Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Stigma masyarakat untuk wanita single berumur


Apa yang terjadi jika anda adalah seorang wanita usia pertengahan 20an dan sedang dalam status single? Ya pasti jadi bahan omongan tetangga lah. Karena wanita Indonesia pun kebanyakan menikah karena sudah diobrak-obrak suruh nikah. Yang dibilang usia 25 belum nikah itu nggak etis lah, kepala hampir 3 kok belum punya gandengan lah, dibilang ini itu dan lain-lain. Yang akhirnya menciptakan satu mindset jika wanita belum menikah hingga usia hampir kepala 3 maka dia adalah wanita pemilih *atau belum laku, atau nggak ada yang mau, dan atau atau yang lainnya*. Ya jelaslah pemilih, mana mau wanita menikah dengan orang jobless tidak bertanggung jawab dan suka mabok? Masa kita suruh nikah sama orang seperti itu gara-gara takut tidak ada yang menikahi.

Efeknya apa jika menikah agar dipandang orang baik? Banyak yang belum siap menikah tapi terpaksa harus menikah karena pandangan-pandangan tersebut. Ada lagi yang menikah karena “dianggap” sudah waktunya menikah. Lebih parah lagi kalau ada kasus perceraian, mereka tidak ingin disalahkan. La wong  yang maksa nikah itu tetangga-tetangganya kok, kalau ada nggak beresnya pernikahan, mereka juga nggak mau disalahin. Repot ya.

Wanita yang masih single pun tidak disarankan mencari ilmu atau gelar terlalu tinggi. Kenapa? Takutnya nggak ada lelaki yang berani untuk menikahinya. Nah lho. Padahal apa salahnya punya istri pinter? minder? takut tersaingi?? Kalau takut tersaingi ya usaha dong, jangan karena si wanita lebih pinter dan berpendidikan tinggi, lelaki yang menaksirnya tiba-tiba mundur karena nggak percaya diri. No way. Harusnya kalau melihat wanita yang disukai memiliki pendidikan yang tinggi, ya kalian harus kejar lah. Masa sih nggak pengen punya istri pinter? Kalau nggak mau tersaingi, ya ikutlah sekolah lagi biar seimbang. Trus kenapa tidak kalian lirik itu si wanita pintar? Takut jadi omongan tetangga kali ya.. misal : wah istrinya pinter kok suaminya oon?

Wanita memang mendambakan seorang lelaki yang minimal kepintarannya sejajar dengannya. Karena kalau ngomong dan mendiskusikan sesuatu itu nyambung *ini mah maunya aku, soalnya rada gimana gitu kalau ngomong sama cowo oon*. Tapi jangan salah, kehidupan itu selalu seimbang satu sama lain. Jika punya istri pinter tapi si laki nggak sebegitu pinter ya nggak masalah. Yang penting saling cinta dan bertanggung jawab.

Nahh ada lagi yang menikah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Misal nih, sekolah sudah selesai, tidak ingin melanjutkan kuliah, dan sudah bekerja serta sudah memiliki pasangan. Mau apa lagi kalau bukan menikah walaupun usia masih terlalu muda? Ya terserah saja sih, nggak melarang juga. Beruntunglah bagi orang yang menikah karena keinginannya *saya juga ngebet nikah tapi belom boleh hahaha*. Yang miris jika sudah selesai menempuh pendidikan, sudah bekerja nyaman, sudah memiliki pasangan namun belum ingin menikah? Yang ribet tetangganya brooo. Tetangga udah ribet nanya “Mbak, kapan nikah? Udah kerja udah punya pacar gitu, ngapain nunda?”. Ahh tetangga kan belum paham kalau kita nggak ingin menikah sekarang karena ada alasan tertentu. Pertanyaan itu sering menghampiriku dan bosen sumpah jawabnya sama tiap kali pertanyaan itu muncul. Lama-lama jawaban itu taro aja di dahi gitu ya, biar kalau ada yang nanya mereka udah tau jawabannya bahkan sebelum mereka bertanya. Sumpah itu pertanyaan ngganggu banget.

Ada juga salah satu teman yang menikah dengan alasan “Lah udah disuruh mama nikah, katanya daripada lama-lama nunggu”, meskipun mereka belum memiliki pekerjaan yang nyaman dan masih terlalu dini untuk menikah. Namun mereka tetap menikah karena tuntutan orangtua. Ya menurut agama saya sih menikahlah maka akan dibukakan pintu rejeki kalian. Itu benar sekali. Tapi tidak semena-mena berpikir bahwa menikah adalah jalan keluar. Dikira setelah menikah bisa langsung dapat sesuatu yang diinginkan dengan instan. Semua juga perlu proses dan usaha. Allah tidak akan memberikan hal dengan instan. Memang menikah akan membuka pintu rejeki karena secara logika pun, setiap orang memiliki rejeki masing-masing. Jika menikah, maka rejeki suami dibagi untuk istri dan rejeki istri dibagi untuk suami juga. Ya memang double rejekinya. Tapi juga harus dipikirkan matang-matang. Jangan mentang-mentang sudah lulus kuliah tapi belum dapat kerja malah memilih untuk menikah. Iya kalau setelah menikah langsung dapat pekerjaan, kalau nggak? Ya ujung-ujungnya ngerepotin orangtua *biasanya juga skalian nyalahin orangtua gegara yang nyuruh nikah orangtua*.

Sadarlah wahai tetangga-tetangga yang super kepo, pertanyaan kalian itu sangat membunuh karakter hahaha.. kadar kekepoan kalian itu sungguh sangat tinggi sekali. Dan itu sangat mengganggu wanita yang masih ingin single meskipun kalian menilai sudah pantas untuk menikah. Pantas atau tidaknya itu bukan ukuran. Yang menjadi ukuran adalah kesiapan hati dan mental. Kesiapan untuk membangun satu rumah baru bersama orang baru yang akan menjadi partner dalam hidup dan matinya. Membangun satu tanggung jawab bersama itu tidaklah mudah. Jadi mohon, janganlah kalian terlalu rajin menyuruh wanita-wanita single untuk segera menikah. Kecuali dia memang siap untuk menikah.

Saya sih nggak pernah nyuruh2 orang buat nikah, kecuali memang dia ingin menikah dan sedang down sehingga butuh support, baruuu itu disuruh-suruh. Karena nggak mau kepo sama status orang lain, tahunya ada undangan nikah dirumah atau foto pernikahan di facebook. Baru deh nyadar “Ohh dia nikah. Semoga sukses di step selanjutnya”.

Serta percayalah satu hal, Tuhan telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan.

Note :  saya sudah siap menikah hehehe

Have a good day :)

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Tentukan Jangka Waktu Investasi

Seperti Ganesha bukan? Dewa ilmu pengetahuan dan lambang kecerdasan. Favorit gw. Tapi ini speaker sih 😆   "Aku mau investasi" "Oke bentuknya apa dan berapa lama?" "Hmm ya pokoknya apa lah yang cocok buatku" Ya you kira I dukun? Selain menentukan profil resiko , acara yang perlu untuk dipikirkan adalah menentukan berapa lama jangka waktu investasi. Ada yang membagi kedalam dua kategori yaitu pendek dan panjang, ada pula yang membaginya ke tiga kategori yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Nah kebutuhan ini hanya investor yang tahu. Tentunya tiap orang nggak bisa disamakan kebutuhannya.  Jangka pendek biasanya berkisar tidak lebih dari 5 tahun. Biasanya deposito dan obligasi dimasukkan dalam kategori ini. Biasanya yang jangka pendek ini selalu mendapat return pasti, karena selalu pasti jadi resikonya sangat rendah sekali. Kemudian jangan lupa untuk mengecek apakah return yang ditawarkan masih mampu untuk menghalau laju inflasi untuk beberapa tahun ...