Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2017

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Life Recently #5

  Tbilisi Masih saja menebak-nebak jadwal libur sang suami yang tidak pasti. Masih saja deg deg dengan jumlah libur suami. Masih pula was was dengan kondisi suami bekerja disana. Uh yea.... all about husband.  Masih pula menyibukkan diri belajar Bahasa Belanda, biar bisa ngobrol lancar bareng mertua. Target sih bisa lancar ngobrol Bahasa Belanda akhir tahun ini. Setidaknya untuk obrolan sehari-hari. Someday I wish that I could speak Dutch to him and he speak Bahasa in exchange. Would be super nice to have conversation in 2 different languages 😁 I also have a bonding time with my dad in law haha, in same time I learn Dutch from him. He helps a lot than my husband 😛 so great to have someone to teach me lol. He gave me an article about Agung mt in Dutch and it was like a challenge for me to understand what is written there, so I did translate to English and it was like 50% close to the original meaning haha at least I tried. How do you feel the weather recently? Uhh Malang

Freaky

  Kucing ini semacem nggak tau diri. Ceritanya bermula ketika gw sama HJ pindahan rumah ke Malang. Tetiba ini kucing parkir di atas mobil papa. Duduk manis gitu lah diatas kap mobil. Nah kita beberapa hari langsung aja cabut dari Malang dalam rangka yahhh honeymoon part 1, balik-balik ke Malang kok ya ini kucing semakin nempel ke catman yang ada dirumah. Dikasih makan nggak mau, maunya dielus-elus dikasih perhatian gitu. Sampai akhirnya HJ kasih nama dia Freaky. Semakin aneh aja karena dia pasti dateng kalo kita buka pintu dapur. Tiap dibuka, nggak sampai lah 5 detik si kucing udah sampai depan pintu. Apalagi kalau dipanggil FREAKY, ehh langsung meong-meong. HJ dengan bangganya ngeklaim kalau Freaky ini memilih kita untuk menjadi bosnya (berasa kayak 'terimakasih nak kau telah memilih kami sebagai orangtuamu' 😯), jadi kalau nanti kita pindah dari Malang, kita harus bawa Freaky ini. Dari semua hal terkait kepindahan rumah, yang diinget pertama kali 'Pokoknya kalo k

Perjalanan Panjang Lukisan Diri

  Mama mertua ceritanya membuat sketsa diriku sebagai hadiah ulangtahun kala itu. Namun ternyata sketsanya disempurnakan menjadi sebuah lukisan nan apik. Cerita bermula ketika lukisan ini berangkat dari Amsterdam menuju Istanbul. Karena papa itu orang yang sangat kreatif dalam hal permak dan produksi sesuatu, dibikinkanlah frame untuk lukisan tersebut. Dengan ukuran yang pas, kemudahan untuk memasang lukisannya, semuanya sudah diperhitungkan secara matang. Bahkan bertanya kepada pihak bandara Ams apakah diperbolehkan membawa frame kayu ke kabin, dan mereka bilang okay nggak masalah.   bentuk mulanya begini, dengan frame kayu melingkar ke roll lukisannya Tibalah lukisan cantik itu di Istanbul. Amsterdam - Istanbul tanpa ada masalah sedikitpun. Aman. Dan mereka berdua bilang ' Unpack aja kalau udah sampai Indonesia, jangan disini nanti susah packing nya lagi'. Manut. Setelah 9 hari di Istanbul, saatnya saya dan suami terbang ke Tbilisi. Drama pun dimulai. Ketika me

Day Trip To Mtzkheta

    pemandangan dari Mtzkheta Keesokan hari setelah para lelaki menderita diare, kita pergi ke Mtzkheta. Tanpa rencana sama sekali. Dan lagi-lagi bersama dengan sepasang sejoli yang tak bisa berbahasa internasional (saya tetiba menjadi pribadi yang tak cerewet). Mereka yang dengan tiba-tiba mengajak kita dipagi hari. Saya itu emang jarang merencanakan sesuatu kalau liburan kecuali kalau memang ada yang perlu direncanakan, tapi perjalanan mendadak dengan pemberitahuan pagi 3 jam sebelum berangkat itu juga saya nggak suka. Mau nolak itu ya suami wis mengiyakan, kita juga nggak ada rencana kemana-mana hari itu. Yawis akhirnya berangkat lah.   banyak pengemis disana. Kalo kata partner, mereka ngemis karena korban perang usai Soviet pecah. Kalo kata orang sana sendiri, mereka mafia yang yaa sebut saja seperti di Indonesia kebanyakan pengemis adalah mafia Kita menuju Mtzkheta, kira-kira 30 menit dari Tbilisi. Ntah kenapa hari itu panasnya luar biasa, sampai 32 derajat. Sebelu

Road Trip to Kazbegi

Ceritanya, Kazbegi itu daerah yang paling deket border Rusia. Selempar galah aja udah Rusia. Galahnya yang puanjang banget tapinya. Si abang tersayang pengen kesana, ke Gereja yang letaknya diatas gunung. Perjalanan aja kayak perjalanan ke Bromo gitu, untungnya masih bisa pake jeep sampe atas. Bumpy bumpy nggak masalah deh asal nggak mendaki. Kita ada di Tbilisi ya, naek travel gitu seharga 45 lari dari Tbilisi ke Kazbegi balik lagi ke Tbilisi. Untuk harga segitu dengan perjalanan sejauh itu, saya bisa bilang itu murah. Bayangin aja deh lah, perjalanan 5 jam dari Tbilisi menuju Kazbegi (termasuk foto-fotonya dan berhenti di setiap tempat), trus baliknya 3 jam. Ya kan udah persis Surabaya - Jogja kan? Kita berangkat jam 10 tet, bersama dengan sepasang Russian yang nggak bisa bahasa Inggris sama sekali ulala. Alhasil saya cuma mincep cantik nggak ngomong sama sekali. Ya gegara saya juga ga bisa bahasa Rusia. Suami mah lancar. Perjalanan tentunya dimulai dari keluar Tbilisi

Blessed to be Part of Them

If you ask me what other blessing you have in life, I will say that the other blessing I have in my life is knowing that I have great parents in law, exactly the same as I imagine since long time. I heard a lot of friends couldn't get along with their in laws, somehow it make me sad. What if I feel what they feel? What if my in law don't like me? I felt worried that I couldn't get along with them since we had several issues before. But day by day I am trying to figure out how they are, the way they are thinking about everything... the more I like them. I like them a lot, maybe I love them a lot. I love them like I love my own parents. I really do. And I told my dad in law, 'Pa, you know what? I am your big fan' haha. It came out spontaneously as I couldn't hold myself not to say what's on my mind (berlaku juga buat hal buruk yang nggak seharusnya gw liat). And it makes me happier when I know they like me as well.  Thank you, for making me become a pa

Strolling around Oldtown : Tbilisi

Ceritanya, di Tbilisi ada tulisan I 💜 Tbilisi, tapi kita nggak foto disana karena itu udah terlalu mainstream.    Mendarat di Tbilisi, jalur customnya lancar jaya nggak seperti di Istanbul. Yang dateng cuman dikit, dan situasi sekitar bandara mirip banget sama countryside ala-ala Texas gitu (kaya pernah ke Texas aja haha). Kita nginep di hotel yang lokasinya pas banget di tengah, jadi mau kemana-mana asik. Bisa jalan, deket pula.   hotel kita nginep Sore harinya kita langsung stroll muter-muter cari makan dulu karena eh karena paginya nggak sarapan bener, siangnya cuman dapet sandwich di pesawat (nggak doyan-doyan banget), dan sampai di Tbilisi udah kelaperan. Tau kan kalo singa lagi laper kayak gimana? Ya gitu itu gw kalo laper. ....oke skip soal makan... Setelah makan masih sore nih, jam 8 barusan gelap, jalanlah kita melewati jembatan yang katanya baru dibangun sebagai penanda 'merdeka'nya Georgia dari Soviet (atau dari Rusia ya, lupa deh). Lewati taman-ta