Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Antara confirm dan unfriend

Semalam saya dibuat sibuk karena sesuatu. Karena si ayahnya dia yang tiba2 stalk facebook saya dan mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, akhirnya saya mulai 'membersihkan' friend list saya.

Dulu waktu awal ada facebook, semua yang add memang langsung approve saja. Yang penting temen facebook banyak. Maklum aja, facebook ada pas jaman saya masih labil. Malah ada kakak tingkat SMA yang mengaku nggak punya facebook dan minta diajari, seminggu kemudian sms "ayooo banyak2an temen di fb". Jaman segitu mah masih labil.

Tapi beranjak dewasa, semakin luas pemikiran dan semakin ogah berhubungan dengan orang alai. Siapa yg masih punya teman seumuran dg nama facebook cinta kamyu celamanya campai nanti ? Atau rinduku padamu tiadahenti hai sayangku ? Atau kalau seumuran mungkin udah pada punya bebi jadi berubah nama menjadi akyu bundanya rinrin ?

Geli sumpah

Jujur, dulu memang nama fb saya sempat agak alai sih, tapi itupun masih pakai nama geng, Prisca Aditya Scalq. Masih nama sendiri lah ya. Tapi lama2 thank God ya ilham yang maha kuasa datang padaku sehingga aku memutuskan untuk berhenti jadi alai dan memakai namaku sendiri di fb.

Nah, karena begitu banyaknya teman fb yg sama sekali nggak kenal, jadilah friend list ku sekitar 1200an. Dulu sih udah sempat bersih2 jadi tinggal 800an. Tapi semalam berhasil reduce lagi jadi 500an. Nah 500 orang ini adalah yg benar-benar saya kenal. Kok banyak ya yg aku kenal?

Nah, what I am questioning is : kenapa foto fb pakai foto anak? Atau pakai nama anak? Atau pakai nama yg bukan nama sendiri lah, atau kalau nggak gitu fotonya yang cuma keliatan punggungnya aja?

Mengurangi 300 akun itu susah lho. Karena benar2 harus teliti. Jangan asal aja unfriend. Kalau namanya alai sih gampang, nggak usah masuk akunnya, tinggal unfriend aja langsung. Nah kalau namanya bener? Baru deh liat gambarnya. Banyak yg gambarnya cuman punggung aja. Kalau nggak gitu tangan aja, atau kaki aja. La ini punya akun gimana sih? Jangan salahin kalau tiba2 banyak yg unfriend gegara ngerasa nggak kenal sama si empunya akun.

Kebiasaan kebanyakan orang asal main add aja nggak mikir itu siapa, kenal apa nggak, yang penting add dan nambah temen. Parahnya, yg di add mau confirm biarpun nggak kenal *gue dulu begini, dulu tapi, sekarang udah tua*. Semenjak ilham itu turun kepadaku, akhirnya jadi malas kalau ada yg add dan nggak kenal masih ngeyel aja minta confirm. Helloooo siapa ya?? Temen kantor aja mau add fb minta ijin dulu kok, saking sopannya.

Prinsip saya, confirm jika kenal dan cocok. Nggak perlu kalau nggak kenal. Karena biasanya mereka modus, akhirnya masukin nama kita di grupnya tanpa ijin dan akun kita otomatis terinfeksi virus. Kebanyakan sih virus porno.

Kenapa pengen punya friend banyak di list? Biar beken? Ngetop dikira artis? Hmm standar diri kita bukan dilihat dari banyaknya teman di friend list facebook kita kok, tapi kualitas bergaul dilingkungan sosial. Bukan semena-mena social media.

Akun saya sering kena hack, tiba-tiba ada orang yang sama sekali nggak kenal ada di friend list.

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men