Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...
This is an easy post about multicultural marriage (or relationship). Take it as entertainment if you are in the same situation as ours 😆 Differences always fascinate me. Then I am married to someone from a different culture. It's challenging but also fun at the same time, here's why: One becomes grammar nazi and one becomes grammar police. I can say that he is a kind of polyglot and I speak 4 languages daily (most Indonesians are bilingual already 😉). But we talk to each other in English because my Dutch is super broken, his Bahasa Indonesia is much better than my Dutch but we usually use it for ordering foods in when we are in Indonesia only. So as a fluent English speaker, he always corrects me when I got it wrong. That's totally okay. Only it is not that okay when he did it during the fight 😂 Like how could you do that during the fight? Though I sometimes correct his Bahasa Indonesia when he tries to talk in Bahasa here, ordering something or trying to impress local...