Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Antara kepala aman atau ditilang polisi


Pagi yg cerah dikota Surabaya dengan rintik hujan mesranya membuat kami berdua terlena untuk mengobrol sepanjang jalan menuju kantor *sebut saja duo Prisca*. Memasuki kawasan industry, tiba2 teman saya mengerem mendadak karena didepan ada seorang ibu2 yg menyetir motor jatuh karena tersenggol kendaraan didepannya dan mobil disamping kanannya. Ntah kejadiannya seperti apa kenyataannya, yg jelas saya melihat dg jelas bahwa kepala ibu itu berada tepat beberapa senti saja didepan ban mobil.

Iya.. hanya beberapa senti didepan mobil, dan parahnya lagi ada didepan mata saya. Bukan masalah apa ya, ngeliat orang jatuh dari kendaraan dan tepat didepan mata itu bikin perut langsung laper lagi *FYI, sebelum ngantor pagi ini sudah makan sebungkus nasi jumbo*. Sontak kamu berdua kaget dan tiba2 mengerem mendadak sambal teriak dan nyebut2. untung aja ibu itu tadi pakai helm dan sudah berbunyi klik. Karena kepala ibu itu benar2 ada didepan ban mobil beberapa senti saja. Andai saja mobil telat mengerem, wahhhhh bisa2 saya nggak pergi ke kantor buat kerja tapi ke kantor polisi buat jadi saksi deh. Alhamdulillah ibunya nggak kelindes. Btw, orang Jawa memang suka banget mencari sisi keuntungan dari setiap musibah kok.

Nahh, padahal yang jatuh si ibu tadi, tapi yg dredeg kita berdua. Akhirnya sampai dikantor yg dituju kantin. Padahal juga sudah sarapan, ehh tiba2 laper lagi gara2 kaget. Yasudahlah daripada pingsan, mending makan lagi deh.

Moral valuenya, kalau bermotor, jangan lupa pakai helm. Ehh lebih jangan lupa lagi untuk mengunci helm hingga berbunyi klik *mengunci atau apa ya namanya itu*. Jadi helm jangan asal di pasang aja, tapi juga dikaitkan *nah ini baru bener* hingga bunyi klik *ini yg saya males*. Saya tahu resiko tidak memakai helm jika berkendara, tapi kadang rasa malas itu jauh lebih besar daripada kekhawatiran celaka yg mungkin terjadi. Karena bagi saya pribadi sih pakai helm itu bikin pusing. Saya yg sering pusing jadi makin pusing ketika harus mengenakan helm. Apa lagi kalau helmnya yg kecil. Duhh nyiksa banget. Padahal juga sadar dan bisa mikir ruginya nggak pakai helm. Rugi materiil misal ditilang polisi dan harus ‘berdamai’.

Bayangkan saja jika ibu itu tadi tidak memakai helm apalagi dikaitkan dg benar, apa kabar tuh kepala?

Buat yg kalian bermotor, jangan lupa pakai helm. Karena biasanya didaerah, seringkali mengabaikan helm. Kalau di kota besar selalu pakai helm karena ogah ambil resiko ditilang dan disuruh damai sama pak polisi. Iya nggak???

Jadi, lebih milih sayang kepala dan ogah ditilang polisi atau pengen pamer rambut lembut karena sampo dan nggak pakai helm???

Think smart yaaa… have a nice day :)

 

 

Comments

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini