Senin, 30 Oktober 2017

Life Recently #5

 
Tbilisi

Masih saja menebak-nebak jadwal libur sang suami yang tidak pasti. Masih saja deg deg dengan jumlah libur suami. Masih pula was was dengan kondisi suami bekerja disana. Uh yea.... all about husband. 

Masih pula menyibukkan diri belajar Bahasa Belanda, biar bisa ngobrol lancar bareng mertua. Target sih bisa lancar ngobrol Bahasa Belanda akhir tahun ini. Setidaknya untuk obrolan sehari-hari. Someday I wish that I could speak Dutch to him and he speak Bahasa in exchange. Would be super nice to have conversation in 2 different languages 😁

I also have a bonding time with my dad in law haha, in same time I learn Dutch from him. He helps a lot than my husband 😛 so great to have someone to teach me lol. He gave me an article about Agung mt in Dutch and it was like a challenge for me to understand what is written there, so I did translate to English and it was like 50% close to the original meaning haha at least I tried.

How do you feel the weather recently? Uhh Malang is extremely hot in the morning till day time and cloudy or even rain at 3 pm till night. It is okay... but it give me headache every time it gets hot and too bright. 'Oh it is 12 degree in Delden', said pa. And I said 'Oh it is 35 degree at daytime and 22 at night'. Then he said, 'Super' 😫

Saya juga belajar renang biar keren haha. Soalnya bulan depan mau diving course. Semoga pelatihnya sabar menghadapi saya yang nggak terlalu mahir renang. Sampe disuruh janji segala ke suami janji jangan takut nyemplung air. Hemm yaaa I promise. Cuman jangan bawa ke tempatnya hiu hiu buaya buaya yaaa

Saya juga masih disibukkan dengan curhatan para pelaku kawin campur, semacem saya ini agen psikolog tempat penyelesaian masalah aja ya. Dari yang curhat bingung memilih diantara dua orang sampai dokumen yang belum kelar di hari -6 sebelum menikah. Saya mah bisanya kasih saran aja yang jelas-jelas, selagi bisa bantu yaaa dibantu.

Saya juga kangen kerja huhuhu
Share:

Rabu, 18 Oktober 2017

Freaky

 

Kucing ini semacem nggak tau diri. Ceritanya bermula ketika gw sama HJ pindahan rumah ke Malang. Tetiba ini kucing parkir di atas mobil papa. Duduk manis gitu lah diatas kap mobil.

Nah kita beberapa hari langsung aja cabut dari Malang dalam rangka yahhh honeymoon part 1, balik-balik ke Malang kok ya ini kucing semakin nempel ke catman yang ada dirumah. Dikasih makan nggak mau, maunya dielus-elus dikasih perhatian gitu. Sampai akhirnya HJ kasih nama dia Freaky.

Semakin aneh aja karena dia pasti dateng kalo kita buka pintu dapur. Tiap dibuka, nggak sampai lah 5 detik si kucing udah sampai depan pintu. Apalagi kalau dipanggil FREAKY, ehh langsung meong-meong.

HJ dengan bangganya ngeklaim kalau Freaky ini memilih kita untuk menjadi bosnya (berasa kayak 'terimakasih nak kau telah memilih kami sebagai orangtuamu' 😯), jadi kalau nanti kita pindah dari Malang, kita harus bawa Freaky ini. Dari semua hal terkait kepindahan rumah, yang diinget pertama kali 'Pokoknya kalo kita pindah kita harus bawa Freaky, dia milik kita'. Bahkan sebelum HJ balik kerja aja yang dipesenin pertama kali 'Jangan lupa kasih makan freaky! Awas kalo nggak kamu kasih makan' 😕

Sekarang si Freaky lagi hamil, ntah siapa yang menghamilimu nak. Apakah si Friko kucing blok belakang? Ataukah si hitam legam yang selalu mengejar cintamu tapi selalu kau campakkan nak?
Share:

Perjalanan Panjang Lukisan Diri

 

Mama mertua ceritanya membuat sketsa diriku sebagai hadiah ulangtahun kala itu. Namun ternyata sketsanya disempurnakan menjadi sebuah lukisan nan apik.

Cerita bermula ketika lukisan ini berangkat dari Amsterdam menuju Istanbul. Karena papa itu orang yang sangat kreatif dalam hal permak dan produksi sesuatu, dibikinkanlah frame untuk lukisan tersebut. Dengan ukuran yang pas, kemudahan untuk memasang lukisannya, semuanya sudah diperhitungkan secara matang. Bahkan bertanya kepada pihak bandara Ams apakah diperbolehkan membawa frame kayu ke kabin, dan mereka bilang okay nggak masalah.

bentuk mulanya begini, dengan frame kayu melingkar ke roll lukisannya

Tibalah lukisan cantik itu di Istanbul. Amsterdam - Istanbul tanpa ada masalah sedikitpun. Aman. Dan mereka berdua bilang 'Unpack aja kalau udah sampai Indonesia, jangan disini nanti susah packingnya lagi'. Manut.

Setelah 9 hari di Istanbul, saatnya saya dan suami terbang ke Tbilisi. Drama pun dimulai. Ketika melewati security check tiba-tiba mbak yang tanpa senyum menghiasi wajahnya itu bilang 'What is this?', kita jelasin aja panjang lebar dan dia seketika bilang 'NO'. Apa ya 'NO' ini? alasannya apa? Wong ini dari Amsterdam baek-baek aja lho. Kita minta penjelasan dan dia cuman bisa bilang NO tanpa senyum. Mamer bilang 'Elu ga senyum sama sekali, mau gw lukis lu?'. Saya nangis sih waktu itu, bukan karena gimana ya, karena saya nggak dapet perlakuan dan penjelasan baik dari petugasnya, plus itu hadiah dan papa sendiri yang bikin. Bayangin lah kita dikasih hadiah sama orang eh trus suruh dibuang, kan sakit rasanya....

Ya saya tau sih tongkat baseball ga boleh masuk kabin, tapi kan frame ini bukan tongkat baseball huhu

Tapi yang minta maaf malah papa karena jadi bikin repot :(

Akhirnya setelah dibuang, lukisanku sampai di Tbilisi dengan keadaan telanjang. Ya maksudnya cuman dalem roll aja. Masih segelan.

6 hari di Tbilisi, kita terbang balik lagi ke Istanbul (sebelum terbang ke Dubai). Karena merasa 'aman' setelah frame dibuang, ah pasti ntar nggak bakal ada masalah lah. Eh ternyata nyampe security check ditanyain 'Mana ijinnya?'. Ijin apaan ya???? Emang dikasih hadiah lukisan dari mertua yang mana dia bikin sendiri kudu ijin pemerintah gitu? Akhirnya kita disuruh menunggu sekitar 30 menitan, dan itu menyebalkan karena mereka sibuk sendiri pas ditanya kita nunggu siapa, mereka cuman jawab 'Tunggu aja'. Sebel gw.

30 menit berlalu, ada seorang mbak mini menghampiri dan bertanya apakah kita sudah declare lukisan ini? OMG! saya tau kalau barang mahal pasti harus di declare berdasarkan harga barang yang dibelinya (CMIIW), tapi ini barang pemberian, terlebih lagi mama nggak beli tapi bikin sendiri dilukis sendiri. Nah gimana ngitungnya harus declare coba? Kita jelasin, dia ngotot 'Pokoknya kalau lukisan itu harus declare dibandara manapun, nggak cuman di Georgia aja'. Nah trus penyelesaiannya gimana?

Setelah dia diskusi dengan bosnya, akhirnya kita dibolehin dengan syarat nanti sampai Istanbul harus di declare. Okay. Manut. Sampai Istanbul kita menuju tempat declare  dan nanya :
'Bang, ini perlu di declare nggak?'
'Berapa elu beli tong?'
'Kagak beli bang, nyak gw sendiri yang bikin buat gw'
'Yaudah nggak usah tong, wong gratis kan'

Disitu saya pengen balik lagi ke Tbilisi buat mencaci maki mbaknya. KATANYA suruh declare di bandara manapun diseluruh dunia behhhh. Yang bener aja mbak.

Nah trus kita terbang ke Dubai. Ntah kenapa Emirates di bandara Ataturk mendadak jadi ketat soal bagasi. Mungkin ya ada yang melanggar kali ya, kebetulan sih koperku udah aku proses transfer sampai Singapore, jadi nggak perlu ambil sendiri di Dubai (nggak ada visa juga buat ambil keluar custom). Petugas Emirates bersahabat banget deh bantuin sampe kelar. Tapi di ruang tunggu tiba-tiba ada ibu-ibu dimarahin gara-gara kopernya terlalu berat dan keukeh dibawa ke kabin. Jadilah mereka muter-muter ngecek penumpang kira-kira bawa barang yang terlarang nggak ini. Duh saya deg deg an lagi lah, sambil berdoa semoga ini lukisan aman aja sampe rumah. Soalnya ukurannya 60x70cm, dan itu udah nggak ukuran kabin kan?

Ternyata, lolos! Duh pengen sujud sukur deh. Tapi masih deg deg an juga dari Dubai ke Singapore. Berharap perjalanan mulus mulus aja kek pantat bayi. Dan dengan doa yang tiada henti, sampailah lukisan tersebut dengan selamat di Singapore.

 
di dalem MRT ngantuk berat sembari jagain ini lukisan biar nggak nggelundung soale udah nggak ada talinya buat nyangklongin 

Besoknya saatnya terbang final, Singapore-Surabaya. Deg deg ser lagi pas cetak boarding pass. Dan mbak Garuda nanya itu apa, setelah saya jelasin dia bilang 'Hmm sebenernya hari ini penerbangan agak tough ya, jadi kalo misal kabin banyak barangnya, kamu taro lukisan kamu dibawah kursi aja ya. Nggak apa-apa kan?' Uhh baik banget mbak ini. Iya nggak apa-apa mbak asal ga kamu sita aja lukisan ini.

....katanya tough mbak, wong kursinya banyak yang kosong di pesawat mbak, depan belakangku aja kosong kakak...

 Ada sedikit drama di Changi. Saya terbang jam 7.30 malem tapi saya udah di bandara jam 1 siang. Karena udah males jalan-jalan dan udah capek setelah lebih dari 24 jam nggak bubu dengan bener, nunggulah saya di bandara selama kurang lebih 7 jam. Eh la kok ya pas gate udah buka saya malah santai-santai sampai akhirnya last call. Orang capek itu bikin bego ya

2 jam Singapore-Surabaya, akhirnya mendarat dengan sempurna saya beserta lukisan ini dengan selamat. Setelah Amsterdam - Istanbul - Tbilisi - Istanbul - Dubai - Singapore - Surabaya.... akhirnya... dia terpasang cantik di frame yang dibeli di Malang deket rumah.

taraaaaaa finally

Tanpa saya harus nulis moral valuenya apa, kamu bisa baca sendiri dan menyimpulkan sendiri. Kalau ada yang kurang jelas, silakan tanya deh, daripada kamu menderita kek aku wkwkkw
Share:

Senin, 16 Oktober 2017

Day Trip To Mtzkheta

  
pemandangan dari Mtzkheta

Keesokan hari setelah para lelaki menderita diare, kita pergi ke Mtzkheta. Tanpa rencana sama sekali. Dan lagi-lagi bersama dengan sepasang sejoli yang tak bisa berbahasa internasional (saya tetiba menjadi pribadi yang tak cerewet).

Mereka yang dengan tiba-tiba mengajak kita dipagi hari. Saya itu emang jarang merencanakan sesuatu kalau liburan kecuali kalau memang ada yang perlu direncanakan, tapi perjalanan mendadak dengan pemberitahuan pagi 3 jam sebelum berangkat itu juga saya nggak suka. Mau nolak itu ya suami wis mengiyakan, kita juga nggak ada rencana kemana-mana hari itu. Yawis akhirnya berangkat lah.

 
banyak pengemis disana. Kalo kata partner, mereka ngemis karena korban perang usai Soviet pecah. Kalo kata orang sana sendiri, mereka mafia yang yaa sebut saja seperti di Indonesia kebanyakan pengemis adalah mafia

Kita menuju Mtzkheta, kira-kira 30 menit dari Tbilisi. Ntah kenapa hari itu panasnya luar biasa, sampai 32 derajat. Sebelumnya hanya kisaran 26-30 derajat lah mentok, tapi itu kok panas banget. Dan saya paling nggak tahan sama yang namanya panas, sedangkan mobil posisi sama sekali nggak di AC. Bikin makin dongkol aja.

 
wajib mengenakan penutup kepala dan didalem gelap banget makanya saya cuma masuk sekian detik lalu keluar (nggak tahan nggak bisa napas)

 

 
kastil depan gereja Mtzkheta 

 

 

Jujur sih saya nggak inget nama-nama gerejanya, tapi ada satu monastery yang cerita sejarahnya lebih asik. Tapi saya nggak ambil banyak foto 😂 dan disitu, mereka tuh nyewa tour guide buat jelasin isi gereja sama sejarahnya. Nah suami mikirnya nggak usah lah, dia udah paham dikit-dikit. Nah saya mikirnya 'NGGAK USAH PERCUMA JUGA DIJELASIN DALAM BAHASA INGGRIS JUGA ELU GA PAHAM, LAH GW KAN JUGA GA PAHAM BAHASA RUSIA. MAKE SENSE GA SIH LU?'. Ditambah dengan nggak moodnya saya gegara terlalu panas. Jadi ke tempat bagus itu saya cuman mlongo kehausan, laper, nggak mood, cuman duduk aja nungguin suami foto-foto, dan juga saya cuma people watching aja lah.

Dan pulangnya berasa exhausted banget.
Share:

Kamis, 12 Oktober 2017

Road Trip to Kazbegi

Ceritanya, Kazbegi itu daerah yang paling deket border Rusia. Selempar galah aja udah Rusia. Galahnya yang puanjang banget tapinya.

Si abang tersayang pengen kesana, ke Gereja yang letaknya diatas gunung. Perjalanan aja kayak perjalanan ke Bromo gitu, untungnya masih bisa pake jeep sampe atas. Bumpy bumpy nggak masalah deh asal nggak mendaki.

Kita ada di Tbilisi ya, naek travel gitu seharga 45 lari dari Tbilisi ke Kazbegi balik lagi ke Tbilisi. Untuk harga segitu dengan perjalanan sejauh itu, saya bisa bilang itu murah. Bayangin aja deh lah, perjalanan 5 jam dari Tbilisi menuju Kazbegi (termasuk foto-fotonya dan berhenti di setiap tempat), trus baliknya 3 jam. Ya kan udah persis Surabaya - Jogja kan?

Kita berangkat jam 10 tet, bersama dengan sepasang Russian yang nggak bisa bahasa Inggris sama sekali ulala. Alhasil saya cuma mincep cantik nggak ngomong sama sekali. Ya gegara saya juga ga bisa bahasa Rusia. Suami mah lancar.

Perjalanan tentunya dimulai dari keluar Tbilisi dulu ya. Sepanjang jalan kita liat gereja yang ada di Mztkheta, cuman lewat doang (kita kesananya esok harinya). Nah stop pertama kita di Ananuri. Ada gereja yang posisinya yahud banget. Pas banget. Ntah kenapa ya letak gereja-gereja disini tuh ekstrim banget. Tapi bener-bener cantik juga. Sempet nanya lah ke suami, eh dia bilangnya 'ya namanya juga orang beragama, mereka pasti ngelakuin hal extraordinary gini tanpa beban'. Hmm masuk akal sih.

Tiap tempat ada ceritanya masing-masing ya, tapi bukunya dibawa suami jadi nggak bisa cerita banyak sih huhu.

Nah bawahnya gereja ini, sebut saja di seberang ya, ada danau. Bisa dibuat renang. Ntah danau atau sungai atau apa ini saya juga nggak tanya rasa airnya asin apa nggak 😐 mereka bertiga renang. Saya kemana? Jaga mobil aja. Sumpah temperatur kala itu panas banget. Keknya cocok pas juga kalo buat renang <tapi gw ga bisa renang>


 

  
cantik kan? ini di Ananuri

 
perjuangan naik keatas dulu buat dapetin foto diatasnya ini 

 

 

Tapi... kemudian... meninggalkan Ananuri, langsung adem. Jalanannya hampir sama kayak jalanan sepanjang bukit teletubies di Bromo. Asik, adem, enak, adem pokoknya. Nah sepanjang jalan itu menuju Kazbegi itu ceritanya dibangun dari Rusia menuju kearah mana ya mendekati Tbilisi tapi nggak sampe Tbilisi. Gitu kata suami. Buat nyerang Georgia dari arah Rusia. Ya maklum ya, yang namanya tetanggaan itu sering berantem. Kek kita sama negeri seberang noh lol

 

Terakhir perang Rusia-Georgia tahun 2008 dan itu baru aja saya tau pas udah di Tbilisi. Parno kan, berulang kali nanya suami ini beneran aman apa nggak ini kota. Dia meyakinkan kalo sekarang udah aman.

 



Selama perjalanan kurang lebih 5 jam, akhirnya sampai juga di gereja yang katanya tertinggi disana, letaknya di daerah Kazbegi ya (semoga nggak salah info). Kalau desanya sih ada dibawahnya. Dan lagi-lagi dalem mobil yang bumpy tadi mereka juga pake bahasa Rusia. Bahkan ada anak kecil yang ngeremeng bilang 'No, its okay. it's not dangerous. why you are so afraid? no I am not afraid'. Gitu mulu diulang-ulang. Ya kan dalam bahasa Rusia sampe akhirnya suami kasih tau dia ngomong apa. Barulah disitu gw ngakak.

Karena sarapan ala Georgia itu bukan bisa disebut sarapan menurut kamus kita berdua, akhirnya kita ga pernah sarapan di hotel selama di Tbilisi. Kita lebih milih jalan ke coffee shop beli kopi teh sekalian sama croissant. Itu masih jauh lebih masuk akal menurut kita. Tapi tetep lah perut kita yang ga bisa kompromi soal makanan, sepagi gitu cuma makan seringan itu, dan perjalalan jauh itu bikin gw pusing banget, takut masuk angin kan. Dijanjiin mulu bakal dibeliin makan, ehh mana nggak. Si supir ya nggak peka banget deh kalo kita belom makan siang. Jadilah sampai di gereja yang diatas puncak itu sekitar jam 4 sore. Udah kesorean, laper, ujan lagi. But I saw a miracle in the darkness!!! HOTDOG SELLER!!! Sumpah itu penyelamat banget dan entah kenapa itu rasanya enakkkkk banget. Semisal kek makan indomi sama telor ceplok di Bromo. Uenak bangett. Sumpah mbak penjualnya keliatan shining cuantik banget pas jualan. Hmmm yaa mungkin karena saking lapernya kita ya...

 
liat van putih ini?? She was my saviour!! HOTDOG 😂

Udahlah kita nggak bisa lama-lama diatas sana, udah bosen juga jalan jauh eh ujan lagi diatas. Lah si mbak yang bareng kita itu doyan banget selfie. Kek tiap sudut kudu ada dia disana trus difotoin, sampe diteriakin sama bapak supir mobil bumpy ini 'senorita, come on!!!!' wkwkwkwk

ujan, dingin, basah, laper, pengen pingsan aja lah

ini cobain pano tapi dari bawah ke atas :D


 
mobil ala jeep untuk melintasi bumpy road

  

 


Oh ya itu jeep bumpy itu bayarnya terpisah lagi ya, beda sama yang 45 Lari itu. Tapi jujur juga gw gatau harganya berapa la wong mereka ngobrol asik sendiri sama bahasa Rusia. Kan gw jadi keliatan bego sendiri ya. Tapi yang jelas nggak mahal banget kok. Masih rasional. 

Balik ke Tbilisi, mampir suatu tempat buat makan. Tempatnya asik sih, tapi sayangnya makanannya nggak super banget dan malah bikin HJ sama cowo Rusia itu diare 😕

georgian beer

Nyampe hotel sekitar jam 9.30 malem, langsung menuju hotel... eh tetiba kepikiran 'Thai massage lagi yuk?!' Ya hayukkk akhirnya kita Thai massage sampe jam 11 malem. Tidur jadi nyenyak bener ya haha

Kita rencana ke sini lagi tapi nginep biar bisa eksplor paginya. Uhhmmm dia sih, gw mah ikut aja 😋

Share:

Selasa, 10 Oktober 2017

Blessed to be Part of Them

If you ask me what other blessing you have in life, I will say that the other blessing I have in my life is knowing that I have great parents in law, exactly the same as I imagine since long time.

I heard a lot of friends couldn't get along with their in laws, somehow it make me sad. What if I feel what they feel? What if my in law don't like me? I felt worried that I couldn't get along with them since we had several issues before. But day by day I am trying to figure out how they are, the way they are thinking about everything... the more I like them. I like them a lot, maybe I love them a lot. I love them like I love my own parents.

I really do. And I told my dad in law, 'Pa, you know what? I am your big fan' haha. It came out spontaneously as I couldn't hold myself not to say what's on my mind (berlaku juga buat hal buruk yang nggak seharusnya gw liat).

And it makes me happier when I know they like me as well. 

Thank you, for making me become a part of them. Thank you for accepting me as a new member in your family. Thank you for embracing me as your own daughter 💗
Share:

Selasa, 03 Oktober 2017

Strolling around Oldtown : Tbilisi

Ceritanya, di Tbilisi ada tulisan I 💜 Tbilisi, tapi kita nggak foto disana karena itu udah terlalu mainstream. 

 

Mendarat di Tbilisi, jalur customnya lancar jaya nggak seperti di Istanbul. Yang dateng cuman dikit, dan situasi sekitar bandara mirip banget sama countryside ala-ala Texas gitu (kaya pernah ke Texas aja haha). Kita nginep di hotel yang lokasinya pas banget di tengah, jadi mau kemana-mana asik. Bisa jalan, deket pula.

 
hotel kita nginep

Sore harinya kita langsung stroll muter-muter cari makan dulu karena eh karena paginya nggak sarapan bener, siangnya cuman dapet sandwich di pesawat (nggak doyan-doyan banget), dan sampai di Tbilisi udah kelaperan. Tau kan kalo singa lagi laper kayak gimana? Ya gitu itu gw kalo laper.

....oke skip soal makan...

Setelah makan masih sore nih, jam 8 barusan gelap, jalanlah kita melewati jembatan yang katanya baru dibangun sebagai penanda 'merdeka'nya Georgia dari Soviet (atau dari Rusia ya, lupa deh). Lewati taman-taman, ada pula Europe Square, semacem alun-alun yang dikasi bendera negara-negara Eropa disana. Dengan harapan, Georgia bisa dijadiin bagian dari Eropa uhuuu. Turki pun juga pengen jadi bagian Eropa.

 
metekhi church

Meluncurlah kita ke Metekhi Church. Eh iya, sewaktu di Istanbul kan keliling masjid, keluar masuk masjid deh ya, nah di Tbilisi ini kita keluar masuk gereja. Ya meskipun nggak semua gereja saya masukin sih karena pake celana terlalu ketat, ato kalo ga gitu bajunya ga sesuai, atau kalau nggak gitu dalemnya terlalu gelap dan saya males kalo masuk gelap-gelapan gitu. Percuma ambil foto juga nggak bisa, ngeliat juga mata rabun.

 

  
Istanbul punya jagung bakar + kestane, Tbilisi punya jus pome + jeruk yang HJ suka tapi gw ga suka

 
Kachapuri, yang ini enak, termasuk yang sup
 
Nah sekitar hotel kita juga ada yang namanya kastil tertua disana. Hemm naik naik ke puncak gunung gitu. Dulu saya ngerasa kek keren banget sih jalanan antar gangnya naek naek gitu, tapi udah ngerasain sendiri sembari bilang 'ya tuhan kenapa sih orang-orang pada nggak bisa apa ya bikin jalan lurus mulus aja. Capek lho'. Tapi sehat mungkin ya, work out banget. Diatas juga ada cable car yang sekali naek 2,5 lari, kalo PP ya 5 lari.

  

mbak jangan lompat ya... hidupmu masih panjang

Diatas juga bisa liat Patung mother of Georgia. Bagus pas sunset. Oiya di sana juga ada banyak pengemis. Kalo cerita partner sih, pengemis-pengemis itu dulunya juga punya simpenan di bank untuk pensiunnya, tapi berhubung waktu itu Soviet pecah taun 1991 akhirnya masa depan mereka juga rusak. Duit simpenan mereka jadi nggak berarti lagi. Akhirnya mereka ngemis dijalanan deh. Makanya guys jangan perang deh, biaya perang itu lho gede. Tapi kalo kata orang yang ada disana, tinggal disana, itu semua cuman mafia. Sama kek di Indonesia.

 


 


Ada hal lain yang bikin geleng-geleng kepala deh, jalan disana menggunakan sisi kanan. Nggak ada yang aneh sih sampai saya menyadari bahwa letak setir mobil ada yang dikanan dan ada juga yang dikiri. Dengan posisi jalan kanan tapi setir kiri, bisa dibayangkan tho normalnya? Tapi dengan posisi jalan kanan dan setir kanan, bayangin aja gimana ga berdoa terus biar cepet sampe tujuan dengan selamat. Serem lho!

 
mobilnya masih banyak yang ala 80an, jadi krasa masuk kota di masa lalu

 
banyak penjual buku-buku bekas atau buku tua dalam bahasa RUSIA. Kalo bahasa inggris ya kemungkinan udah beli banyak gw

ini lorong antara gereja satu dengan gereja lainnya

 
balkonnya lucu ya

kafe ini selalu muter charlie caplin dan kita liatinnya dari balkon kamar hotel diatas kafe ini

 
satu-satunya masjid disekitar Rustaveli, hotel


 
ini apa hayooo???

tempat ibadahnya jews

 

we both enjoyed Tbilisi 💜
Share: