Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Stigma masyarakat untuk wanita single berumur


Apa yang terjadi jika anda adalah seorang wanita usia pertengahan 20an dan sedang dalam status single? Ya pasti jadi bahan omongan tetangga lah. Karena wanita Indonesia pun kebanyakan menikah karena sudah diobrak-obrak suruh nikah. Yang dibilang usia 25 belum nikah itu nggak etis lah, kepala hampir 3 kok belum punya gandengan lah, dibilang ini itu dan lain-lain. Yang akhirnya menciptakan satu mindset jika wanita belum menikah hingga usia hampir kepala 3 maka dia adalah wanita pemilih *atau belum laku, atau nggak ada yang mau, dan atau atau yang lainnya*. Ya jelaslah pemilih, mana mau wanita menikah dengan orang jobless tidak bertanggung jawab dan suka mabok? Masa kita suruh nikah sama orang seperti itu gara-gara takut tidak ada yang menikahi.

Efeknya apa jika menikah agar dipandang orang baik? Banyak yang belum siap menikah tapi terpaksa harus menikah karena pandangan-pandangan tersebut. Ada lagi yang menikah karena “dianggap” sudah waktunya menikah. Lebih parah lagi kalau ada kasus perceraian, mereka tidak ingin disalahkan. La wong  yang maksa nikah itu tetangga-tetangganya kok, kalau ada nggak beresnya pernikahan, mereka juga nggak mau disalahin. Repot ya.

Wanita yang masih single pun tidak disarankan mencari ilmu atau gelar terlalu tinggi. Kenapa? Takutnya nggak ada lelaki yang berani untuk menikahinya. Nah lho. Padahal apa salahnya punya istri pinter? minder? takut tersaingi?? Kalau takut tersaingi ya usaha dong, jangan karena si wanita lebih pinter dan berpendidikan tinggi, lelaki yang menaksirnya tiba-tiba mundur karena nggak percaya diri. No way. Harusnya kalau melihat wanita yang disukai memiliki pendidikan yang tinggi, ya kalian harus kejar lah. Masa sih nggak pengen punya istri pinter? Kalau nggak mau tersaingi, ya ikutlah sekolah lagi biar seimbang. Trus kenapa tidak kalian lirik itu si wanita pintar? Takut jadi omongan tetangga kali ya.. misal : wah istrinya pinter kok suaminya oon?

Wanita memang mendambakan seorang lelaki yang minimal kepintarannya sejajar dengannya. Karena kalau ngomong dan mendiskusikan sesuatu itu nyambung *ini mah maunya aku, soalnya rada gimana gitu kalau ngomong sama cowo oon*. Tapi jangan salah, kehidupan itu selalu seimbang satu sama lain. Jika punya istri pinter tapi si laki nggak sebegitu pinter ya nggak masalah. Yang penting saling cinta dan bertanggung jawab.

Nahh ada lagi yang menikah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Misal nih, sekolah sudah selesai, tidak ingin melanjutkan kuliah, dan sudah bekerja serta sudah memiliki pasangan. Mau apa lagi kalau bukan menikah walaupun usia masih terlalu muda? Ya terserah saja sih, nggak melarang juga. Beruntunglah bagi orang yang menikah karena keinginannya *saya juga ngebet nikah tapi belom boleh hahaha*. Yang miris jika sudah selesai menempuh pendidikan, sudah bekerja nyaman, sudah memiliki pasangan namun belum ingin menikah? Yang ribet tetangganya brooo. Tetangga udah ribet nanya “Mbak, kapan nikah? Udah kerja udah punya pacar gitu, ngapain nunda?”. Ahh tetangga kan belum paham kalau kita nggak ingin menikah sekarang karena ada alasan tertentu. Pertanyaan itu sering menghampiriku dan bosen sumpah jawabnya sama tiap kali pertanyaan itu muncul. Lama-lama jawaban itu taro aja di dahi gitu ya, biar kalau ada yang nanya mereka udah tau jawabannya bahkan sebelum mereka bertanya. Sumpah itu pertanyaan ngganggu banget.

Ada juga salah satu teman yang menikah dengan alasan “Lah udah disuruh mama nikah, katanya daripada lama-lama nunggu”, meskipun mereka belum memiliki pekerjaan yang nyaman dan masih terlalu dini untuk menikah. Namun mereka tetap menikah karena tuntutan orangtua. Ya menurut agama saya sih menikahlah maka akan dibukakan pintu rejeki kalian. Itu benar sekali. Tapi tidak semena-mena berpikir bahwa menikah adalah jalan keluar. Dikira setelah menikah bisa langsung dapat sesuatu yang diinginkan dengan instan. Semua juga perlu proses dan usaha. Allah tidak akan memberikan hal dengan instan. Memang menikah akan membuka pintu rejeki karena secara logika pun, setiap orang memiliki rejeki masing-masing. Jika menikah, maka rejeki suami dibagi untuk istri dan rejeki istri dibagi untuk suami juga. Ya memang double rejekinya. Tapi juga harus dipikirkan matang-matang. Jangan mentang-mentang sudah lulus kuliah tapi belum dapat kerja malah memilih untuk menikah. Iya kalau setelah menikah langsung dapat pekerjaan, kalau nggak? Ya ujung-ujungnya ngerepotin orangtua *biasanya juga skalian nyalahin orangtua gegara yang nyuruh nikah orangtua*.

Sadarlah wahai tetangga-tetangga yang super kepo, pertanyaan kalian itu sangat membunuh karakter hahaha.. kadar kekepoan kalian itu sungguh sangat tinggi sekali. Dan itu sangat mengganggu wanita yang masih ingin single meskipun kalian menilai sudah pantas untuk menikah. Pantas atau tidaknya itu bukan ukuran. Yang menjadi ukuran adalah kesiapan hati dan mental. Kesiapan untuk membangun satu rumah baru bersama orang baru yang akan menjadi partner dalam hidup dan matinya. Membangun satu tanggung jawab bersama itu tidaklah mudah. Jadi mohon, janganlah kalian terlalu rajin menyuruh wanita-wanita single untuk segera menikah. Kecuali dia memang siap untuk menikah.

Saya sih nggak pernah nyuruh2 orang buat nikah, kecuali memang dia ingin menikah dan sedang down sehingga butuh support, baruuu itu disuruh-suruh. Karena nggak mau kepo sama status orang lain, tahunya ada undangan nikah dirumah atau foto pernikahan di facebook. Baru deh nyadar “Ohh dia nikah. Semoga sukses di step selanjutnya”.

Serta percayalah satu hal, Tuhan telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan.

Note :  saya sudah siap menikah hehehe

Have a good day :)

Comments

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya