Kamis, 30 Juni 2016

[How we met] Time flies... 10 years already...



So yeah, promised to write about SCALQ. So here we are now. (I am gonna write in Indonesian).

Saya yakin saya sudah pernah menulis tentang SCALQ disini. Karena jika ada yang menanyakan apakah hal yang penting bagiku, pikiranku akan selalu ke keluarga dan SCALQ. Itu sudah otomatis seperti itu. Jadi kali ini saya mau menulis secara lengkap siapa itu SCALQ.

Jika ada yang menanyakan ‘siapa SCALQ?’, saya akan menjawab ‘mereka adalah saudara yang tidak bertalian darah denganku’. Ehh? Bagaimana bisa? Ya bisa. Menemukan beberapa orang sahabat yang memiliki cara pandang sejalan dan saling melengkapi itu tidaklah mudah. Berawal dari drama Korea, semuanya dimulai.

Officially kami menjadi dekat satu sama lain ketika kami berada dikelas 3 SMP. Saat itu saya yakin kami berusia sekitar 14-15 tahun. Seketika kami pun menjadi terkenal. No no, bukan karena kami adalah segerombolan anak remaja yang kaya, yang modis (saya yakin kami cantik2 semua kok, cumin waktu itu masih lugu aja), yang nakal dan berandal, yang lenjeh, ataupun yang beken seperti para anggota cheerleaders, tapi kami terkenal karena keluguan Radin dan juga sifat-sifat kami yang sangat kontras terlihat. Serta agak bawel juga, kemana-mana meramaikan suasana. Serius rame banget. Sampai kata teman-teman yang lain ‘kalian kok bisa sahabatan sih? Sifat gak sama gitu, kok bisa-bisanya betah sahabatan’. Well… destiny choose us to be together.

This is not the first picture we took together, but this is the best first picture we had. We were at 12th grade of high school
Ketika itu kami tidak tertarik terhadap hal-hal yang berbau pacaran, atau apapun itu. Kami itu lurus. Cuman belajar dan having good and crazy times together. Udah itu aja yang diotak kita. Sama satu hal, ngefans sama artis Korea yang ganteng-ganteng, trus diulas pas jam pelajaran disekolah.

Kebetulan, SMA pun juga satu sekolah. Sebenarnya saya tidak bersekolah di SMA itu, tapi saat mendaftar ke sekolah lain karena tuntutan orangtua, sayapun berdoa agar tidak diterima disekolah itu dan pindah daftar ke SMA tempat sahabat saya bersekolah. Wow, doa saya terkabul hahaaha. Akhirnya kami selama 3 tahun bersekolah menjadi satu sekolah lagi. Saya, Maya, Novia dan Dina jadi satu jurusan IPA hanya saja beda kelas, sedangkan Radin lebih memilih jurusan bahasa.

This was maybe when we were in our first year at college

Sifat kami, jelas berbeda. Kontras. Saya dan Maya mungkin sedikit banyak sama, jalan pemikiran kita sama tapi sifat beda iya. Maya cenderung sensitive banget, peka banget, cerewet, suka in frame, pokonya maunya keliatan wow lah. Si Novia cenderung suka dibalik layar, dia cerdas tapi oon. Duh gimana ya jelasinnya, secara study memang dia cerdas banget, tapi secara social life dia sering oon. Pengetahuan budaya aja ndak tau banyak, termasuk koteka itu apa juga dia nggak tau. Sulit dah. Kalau Radin orangnya pemalu tapi galau. Yang paling saya gagal paham itu dia yang ndak suka makan dikantin karena dilihat banyak orang. Dan pikirannya seperti anak kecil banget, menakutkan hal yang absurd dan itu hanya ada di sinetron aja. Tapi dia sudah bisa menerbitkan satu novel karyanya. Proud of her. Nah kalau Dina orangnya lemoootttttt banget. Gatau kenapa dia itu lama banget loadingnya kalo diajak ngobrol. Dia juga orangnya paling kecil jadi berasa kayak harus dilindungi gitu. Kalau kita jalan berlima, yang jadi satpam ya saya sama Maya. Pasti deh.

Udah ya, kali ini lanjut ke kuliah. Kami berlima kuliah di Malang tapi beda universitas. Cuman sama maya aja yang satu universitas. Radin, Novia dan Dina di universitas yang berbeda. Saya ambil matematika, Maya ambil bahasa jerman, Novia ambil kebidanan, Radin ambil bahasa inggris dan Dina ambil study psikologi. Beda jurusan banget, nggak ada yang satu jurusan sama sekali. Tapi helpful banget karena ada Novia yang bergerak dibidang kesehatan. Itung-itung jadi dokternya SCALQ.

Oiya, soal nama kenapa SCALQ, awalnya nama kita Ijo Lumut. Radin yang bikin ini nama. Katanya itu singkatan dari Ikatan Jomblo Lucu dan Imut, mengingat kita semua saat pertama menjalin persahabatan sama-sama jomblonya. Tapi kami protes, nama itu terlalu alai dan nggak unik. Yawes kita mikir lah nama baru. Kenapa SCALQ? Diambil dari nama zodiak kita masing-masing. Alay sih sebenernya ya, tapi ya gimana lagi, tapi kan ndak ada yang tau asal muasalnya nama itu. Scopio, Capricorn, Aquarius, Leo. Awalnya Cuma itu aja, SCAL. Tapi karena menggantung kita tambah Q dibelakangnya, jadi namanya SCALQ. Scorpio, Capricorn, Aquarius, Leo, Qta (Q nya ini yang versi alay, tapi yasudahlah. No need to worry about this anyway). We love this name and declare to everyone. Dan yang paling suka declare itu si Radin. Makanya semua orang tau nama kita dan merasa “HAH? SCALQ?? Jelek banget namanya, artinya apa??” kita jelaskan asal muasal nama itu dan mereka bilang “Oke, aku panggil kalian dengan nama SIKILKU”. Memang sih secara pronounce itu mirip banget sama sikilku yang artinya dalam bahasa jawa itu kakiku. Yah kok jadi kaki sihh. Yaudah lah ya, yang jelas kami meninggalkan kesan kepada teman-teman kami. Dan kalau kami tidak ada satu, mereka pasti mencarinya. Hingga bertahun-tahun kemudian pernah bertemu dengan teman satu SMP dulu, dia menanyakan “Masih berlima?”. Iya dong, dia pun mengatakan lagi “Amazing ya kalian itu, persahabatan kalian itu unik banget”. See??? Kita meninggalkan kesan mendalam bagi orang yang mengenal kita. Dulu saya merasa itu hanya sebatas suka-suka remaja, tapi ternyata ikatan kita lebih dari itu.

Tahun demi tahun berjalan. No no, seperti yang saya bilang, persahabatan kita ndak Cuma tawa aja, tapi tangis juga. Dari masalah yang sepele sampai rumitpun kami pernah mengalami. Masalah berat sampai merenggangkan hubungan kita selama satu tahun juga sudah pernah kami alami. Tapi setelah membuka diri dan hati, kami juga kembali akur lagi kok. Semuanya sesuai dengan porsinya aja.

Kemudian tibalah disaat satu persatu dari kami melepas masa lajangnya. Menikah. Novia yang kita panggil dora, memutuskan untuk menikah terlebih dahulu. Dipanggil Dora karena pernah potong rambut persis kayak kartun Dora the explorer lengkap dengan poni depannya. Dia adalah yang termuda diantara kita. Dan surprisingly, suaminya adalah salah satu teman SMP kita. Saat itu kita hanya berucap ‘dunia ternyata sempit ya’. Saya dan Maya kebetulan terlibat dalam pesta pernikahannya. Seneng banget akhirnya dia menikah dengan suaminya. Padahal dulu musuhan banget. Banget dehhhh bangetttt nget nget. Moral value : jangan bermusuhan dengan lawan jenis terlalu banget, krn bisa jadi dia jodohmu. 

 Her wedding, wore Javanese traditional dress called "Dodotan"

 Another Kebaya, with her husband whom she always quarreling with. but fate make them become one small family now

after waiting for a year finally... will be tante again for her baby soon soon

Menyusul kemudian Radin. Seorang yang pemalu galau akhrinya memutuskan untuk menjadi istri orang. Yah, dengan teman satu kampusnya yang tidak begitu kami kenal. Well it’s her choice and we support her. She is getting pregnant directly after married dan kita Cuma mikir ‘nih anak masih kayak anak kecil udah bikin anak kecil aja, semoga dia nggak ikut nangis pas anaknya nangis ya’. 

We were at Radin wedding party

Ara with mama and tante

 well, be honest I only remember his name Ara.

Then next is Dina. Unfortunately I can’t attend on her wedding. So sad L but yeah I wish her a good life with her husband. Suaminya adalah kakak tingkat kita di SMA, dan juga di kampus. Too much drama in her relationship but end up with marrying each other. So happy because it is her choice. Yeah, itu pilihan dia. 

she and her husband. her husband is my senior at high school and university

 such a sweet pre-wedding picture

Bulan depan waktunya Novia dan Dina melahirkan bebi-bebi unyu mereka. Bebi yang sudah mereka tunggu-tunggu apalagi untuk Novia. Bakal jadi tante untuk 3 keponakan yang lucu-lucu ini.

And the rest, me and Maya are not married yet. When everyone asked “kapan nikah?”, ihh kita sampe cape deh jawab. Tapi yasudahlah semoga menjadi doa baik buat kita berdua.

Anyway, ndak kerasa persahabatan kita sudah lebih dari 10tahun. Kata studi tertentu soal relationship, kalau suatu hubungan sudah bisa melewati masa 7 tahun, itu tandanya akan menjadi hubungan yang everlasting. Hopefully :)

Doaku untuk sahabat-sahabatku selalu yang terbaik dan yang baik-baik. Semoga kita masih tetep bersahabat sampai nenek-nenek, kali aja siapa tau anak kita ada yang nikah trus kita besanan hahaha. Semoga kita semua bahagia dengan pasangan hidup kita dan anak-anak kita nantinya.

Sorry for often making you all worried about me, I know how much you all love me. I know it. Sorry and always thank you for everything.

Dedicated for our 10 years relationship. Love you all.



*wajah yang recently ini keliatan beda jauh ndak sama wajah 8 tahun yang lalu?*
Share:

Rabu, 29 Juni 2016

[How we met] Me and Maya



She is one of my best. Call her Maya. Teman seperjuangan lah istilahnya ya, dari jaman SMP, SMA, Kuliah bahkan setelah lulus. We met when we were 14. Sorry, I mean I was 14 and she was 15 (she will get mad if I mention about the age difference hahah). Age is just a number anyway. 

First time I knew her when we were classmate in 8th grade of middle high school. At that time, that was the best class. Yea I can tell I was smart (even now hahaha), and she does. So we were a classmate since then. Almost everyone knows her since she is really good at English. Always ‘on duty’ for English debate or something like that. But ok, first impression wasn’t good for both of us. Really. 

My first impression when I saw her like ‘hmm, can you shut up?? You are so noisy’. But her for me ‘hmm she is the daughter of teacher here, she must be so arrogant. Ihh I don’t want to make a friend with her’. Nah not so good for both of us. Both of us never want to be a friend each other. Till something happen. I will write in Indonesian so I can get the feeling hahaha

Suatu ketika ada PR matematika kelas 2 SMP. Kebetulan mata pelajaran itu ada di jam setelah istirahat. Jadi masih ada waktu sebelum istirahat untuk mengerjakannya. Kebetulan lagi, dia belum mengerjakan dan saya sudah mengerjakan. Banyak yang nyontek PR saya, terus dia nanya ke saya, pengen nyontek juga, ehhh saya bentak-bentak dia. Akhirnya dia juga ngerasa marah dong. Ngerasa kayak nggak dihargai gitu, dan saya juga waktu itu bad mood banget, eh ditanyain begituan sama dia. Yawes kita nggak ngobrol banget dan nggak saling tegur sapa akrab. Sampai ketika suatu saat kenaikan kelas 3, eh kita sekelas lagi. 

Feels like ‘ehh why we are in same class again now?’. But yeah, seems that destiny of us is started. That time, we both already forget about the things happen in last year, but still we can’t be a friend yet. I sat next to other friend and she was my classmate since 7th grade. So we were 3 years in the same classroom in middle high, call her Novia but I call her Dora (she is one of my best friend as well, will write about her next time). I choose to sit next to her since I know her better than knowing Maya. She sat down next to other person but they didn’t have a good conversation since that time, her friends only talk about having boyfriend while she is not really into it. So she came to my group, me and Dora. Actually we are 5. Me, Maya, Novia, Radin, Dina. This friendship is began when we were 14.

Time runs so fast. We were preparing for studying in university. Novia choose to be a midwife, while Radin choose to study English, Dina choose to study psychology, but Radin and Dina wasn’t so sure that they will be accepted in good university in Malang. The same university that we choose. Maya actually doesn’t really sure if she can study at university but I don’t know why, that time I told her  “hey, don’t worry, we will be accepted in same university, we will live in same house in Malang. Trust me. Just believe we can make it”. And finally we saw the announcement and we both got accepted in same university. Me studying mathematics and her studying Deutch.

That is why I believe why we have to be so optimist, positive and really sure that we can make something happen. Dan terkadang omongan yang asal ceplas ceplos itu kejadian beneran lho.

Finally, for another years we were living in same roof, in Malang. Yeah, know each other for years already and then for another years when we were studying at same university. It just like a miracle. Where I could find someone (and some people actually), who doesn’t have a blood ties but feels like family more.
No no, our relationship is not as smooth as we can imagine. I mean, even we are very close to each other, but we are normal people who have problems as well. We were mad to each other, were crazy to same thing together, were doing every things together, were having bad and good times together, we all feel it. Smile, laugh, confuse, crazy, tears, we all feel it. Yes yes we feel it together. It doesn’t like ‘oh you both so close to each other, but why you both feel angry to each other? You have to be nice to each other’. It is life and we live our life. We don’t have drama in life (she likes to dramatize it sometimes, but that’s her and that’s the reason why she have me hahaha).

I didn’t have boyfriend when I live in Malang. Had it when I was studying at university but then broke up and wasn’t in a relationship for years. So we always be together all the time. At university, when we were hang out, even when we are teaching together in same institute. Well…doesn’t mean I don’t have any other friends. We both have, and we know almost all our friends, but yes I am with her all the time till our friends and colleagues asked “ARE YOU BOTH LESBIAN????? I NEVER SEE YOU HAVE BOYFRIEND AT ALL”. Oh no!!!! I don’t have boyfriend but doesn’t mean I am lesbian. Even if I am lesbian, I will chose someone better than her hahahah!!

We both enjoy the time together. Also become crazy together, learn everything together, we have the same thoughts together till it’s like when we saw something, we knew what’s on our mind. It must be the same things on mind. I don’t know why and how, but it like the ties getting deeper, since I consider her like my own sister (OLDER SISTER). She is wise person (but sometimes I am wiser hahah). I know her well and so does her, knows me well. Yes like a family.

We had quarrels a lot but we also have a good and crazy time together, even more often. We all just a human being. Always try to be nice and respect to each other. And of course, love to each other as a best friend.

You know how I always make you upset, make you questioning things, but I never have any intention to do that.

I am sorry for always make you worry, and thank you for always loving me as your family.

Dedicated to my beloved friend, Maya.

 picture was taken last week

*merasa aneh memanggil NAMAMU MAYA*
Share:

Senin, 27 Juni 2016

Sensitive tired

it is like recently I feel so lazy, so weak, so tired, so sensitive. Not because of I am fasting. Not at all. Fasting never giving me hard time. I know someone might not believe it, but it is. This all tiring stuff doesn't related to that reason.

It is just I am sensitive and only want to spend time with someone and have only casual talks. That's all I need.
Share:

Rabu, 22 Juni 2016

[Piknik] Menepati janji ke Bromo



Saya kembali ke Bromo, setelah beberapa bulan yang lalu mengunjunginya. Kali ini saya mengunjunginya dengan yang terkasih. Melaksanakan PR saya mengajak dia ke Bromo.Masih tetap menggunakan jeep andalan mas Rendry Putra. Seharusnya biayanya 300ribu per orang untuk tariff open trip, tapi karena saya sudah pernah pakai jasanya, jadinya dikasih harga 400ribu untuk lokal dan 800ribu untuk internasional. Kok lebih mahal? Bukan, itu cuman tariff berdua aja. Kalau tariff open trip itu untuk 5 orang. 

“Lho mas, cuman berdua aja dong ini ntar?”
“Iya mba, gapapa tak anter khusus berdua aja”
Woahh girang deh saya hehehhe

Seperti biasa, berangkat jam 12 tengah malem, posisi saya dijemput di Hotel Tugu Malang. Mas bule terpaksa bangun tidur jam 11 malem buat siap-siap ke Bromo. Masih ngantuk-ngantuk, akhirnya minta kopi dulu 2 gelas. 20menit kemudian masnya dateng dan saya baru tau kalau dia kantornya pindah agak jauhan dari Hotel Tugu. Jadinya ya agak lama. 

Jeep berangkat dari Tumpang. Jalannya yang aduhai menuju penanjakan 1 membuat si dia senewen berat. Sepanjang perjalanan dia cuman diem aja sambil menggerutu dalam hati. Sampai saya takut sebenernya ini dia marah atau kenapa ini kok diem aja, biasanya cerewet banget. Yawes lah

3 jam kemudian kami sampai di Penanjakan. Titik untuk melihat sunrise. Kami datang diurutan awal-awal. Ntah kenapa malam itu terasa dingin banget, dan dia hanya memakai kaos oblong + kemeja, tanpa jaket. Karena nggak mau kaku di sana, kami menyewa jaket seharga 20ribu disana. Menurut saya sih murah, tapi kata mas Rendry bilang masih ada yang lebih murah lagi. Kata si sayang bilang “I don’t care about the price, 20thousand rupiah is sooo cheap. I don’t want to freeze here”. Iya sih emang murah. Yawes kita sewa 2 ya sambil minum teh panas dan pop mi. laper gegara malemnya cuman makan sup aja, nggak pakai nasi. Lumayan buat ngangetin perut. Pas nge-teh juga dia bilang ‘bisa nggak kita pulang aja ntar pake helikopter gitu. Aku ogah pulang pake jeep dan nempuh jalan yang sama lagi’.

Kali ini saya agak sedikit explore kawasan BTS sampai baru tau kalau ada musola disana. Di penanjakan. Jadi jangan khawatir buat yang muslim untuk sholat subuh disana. Ada juga toilet disitu yang harganya 5ribu, yang kemaren pernah saya bilang harganya nggak masuk akal, ternyata diatas lagi ada toilet yang harganya cuman 2ribu aja. 

Satu jam kemudian kami berdua sudah memilih lokasi yang cantik buat berdiri dan ambil foto Bromo. Nggak tau kenapa ya, disana pas banyak banget orang Thailand. Jadi dingin-dingin gitu saya ngakak jadinya ngeliat orang-orang cantik ganteng trus bicara bahasa Thailand. Gatau kenapa sih mereka lucu kalo ngobrol. Dan si dia nanya kok bisa saya ngerti kalau itu bahasa Thailand, ya iyalah tau wong kupingku gampang kenal bahasa asing.
Posisi kita bener-bener posisi paling depan. Karena saya trauma dapet tempat belakang yang cuman bisa liat kepala manusia aja. Yawes didepan ya, enak banget, dan adem banget beneran deh. Jadi obatnya dipeluk sama dia hahaha enak anget. 

sejenak setelah matahari terbit. masih berkabut dan awan menggumpal 

Si dia masih senewen dan cerewet aja nanyain mana nih Bromonya, sebelah mana sih, dimana, bagus nggak sih, duh dimana sih, ini itu blablabla, saya mah cuman bilang ‘tunggu aja sayang, surprisenya baru keliatan abis sunrise’. Akhirnya setelah sunrise yaa dia bisa senyum deh. Baru bisa ngomong kalau perjuangannya yang nggak enak itu terbayarkan sudah.

Kita sempetin berhenti di bukit cinta. Katanya masnya sih namanya bukit cinta, yang jelas ambil foto banyak disini dan bagus banget kalau ambil siluet dengan latar belakang gunung Bromo. Cantik lho. 

 
view dari bukit cinta
 
 
btw, itu bukan gunung bromo ya. itu yang keliatan di depan itu gunung batok. gunung bromo ada di belakangnya

  
one of my fav photo from bukit cinta

Setelah itu disempatkan sarapan pagi di ibuk langganannya mas Rendry. Sederhana dan enak. Kata mas Rendry ini udah kayak ibuknya sendiri. bener-bener masakannya enak dan sederhana banget. Kenyang. Makan dan milo anget hahahaha..sebelum makan kita pipis dulu. Nah toilet disini bersihhhhh banget. Padahal kayaknya harapan kosong ya kalo toilet bersih. Saya bisa bilang bersih karena ada petugas yang ngasih tisu ‘ambil tisu secukupnya mbak, tunggu dulu, antri dulu, nanti kalau sudah ada yang keluar, saya bersihkan dulu. Baru deh mbak bisa masuk. Semua orang pengen yang bersih-bersih kan mbak, saya yakin itu’. Saya cuman melongo dan mengiyakan saja. Ternyata dalamnya memang bersih banget. Layak lah. Saya nggak nyangka aja bisa sebersih itu. 

cantik nggak?

 
nah ya, selfie dulu

 
serius amat mas 

 
cuman sepuluh ribu, lima belas ribu sama minumnya. menu sederhana, tapi rasanya luar biasa. mas rendy aja juga bilang kalo mi instan paling enak dimakan di bromo. 
  
Setelah kenyang, kita berdua mulai mendaki. Saya bener-bener nggak inget kapan terakhir kali olahraga ya, naek itu krasa berat banget. Cuapek banget. Untungnya nggak banyak orang sih. Jadi masih bisa santai jalan. Pasir disana warnanya hitam karena kemarin memang sedang hujan abu, jadi seperti ada sisa-sisanya gitu. Beda banget sama tahun kemarin saya kesana. Yang jelas saya di-ece sama dia, masih muda kok nggak kuat mendaki. Baru Bromo ini, bukan Semeru. Sejenak saya mikir ‘kayaknya cancel aja deh keinginan ke Semeru’ hehhehe

   ini gunung batok ya?

Udah nyampe atas, foto sebentar deket kawahnya. Kawahnya lagi kondisi normal sih. Last time I went there, Kasada was held and so many people there. Jadi kali ini bisa agak santai. Lucu aja ngeliat orang foto-foto berkali-kali dengan pose yang sama cuman gagal karena senyumnya kurang pas. Si dia mah mana mau foto selfie berkali-kali. Anti selfie. Udah capek diatas, sekarang waktunya turun. Turun sih nggak secapek pas naik ya, tapi tetep capek. Sampe bawah minum kopi susu. Lumayan lah seger. Padahal pengen es sih, cuman kayaknya nggak masuk akal kalau mau minum es, wong botol minuman aja dingin banget.  



 
berkabut, masih berkabut
 
sehari sebelumnya hujan abu, makanya semuanya agak beda

 
kawah bromo
Yang agak sedikit mengganggu itu kuda-kuda disana. Kita jadi susah lewatnya harus berjuang biar nggak kena ciuman kuda karena mereka juga lewatnya sejalan sama kita. Kuda ini bertugas mengantar kita sampai di anak tangga menuju kawah dan sebaliknya. Jadi kalau yang males jalan bisa sewa kuda. Harga sewa kudanya 30ribu aja. Tapi rata-rata 50ribu sih. Mungkin bisa ditawar, mungkin lho ya. Tapi karena kita niat jalan jadi kita nggak tawar-tawaran kuda. Malah si dia senewen gara-gara dia udah nolak berkali-kali tapi masih aja ditawarin. Akhirnya dia bilang “No, we want camel, not horse”. Hiiii ni orang. Ya kan itu cara mereka nyari rejeki juga sayang. 

 
kudanya itu macem-macem lucu-lucu

Selanjutnya ke batu singa. Kenapa batu singa? Karena kata masnya itu batu bentuknya kayak singa. Yawes, muasin masnya buat ngambil foto kita berdua hehehe. Atau ini sebenarnya adalah pasir berbisik ya??
Lanjut perjalanannya ke apa ya namanya, itu tempat yang bisa melihat savanna dan bukit teletubies. Disitu ada pohon gede banget. Disitu dingin banget, anginnya besarrrrrrrrr tapi ya masih ada sinar matahari. Jadi kalaupun berjemur tuh nggak terlalu panas. Tapi karena jam sudah pukul 11 siang, menjemurkan diri jam segitu itu bencana. Jadi mending ngadem aja deh. Si dia malah tiduran dibawah sinar matahari. Dihhh saya udah gelap begini ya jangan dibikin gelap dong. 

 
ini lho pohon gede, yang kalo kita nangkring disana itu bisa melihat ke savana dan bukit teletubies. disini tuh anginnya gede banget. serius deh, meskipun terlihat terik tapi dingin banget. jeep merah itu yang nemenin kita kesana.

Lagi-lagi dia marah-marah karena melihat sampah disana. ‘ini kan taman nasional, kenapa sih banyak sampah disini? Kotor banget kan sayang jadinya’. Yowes lah ambil aja, trus buang ditempat sampah, jangan marahin aku. Wong aku nggak buang sampah sembarangan. Jadi tolong ya buat yang maen ke Bromo atau kemana aja ya, tolong sampahnya itu jangan dibuang sembarangan. Kalau emang nggak nemuin tempat sampah, disimpen aja lah dulu di tasnya. Kalau ada bule ke tempat wisata di Indonesia, mereka tuh koar-koar kalau liat sampah. Masa sih urusan buang sampah harus dikasih tau berkali-kali ya. Kalian juga udah pada gede pada tau dampak negatifnya buang sampah sembarangan kan. Cantik lho kalau nggak ada sampah. Beneran deh. 

 ini lho yang namanya mas Rendry

 Wes, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, harus balik ke Malang lagi karena udah nggak kuat ngantuknya. Ngantuk dan capek banget. Sampai di hotel jam 1 siang, mandi langsung tidur. Bangun-bangun udah jam 6 dan ngambil flashdisk yang isinya foto dari masnya.

 nah kalo yang ini souvenir dari Hotel Tugu. liat deh kata-katanya, mantep. You cant buy happiness but you can buy coffee. and thats pretty close.



*kata masnya : ntar nggak usah prewed mbak, ini aja yang dipake udah bagus*
**dokumentasi pribadi dan dok mas Rendry**
--- 

Kalau ada yang pengen booking jasa mas Rendry Putra bisa kontak  +6282233825035, atau bisa cek di IG nya Rendryputra / kaldera_adventures. Itu penyedia jasa tour travel. Puas kok, dijamin deh beneran. Saya nggak bohong, kepuasaan bagi saya nomor satu. Eh tapi standar kepuasan tiap orang beda-beda ya hehehe

Selamat berlibur dan jangan lupa  jaga kebersihan ya...
Share:

Biasa bagi orang, luar biasa bagi kita

Halo.. sudah lama bikin draft tapi masih ndak sempet posting. Masih perlu diperbaiki dulu. Tapi postingan ini saya tulis karena obrolan dengan grup FrontSummer.

Jadi ceritanya ada salah satu teman sedang galau. Galaunya karena dia merasa masih belum bisa membahagiakan ibunya. Well.. untuk hal yang itu saya juga merasakan dan hampir semua orang merasakannya. Ingin memberikan yang terbaik dan membahagiakan ibunya.

Kegalauan dimulai karena dia yang 'dirasakan'ibunya masih belum mapan, mungkin secara finansial atau kejelasan status. Setiap orangtua mengingkan anaknya mapan dan bekerja 'aman' sehingga membuat orangtua terkesan 'menuntut' anaknya untuk memiliki pekerjaan 'aman'. Sebenarnya posisi teman saya bukan tidak dalam keadaan menganggur. Dia ikut menjadi anak buah dari sebuah usaha swasta kecil yang membuat dia sering keluar kota untuk mengerjakan proyek kantor. Proyek itu menuntut dia untuk menguasai teknik analisa statistik.

Menurut saya, menurut saya lho, kerjaan dia itu keren banget. Iya keren, lah gimana ndak keren, ilmu dia kuliah kepakai, dia suka kerja disitu karena merasa passionnya, dan dia cukup puas dengan itu. Ya memang bukan perusahaan berskala besar, tapi klien dia juga bukan klien main-main. Jadi menurut saya itu keren.

Lain pandangan saya, lain menurut ibundanya. Menurut ibunya pekerjaan dia masih belum bisa dijadikan pegangan untuk masa depan. Sehingga ibunya menyuruh dia untuk melamar kerja sana sini, bahkan mendaftar untuk melanjutkan S2. Dia berusaha memahami apa mau ibundanya tapi masih tidak bisa memahaminya. Seolah hal ini membuatnya bimbang. Disatu sisi dia menyukai pekerjaannya sekarang. Di sisi lain ibunya menginginkan yan lain tapi tidak memberikan clue yang jelas kepadanya.

Berkeluh kesahlah dia kepada kami, kemudian saya menjawab 'tanyakan sama ibu maunya gimana dan apa? Kalau cocok sama ingin kamu, kejar. Tapi kalau ndak cocok, kamu rundingan dulu ngobrol dari hati ke hati maunya gimana. Ndak ada orangtua yang ndak ingin anaknya bahagia dan mapan kok'. Diapun menjawab dia tidak memiliki hal yang dia inginkan, dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan, karena dimata ibunya apa yang dilakukannya masih salah dan kurang. Saya pun merespon 'dulu saya ndak boleh lho belajar bahasa korea, dg alasan belajar bahasa korea dan kegilaan saya terhadap korea bisa membuat nilai kuliah saya turun bahkan hancur. Tapi karena saya menyukainya, saya akhirnya meyakinkan mereka kalau saya bisa'. Beberapa masa berjalan selama belajar bahasa korea, nilai kuliah memang sempat turun karena faktor lain hal, bukan karena belajar hal lain. Papa sempat bilang 'ahh ntar juga kalau udah lulus kuliah bakal nyusahin papa juga. Bakal bingung nyari kerjaan, ntar minta cariin papanya'. Jujur, itu adalah hal yang saya paling tidak suka. Karena pernyataan itu sangat merendahkan kemampuan anaknya. Tapi karena agak sakit hati waktu itu, seketika saya menjawab 'enak aja, liat aja ntar, bahkan sebelum luluspun aku bisa dapet kerja. Dilamar kerjaan, bukan melamar kerjaan'. Dengan harapan doa tersebut bakal di approve sama yang maha kuasa.

Waktu berlalu dan ternyata saya ndak bisa lulus 8 semester, harus 9semester. Tapi 9 semester itu saya ndak nganggur. Dapat pekerjaan pertama, dilamar. Tadinya freelanch tapi setelah lulus jadi pengajar tetap. Meskipun saya telat lulus, tapi saya ndak pengangguran dan masih berkarya. Sudah terbukti omongan saya di approve sama yang kuasa. Meskipun saat itu orangtua masih belum bisa menerima karena anggapan yang sama seperti orangtua teman saya. Dinilai belum mapan dan tidak bisa memberikan masa depan yg layak. Padahal selama saya kerja disitu, saya bisa mengembangkan diri saya dengan maksimal. Mendapat pengalaman yang juga diluar dugaan saya. Pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Satu tahun kemudian, saya bekerja di perusahaan besar dan orangtua saya bangga karena saya diterima kerja. Terlebih karena saya tidak melamar pekerjaan melainkan dilamar pekerjaan. You see!!! Perkataan saya kala dulu terbukti lagi. Saya tidak menyombongkan diri, tapi dua kali bekerja tanpa melamar kerja itu sungguh diluar dugaan saya.

Poinnya apa? Disaat kita melakukan sesuatu yang kita inginkan tapi orangtua tidak menyukainya, cobalah berdiskusi dulu dengan mereka. bukan bermaksud menentang mereka, hanya menceritakan hal yang kita inginkan dan apa yg sedang kita jalani saat ini. Apakah kita bahagia saat melakukannya. Kadang memang banyak orang yang meremehkan hal yang kita lakukan, tapi peduli apa? Hanya saja ketika orangtua menginginkan yg terbaik bagi kita, yakinkanlah kepada mereka bahwa kita bahagia dengan pilihan kita dan butuh dukungan dari mereka.

Intinya begini, kita bisa saja mengikuti apa kemauan orangtua kita meskipun kta tidak menyukainya. Tapi disisi lain, cobalah untuk mengisi 'senjata' kita. Bukan melulu soal menyenangkan orangtua tapi kiþa terpaksa. Kalau bisa ya kita enjoy menjalankannya. Kalaupun cara orangtua ternyata tidak cocok untuk kita, kita bisa keluarkan senjata kita sekaligus membuktikan kepada orangtua kalau pilihan kita tidak salah dan bermanfaat.

Tidak ada yang salah mengikuti kemauan orangtua, asal kita juga bahagia menjalaninya. Tapi selalu ingatlah, restu orangtua juga penting untuk perjalanan hidup kita 😊

Yakinlah, percayalah, berusahalah, dan berdoalah. Tertaut empat hal yang akan menjadikan satu keinginan menjadi kenyataan.

Good luck, and believe you can make it!

Share: