Minggu, 13 Oktober 2019

Sambang Opa Buyut di Ereveld Menteng Pulo

 

Karena sedang ada urusan dadakan ke Jakarta, maka sekalian gw putuskan untuk sambang ke opa buyut. Opa buyut adalah salah satu orang Belanda yang meninggal di Jepang ketika ditawan sebagai tawanan perang di Perang Dunia II.

Menurut nama keluarga, ada kemungkinan beliau merupakan anak dari keluarga Jerman yang bergabung dengan Belanda sehingga secara otomatis tercatat sebagai warga negara Belanda, menikah dengan oma buyut yang mana masih juga keturunan Belanda. Mereka berdua mempunyai seorang anak lelaki yang dikirim ke Belanda pada tahun 1955 sehingga terpisah dari adiknya (nenek gw) yang masih kecil. Mami (nenek gw) masih sekitar umur setahun saat opa buyut ditawan. 


Beliau meninggal saat usia 37 tahun, masih relatif muda. Oma buyut meminta jenazahnya dikirim ke Indonesia tapi permintaan itu tidak disetujui. Akhirnya setelah beberapa saat, pihak-pihak yang berkaitan memulangkan jenazah para korban perang yang sudah dikremasi. Abu opa buyut disimpan di Ereveld Menteng Pulo, Jakarta.


Bertahun-tahun mami pengen banget dateng kesitu tapi kesempatannya masih nggak datang sampai pada akhirnya mami menyusul opa. Karena rasa penasaran dan keinginan untuk kembali menelisik garis keluarga, maka adik yang sekolah di Jakarta mencari dimana abu disimpan. Setelah pencarian panjang dan ditemukan abu opa, tersimpan rapi di bagian atas rak. Sebulan setelah mami meninggal.

Saking bahagianya gw, gw lapor lah ke papa mertua gw yang berujung pada omelannya karena gw telat banget. Karena mami gw meninggal dan mami nggak bisa tau lebih banyak soal papanya. Gw ya agak nyesel sih karena kita telat mencari padahal semua data terekam di database yang ada di Belanda. Papa mertua gw langsung cari database keluarga opa dan oma buyut. Ada dua nama yang mirip tapi yang satu asalnya bukan dari Jawa Timur. Setelah beberapa pencarian, ketemulah satu data persis yang menjelaskan tentang abu jenazah dikirim ke Lemmers, marga oma buyut gw. Dari situ gw jadi tau kalau marganya mamanya opa buyut gw itu sama kayak marga mama sambungnya suami gw.


  
Disimpan di rak O, dengan nama ACL von Bannisseth (meski namanya salah tulis van)

Nyesel karena telat, tapi gw bahagia akhirnya ketemu juga. Kemarin gw ke Jakarta ada urusan di Kuningan, gw sempetin mampir. Ternyata jaraknya hanya 2km aja. Gw datang ditemenin adek gw dan kita cuma berdua disitu. Gw hampir nangis karena nggak nyangka aja gw bisa ketemu opa buyut gw. Meski dalam keadaan yang berbeda.

And I said, "Hi opa! Sorry I just came today. I am glad I came. I am the first granddaughter of your daughter"

 

Beristirahat lah jiwa-jiwa yang tenang dalam damai 💚
Share:

Senin, 30 September 2019

How are you?

 
Sanur

Hello there! It's been awhile. I am so occupied here (with what? lol). Let's catch up on some things.

So how are you? Alles goed? I almost finish my Dutch lesson level 1. I can make a complete sentence now so I am happy that FINALLY!!! At least now I can say more than just Ik hou van jou 😂 I definitely will continue my lesson and thinking about taking French after that 😇

I've been working with someone from Canada, remotely. And I am taking a branding course that really interesting for me. So every time I walk into some shops or see some branding things I would be like "Hmm is that true that you're eco friendly or it is just greenwashing? Ah I know you use this to cover your previous fail branding about that issue!" 😂 On a serious note, I am really interested with this branding stuff and would love to share some when I finish. I will only share what I need to share 😋

I am little bit avoiding login into my social media accounts although it is not easy to do that I still need to log into it to catch up some news. The news lately making me so stressful that make me feel exhausted and tired even siomay and es kopi can't fix my mood. That's a serious thing when foods can't fix me. So I decided to skip for some days. Then when it got little bit chill, my husband sent me some news that I knew since last week and started to talk about it. Oh boy. That was intense.

  
Let's chill. Go get some ice cream

I don't want to talk about the protest and everything happened for the last couple of week, but I am so concerned about people who doesn't know about marital rape. Where almost everybody think that marital rape is okay. Ok we're talking about the real rape where there are no consent from one side. Not the "rape" term as in BDSM. No women, you're allowed to say no if you are tired or not in the mood or sick or anything to your husband. (and vice versa). It is not sinful. Align your logic to your holy book, and you'll find the match.

Oh catching up some about these religious thing pressure, I am un-followed by some friends that finds me annoying because I am criticizing too much about religion and thought that I am convert. They can't handle my guts. Ah they love me, talked about me behind my back. So lovely 😊

Three months living in Bali, make me happy. I feel that I found myself (more) and really enjoying it. When people asked, "Does it feel like everyday is sunday in Bali?" I can say yes to that 😊 it is so enjoyable and liberating living in a place where there is nobody tell you what to do.

 
Seminyak

So I think that's it. I will write more soon. Have a good day everybody 😉

Note: due to our complicated situation lately make the stock market dropping down. It is a good time to buy some stock. Go get some stock pals!
Share:

Rabu, 21 Agustus 2019

Punya Saham? Semua bisa!

Karena gw keturunan sultan, gw putuskan untuk beli saham.

😂

Jadi begini, setelah beberapa jenis investasi yang gw terjunin, er maksudnya didalami, gw mulai berani terjun ke dalam jurang persahaman. Udah terdengar kaya belom? 😂 Jangan salah, beli membeli saham ini bisa dimulai dari harga ratusan ribu juga lho, bahkan ada yang harga sahamnya masih sekitar 300an rupiah per lembarnya. Gila kan?

Tapi meskipun gila, tidak semua harus dibeli hanya karena MURAH. Tolong bukan begitu mainnya.

Ok gw coba jelasin dikit ya soal saham ini. Disaat perusahaan mulai membuat sahamnya go public, itu artinya masyarakat bisa memiliki saham perusahaan tersebut dengan pembelian minimal 1 LOT. Menurut definisi adalah sebagai berikut : Lot merupakan satuan terkecil untuk dapat melakukan transaksi pembelian maupun penjualan saham. 1 Lot terdiri dari 100 Lembar saham.


Jadi harga yang tertampil dalam daftar pasar saham itu adalah harga per lembarnya. Misal nih tertera ANTM (Aneka Tambang) harganya 1,040 itu artinya satu lembarnya seharga 1,040 rupiah. Minimal yang kita bisa beli adalah 100 lembar (atau 1 LOT) sehingga kita harus membayarkan 104,000 rupiah untuk satu Lot ANTM.

daftar watchlist ini gw ambil dari Stockbit (kakaknya Bibit) karena load cepet dan gw pake mantau harga saham aja. kita bisa isi watchlist dg saham-saham yang kita incar.

Pertanyaan terpentingnya adalah bagaimana cara mendaftar untuk membeli saham tersebut? Nah ini penting juga karena, kita harus daftar dulu melalui sekuritas yang ditawarkan oleh bank-bank yang ada. Temen gw pake BNI sekuritas, bisa dicek di sini untuk selanjutnya bisa dibaca ya jangan malas baca. Nah setelah itu data kita dikirimkan ke pusat untuk diolah dan blablabla. Biasalah birokrasi. (Sekuritas bank lain bisa dicari sendiri ya karena berkenaan juga dengan fee yang mereka tawarkan).

Saham Blue Chip yang gw punya, kemarin ANTM sempet bikin untung 10ribuan satu lot nya

Sedangkan gw pake via aplikasi namanya IPOTGO milik Bank Permata yang mana data bisa kita ajukan melalui aplikasi tanpa harus mengirim data ke pusat. Biasa kan, gw anaknya ga suka ribet. Tapi kelemahan IPOTGO ini dia lemot banget dah karena loading datanya yang amat banyak. Kata temen gw "Butuh sabar aja bebb" Oh iya temen gw ini ya si Prisca satunya ini yang suka ngajakin investasi.

Nah long story short nih kalau kita udah punya yang namanya rekening sekuritas. Rekening ini digunakan sebagai tempat menampung dana sebelum kita beli saham. Jadi nggak bisa ujug-ujug klik buy tapi harus transfer dana dulu ke rekening sekuritas tadi kemudian baru bisa beli saham.

Setelah dibeli, yang terjadi adalah menanti hingga masuk ke dalam rekening kita. Prosesnya bisa membutuhkan waktu selama 2-3 hari. Setelah itu yaaa selamat anda sudah memiliki saham.

 

Nah, kapan waktu yang pas buat beli saham? Balik lagi ke niat awal investasi itu apa. Kalau niatnya untuk memburu saham yaaa waktu yang pas dibeli saat harga sedang turun. Tapi kalau tipe investasi "santai" yang penting rajin nabung, bisa di set waktu membelinya tiap bulan. Continuity is the key. 

Lalu, saham apa yang harus dibeli? Demi keamanan rookie, pilihlah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori blue chip. Mereka adalah perusahaan papan atas yang nggak main-main asetnya, nggak main-main juga keuntungan serta formasi tim di perusahaannya. Bukan perusahaan abal-abal tentunya.


Jadi jangan asal, "wah murah beli ah", tapi harus dipelajari prospek jangka panjangnya juga. Kenali produk yang mereka miliki. Apakah kita cukup mengenalnya, apakah cukup jelas produk apa itu, dsb. Jadi ibaratnya kalau reksadana kan manager investasinya yang mikir dan juga punya kecenderungan naik meskipun lambat. Kalau saham ya pemiliknya sendiri yang mikir gimana enaknya dan kapan belinya.

Note per akhir minggu bulan Agustus 2019 : Beberapa saham sedang turun. Saham BRI dan ANTM juga sedang turun bahkan jauh dibawah gw beli sahamnya kemarin. Tapi gw lagi ga punya duit nganggur LOL. Tapi yang mau punya saham, ini saat yang tepat beli pas harga diskon.
Share:

Selasa, 23 Juli 2019

Bagaimana jika terjadi bencana?

 
sanur

Minggu lalu gempa menggoyang Bali dan sekitarnya dengan magnitudo 6 yang membuat minggu keduaku di Bali bikin gempar karena tiba-tiba waktu cuci piring terdengar suara bumi bergeser juga getaran yang terasa. Nggak parah sih di wilayah Denpasar tapi cukup membuat kaget lah jelas. Biasanya di Malang kalau terasa gempa pun masih berupa ayunan singkat beberapa detik. Gempa di Bali kemarin terasa selama kurang lebih 2 menit.

Apa yang gw lakukan? Kamar gw ada di lantai 2 paling ujung. Nggak jauh sih dari tangga turun hanya sekitar 18 meter aja, tapi ya itu panjang banget rasanya kemarin. Lari lah gw terbirit-birit takut ambles, nyamber hp secepat kilat, lari secepet kilat juga, nggak pake sendal, belom pake daleman (untung udah pake baju, udah mandi, baru selese sarapan juga). Makin panik waktu liat muka-muka residen lain yang panik juga. Secepat kilat gw kontak temen-temen gw yang di Bali (Denpasar dan Singaraja), suami gw, mak gw. Kemudian mak gw nanya "Ati-ati tsunami" ya tuhan mak gw kenapa bilangnya gitu sih 😖 makin parno.

Setelah beberapa menit goyangan tadi, buru-buru gw keatas naik, ganti baju kerja, nyamber alat make up, langsung turun dan  berangkat. Sampai di kantor gw lupa gw belom gosok gigi coba 😂 Jadi hal pertama yang gw lakukan sesampainya di kantor adalah beli sikat gigi.

Kemudian gw jadi mikir, peta bencananya di tempat gw ini gimana ya? Karena gw tinggal 6-8 km dari pantai-pantai Sanur yang mana Sanur juga tetep ada potensi tsunami meskipun minor. Gw buru-buru ke kantor karena kalau ada gempa susulan, gw bakal bisa cepet larinya dan juga posisi kantor di wilayah utara yang jauh dari laut. Tingkat keamanannya cukup tinggi.

peta evakuasi (gitenews)

Gw tinggal di daerah warna kuning di bagian mendekati daerah abu-abu yang paling bawah. Gw jadi agak tenang meskipun masih galau aja sih akhirnya. Juga gw jadi pasang skenario kalo misal ada bencana gw harus ngapain, gw harus berlindung dimana, gw harus kemana. Gw pelajari arah utara selatan barat timur karena kalau ada bencana yang berhubungan dengan air gw harus lari kearah utara. 

tas default gw

Selain mempersiapkan emergency kit dalam satu ransel besar, gw selalu siap sedia tas yang gw sebut tas default yang isinya dompet, powerbank, paspor, sisir, lipstik, notebook, kabel charger + earphone dalam satu kotak, sekotak flashdisk, ikat rambut, juga pembalut biasanya. Ini adalah hal-hal emergency pertama yang penting. Ya nggak bencana pun ya emang itu adalah hal-hal yang nggak pernah ketinggalan. Powerbank akan selalu dalam keadaan penuh setiap harinya. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda jadi bisa disesuaikan tentunya. Laptop diletakkan dalam tas yang berbeda, mungkin nanti akan disatukan kalau gw udah nemu tas yang pas lol. Oh ya tas itu plus satu tas belanja yang selalu ada didalam. Ini Bali, harus bawa tas belanja sendiri.

isi tas yang wajib ada

Orang kalo hidupnya merantau, dia pasti akan persiapkan segala sesuatunya sepraktis dan seefisien mungkin. Karena cenderung hidup jauh dari keluarga nggak akan bisa berujar "ah gampang gapapa ada keluarga kan" 

Bukan menakut-nakuti tapi yaaaa sedia payung sebelum hujan juga why not? 

Jadi, sudah perhatikan peta evakuasi bencana di tempat tinggalmu? Semoga kita semua selalu terlindung dari bahaya di sekitar kita ya 😊😉

Share:

Jumat, 19 Juli 2019

Hore Punya Reksa Dana

Kode referal yang pertama dibagi. Jangan lupa 

Dari beberapa tahun lalu mulai tertarik melirik reksa dana karena kok keliatannya santai ya. Gw tipe orang yang males mikir kalo soal investasi. Yang penting itu returnnya oke, gak terlalu high risk yang nyantai aja lah. Ya bukannya beneran nggak mikir banget tapi ya tetep mikir lah sebelum eksekusi. Tapi mikirnya lebih ke yang "Oke gw punya duit kalo gw invest sekarang berarti gw ga bisa pijet santai, ga bisa krimbat, ga bisa belanja daleman. Oke gapapa lah nunggu suami gw dateng dulu" Mikirnya lebih ke level gitu sih 😁

Kemudian karena gw follow beberapa orang yang sukanya invest dan mereka suka share soal finansial juga akhirnya gw tertarik buat beli reksadana tapi via aplikasi. Karena menurut pengalaman para senior macem bang Riza begitu (btw nih orang sering banget gw sebut di lapak gw. Trus mana woy TuesdayFinance nya???) buka rekening reksadana itu ya cukup memakan waktu banget. Cukup ngeselin, cukup bikin senewen, dan cukup cukup yang lainnya lah pokoknya ya.

Lalu, gw pilihlah reksadana via aplikasi BIBIT. Men! Gw pemuja teknologi banget lol. Generasi jaman sekarang mah maunya praktis gak ribet. Gw tuh makin seneng bahas investasi kalo prakteknya gampang banget begini. Bibit ini diawasi OJK. Jadi semacem helm gitu ada SNI nya aja. Jadi dijamin keamanannya.

Trus gw coba lah karena kalo nggak cobain juga ga bakalan punya kan. Diceritain bolak balik juga nggak bakal ngerti karena meskipun gw banyak pertimbangan, gw juga tipe orang yang learning by doing. Nggak mampu ngebayangin hal rumit gw.

Nah karena udah terdaftar, Bibit ini juga bisa ngasih kita jenis investor macam apakah kita berdasarkan pertanyaan singkat yang didapat sebelumnya. Gw tipe investor agresif 9/10. Gw emang agresif ke semua hal. Dipilihin juga marketing investasinya siapa. Tapi kalo nggak mau dan ngerasa mampu merancang sendiri ya gapapa dirancang sendiri. Hanya saja gw nggak paham banget jadi ya gw terima jadi aja sih.

Tapi meskipun agresif, gw cobain pasar uang dulu, nggak yang tiba-tiba aja semua tipe reksa dana gw embat. Uh masih ada aja perhitungannya gw kok.

reksadana yang sudah berhasil dibeli. Earning hari pertama 1 rupiah, trus besoknya 19. Naik segitu aja udah bikin seneng 😂

Trus karena udah dirancang, kerjanya kita yaaaa cek return aja hariannya lol. Kalo ada duit ya beli.  Kalo stagnan yaaaaa didoain biar returnnya banyak haha! Akhirnya gw coba lah beli 100 ribu aja dulu. Itu batas minimalnya. Trus, gw bayar pake gopay. Gimana mau nggak enak, nggak usah bingung bayarnya gimana kan?? Pake aja saldo gopay. How much I love technology 😍

 

Jadi deh. Resmi lah gw punya reksadana 😍 Btw soal Bibit ini bisa juga diatur untuk pembelian bulanan semacem auto debet gitu. Jadi nggak ribet juga buat yang pengen nabung rajin dan udah alokasi sekian persen dari gaji. Tapi karena gw udah punya investasi lain yang auto debet, jadi yang reksa dana ini bakal gw buat manual aja.

Jenis investasi macam begini ini yang cocok untuk anak SMA yang udah punya KTP, juga mahasiswa. Meskipun belum bekerja tapi kalau bisa menyisihkan uang saku bulanan 100 ribu aja sebulan, kan bisa jadi investasi.

Oh iya kalo bikin Bibit juga jangan lupa pake kode referal gw ya : priscalohuis. Tolong dipake biar gw cepet kaya trus gw bisa cepet punya kos-kosan 100 kamar!

Note : Nanti soal jual reksadananya gw tulis kalo gw udah ngalamin aja ya. Bakal terus di update kok ini. Btw lagi gw nggak di endorse BIBIT. Tapi kalo BIBIT mau endorse ya gw nggak akan nolak kok. Gak usah dibayar, dibeliin aja reksa dana ratusan juta aja udah cukup kok 😎
Share:

Rabu, 17 Juli 2019

Catatan Kuliah (5) : Minor di jurusan matematika

Pemberontak

Hingga tahun ketiga atau semester 5 kita mulai untuk memilih penjurusan, disitulah kita mulai berpisah. Penjurusan ini sering gw sebut minor. Jadi kalo gw tulis di resume ya mayor gw matematika, minor gw komputasi.

Berikut adalah urutan minor dari yang paling rame sampe yang paling sepi :

Minor sejuta umat, Statistika

Kenapa sejuta umat? Karena katanya gampang. Gampang dari mana sih gw bingung, kerjanya ngolah data doang. Merekayasa data juga. Merekayasa ini ya nggak yang bohongi orang lah tentunya, nggak gitu. Yaaa paling dibuletin lah dikit-dikit. Minitab, SPSS itu sahabat mereka. Gatau lah data diolah gimana jadinya yang duh nggak nyampe di otak gw. Selain matakuliah statistik yang wajib, gw cuma ikut statistik pilihan dua matakuliah. Itupun terpaksa karena harus ada sekian persen (dibawah 50%) ambil matakuliah dari minor lain. Ada statistika terapan yang gw ambil (nyesel gw ambil ini) dan juga aktuaria. Nah aktuaria ini gw ambil karena dosennya murah nilai, tapi gw selese kuliah ini nggak paham apa-apa tapi dapet A. Karena dosennya nyuruh kita nulis nilai yang kita mau. Ya jelas A lah. Gw inget pertanyaan beliau ketika masuk kelas di hari pertama, "Sesuatu ini harus dibayarkan ketika ikut asuransi, disebut apa?" Satu kelas nggak ada yang bisa jawab. Kemudian beliau bilang "POLIS YA ALLAH, KALIAN KEBANGETAN BANGET SIH POLIS AJA GAK TAU" 😂

Minor bagi pemberontak, Komputasi

Kenapa pemberontak? Karena kita merasa terjebak di matematika. Banyak dari kita yang ternyata lebih suka coding dan atur logika daripada pembuktian teorema. Apalagi setelah merasakan manisnya mengolah basis data dan mengkoneksikannya ke program buatan sendiri, woah. Itu rasanya ngerasa pinter kayak hacker. Minor ini juga sering diambil orang statistika karena katanya nggak semikir lainnya. Tapi ya mereka sama kek gw di kelas statistika, hanya memenuhi berapa persen tadi yang diwajibkan. Tanya aja ke anak komputasi gimana cara mereka menyelesaikan coding mampet? Dari mimpi. Biasanya coding yang ga bisa terpecahkan selalu kebawa mimpi dan di mimpi eh codingnya jadi. Aneh sih tapi sering begitu.

Minor bagi orang yang berharap mampu menerapkan ilmu matematika dengan cepat, Matematika Terapan

Sesuai namanya, orang yang pilih minor ini adalah orang yang lempeng dan berharap bermanfaat bagi bangsa dan negara. Karena seperti yang udah gw tulis sebelumnya kalau matematika itu hanya "babu" dari ilmu eksakta lainnya, disini mereka bisa menemukan dunia mereka. Seperti pemanfaatan penjadwalan, penentuan rute tercepat dan terpendek, dll dll. Seru sih sebenernya, tapi males ikut lol.

Minor bagi orang yang suka dengan hal absurd, Aljabar

Sesuai namanya, minor ini itu terdengar nggak masuk akal banget buat gw. Gw dapet dasarnya aja udah pusing.


Minor bagi orang dengan idealisme tinggi dan nggak masuk akal, Analisis.

Jadi kalau aljabar itu absurd, analis itu lebih nggak masuk akal lagi. Tapi mereka bersaing dalam jumlah pendaftar kuliahnya. Kurang dari 5. Sedangkan kelas baru dibuka jika peminatnya minimal 5 orang. Sampe mohon-mohon yang niat ikut ini biar kelasnya dibuka walaupun kurang dari 5 orang.

Tapi secara keseluruhan, ilmu matematika itu dipake kok dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun nggak semudah fisika untuk menemukannya, tapi tetep dipake kok. Kelasnya aja yang beda 😉 Yang paling gampang adalah penjadwalan pegawai atau kelas, penentuan rute terpendek dan terjauh (yang level up yooo). Seru kalau kita tau seketika hasilnya. Tapi kalau diangan-angan itu cuma orang tertentu aja yang mampu menembusnya. Dan itu bukan aku 😂

Cerita sebelumnya disini ya
Share:

Kamis, 11 Juli 2019

Catatan Kuliah (4) : Alfabet Korea di kelas matematika

 
Graha Cakrawala, gedung andalan kampus. Mau konser, kawin disitu juga bisa

Mahasiswa matematika di kelas gw yang niat bisa diitung jari. Hmmm yaaa ada dua lah yg top banget, tapi juga pelit banget sama ilmunya. Ada lebih dari 5 yang pinter dan rajin berbagi contekan. Sisanya nggandol wae.

Gw orang yang suka banget belajar bahasa asing. Apalagi bahasa yang alfabetnya beda. Nggak sih, nggak Jepang sama Mandarin. Susah banget. Jadi milih Korea aja. Trus gw suka aja gitu nulis di buku catetan tulisan Korea padahal juga sering dalam Bahasa Indonesia yang diganti alfabetnya aja.

Kemudian ...

"Ah elu kenapa sih? Kan gw jadi nggak bisa baca!"
"Ya kalo pengen baca, belajar lah"

Tapi gw gak punya otak Cina kek mas Riza, jadi gw kasih aja lah gratis!

Hingga akhirnya satu kelas pun bisa baca tulis dalam alfabet Korea. Keren kan gw? Gw emang pantes jadi influencer sih. Udah berapa juga orang yang pake Jenius gara-gara gw. Berapa orang yang nabung emas di Pegadaian gara-gara gw. Padahal hellooo gw nggak diuntungkan disisi ini 😓 terlalu baek gw jadi orang sih.

 
gedung matematika di sebelah kiri, nggak keliatan sih. Yang keliatan itu gedung Fisika juga Kimia yang keliatan gentengnya aja (gedungnya Ikrom)

Balik lagi, karena satu kelas udah bisa alfabet Korea, jadilah kita interaksi dalam kelas pake kertas folio yang bertuliskan obrolan ga jelas gara-gara dosen terlalu membosankan. Padahal dosennya killer banget lho. Kalo ketauan bisa-bisa dapet E lho. Serius ini nggak boong, ada kakak tingkat yang motret pak dosen itu, trus ketahuan, dia dapet E. Ngikut kuliah beliau selama 3 tahun (karena hanya beliau yg ngajar, matakuliahnya muncul satu semester aja jadi kakak tingkat itu ikut selama 3 kali) dan nggak lulus. Nilainya tetep E. Hingga pada titik "kamu minta maaf aja deh, biar dimaafin. Beliau orang yang sensitif". Minta maaf lah kakak tingkat tersebut dan lulus dengan nilai bagus. Padahal dia ga bego wong dia programmer. Jadi dia lulus 7 tahun hanya karena sakit hatinya beliau, sedih kan 😓

 
GKB, tempat kuliah matakuliah bukan matematika

Jaman dulu belom ada WA grup ya, hape pintar aja masih satu orang yang punya di kelas itu. Jadi ya komunikasi satu grup ya via kertas folio. Kemudian, ketahuan dong ya. Ketahuan dosen terkiller masa itu. Beliau berkata "Kalian ini emangnya sudah paham kok malah nulis lagu Cina di folio??"

LAGU! LAGU! LAGU! LAGU CINA PULA!

Untungnya beliau ndak tau bedanya ya Korea, Jepang, Mandarin 😂

Serempak menjawab "Hehe iya pak maaf"

Jadi ketika bosan dengan rentetan pembuktian, kita selingkuh sebentar. Selingkuhnya kompak satu kelas. Tapi yaaaa balik lagi fokus ke kelas matematika setelah refresh otak. Terlontarlah pertanyaan "Eh Dit, kamu bisa nggak ngerjain soal matematika dalam Bahasa Korea?" itu pertanyaan BODOH! Karena dalam bahasa gw sendiri aja sering ga mampu nyelesainnya bebbbbb

Moral value-nya adalah jangan pernah gombalin orang matematika karena rumus-rumus matematika aja kita kasih bukti kok berani-beraninya kamu cuma modal gombal? Kita akan minta pembuktian daripada gombalan manis #LhoGakNyambung
Share: