau ini bisa mendapatkan e-visa dengan mudah untuk menjejakkan kaki di Georgia. Apply evisa untuk Georgia membutuhkan waktu 5 hari pas, via online dengan tarif usd 20,7. Thanks to bestie who always help me on credit card needed -I dont have CC btw-

9 hari di Istanbul, kita memutuskan untuk terbang menuju Georgia, yang mana katanya si partner itu kotanya bagus banget, dan nggak touristy macem Istanbul. Terakhir kali partner ke Tbilisi sekitar 3 tahun lalu dan ternyata banyak perubahan selama itu. Tapi rada kaget ternyata sekarang banyak yang kesini. Tulisan ini ditulis ketika menanti jam untuk terbang balik ke Istanbul sore ini. Tapi baru tayang beberapa minggu setelah sampai di rumah.


Nggak banyak orang tau tentang Georgia. Negara pecahan Uni Soviet ini mengklaim dirinya sebagai the origin country of wine. Ya banyak wine berserakan disudut kota. Mulai dari wine murahan sampai yang paling mahal sekalipun. Sekitar tahun kelairanku -harus ya sebut gitu-, oke to the point aja, taun 1991, negara ini lepas dari Soviet. Yang tua2 mah masih ngomong Rusia. Dan ini sebelnya, gak banyak dari mereka ngomong bahasa Inggris. Suami gw mah bisa bahasa rusia, gw geleng-geleng doang.

Secara umum sih, disini ini tempatnya ortodok kristen. Gereja banyaknya kek musola di Indonesia yang dempet-dempet jarak 100 meter udah nemu tempat ibadah. Jadi ga usah kaget kalo disini nemu orang ibadah digereja dengan penutup kepala yg sering kita tafsirkan sebagai jilbab di Indonesia. Plis jangan bilang 'hati2 ada aliran agama baru yg meniru islam dan beribadah di gereja' plis no ya! Gak usah baper!

Plus-nya, kita suka suasana kotanya. Asik deh pkoknya. Nggak begitu rame juga, dibanding Istanbul (meskipun udah masuk kategori rame sih kalo versi suami). Aromanya aroma Eropa kalo kata partner. Wis pokoke asik deh.

Gak asiknya, most spoken language is Russian. Itu suck banget! Kemaren aja kita ke Kazbegi bareng 2 orang Rusia, dan mereka gak ngomong bahasa Inggris sama sekali. Semacem anti gitu. Mereka bertiga ngobrol asik, gw ngobrol dalem hati aja sambil mikir kapan sih gw bisa ketemu orang yang bisa diajak ngobrol pake bahasa internasional ya tuhan!!


Share: