Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...
Hai… lagi-lagi menyoal pendidikan ya. Lagi demo buruh dimana-mana, minta UMK dinaikin. Udah setuju dinaikkan, tapi kebijakan yang dihasilkan dinilai merugikan para buruh. Pemerintah dipandang lebih mementingkan dan memihak pengusaha. Katanya sih begitu. Tapi kurang paham juga. Pada beberapa kasus ada pengusaha yang keberatan menaikkan upah buruh, namun ada juga yang menyanggupi menaikkan upah buruh dengan syarat dan ketentuan. Syaratnya apa? “Oke, gaji elu gue naikin tapi sebagian dari elo gue PHK”. Nahh… gimana ini ? bagaimana jika menghadapi hal seperti ini? Dengan diberhentikannya sebagian buruh, akan semakin menambah beban kerja para buruh lainnya. Walaupun gaji naik namun beban kerja lebih tinggi. Itu kalau menurutku adalah “gak ada bedanya gaji naik ataupun nggak”. Memang beberapa pengusaha merupakan usaha skala kecil menengah, bukan kelas tinggi. Karena kalau kelas tinggi seperti perusahaan multinasional atau bahkan internasional, mereka akan...