Rabu, 31 Mei 2017

Asian Civilisation Museum (ACM)

 

Penasaran sama isinya ACM ini apaan sih. Letaknya 20 menit dari tempat kita nginep, Grand Copthorne. Naeklah MRT ke sana. Sebenernya sih lokasinya di sekitaran Gardens by the Bay, Clarke Quay situ, sekitaran situ deh pokoknya. Ngesot juga bisa kok. Nah semalem sebelumnya kita iseng jalan dari hotel yang letaknya di sekitar Kim Seng Rd (lupa ya jalannya apa namanya) sampai Clarke Quay sana. Namanya jalanan enak ya, nggak macet, nggak padet, nggak begitu panas juga, sampailah kita malam-malam di Clarke Quay situ. Eh baru sadar pas besoknya kalo ternyata ACM nggak jauh-jauh dari situ.


Didepannya terpampang wajah bapak raja pertama Korsel, Sejong. Trus si HJ bilang, 'wow it's your lucky day, you will see about Korean there'. Ternyata itu masih besoknya pas kita pulang. Semacem eksibisi khusus gitu lah. Emang berkala sih, ganti-ganti juga tiap waktu.

Tapi karena lelah bener ya, siang itu mah panas banget disana. Mlipir dulu lah ke Prive, kafenya ACM. Minum aja biar seger. Masuklah kita kesana, daftar dulu ya, beli tiket begitu. Pas disana, aku dikirain orang Singapur sana. Karena museum ini gratis untuk orang Singapur, 10 SGD untuk orang asing, potongan 50% untuk yang memiliki kartu mahasiswa.

 

OMG! Lagi-lagi kartu saktinya HJ berfungsi dong. Dia punya kartu alumni kampusnya, yang pernah sekali waktu ngasih diskon pas masuk Prambanan, trus masuk ACM dia bayar cuman SGD5 aja. Aku !!! tetep SGD 10. uhuuu

Yaudah dapet stiker buat ditempel dibaju, dan juga brosur. Semacem panduan gitu deh, tapi kitanya bingung. Masuknya pun bingung dari mana hahaha. Tempatnya kurang terintegrasi sih, soalnya abis masuk ke stage pertama, trus harus keluar semacem mengulang rute lagi, baru masuk ke stage selanjutnya. Sampai pada akhirnya kita berdua bingung gimana cara keluarnya ya.

Pertama masuk soal sejarah tentang Islam. Selanjutnya lupa urutannya hahaha. Yang jelas ada banyak arca juga gitu, ship wreck, dll. bentar ya, diintip fotonya aja.

 
tantric

 
 tablet

 

 



 

 


 









fotonya ternyata banyak yang belum dipindah huhu
Share:

Selasa, 30 Mei 2017

Wandering Around Singapore

 

Ketika mengejar waktu untuk submit dokumen untuk visa sosbud, kita berdua memiliki waktu 4 hari di Singapura, yang akhirnya kami gunakan untuk explore sebagian kecil negeri singa ini.

Meskipun kecil, tapi tetap saja capek hahaha

Yang selalu masuk di to do list kami berdua adalah makan seafood. Rasanya dimana aja harus ya makan seafood ini. Kemudian kita coba jalan-jalan ke museum Asian Civilization Museum. Setelah itu kita mlipir ke Gardens by the bay, Marina, Pantai yang saya lupa namanya, Pulau Sentosa, Chinatown cuman buat beli chicken coin (dendeng ala sono), tak lupa juga ke kedubes Indonesia hahahah (emang tujuan utamanya kesini hahaha).


 
ini masjid apa gitu, lupa. deket Chinatown



view dari Grand Copthorne 




es krim durian yang bikin HJ muntah-muntah 😂



Chinatown, demi dendeng

Asian Civilization Museum (ACM), HJ masuk menggunakan kartu mahasiswanya yang berakibat dia didiskon 50%. Apa kabar kartu pelajar Indonesia yang dibolongin pas skripsi???

 
ACM ditulis terpisah aja ya, banyak fotonya


 
nyebrang kok akhirnya


 
liat sunset dari pantai Pelawan yang katanya pantai bikinan

3 hari selalu makan seafood, akhirnya juga kangen soto si HJ ini. Cari lah kita berdua soto yang enak di Spore. Buka-buka lonely planet nih, ada nemu satu tempat yang rasanya bener-bener Indonesia banget. Sotonya, satenya, sama teh tariknya haha. I feel home. Dan baru kali itu ngerasa makan yang bener-bener makan.

maaf ya kalo gambar ini agak jijay hahaha



Karena kita selalu pake MRT dan sesekali taksi, jadilah kita ngerasa harus beli kartunya ini. Tapi berdasar pertimbangan, si HJ kan lebih sering transit disini dulu daripada aku, yaudah dia beli satu aja buat dia aja. Dia dapet sesame street. Giliran aku dibeliin, berharap dapet sesame street juga, ehhhh dapetnya malah thor. Rebutan euyyy sama dia. Sampe akhirnya pas pulang aku ngambek karena hal lain, eh dia nuker kartunya ini sama Thor-ku hahahha


Rencananya sih mau ketemu temenku orang sana. Tapi ternyata dia lagi sibuk, baru bisa ketemu malemnya, itupun jauh juga dari hotel. Ya sudahlah nanti kapan ketemu. Semoga bisa ketemu dia dan juga partnernya.

Share:

Minggu, 28 Mei 2017

Finding The Sun in Borobudur

 

We made plan to see the sunrise in Borobudur. Well.. Sunrise always good for making photos. Since we didn't stay in Manohara hotel which is FULLY BOOKED, we plan to join the sunrise borobudur next morning through this gate. Including ticket from this hotel.

The price for sunrise is quiet expensive than the normal one. I think it is always like that right?



We planned to wake up early, around 4 to get the Manohara entrance. Those guys are not morning people, but they have to wake up for the sunrise.

At 4 am in the morning, we met in front of our room and then we walked to Manohara hotel (about 10mins walk). Not so many people there (but the hotels are fully booked!), maybe because we came too early. Queue up to get the ticket, and the staff asked me 'Are you still Indonesian?, marrying foreigner doesn't mean make me automatically become foreigner huh!

So I paid Indonesian price for me, and he paid for foreigner price. We bought some snacks and tea/coffee to warm up the body, then we got the torch and then we go to climb the temple. After 15 mins on top of the temple, a lot of people coming.




tik tok tik tok tik tok..... at 6 am and the sun not coming yet. Where the hell the sun is???

Then HJ said that you have to wait at least till 6.30 or 7 to get some good photos because the mist will always be there. Okay we wait for awhile. Looking around the temple, try to digest what is the meaning of the relief there although for me it's like 'hmmm apa ya iniiii?', but still ok. I like it.

Flavio and his gf going down first to get the snacks and coffee that are provided from the hotel (ticket). Then his gf back to our hotel since she felt something wrong with her body. Well.. it can happen for pregnant women. And Flavio back to Borobudur while HJ and I tried to capture in some spots. We got some good photos and we walked down for the snacks. Flavio follow us after.





Well... for me, I love temples. Temples are always cute. Ok cute here on my own definition. The temples are magic, you know. Like Something magical that always make me think, 'how could they built something like this? how to put the stones here?', and many other questions.

But for Borobudur, it is good to come and see it at least once in your life. So stunning with the combination of stones and sun. But, this is always be the main destination for travelers, or for students who are on holiday. I remember, this also become our destination when I was at 6 grade. Like I said, after 7 am, this temple is gone. I mean, what will you see isn't the stones or the temple, but the students or little kids who try to take selfie in the top of temple haha!

Good to wake up early huh?

all photos are taken by me
Share:

Jihad



"Suami saya sedang jihad di Afganistan"

Bagi para pembaca yang baru membaca blog ini, dan langsung menuju tulisan judul ini, apa yang pertama kali terbayangkan oleh kalian dear readers?

Bagi para pembaca yang sering mampir, mungkin sudah tau dan mungkin hanya sedikit mengernyitkan dahi dan bertanya 'jihad? Situ sehat nulis beginian?' hahaha. Kemungkinan besar, bagi para pembaca yang baru pertama kali mampir dan membaca judul ini, apalagi dari yang golongan yang mudah terprovokasi dan berpikiran sempit, kemungkinan besar pikirannya akan menuntun ke arah 'Jihad? Bom? Teroris? Gabung ISIS?'. Uh serem


Judul tulisan kali ini mungkin sedikit menggiring opini publik (acileeeee bahasanyaaa). Masih untung nggak saya kasih judul 'Suamiku sedang berjihad' 😂



Saya tiba-tiba terlintas untuk menulis judul ini setelah bom kemarin yang terjadi di Manchester dan Jakarta. Bukan apa-apa sih, tapi sebel ya. Kenapa kata jihad digunakan untuk hal gak baek gitu. Cari deh apa arti jihad sesungguhnya. Jihad dalam hal menegakkan agama dengan cara yang baek-baek, manis, tidak dengan cara perang, pemaksaan atau membunuh warga sipil. Situ punya otak, tolong dipake dikit ya. Allah kasih otak buat kita mikir. Mau mengelak, 'Lho kan tapi harus menegakkan apa yang sesuai agama kita, yang lurus sesuai Al-Quran dan hadis'. Ya tapi kan elu nggak bisa tong, nyuruh umat lain ngikutin ajaran kita? La wong udah ada di Al-Quran disebutin, 'Agamamu, agamamu. Agamaku, agamaku'. Yang artinya kurang lebih, elu punya agama sendiri ya udah jalanin sendiri, nggak usah masuk-masuk ke agama orang laen dan maksain agama kita di fit-kan ke agama laen. Semodel gini nih misal, kalian beli jaket bulu tebel ala Finlandia sana, atau ala Irlandia, trus mau dipake di Indonesia. Mau musim hujan pun di Indonesia ga bakalan masuk tuh baju. Nggak bakalan cocok. Yang ada malah dibilang gila, panas-panas kok pake jaket tebel banget. Maksain kan.

Nah balik lagi ke jihad yang dilakukan suami saya. Daripada timbul hal-hal yang tidak diinginkan karena kalimat sebaris diatas, jadi maksud dari jihad yang dilakukan suami saya adalah bekerja untuk mencari nafkah bagi istri dan keluarga kecil kami, serta bekerja sebagai humanitarian di Afganistan sana. Kebetulan saja dia pekerjaanya seorang humanitarian di negeri konflik sana. Dia nggak ngebom kok, dia juga nggak teror siapapun. Dia kerja untuk keluarga kecil kita dan juga membantu orang-orang di daerah konflik. Bekerja untuk keluarga itu juga jihad lho gaes. Jangan salah.

So, buat kalian yang pikirannya rada sempit, plis di expand itu jaringan pikirannya biar dapet definisi lebih luas dan nggak cupet muter se RT RW aja.

Kalo kalian ngebom orang nggak bersalah, itu namanya bukan jihad tapi jahat! Apa yang kamu lakuin itu JAHAT! inspired by Cinta's way to talk to Rangga
Share:

Jumat, 12 Mei 2017

Fully Booked!

  

Well actually this is kinda funny when I tried to remember again about it.

A day after I got married (22 April), we plan to go to Jogja. We planned to see HJ's friend, Flavio and his gf in Jogja. Flavio is based in Jakarta since 2017. Well he will leave soon again to another country, so we use this chance to see each other in Jogja. This is my first time to see him and his gf. His gf is pregnant, 7 months, such a beautiful thing on her belly. Flavio said to my husband, 'you see the belly bump? amazing right?'. akupun merasa, 'wow, hemm manisnya'.

So... we were all talking about going there by train but all trains from Jakarta to Jogja were fully booked. So does from Surabaya. So we decided to fly. I've check train from Jogja to Surabaya were available so we went back to Surabaya by train. We were all forgot that this is long weekend. 24 April is a holiday here. We were all focused on how to get there and how to go back, but didn't pay attention on 'where will we stay'.

...my husband distract me by asking me to make him a cup of ice coffee in the middle of writing...😑

21 April night, my husband thought that we can just book a hotel in Inna Garuda on last minute, so does Flavio. But then when we checked all the hotels around Jogja, they are all fully booked. We called about 10-15 hotels and they were all told us the same 'Ohh I am sorry, fully booked'. Also in Manohara hotel, a hotel in Borobudur complex that become our first destination. We're all like 'hell! we got the flight to go there, also the train back to Surabaya, but we don't know where to stay while we are there'. Kudu ngguyu tapi yo kudu nangis pisan kok geblek tenan ora mikir turu e nang endi

'Ok we have to stay outside Jogja I think, maybe we can stay in Solo or Semarang or somewhere'

Then I found a homestay next to Borobudur, in the midnight after we called 10-15 hotels. We said yes, we book it! We didnt even care about how it looks, how it is, and this and that, what we care only 'we have to find a place to sleep'. Thats all.

22 April we flew to Jogja from Surabaya around 4, and they flew from Jakarta around 4 I guess. When they came to airport, going for check in, dengan manisnya mbak petugas bilang 'Oh... your flight was yesterday'. Flavio gf book wrong date for the flight. So they have to wait and if they are lucky they can get the ticket. They were lucky, they got ticket to fly to Jogja and finally we met in Jogja!

starving! setelah drama seharian, ditambah macet dari bandara ke Magelang, ditambah bumil yang tiap 20 menit ngeluh pipis


Kita makan malam di Hotel Manohara, meskipun nggak bisa nginep disana tapi kita penasaran dan makan disana. Kondisi restorannya bener-bener sepiiii banget dan hanya kita berempat yang makan. Karena saking nggak percayanya kalo semua hotel fully booked, kita tanya ke petugas Manohara Hotel, Borobudur, 'Hi may I ask you if this hotel is fully booked for tonight?', dan jawabannya 'yes it is fully booked till 24'. Bener-bener sepi dan kita selese makan tiba-tiba tanya lagi ke staf yang lainnya, semacem 'mas, ini beneran fully booked ya?', dan jawabannya masih sama. Fully booked menjadi tema kita selama liburan di Jogja. Mereka yang bukan orang Indonesia heran kok bisa sampe segininya pas liburan panjang. Well... Jogja is main destination for people.

Moral valuenya adalah, jangan cuma fokus ke tiket penerbangan/kereta atau apapun untuk mencapai tujuan, tapi pikirkan juga dimana mau tidur, otherwise anda akan menggembel selama perjalanan 😂😂😂😂
Share:

Rabu, 10 Mei 2017

The Day


We are married officially! 6 May 2017 is the big day for us. Invite some friends and of course family. I was so happy that I can introduce my husband to my close friends. I was so happy to talk with them one by one, not only sitting in front of people and waiting people to come, but I come and talk with them. At least that what makes me happy. Even my friends said 'Kamu pengantin apa penerima tamunya?' 😂

 demi dua buku ini. malahan pas nerima buku ijo ini temen-temen bilang 'itu paspor?'

Mine was starting from 8 to 12. And all of my friends were staying for hours there. I know their habit. Sit, talk and eat. So I can talk a lot and eat with them. Not so formal. Not formal at all I mean. My husband talk a lot with my close colleagues, also with another friends. At least they speak english and I dont need to be the interpreter.
 
thankyou for this people who came earlier and home late

My family was there, to witness our big day. Since I have big family and they didnt came all together, so it was a bit tiring. Because when I want to take rest a bit, somebody call me and ask me to go and talk with them. Ok lah, once in lifetime haha

I was taking rest after 1 pm. The stuff on my head made me dizzy and last for hours. Aunty gave me some pills to take and feel ok.

I am officially become a wife of Mr Lohuis 💗

boleh dong 😊😋😍

And a day after officially become a wife, one of friend invite me to join the group of people who marry Dutchie to share information and everything regarding mixed marriage. Thank God they are so helpful and I can help some to share some info regarding marriage stuff.


Photos are taken by Kian_naik photograph
Share:

Jayalah Para Koruptor Negeri!



 
pic taken from sea-globe.com

Hmm.. saya tidak terlalu senang dengan keputusan memenjarakan Ahok. Saya melihat hal ini lebih kepada politik, bukan soal agama. Ada yang mengatakan bahwa saya tidak membela agama saya sendiri ketika ‘katanya’ agama saya dinistakan. Well.. jika memang hal ini lebih kepada penistaan agama, kenapa hanya Ahok saja yang diproses hukum? Bagaimana dengan para pembakar kitab suci diluar sana? Atau… bagaimana dengan para penista agama lain? Penghina agama lain? Ada lho orang jalur keras yang menghina agama lain. Bukan berarti saya tidak pernah membandingkan agama saya dengan agama lain, saya mengkaji bersama teman saya, mengambil sisi mana yang sama dan sisi mana yang beda, dan itupun hanya untuk konsumsi pribadi. Tak lantas mengagung-agungkan agama saya dan merendahkan agama lain. 

Mungkin benar, bapak Ahok ini tutur katanya ceplas ceplos, cas cis cus, kalo kata orang nggak dipikir dulu itu menyakiti orang lain apa tidak. Tapi kalo saya menjadi gubernur, bisa jadi saya menjadi orang yang seperti beliau. Karena sekalinya saya melihat hal yang tidak pantas dan tidak sesuai, saya akan marah. Seketika. Nggak perlu nunggu lama. Ah tapi hal itu bisa diperbaiki. (dan untung saja saya tidak menjadi gubernur, bisa jadi nasib saya seperti beliau)

Hal ini semakin berat dengan adanya isu sara, yang banyak orang yang tidak suka dengan Orang Cina. Hello…. Kenapa kalian nggak suka dengan orang Cina? Apa karena trauma dengan kejadian masa lalu? Emang ada ya yang namanya dosa turunan? Semisal nih nenek kalian yang bersalah dan berdosa dimasa lalu, lantas hingga saat ini kalian masih menerima resiko atas dosa para pendahulu kalian? Nggak adil kan?

Saya tidak bisa mengatakan pendapat saya ini benar. Bisa jadi benar, tapi bisa jadi juga salah. Saya hanya mengungkapkan sudut pandang saya melihat hal yang agak menjijikkan ini. 

Mari kita bergeser ke sudut pandang politik. Kata orang Jakarta, si bapak Ahok ini orangnya bersih. Beberapa pos yang becek sudah mulai dipadatkan kembali ke sedia kala. Kalau di Surabaya ini Bu Risma lah yang banter memerangi korupsi. Kata nenek saya yang tinggal di Jakarta, Jakarta menjadi lebih beres ketika Ahok memimpin. Menjadi lebih teratur. Tak ada lagi pungli. Manusia tidak ada yang sempurna, semuanya juga tau, tapi dari sini saya bisa sedikit menyimpulkan kalau si bapak Ahok ini orangnya bersih, anti korupsi. 

Yang susah siapa? Ya koruptor lah jelas. Berapa perbandingan jumlah koruptor dibandingkan dengan jumlah orang yang bersih? Saya belum pernah mengadakan riset sih, tapi mungkin…. Satu banding sekian puluh? Satu banding sekian ratus? Atau satu banding sekian ribu?

Ada pernyataan dari seorang yang dianggap orang ‘alim’, beliau mengatakan lebih baik memilih koruptor daripada memilih pemimpin non islam. Bagi orang muslim, mungkin memang lebih diutamakan memilih orang muslim terlebih dahulu, tapi bagaimana jika orang muslim tersebut koruptor? Akankah anda memilihnya? Kalau saya, jelas tidak! 

Pos mana saja yang rentan korupsi? Tentu saja semua pos. Pos penyelenggara haji kala itu ketauan korupsi besar-besaran, pos untuk bikin kitab suci juga katanya, pos bikin e-KTP juga sudah ketahuan (btw, KTP saya udah rusak sak sak, jangan-jangan itu juga hasil dari korupsi???), dan saya yakin masih banyak pos lainnya yang memelihara banyak tikus disarangnya. 

Kembali lagi ke pemimpin yang bukan non muslim. ‘Jangan pilih pemimpin non muslim!’, begitu katanya. Tapi sekarang coba kita geser pantat kita menuju Bali. Apakah pemimpin Bali (sebut saja gubernur) adalah orang muslim? Bapak I Made Mangku Pastika bukanlah seorang muslim. Mungkin akan ada yang menjawab ‘tapi kan Bali memang nonmuslim, banyak hindunya’. Tapi di Bali pun ada orang muslim meskipun kecil. Bagaimana dengan nasib mereka? Haruskah mereka protes dan memilih pemimpin muslim? Bagaimana dengan gubernur Nusa Tenggara Barat? Papua? Maluku? Dan bagian lainnya Indonesia? Kalau memang kalian protes memiliki seorang pemimpin haruslah seorang yang beragama islam, kenapa tidak ada yang protes untuk daerah lain? 

Menyoal tentang ras, meskipun beliau seorang keturunan Tionghoa, beliau tetaplah seorang WNI. Kecuali jika beliau datang dari China menuju Indonesia khusus untuk mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta. Bunuh Diri itu namanya. Jika hal ini tentang ras, Bapak Henk Ngantung adalah seorang nasrani keturunan Tionghoa yang menjadi gubernur Jakarta dimasa Soekarno. Geser yuk, ke seseorang yang bernama Abdurahman Wahid atau yang lebih ngetop dipanggil Gus Dur. Beliau itu keturunan tionghoa lho. Jadi presiden lagi. 

Ada seorang kawannya kawan, tak ada angin tak ada pula badai tiba-tiba ‘curhat’ dan berbicara hoax kepada teman saya. Ujungnya dia yang notabene seorang ‘alim’ ini menghina agama lain dan ras keturunan tionghoa ini. Saya merasa ngeri. Dia bersekolah tinggi, tapi sayangnya dia tidak berpendidikan. Manfaatnya menghina keturunan tionghoa itu ya apa?? Toh banyak dari mereka yang berjasa bagi negeri ini. 

‘Hal yang memberatkan diantaranya terdakwa tidak merasa bersalah, perbuatan terdakwa telah menimbulkan keresahan dan mencederai umat Islam serta perbuatan terdakwa dapat memecah kerukunan umat beragama dan antar golongan’. Begitu kata pak hakim yang terhormat. Bapak hakim yang terhormat, perlukan saya mengatakan bahwa yang dapat memecah kerukunan umat beragama dan antar golongan adalah provokasi yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab?

Membaca pernyataan hakim tersebut membuat saya merasa tidak aman dinegeri saya sendiri. Pasangan saya pun mengatakan demikian. Orang dengan mudahnya menghakimi orang lain yang tidak sependapat dengannya. Jangan salahkan kami yang merasa terancam di negeri sendiri, akan lebih memilih bermukim di negeri lain yang menjamin keselamatan dan ketentraman pribadi.

Yang paling berbahagia dari kasus Ahok yang dipenjarakan ini tak lain dan tak bukan adalah kaum koruptor, dan kaum follower alay. Well… satu orang bersih masuk jeruji besi, otomatis para penggiat ‘uang masuk kantong pribadi’ pun senang karena aksinya masih akan bisa dilanjutkan hingga malaikat maut menyapanya. 
 
Kadang saya sering bermimpi disiang hari. Memikirkan kapan negeri ini benar-benar merdeka. Dari kebodohan, dari korupsi, dari keterbelakangan mental, dari segala hal yang justru semakin menjatuhkan negeri ini.

Ingatlah, kita ini Indonesia, bermacam-macam suku, ras dan agama, yang berbasis Pancasila. Bukan berbasis Islam yang diperuntukkan satu ras.
Share:

Kamis, 04 Mei 2017

Menjadi Istri Di Hari Kartini

designed by a friend of my friend. although I am originally coming from Java, not Bali, but seems that Bali is the icon of Indonesia. to tell them that Bali is part of Indonesia haha

Cerita tentang menikah ini terjadi begitu cepat. Begitu mendadak. Bukan karena saya hamil duluan makanya saya dinikahkan. Tapi menurut pertimbangan HJ yang merasa bahwa apa lagi yang harus ditunggu? Kita sudah mempersiapkan dokumen dan sedang dalam proses sekarang. Dulu memang saya tidak diperbolehkan nikah secara agama terlebih dahulu, dikarenakan jarak pengurusan dokumen masih terlalu jauh, bulanan, terlalu beresiko (katanya). Tapi ini jaraknya 2 minggu sebelum pernikahan official yang tanggalnya baru bisa fix pasti seminggu sebelum the day.

HJ mengajukan proposal ke papa mama untuk memperbolehkan kami berdua menikah secara agama terlebih dahulu. Papa mama juga berpikir, sehari dua hari bolehlah tinggal dirumah, tapi kalau dua minggu nanti orang lebih mikir aneh-aneh, kalau nyuruh dia tinggal di hotel juga nggak mungkin. Mending buat traveling daripada stay di hotel, sedangkan kita juga sudah ada rumah di Malang, tapi dia nggak mau tinggal sendirian dirumah itu. Solusinya, ya nikahkan!

Orangtua juga berpikir nenek sudah kritis. Istilahnya itu papa mama bagi pikiran. Satu ke urusan pernikahan kita, satunya ke nenek yang sakit. Akhirnya sepulang dari Singapura yang 4 hari itu, kami langsung menuju Surabaya mengurus CNI di konsulat jam 2 siang, kemudian jam 3 langsung ke notaris yang jaraknya (untungnya) cuma 1km dari konsulat Belanda.

Rencana pulang kerumah hari kamis gagal, karena ternyata pengurusan CNI di konsulat bisa dipercepat dan hasilnya bisa diambil besoknya. Karena senin tanggal merah, pihak konsulat berbaik hati mempercepat prosesnya. Jadilah hari jumat kita baru pulang kerumah. Sampai dirumah sekitar pukul 4 sore, dan jam 6 sore mama tanya 'pake baju apa nanti?'. Yeee meneketehek. Manten rock n roll. Bener-bener apa adanya hahaha. Ada stok kebaya dirumah,yang kebtulan udah kesisetan 😑😒

Akad nikah di lakukan pukul setengah 8 malam, tanggal 21 April 2017, menggunakan bahasa Inggris. Dihadiri keluarga dan tetangga sekitar. Jangan tanya gimana perasaannya. Nggak begitu deg deg an. Cuman pas abis 'sah' itu tetiba mikir 'oemji! I am now a wife. I have a husband now'. Karena pikiran larinya ke dokumen aja, sampe yang paling penting aja kayak asal lewat aja. Temen-temen juga kaget kalo status saya sudah berubah. Kayak nothing change aja, soalnya juga biasanya jalan bareng, kemana-mana bareng, eh tiba-tiba udah bukan fiance atau gf-bf lagi. But husband and wife.

Semua memang sudah ada skenario yang tersusun dibalik semuanya. Menikah ini, melengkapi impian terakhir nenek, yang ingin kuat bertahan sampai saya dinikahkan. Meskipun nenek tidak hadir, tapi saya yakin spiritnya hadir bersama keluarga besar.
Share:

Goodbye Grandma

 
photo was taken last year when Idul Fitri (2016). she is about 94 years old

Nenek yang ada di Malang tiba-tiba kritis. Kondisinya memang sudah tidak stabil sejak 2 tahun terakhir. Sudah tak lagi kuat berjalan. Tak lagi sesehat dan sebugar beberapa tahun yang lalu. Hanya tiduran di tempat tidur, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya harus digendong ataupun menggunakan kursi roda.

Tapi sejak beberapa bulan terakhir, setiap kali papa mama berkunjung, dan ketika mengetahui bahwa salah satu cucunya akan menikah, nenek selalu mengatakan 'dungakno yo nduk, le, mandar mugo aku nututi anakmu dikulupi' --> doakan ya nak, semoga aku masih bisa melihat anakmu dinikahkan.

Frekuensi berkunjung mama papa yang tadinya sebulan sekali menjadi bertambah. Sebulan dua kali, bahkan bisa seminggu dua kali. Dan setiap kali berkunjung kesana, kalimat yang sama selalu terlempar. Semoga masih bisa menyaksikan cucunya dinikahkan. Ya kita pun slalu mengatakan, 'pasti, pasti bisa kok, tenang aja'. Terakhir kali saya berkunjung kesana dalam kondisi nenek sadar, ada percakapan lucu antara nenek dan papa,

'mak, bakal e mantuku iki wong adoh'
'lho wong adoh ngendi tho le?'

'wong londo mak'
'la kepiye kok iso oleh wong londo iku? piye ngomonge?'
'sampean iki duwe mantu putu bule lho mak. wong londo mak. ngkok nek wes tak rabekno, mantuku tak gowo mrene tak kenalno sampean yo. makane sampean kudu sehat, kudu mangan seng akeh, kudu waras'
'ojo digowo mrene le. la aku isin lho omah e elek kok diparani wong londo'
'yo ora popo ta, wong mbah e kok. anakku ae ora isin nggowo bakal bojoe mrene kok. wes pokoke sampean kudu waras'

terjemah :
'mak, calon menantuku itu orang jauh'
'orang jauh darimana le?'
'orang londo (belanda) mak'
'lah gimana kok bisa dapet orang jauh? gimana cara ngobrolnya?'
'sampean ini punya cucu menantu bule lho mak. orang belanda. nanti kalau sudah dinikahkan, saya bawa menantu saya kesini, saya kenalkan sampean. makanya itu sampean harus sehat, harus makan yang banyak, harus sehat'
'jangan dibawa kesini le, aku malu lho rumahnya jelek kok didatengi orang belanda'
'ya nggak apa-apa lah, kan neneknya. anak saya aja nggak malu kok bawa calon suaminya kesini. pokoknya sampean harus sehat'

Lucu sekali mendengarkan celoteh nenek kala itu. Dan itu terakhir kalinya saya melihat nenek dalam kondisi sadar.

Ribetnya mengurus dokumen pernikahan campur tiba-tiba membuat saya berpikir 'Ah iya ah, mumpung HJ ada disini, ntar dibawa ke Malang aja kerumah nenek'. Tiba-tiba ntah mengapa, HJ terpikir untuk menikah secara agama sepulang dari Singapura. Dia mengajukan proposal ke papa mama, dan ternyata papa mama juga memikirkan hal yang sama. Tenggang waktu 2 minggu sebelum pernikahan official, dirasa tidak terlalu lama. Singkat cerita, kami berdua dinikahkan tanggal 21 April 2017 secara agama. Dihadiri tetangga dan keluarga. Jadi ini bukan nikah rahasia dan bukan karena hamil duluan. Will post about this separately.

Tanggal 26 April, nenek semakin kritis. Kondisinya koma, hanya sekali dua kali sadar, selanjutnya koma. Kami menuju Malang untuk melihat kondisinya. Waktu itu nenek ada di puskesmas. Nggak tega liat nenek yang tinggal kulit dan tulang dan semakin kurus. Disitu saya dalam kondisi sudah menikah, saya mengunjunginya bersama suami. Dalam kondisi koma, mama mengenalkan suami saya kepada nenek.  Dalam kondisi koma, tiba-tiba tangan nenek bergerak dan merespon tangan mama yang sedang menungguinya.

Esok harinya, kami mendapat kabar dari Malang kalau nenek meninggal. 27 April 2017. Dari situ kami semua menyadari, ada kemungkinan besar nenek menunggu saya menikah dan membawa suami saya untuk menemui nenek meskipun dalam keadaan koma. Satu keinginan nenek sudah terwujud, mampu bertahan sampai saya menikah. Satu keinginan papa juga sudah terwujud, membawa menantunya menemui nenek. Ada satu lagi keinginan mama saat saya menikah. Mama ingin semua keluarga dari papa datang kerumah berkumpul semuanya tanpa terkecuali. Kala itu adik terakhir papa bilang 'pokoknya kalo mbak Ike mantu saya harus kesana nggak tau gimana caranya. Pokoknya harus kesana, nggak peduli mbahnya nanti dirawat siapa dititipin siapa pokoknya aku harus kesana'. Dan ternyata keinginan mama juga tercapai. Semua keluarga bisa datang ke acara pernikahan saya tanpa kecuali, karena memang nenek sudah ditempat yang lebih baik disana. 

Goodbye grandma. You deserve something better. Thank you for waiting us, to fulfill our promises. Thank you for always stay strong. Thank you for taking care of us for a long time. I have no other regret in my life. We love you grandma 💗
Share:

Selasa, 02 Mei 2017

Selamat Hari Pendidikan Nasional

 

Halo Pendidik dan Pengajar serta anak didik se Indonesia Raya. Selamat hari pendidikan nasional.

Apa yang harus diperingati di hari ini? Mungkin... perubahan apa yang harus dilakukan demi memajukan pendidikan Indonesia. Saya rasa semuanya bermula dari rumah. Lebih spesifik lagi, ibu. Kenapa ibu? Karena ibu adalah tempat pendidikan pertama bagi anak.

Kalau ibunya sadar sih bagus, nah kalo ibunya malah nggak ngajarin yang bener ke anaknya? Ya tetep aja lingkaran setan. Muter muter lagi.

Sebenernya ini bukan pertama kalinya saya cuap-cuap soal pendidikan. Karena concern terbesar saya ada di dunia pendidikan, sudah sering sekali saya 'curhat' masalah pendidikan. Tidaklah usah saya terlalu dalam berbicara soal teknis pendidikan yang ada di sekolah, cukup dilihat saja, saya cukup kasian dengan papa saya. Karena kerjaannya tidak hanya menuntutnya mengajar dan mendidik generasi penerus bangsa, tapi juga mengurus administrasi sekolah. Segala macem tetek bengek administrasi yang hanya sebatas 'administratif' dan tentunya ribet blibet bertele-tele. Biarlah para pendidik dan pengajar ini fokus dan konsentrasi terhadap pendidikan anak bangsa.

Mengajar dan mendidik anak tidaklah hal yang mudah. Setiap anak dengan setiap karakternya membuat seorang pendidik dan pengajar harus terampil dan kreatif dalam menyampaikan ilmunya. Kalau monoton dan itu-itu melulu, dijamin nggak akan sampai ilmunya dengan selamat. Yang ada anak akan berpikir 'ah guru itu lagi, males banget sih'.

Pendidikan tak hanya sebatas di kelas, tapi juga pendidikan moral tak kalah pentingnya. Buat apa pandai matematika tapi moralnya nol?

Ah saya tidak mau berkomentar trus-trusan. Saya hanya ingin memberikan harapan saya. Semoga pihak yang berkaitan mampu melihat dengan jernih apa yang harus diubah dari sistem pendidikan Indonesia. Bapak Ibu... Indonesia itu besar, Indonesia itu kaya, Indonesia itu beragam. Perlu adanya generasi bangsa yang kreatif untuk mengolah negeri ini. Tidak hanya bertumpu pada generasi bangsa saja, perlu adanya koordinasi bagi pengajar, pendidik, dan juga penggiat sistem pendidikan negeri ini. Jikalau semuanya berjalan beriringan, niscaya negeri ini akan bangkit dan bersinar.

Ini negeri besar bung. Nggak malu sama negeri seberang yang kecilnya segitu tapi majunya bukan main?

Karena pendidikan adalah senjata utama untuk memajukan bangsa.
Share:

Senin, 01 Mei 2017

Visa Sosial Budaya Approved!



 
alamat kedubes Indonesia di Singapore : 7 Chatsworth Road Singapore 249761

Karena HJ akan tinggal di Indonesia lebih dari sebulan demi mempersiapkan pernikahan dan jalan-jalan, akhirnya dengan berbagai pertimbangan kita memutuskan untuk membuat visa sosial budaya. Yang nantinya bisa dikonversi menjadi KITAS. Yak ruwet ya

Sebelum menuju kedubes Indonesia di Singapore, percayalah, persiapkan dulu semua dokumennya karena kalo nggak siap semua pasti kita muter-muter dulu. Yaiya ya, nggak usah dikasih tau ya hahahahah
Oke, dokumen yang harus disiapin itu : 

Surat sponsor dari Indonesia (surat sponsor ini dari saya), saya pakai alasan memberikan sponsor kepada calon suami saya untuk mempersiapkan pernikahan. Untungnya approved hahaha, padahal itu saya agak degdeg sih. 

Sertakan fotokopi KTP yang mensponsori. Fotokopinya selembar gede aja, persis kayak bikin paspor. Karena kalo nggak gede, nanti suruh fotokopi lagi. ada sih fotokopian disana, selembar 50sen, 2 lembar 1 dolar. Ngantrinya kan lumayan panjang juga. Jadi mending prepare lengkap.

Selanjutnya, fotokopi paspor yang disponsori. Sama yang ini juga selembar gede ya. Jangan sepotong ukuran paspor. Trus nanti paspornya juga ditinggal disana. soalnya kan visanya ditempel di paspor, masa iya paspornya ga dikasihkan hahahha. Trus pas photo dengan background warna apa aja terserah. Punya HJ background biru juga gapapa. Kalo lupa foto, bisa foto di kedubes sana bayar SGD 10 dapet 3 potong foto. Sekalian fotokopi resident permit (bagi pemohon yang stay di Singapore) atau kartu putih/kedatangan dari imigrasi Singapura

Jangan lupa isi formulir permohonan menggunakan huruf kapital. Well… kita nggak tau kan apa yang bikin itu approve apa rejected kan, jadi disitu tertulis harus huruf blok. HJ ngisi pake huruf kecil, untungnya aku bawa kopiannya buanyakkkkk. Jadilah aku yang ngisiin formulir dia. dia itu agak ngelewes soale -_-

Lalu semua dokumen disetorkan ke penerima dokumen di pinggir pintu masuk kedubes, trus diberi nomer antrian. Untuk pengajuan visa sih yang antri nggak banyak bener, yang banyak buat paspor Indonesia. Dan disana tiba-tiba merasa ‘Lah, ono wong jowoan dek kene’ haha

Visa bisa diambil 2 hari kemudian. Saya submit hari senin, diambil rabu. Jam submit dokumen jam 9 pagi sampai jam 12, jam pengambilan visa pukul 3 – 5 sore. Nggak usah heran, pas antri udah dari luar. Ngantri panjang diluar. Padahal juga pas udah didalem nomer itu nggak ngaruh hahaha

Nah kalo pas submit visa dapet nomer antrian dari meja sebelah pintu, kalo pas pengambilan, langsung aja antri di loketnya tanpa nomer. Jadi kalo yang ini bener-bener siapa cepat dia dapat. Tapi itupun nggak sebanyak antri di Indonesia sih haha

 
antrinya begini pas ngambil visa/paspor

Setelah paspor diambil, HJ nanya 'Mana ini yang disebut visa sosial budaya?'. Di Visa yang approved tadi ada nama orang yang mensponsori, dan juga jenis visanya. Tapi bukan 'visa sosial budaya', melainkan nomer jenis visa. Nah, saya mana apal, akhirnya ya saya bilang aja 'tuh ada namaku, ya udah pasti sosbud lah' 😂

Note : sponsor bisa juga dari perusahaan, bisa juga dilengkapi surat nikah untuk sponsor suami istri, atau untuk sponsor untuk anak perlu disertakan akta lahir.
Share: