Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2017

BaliSeries (1): Makan di Bali Itu Murah

Gw tinggal di Bali udah hampir 2 tahun, jadi pengen bikin tulisan #BaliSeries. Bukan tentang Bali yang umum diketahui orang, tapi hidup di Bali sebagai orang biasa dengan biaya hidup yang masuk akal. Orang-orang taunya Bali mahal. Padahal nggak juga hey! Tiap kali ada yang tau gw tinggal di Bali, orang pasti bilang "Eh, hidup di Bali kan mahal banget!" Hmm... nggak juga sih. Jadi gw akan tulis harga-harga di Denpasar ya karena gw tinggal di Denpasar. Denpasar yang ibukota dan bukan tempat tujuan utama turis buat plesir.  Gw sering keliling Bali tapi karena gw nggak tinggal di sana jadi gw nggak bisa bilang mahal murahnya. Tapi kalau untuk ukuran turis, harga di daerah utara dan timur bisa gw bilang lebih murah daripada Denpasar, Ubud, atau daerah pantai barat. Oke, tulisan pertama ini gw akan bahas hal yang gw demen. MAKANAN.  Gw secara personal lebih suka makanan Jawa daripada makanan Bali. Makanan Bali cenderung penuh rempah, rasanya kuat. Yaa setelah hampir dua tahun sih g

Asian Civilisation Museum (ACM)

  Penasaran sama isinya ACM ini apaan sih. Letaknya 20 menit dari tempat kita nginep, Grand Copthorne. Naeklah MRT ke sana. Sebenernya sih lokasinya di sekitaran Gardens by the Bay, Clarke Quay situ, sekitaran situ deh pokoknya. Ngesot juga bisa kok. Nah semalem sebelumnya kita iseng jalan dari hotel yang letaknya di sekitar Kim Seng Rd (lupa ya jalannya apa namanya) sampai Clarke Quay sana. Namanya jalanan enak ya, nggak macet, nggak padet, nggak begitu panas juga, sampailah kita malam-malam di Clarke Quay situ. Eh baru sadar pas besoknya kalo ternyata ACM nggak jauh-jauh dari situ. Didepannya terpampang wajah bapak raja pertama Korsel, Sejong. Trus si HJ bilang, 'wow it's your lucky day, you will see about Korean there'. Ternyata itu masih besoknya pas kita pulang. Semacem eksibisi khusus gitu lah. Emang berkala sih, ganti-ganti juga tiap waktu. Tapi karena lelah bener ya, siang itu mah panas banget disana. Mlipir dulu lah ke Prive, kafenya ACM. Minum aja biar s

Wandering Around Singapore

  Ketika mengejar waktu untuk submit dokumen untuk visa sosbud, kita berdua memiliki waktu 4 hari di Singapura, yang akhirnya kami gunakan untuk explore sebagian kecil negeri singa ini. Meskipun kecil, tapi tetap saja capek hahaha Yang selalu masuk di to do list kami berdua adalah makan seafood. Rasanya dimana aja harus ya makan seafood ini. Kemudian kita coba jalan-jalan ke museum Asian Civilization Museum. Setelah itu kita mlipir ke Gardens by the bay, Marina, Pantai yang saya lupa namanya, Pulau Sentosa, Chinatown cuman buat beli chicken coin (dendeng ala sono), tak lupa juga ke kedubes Indonesia hahahah (emang tujuan utamanya kesini hahaha).   ini masjid apa gitu, lupa. deket Chinatown view dari Grand Copthorne    es krim durian yang bikin HJ muntah-muntah 😂     Chinatown, demi dendeng   Asian Civilization Museum (ACM), HJ masuk menggunakan kartu mahasiswanya yang berakibat dia didiskon 50%. Apa kabar kartu pelajar Ind

Finding The Sun in Borobudur

  We made plan to see the sunrise in Borobudur. Well.. Sunrise always good for making photos. Since we didn't stay in Manohara hotel which is FULLY BOOKED , we plan to join the sunrise borobudur next morning through this gate. Including ticket from this hotel. The price for sunrise is quiet expensive than the normal one. I think it is always like that right? We planned to wake up early, around 4 to get the Manohara entrance. Those guys are not morning people, but they have to wake up for the sunrise. At 4 am in the morning, we met in front of our room and then we walked to Manohara hotel (about 10mins walk). Not so many people there (but the hotels are fully booked!), maybe because we came too early. Queue up to get the ticket, and the staff asked me 'Are you still Indonesian?, marrying foreigner doesn't mean make me automatically become foreigner huh! So I paid Indonesian price for me, and he paid for foreigner price. We bought some snacks and tea/coffee to

Jihad

"Suami saya sedang jihad di Afganistan" Bagi para pembaca yang baru membaca blog ini, dan langsung menuju tulisan judul ini, apa yang pertama kali terbayangkan oleh kalian dear readers? Bagi para pembaca yang sering mampir, mungkin sudah tau dan mungkin hanya sedikit mengernyitkan dahi dan bertanya 'jihad? Situ sehat nulis beginian?' hahaha. Kemungkinan besar, bagi para pembaca yang baru pertama kali mampir dan membaca judul ini, apalagi dari yang golongan yang mudah terprovokasi dan berpikiran sempit, kemungkinan besar pikirannya akan menuntun ke arah 'Jihad? Bom? Teroris? Gabung ISIS?'. Uh serem Judul tulisan kali ini mungkin sedikit menggiring opini publik (acileeeee bahasanyaaa). Masih untung nggak saya kasih judul 'Suamiku sedang berjihad' 😂 Saya tiba-tiba terlintas untuk menulis judul ini setelah bom kemarin yang terjadi di Manchester dan Jakarta. Bukan apa-apa sih, tapi sebel ya. Kenapa kata jihad digunakan untuk hal gak baek g

Fully Booked!

    Well actually this is kinda funny when I tried to remember again about it. A day after I got married (22 April), we plan to go to Jogja. We planned to see HJ's friend, Flavio and his gf in Jogja. Flavio is based in Jakarta since 2017. Well he will leave soon again to another country, so we use this chance to see each other in Jogja. This is my first time to see him and his gf. His gf is pregnant, 7 months, such a beautiful thing on her belly. Flavio said to my husband, 'you see the belly bump? amazing right?'. akupun merasa, 'wow, hemm manisnya'. So... we were all talking about going there by train but all trains from Jakarta to Jogja were fully booked. So does from Surabaya. So we decided to fly. I've check train from Jogja to Surabaya were available so we went back to Surabaya by train. We were all forgot that this is long weekend. 24 April is a holiday here. We were all focused on how to get there and how to go back, but didn't pay attention o

The Day

We are married officially! 6 May 2017 is the big day for us. Invite some friends and of course family. I was so happy that I can introduce my husband to my close friends. I was so happy to talk with them one by one, not only sitting in front of people and waiting people to come, but I come and talk with them. At least that what makes me happy. Even my friends said 'Kamu pengantin apa penerima tamunya?' 😂 Mine was starting from 8 to 12. And all of my friends were staying for hours there. I know their habit. Sit, talk and eat. So I can talk a lot and eat with them. Not so formal. Not formal at all I mean. My husband talk a lot with my close colleagues, also with another friends. At least they speak english and I dont need to be the interpreter.     My family was there, to witness our big day. Since I have big family and they didnt came all together, so it was a bit tiring. Because when I want to take rest a bit, somebody call me and ask me to go and talk with them. Ok lah,

Menjadi Istri Di Hari Kartini

designed by a friend of my friend. although I am originally coming from Java, not Bali, but seems that Bali is the icon of Indonesia. to tell them that Bali is part of Indonesia haha Cerita tentang menikah ini terjadi begitu cepat. Begitu mendadak. Bukan karena saya hamil duluan makanya saya dinikahkan. Tapi menurut pertimbangan HJ yang merasa bahwa apa lagi yang harus ditunggu? Kita sudah mempersiapkan dokumen dan sedang dalam proses sekarang. Dulu memang saya tidak diperbolehkan nikah secara agama terlebih dahulu, dikarenakan jarak pengurusan dokumen masih terlalu jauh, bulanan, terlalu beresiko (katanya). Tapi ini jaraknya 2 minggu sebelum pernikahan official yang tanggalnya baru bisa fix pasti seminggu sebelum the day. HJ mengajukan proposal ke papa mama untuk memperbolehkan kami berdua menikah secara agama terlebih dahulu. Papa mama juga berpikir, sehari dua hari bolehlah tinggal dirumah, tapi kalau dua minggu nanti orang lebih mikir aneh-aneh, kalau nyuruh dia tinggal di h

Goodbye Grandma

  photo was taken last year when Idul Fitri (2016). she is about 94 years old Nenek yang ada di Malang tiba-tiba kritis. Kondisinya memang sudah tidak stabil sejak 2 tahun terakhir. Sudah tak lagi kuat berjalan. Tak lagi sesehat dan sebugar beberapa tahun yang lalu. Hanya tiduran di tempat tidur, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya harus digendong ataupun menggunakan kursi roda. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, setiap kali papa mama berkunjung, dan ketika mengetahui bahwa salah satu cucunya akan menikah, nenek selalu mengatakan ' dungakno yo nduk, le, mandar mugo aku nututi anakmu dikulupi' --> doakan ya nak, semoga aku masih bisa melihat anakmu dinikahkan. Frekuensi berkunjung mama papa yang tadinya sebulan sekali menjadi bertambah. Sebulan dua kali, bahkan bisa seminggu dua kali. Dan setiap kali berkunjung kesana, kalimat yang sama selalu terlempar. Semoga masih bisa menyaksikan cucunya dinikahkan. Ya kita pun slalu mengatakan, 'pasti, pasti

Selamat Hari Pendidikan Nasional

  Halo Pendidik dan Pengajar serta anak didik se Indonesia Raya. Selamat hari pendidikan nasional. Apa yang harus diperingati di hari ini? Mungkin... perubahan apa yang harus dilakukan demi memajukan pendidikan Indonesia. Saya rasa semuanya bermula dari rumah. Lebih spesifik lagi, ibu. Kenapa ibu? Karena ibu adalah tempat pendidikan pertama bagi anak. Kalau ibunya sadar sih bagus, nah kalo ibunya malah nggak ngajarin yang bener ke anaknya? Ya tetep aja lingkaran setan. Muter muter lagi. Sebenernya ini bukan pertama kalinya saya cuap-cuap soal pendidikan. Karena concern terbesar saya ada di dunia pendidikan, sudah sering sekali saya 'curhat' masalah pendidikan. Tidaklah usah saya terlalu dalam berbicara soal teknis pendidikan yang ada di sekolah, cukup dilihat saja, saya cukup kasian dengan papa saya. Karena kerjaannya tidak hanya menuntutnya mengajar dan mendidik generasi penerus bangsa, tapi juga mengurus administrasi sekolah. Segala macem tetek bengek administrasi ya

Visa Sosial Budaya Approved!

  alamat kedubes Indonesia di Singapore : 7 Chatsworth Road Singapore 249761 Karena HJ akan tinggal di Indonesia lebih dari sebulan demi mempersiapkan pernikahan dan jalan-jalan, akhirnya dengan berbagai pertimbangan kita memutuskan untuk membuat visa sosial budaya. Yang nantinya bisa dikonversi menjadi KITAS. Yak ruwet ya Sebelum menuju kedubes Indonesia di Singapore, percayalah, persiapkan dulu semua dokumennya karena kalo nggak siap semua pasti kita muter-muter dulu. Yaiya ya, nggak usah dikasih tau ya hahahahah Oke, dokumen yang harus disiapin itu :  Surat sponsor dari Indonesia (surat sponsor ini dari saya), saya pakai alasan memberikan sponsor kepada calon suami saya untuk mempersiapkan pernikahan. Untungnya approved hahaha, padahal itu saya agak degdeg sih.  Sertakan fotokopi KTP yang mensponsori . Fotokopinya selembar gede aja, persis kayak bikin paspor. Karena kalo nggak gede, nanti suruh fotokopi lagi. ada sih fotokopian disana, selembar 50sen, 2

Drama Menuju Singapore

  si koper merah yang baru pertama kali dibawa jalan Halo! Lama vakum, ntah lama apa nggak sih, pokoknya lebih dari seminggu nggak nulis yaa… Jadi, dua hari setelah resign, aku cus ke Singapor. Ngapain hayooo??? Nyari soto paling enak HAHAHAAHA. No no, kita bikin visa sosial budaya buat HJ. Kita berdua ketemuan di bandara gede di negeri seberang.  Ada drama? Ya ada lah! Jelas! Ceritanya saya nggak ambil direct flight dengan alasan kebanyakan direct flight jam 6 pagi. Trus gw harus ngemper di bandara pagi buta gitu?? NO WAY! Akhirnya pilihan jatuh ke tangan Garuda Indonesia dengan jam terbang jam 8 pagi dari Surabaya ke Jakarta, jam 11 dari Jakarta ke Singapore. Ya transit terpaksa, daripada jam 3 subuh udah harus bangun trus mlipir ke bandara. No way lah yau Pas mau cetak boarding pass, tetiba mbaknya bilang ‘Mbak, nggak beli tiket balik?’, nggak mbak. ‘Kerja disana?’, nggak juga. ‘Hemm.. gimana ya mbak ya, kalo ke Singapore harus beli tiket PP mbak, atau kalo