Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Teliti sebelum belanja online

Hey.. ini bukan mengiklankan Bukalapak ya. Tapi ini adalah ungkapan hati tentang aplikasi ini.

Menurut saya ini aplikasi cerdas, sama seperti aplikasi jual beli online lainnya. Tapi karena sifat saya yang nggak gampang percaya beli online (apalagi di Indonesia), jadilah saya teliti banget dalam memilih lapak yang akan saya beli.

Ada vendor lain yang katanya internasional, tapi harganya agak mahal dan pengirimannya lama. Pengalaman beberapa teman menggunakan vendor ini, barang yang dipesan belum juga sampai setelah 2 bulan. Jadilah saya tidak tertarik untuk menggunakan vendor ini. Meskipun kadang masih saya buka sih untuk review bandingan harga.

Ada juga yang katanya aman, salah satu teman pernah mencoba, membeli di vendor tersebut, tapi benar-benar harus teliti *ini mah emang harus gitu kalau mau beli apapun dimanapun*. Menurut saya tampilan websitenya kurang menarik. Dalam artian masih terlalu ribet versi saya.

Nah karena saat itu saya perlu tas sejenis sling bag yang murah dan simple tapi sudah cari dimana-mana dan tak kunjung ketemu, akhirnya malah ketemu di Bukalapak, jadilah saya mampir ke Bukalapak. Saya belum pernah belanja online sebelumnya, saya sangat tidak terlalu suka belanja online terutama untuk barang yang menempel di badan. Saya putuskan untuk mencoba di lapak itu karena saya pikir, ini tas yang saya cari, harganya nggak terlalu mahal, kalaupun nggak sesuai hati juga nggak rugi-rugi amat lah ya. Lagian juga Bukalapak kasih time limitation untuk pengiriman barang. Jika barang tidak dikirim dalam 4 hari (atau 5 hari ya?), maka uang akan kembali ke kita. Akhirnya kuputuskan untuk membeli tas itu. 2 hari kemudian tas sudah ditangan saya. Saya puas dengan tas yang saya beli, pengirimannya cepat, dan efektif menurut saya sih. Saya berikan feedback yang lumayan ok untuk tas di lapak itu.

Nahhh…. Sudah pernah mencoba, akhirnya jadi kebiasaan. Hampir setiap bulan ada saja barang yang saya beli di Bukalapak. Jam tangan juga beli disana, harganya murah dan Alhamdulillah masih nyala sampe sekarang hhaha.. banyak barang-barang yang tidak ada di toko, akhirnya jadi beli ke Bukalapak.

Pernah juga pengalaman membeli jepit untuk foto, karena sudah keranjingan belanja di Bukalapak, kebetulan harganya juga murah, akhirnya beli, tanpa cek feedback yang diberikan shopper sebelumnya di lapak tersebut. Setelah 4 hari kok nggak ada feedback dari si empunya, ternyata *sepertinya* lapak sudah tutup. Karena sudah melewati batas limit pengiriman, akhirnya uang dikembalikan ke shopper. Uang masuk ke dompet di bukalapak.

Jadi ini ceritanya saya punya uang dompet bukalapak, sayang dong kalau nggak dipakai. Akhirnya saya belanjakan untuk barang yang sama di lapak yang lainnya. Dan barang sudah sampai 2 hari kemudian. Barang sesuai keinginan dan puas.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum belanja online. Semisal :

1.       Cek dulu teliti dulu barangnya. Jika barang ada di toko terdekat, menurut saya lebih baik beli di toko aja. Kalau beli online, pertimbangkan juga ongkirnya. Akan lebih baik jika pelapak ada di satu kota dengan kita, atau beli dalam jumlah banyak. Jadi nggak berasa rugi *kalau saya minimal nominal belanja lebih besar dari ongkir, biar nggak berasa rugi banget*.

2.       Cek feedback yang diberikan shopper sebelumnya untuk lapak tersebut. Jika tidak memiliki feedback atau feedbacknya rata-rata buruk sebaiknya sih cari pelapak yang lainnya. Kalau di Bukalapak semisal pelapaknya nggak kirim barangnya sebelum limit waktu, biasanya administrator yang kasih feedback dan bilang kalau barang cancel.

3.       Bandingkan harga antar pelapak. Biasanya barang yang sama memiliki harga yang beragam tergantung pelapaknya. Saya dulu pernah beli tas seharga 70ribu setelah pencarian njelimet super. Karena harga awalnya yang saya temukan seharga 300ribuan.

4.       [menurut saya] Jangan beli baju atau sepatu online. Karena tampilan seringkali menipu, dan bisa jadi ukuran sepatu kita 40 tapi karena sepatu yang dibeli merk A ternyata ukuran 40 itu sama dengan ukuran 38. Atau pas beli baju, dipakai modelnya yang kelihatannya memiliki badan yang sama seperti kita, tapi ternyata bentuknya kekecilan atau kebesaran. Kecuali kalau pernah mencoba barang tersebut dan memang barangnya tersedia online. Beda kasus lah kalau seperti itu yaa..

5.       PASTIKAN anda tidak gelap mata karena tampilan gambar. Gambar yang ada di website toko online selalu mengandung jampi-jampi “Ayooo belilah akuuu… klik lah keranjang disamping gambar aku iniii… kau akan puas dengankuuu”. Karena jika anda gelap mata, bisa dipastikan dompet anda jebol. Ehh bukan dompet ya kalau transfer uang, isi ATM hehehe

6.       [saran pribadi yang bisa nggak diikuti] Jangan belanja online lebih dari satu kali satu bulan jika ingin keuangan dan dana darurat anda aman.

Yaa itu deh kiranya saran saya kalau mau belanja online. Karena Indonesia belum sepenuhnya melek e-commerce ya. Jadi masih banyak orang yang ogah belanja online karena takut ditipu yang jual hahahaha

*Oiya, itu tidak terlalu berlaku jika ingin membeli buku online. Kalau buku sih  tinggal review aja sinopsisnya. Kalau penulisnya favorit kita ya udah pasti keraguannya berkurang kan*

**sekali lagi, ini bukan ngiklanin Bukalapak. Sekedar bantuin yang mau belanja di Bukalapak aja biar yakin. Kalau vendor lain, cari review yang lainnya yaaa**

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...