Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.
Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.
Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.
Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, meskipun hujan pun jalanan memang basah tapi nggak menggenang. Beda cerita kalau di Moskow. Kalau hujan, sudahlah pasti menggenang banyak di jalanan. Belum lagi kalau salju, pasti licin banget jalanan. Mei tahun ini masih salju jadi meskipun musim dingin tahun ini belum begitu banyak salju, gw udah ada gambaran kalau salju berat bakalan seperti apa. Sepatu inipun pasti akan digunakan untuk menghempas genangan air, tumpukan salju, semoga anti kepleset juga.
Kami memutuskan untuk, "Ya sudah, ini waktunya beli winter boots."
Ini jadi sepatu winter pertama gw karena ya gw nggak pernah punya sebelumnya. Target gw sih itu sepatu punya hak agak tinggian, kira-kira 5 cm dengan bagian depan juga yang ada haknya juga. Jadi nggak tipis di bagian depan. I have learned my lesson, sepatu dengan hak tinggi kalau bagian depan tipis tuh nggak enak. Pasti sakit.
Mencari ke sana kemari tapi nggak ada yang sesuai keinginan. Kebanyakan pasti hak tinggi di belakang dan tipis di depan. Waktu dicoba pun, kaki rasanya mencari grip pijakan di dalam sepatu itu. Buat gw ini penting, saat kaki masuk sepatu pertama kalinya yang akan menentukan gw bakal beli apa nggak. Rasa yang gw cari ada huggy feeling, bukan repelling feeling.
Barometer itu yang gw pakai untuk mengeliminasi banyak pilihan yang ada. Sebagus apa model sepatunya, meskipun sesuai keinginan, tapi kalau rasanya nggak memeluk sudah langsung tinggalin.
Lalu di suatu sore, suami gw WA bilang "Sabtu besok ke Panama Jack, liat sepatu. Katanya enak."
Gw jarang banget denger merk ini. Aneh juga dia harus bikin janji buat liat sepatu. Karena ternyata tempatnya lebih mirip gudangnya langsung daripada showroom. Modelnya sih mirip-mirip semua. Gw tadinya menghindari yang ada bulu di dalamnya. Tapi mumpung di Moskow, dalam ruangan juga (yang seringkali lebih panas dari gurun sahara waktu winter), gw sengaja pakai kaoskaki tipis biasa. Jadi gw bisa takar apakah kaki akan gerah apa nggak kalau lagi di dalam ruangan.
Gw coba yang ada hak 5 cm dan yang lebih rendah lagi. Mata gw langsung menuju ke sepatu hak tinggi, meski warnanya hitam (bukan pilihan utama). Begitu kaki gw masuk, kaget dong. Karena rasanya amat sangat memeluk gw. Bahkan nggak ada tanda nggak nyaman sama sekali. Puluhan sepatu gw coba dari merk termurah sampai termahal, belum ada yang kasih rasa itu.
"Wah ini nih, the one."
Tapi tetep gw coba yang sepatu dengan hak agak rendah, ternyata nggak enak. Jadi gw coba sepatu hak 5 cm yang tadi sekali lagi. Gw pakai jalan, jongkok, puter-puter, enak banget. Nggak kaku. Gw bilang ke suami gw, "Ze zitten lekker." Enak banget coi.
Udah nggak pakai mikir lagi, angkut. Suami gw juga cuma 2 sepatu aja yang dicoba. Yang lama bukan di proses fitting tapi di proses orangnya nyari sepatu di tumpukan boks.
Esok harinya, gw pakai. Orang bilang ada fase breaking. Setelah beberapa jam gw pakai, masih agak kaku dikit sana sini. Tadinya sakit di kiri, eh malah yang kiri enakan duluan. Yang kanan kayak kemeng dikit. Tapi setelah hari kedua gw pakai udah mulai seimbang.
Sol bagian bawah luar empuk banget jadi waktu jalan nggak ada bunyinya sama sekali. Sol bagian dalem juga empuk banget. Kalau sendal Birkenstock solnya keras dulu baru bisa membentuk kaki, kalau ini sudah empuk duluan jadi serasa ngikutin bentuk kaki. Kaki tuh rasanya nggak seperti nginjek triplek gitu. Tapi kayak nginjek yogamat. Nggak kerasa resistan di kaki.
Sepatu ini terbuat dari bahan kulit, dengan hak tinggi bertujuan untuk menghindari genangan air. Harganya sekitar €200. Harapannya sih tentu dia bisa tahan bertahun-tahun. PR-nya ada di "Gimana cara pelihara sepatu kulit di Bali", karena jaket kulit gw berjamur setelah 2 bulan di Bali. Sendal kulit jadi kayak kripik kulit juga di Bali.
Ada yang tahu gimana cara ngerawat sepatu kulit di Bali?
Comments
Post a Comment
Share your thoughts with me here