Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Gatelnya tangan kalian

Kenapa dibilang gatel? Karena emang kalau ngeliat tembok bersih baru dicat pasti ingin rasa tangan bereaksi menggerakkan jari jemari dg dilapisi beragam warna dannnnn jadilah gambar2 unik, lucu, unyu bahkan kadang gambar porno.

Well.. untuk kesenian rural *kalau nggak salah namanya* masih bisa dimaklumi. Tapi kadang tangan yg tak berseni sekalipun ingin sekali menggoreskan warna ditembok bersih tak bernoda. Ngaku ngaku yg suka coret2 dimana2 sembarangan hayo??

Karena mungkin kita semua terlahir penuh dengan jiwa seni tinggi *sebut saja nyanyil*. Karena saking tinginya, mana ada bangku sekolah yg bersih dari coretan pena dan tipe-x andalan jaman SD. Iya nggak? Saya sih jujur dulu doyan banget coret2 alay di meja sekolah, ntah pena ataupun tipe-x nya itu. Lucu kali, dulu ngerasa karena kita sekolah nulisnya pakai pensil, jd kalau salah otomatis hapusnya pakai penghapus pensil dong, bukan tipe x. Punya tipex tapi nggak dipakai juga rugi. Akhirnya pakailah tipex tersebut untuk berkreasi di meja sekolahhhh. Bukan hanya meja sekolah sih, tp bisa juga di batu2, tembok2 yg warnanya slain putih, bahkan bisa di seragam juga sih. Dasar nakal

Tapi saya sekarang jujur mantan pengkreasi tersebut. Saya sudah sadar kok kalau coret2 itu nggak bagus *nurut sama kata2 bu guru*. Jadinya saya hentikan saja kegiatan oon saya itu. Beranjak dewasa sudah mulai bisa mikir kan. Rasanya agak miris ketika melihat tembok pinggir jalan yg baruuuu aja di cat harus dinodai dg goresan tangan liar. Mending kalau bertulis atau bergambar seni yg tinggi. Tapi yg kebanyakan keliatan itu yg kata2 tidak senonoh ataupun umpatan2 liar *tengok saja kasus aremania dan bonek yg mereka ntah mengapa terlahir sebagai musuh hingga saat ini*. Umpatan2 itu bisa kata2 yg merendahkan hingga melecehkan.

Jika yg melihat adalah orang dewasa, mungkin kita masih bisa memilah dan berpikir "ohh ok itu hanyalah sekelumit goresan liar ala seniman jalanan tak bertanggung jawab". Nah kalau yg melihat adalah anak2 yg baru saja mengerti sesuatu yg buruk dan tidak bertanggung jawab? Apa yg akan dilakukannya? Membaca, dan mengucapkannya kepada orang terdekatnya. Karena banyak kasus yg terjadi seorang anak bisa dg lihai mencaci maki orang tanpa mengetahui itu bukanlah sesuatu yg dia mengerti artinya. Akibatnya dia hanya akan dimarahi oleh orangtua maupun gurunya dan dia tidak mengetahui sebab dia dimarahi. Dan bisa jadi dia menjadi benci dg orangtua atau gurunya. Panjang banget efeknya sih

Mending ya kalau seni itu masuk seni grafiti berkelas macam sindiran untuk penguasa yg agak nyeleneh.  Atau seni lainnya yg mengingatkan kita kepada sejarah bangsa. Atau apapun lah itu yg berupa gambar2 yg membuat kita maju atau memberikan kita semangat. Bukan hinaan bukan cacian.

Sekarang bayangkan, inginnya negara kita maju, iya nggak? Tapi males banget menjaga kecantikan sekitar kita. Sebut saja menjaga tangan agar tidak usil. Di bberapa daerah ada lho yg masyarakat rela membersihkan batu yg ditulisi turis2 nakal. Dan lebih lagi, letak batu itu berada di tebing yg jaraknya hanya 30cm dari lautan lepas. Bisa dibayangkan? Demi kecantikan sekitar, mereka rela mengorbankan nyawa nyemplung tak sengaja dilautan lepas lho. Merasa berdosa nggak? Harusnya merasa sih.

Saya bukan orang yg sempurna, tapi demi menjaga sekitar tidak bisa hanya dilakukan oleh diri sendiri saja, tapi bantuan dari yg lainnya juga. Ada kalanya satu orang menjaga, tapi ratusan orang lainnya merusak. Itu seolah yg sendirian tinggal kenangan aja deh. Seringkali kita me menuntut pemerintah, tapi lebih sering lagi kita yg tidak membantu pemerintah. Jumlah warga negara jauh lebih banyak daripada orang yg berada di kursi pemerintahan, apa salahnya sih bantuin mereka. Jangan hanya menyalahkan, tapi juga bertindak.

Sekecil apapun tindakan kita, jika dimulai dari diri sendiri dan konsisten, akan ada hasilnya kok. Karena usaha tidak akan mengkhinati hasil :)

Selamat menikmati secangkir kopi hangat dihari hujan bersama orang  tersayang ya :)

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men