Kamis, 21 Juni 2018

Selamatkan Hidup Seseorang melalui #SebarkanBeritaBaik


 

Beberapa tahun yang lalu, awal mengganasnya sosial media terutama whatsapp sebagai salah satu bentuk aplikasi pengganti sms, kegiatan bertukar pesan pun menjadi jauh lebih mudah. Tak terbatas seperti SMS, aplikasi-aplikasi yang muncul saat ini bisa membuat penggunanya mengirim ribuan karakter dalam sekali klik. Saya pun dulu, sering sekali asal copy-paste apapun yang dikirim orang tanpa konfirmasi kebenarannya.

Contoh paling sederhana adalah pesan tentang keajaiban para nabi yang harus disebarkan melalui pesan berantai karena jika diabaikan besok kita bisa meninggal, atau tertimpa hal buruk yang ternyata jelas tak terjadi. Sempat berpikir apakah benar kalau kita tidak menyebarkan pesan tersebut, maka hal buruk akan menimpa kita? Karena penasaran pun saya akhirnya mencoba tidak mengirimnya dan ternyata tidak ada hal yang terjadi. Karena pada dasarnya bentuk pesan yang seperti itu digunakan untuk metode click bait untuk menghasilkan uang atau apapun itu dengan tujuan tertentu. 

Akhir-akhir ini pun banyak berita tak benar yang selalu mudah tersebar karena pengguna media sosial sangat suka sekali menyebarkan bahkan tanpa membacanya. Ada banyak dari mereka yang memang ceroboh dan asal menyebarkan berita yang didapatkan. Namun ada pula yang memang menyebarkan karena menginginkan kontroversi terjadi. Istilahnya agar viral. 

Saya pun adalah salah satu orang yang terkena dampak dari penyebaran berita yang asal sebar. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali portal berita yang menggunakan sosial media seperti Facebook, Instagram maupun Twitter untuk posting berita yang baru saja mereka rilis. Setelah mereka rilis melalui akun-akun sosial media tersebut, maka akun-akun lain akan siap melakukan repost berita yang dirilis dari portal berita tersebut. Tentunya tanpa melakukan cek ricek, mereka akan repost dalam hitungan detik. 

Kala itu, ada salah satu portal berita besar di Indonesia yang mengambil foto saya beserta suami saya dan menggunakannya sebagai ilustrasi berita mereka, tanpa ijin saya. Status suami saya yang WNA dan saya yang WNI, sah menikah, foto kami berdua digunakan sebagai ilustrasi berita yang menyebutkan bahwa pasangan WNI dan WNA ini adalah pasangan kumpul kebo dan kemudian hamil tapi akhirnya WNI tersebut (yang kebetulan mantan TKW) menikah dengan sesama WNI. Karena anak yang dilahirkannya memiliki paras seperti WNA, akhirnya terbongkarlah perbuatan WNI tersebut yang hamil terlebih dahulu. Dalam ilustrasi tersebut kebetulan yang dipakai adalah foto saya dan suami. Dengan posisi wajah di blur, tapi sayangnya mereka tidak mencantumkan bahwa foto tersebut adalah ilustrasi. Tidak pula meminta ijin saya si empunya foto. 

Dampak yang saya rasakan, benar-benar terjadi satu detik setelah teman saya memberitahukan perihal berita tersebut. Ketika saya mengkonfirmasi dan meminta portal berita tersebut menarik video yang didalamnya terdapat foto saya berserta suami, saat itu pula puluhan akun lain sudah melakukan repost. Berkali-kali saya hubungi melalui email, telepon, kolom komentar akun mereka, tak ada balasan sama sekali. Untungnya masih banyak netizen yang membantu untuk melaporkan ke akun terkait perihal penggunaan foto yang tanpa ijin dan tidak sesuai dengan berita. Meskipun banyak netizen lain yang sudah tentu menghujat saya dengan mengatakan bahwa saya wanita murahan yang semaunya diajak tidur bule dan hamil pula. Padahal saya sudah menikah dengan suami selama lebih dari satu tahun dan belum pula hamil. Beberapa netizen ada yang mengirimkan pesan dan menanyakan kebenaran berita tersebut dengan sopan, dan membantu untuk menarik berita tersebut. Tapi ada pula netizen yang sengaja mengirim pesan hanya untuk menghina saya meskipun saat itu saya sudah menjelaskan duduk perkaranya. 

Dalam waktu sedetik, rasanya saya tidak percaya kalau ada orang yang menyalahgunakan foto saya dan mengatakan saya wanita murahan hanya dari sepenggal berita yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Selama berbulan-bulan saya merasa agak takut menggunakan media sosial. Rasa trauma secara psikologis masih terbayang dan terasa. Bisa jadi yang saya alami bukanlah hal besar bagi orang lain. Tapi dampak psikologis yang saya rasakan juga tidak bisa disepelekan. Hal ini bisa saja suatu saat terjadi kepada kalian. Saya merasa memiliki tanggungjawab untuk menjelaskan kepada semua orang bahwa itu karya saya yang disalahgunakan untuk berita yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan saya pribadi. Tapi di sisi lain, orang tak akan percaya karena mereka akan lebih percaya yang viral dan ramai dibicarakan terutama jika hal tersebut adalah hal yang tidak baik. 

Dari kejadian tersebut saya belajar lebih untuk jangan asal menyebarkan berita. Minimal, kita harus kroscek kebenaran berita tersebut sebelum menyebarkan. Kemudian menimbang apakah berita tersebut pantas kita sebarkan atau hanya akan membuat gaduh jika kita ikut berpartisipasi dalam menyebarkannya? Hal tersebut adalah hal sederhana yang bisa dilakukan sebelum menambah gaduh yang sudah gaduh. 

Konsekuensi menyebarkan berita yang salah bisa saja merusak kehidupan seseorang. Apakah kita rela membiarkan jari-jari ini asal klik untuk berita yang tak benar yang kemungkinan bisa merusak hidup orang? Lebih baik #SebarkanBeritaBaik karena kita tak akan tahu mungkin suatu saat di suatu hari yang tenang, kitapun bisa menjadi korban dari berita yang tidak benar. 

Belajar lah untuk menahan diri dan berpikir dua kali sebelum menyebarkan berita. Jika memang berita tersebut benar dan pantas untuk disebarkan, silakan. Tapi kalau kita sendiri tidak yakin dan merasa berita tersebut tidak penting untuk disebarkan, lebih baik menahan diri saja. Siapa tahu anda menyelamatkan nyawa atau psikologis seseorang dengan #SebarkanBeritaBaik saja. Karena netizen yang cerdas adalah netizen yang selalu #SebarkanBeritaBaik.
Share:

Takut Ngomong Ah

  
Hujan Locale Ubud

Kemarin, kita lagi ngidam yang namanya fast food. Yang kadang belinya cuman setahun 2-3 kali aja. Demi memuaskan hasrat kita, akhirnya meluncurlah ke salah satu gerai fast food terkemuka di dunia ini yang tak akan kusebut merk nya. Srettt Malang macet shay... cuman sekilometer aja butuh waktu 15 menit. Mau jalan juga kemaren ujan. Yawes naksi aja.

Nah sampailah kita disana. Gw kirain si bojo mau ngomong bahasa Indonesia ya secara dia harus latihan ngobrol trus pake bahasa Indonesia but.... nope. Doi kan rada cerewet ya, dia maunya saus yang mirip kek yang dijual di Ams sana. Mana ada!

Kemudian dia bertanya kepada mbaknya, "What kind of sauce you have here?"

Tak kusangka, pertanyaan sesederhana itu bikin mbaknya kelabakan. Reaksi pertama adalah senyum-senyum gajelas, deg deg, kemudian manggil temennya yang bisa bahasa Inggris. Eike udah laper bok, langsung aja gw terjemahin. Mungkin sih agak ga sopan (karena gw kalo laper tuh bukan gw).

Abis itu gw mikir, pertanyaan semudah sesimpel itu dalam bahasa Inggris aja lulusan yang gw gatau lulusan apa dia, tapi yang pasti dia udah lulus SMA/SMK tho? Yang udah belajar bahasa Inggris mungkin sedari kelas 4 SD tapi ternyata dapet pertanyaan semacem itu udah keder.

Gw bukan jelek2in ya, ini pertanyaan cuman "Lu punya saus apa aja cin?" dia ga bisa ngerti. Apalagi kalo dikasih pertanyaan "What kind of impact that possibly happen from the summit in Singapore between Donald Trump and Kim Jong Un?" Apa nggak mati berdiri dia?

Meskipun Indonesia termasuk dini dalam memasukkan pelajaran Bahasa Inggris ke kurikulum pendidikan negeri ini, faktanya, cuman berapa persen siswa lulus SMA yang bisa ngobrol pake Bahasa Inggris? Jangankan bisa, yang berani ngomong aja deh, berapa orang?

Banyak temen gw yang pinter banget soal gramatika bahasa Inggris tapi nol soal ngobrol. Mereka pinter soal teori tapi takuttt banget kalo disuruh praktek. Gw jujur aja, gramar gw jelek banget. Ancur lah bisa dibilang gitu. Tapi gw sebodo amat ya, kenapa gw brani ngomong?? Gw kaget lah pas tau tulisan temen gw pake bahasa inggris yang keren banget tapi nggak pernah gw denger mereka ngomong bahasa Inggris...???

Gw inget banget dulu pelajaran Bahasa Inggris gw ngerasa agak pinteran pas SMP dan bisa berani ngomong gara-gara guru gw pas SMP bilang 'Lu gratul-gratul ga masalah, mereka pasti paham lu ngomong apa. yang penting lu brani. Salah urusan mburi". Iye bener juga kan. Sejak saat itu gw yang super pemalu ini jadi lebih berani ngomong (tapi gw males ngomong kalo pas dikerumunan orang cerewet. Kalah cuy!).

Gw doyan banget kan ya ngeritik pendidikan negeri ini wkwkkw. Kali aja ada pengajar nyasar ke blog gw dan mikir hal yang sama kek gw trus akhirnya mereka ubah cara ngajar mereka dududuudduuu.

Jadi menurut gw sih, cara ngajar kebanyakan guru disini lebih di dikte. Di ajarin biar apal segala macem teori tapi pas suruh ngomong atau mengungkapkan pendapat langsung diem. Nyatanya, hal ini nggak cuman buat bahasa Inggris aja. Gampangnya, coba masuk kelas, pelajaran apapun dehh, ntar pas gurunya nanya "ADA YANG DITANYAKAN???" maka seketika kelas akan senyap laksana kuburan!

Iya nggak?? IYALAH! Gw juga pernah sekolah kali

Tapi emang bener, gw pun ngerasa kalo gw dulu tuh jarang banget ngungkapin pendapat. Gw milih diem daripada salah ntar di bully satu sekolahan cuyy. Jadilah kebawa sampe beberapa waktu sampe pada akhirnya gw sadar kalo gw diem mulu sih lu jadi anggep gw sependapat kek lu dong. Oke gw speak up deh ya. Kita akhiri kebisuan ini.

Jadilah gw lebih brani ngomong sekarang .... yang kadang ujung-ujungnya bikin orang mikir "Lu berubah ya sekarang" Mungkin lebih tepatnya gw udah bangun oi. Yang kemaren-kemaren iya iya in omongan lu tuh gw males debat wkwkkw.

Wis wis, intinya, kalo kita nggak berani ngomong, ya nggak bakal maju. Sik tapi kalo ngomong juga jangan asal jeplak ya. Kudu di filter dulu, apalagi berita hoax. Tapi kalo latihan ngomong bahasa Inggris mah hajarrr!!!! Salah salah ntar juga lu sadar betapa begonya lu dulu pas belajar wkwkwkkw
Share:

Karena Sekarang #LiburanJadiMudah


  
Ubud

Masih inget rasanya beberapa tahun lalu, terkadang rencana jalan-jalan hanya akan berakhir sebagai rencana belaka karena ketidaksanggupan mengatasi keribetan pesan tiket dan hotel. Kebanyakan dari proses itu harus dilakukan offline a.k.a harus pesan di travel agen. Tak jarang pula perjalanan tak berjalan sesuai harapan karena tidak singkronnya informasi yang didapat dari pihak travel agen dan pihak yang satunya. Oh betapa sulitnya! 

Bulan lalu, saya dan suami berada di Bali selama satu bulan. Tiket dari Surabaya ke Bali saya pesan satu minggu sebelum berangkat, membayarnya pun menggunakan kartu kredit atau kartu debit yang tak perlu keluar rumah dan hanya klik klik klik. Beberapa tahun yang lalu, saya yakin saya nggak bernyali pesan tiket seminggu sebelum keberangkatan. Pasti pesan sebulan dua bulan sebelum keberangkatan. Saya tak pernah menyangka kemajuan teknologi benar-benar membuat #LiburanJadiMudah dan sangat membantu proses traveling yang sering saya lakukan belakangan ini. 

 
Dubai Mall & Burj Khalifa, Dubai

Waktu kita berada di Bali sebulan, kita berencana tinggal di Ubud selama 4 minggu tapi ternyata harus mendadak ke Denpasar hari itu juga karena tidak mungkin saya ke Denpasar sendirian dengan kondisi tangan kanan tidak bisa digunakan akibat kecelakaan motor di Padang Bai. Tadinya rencana awal saya ke Denpasar sendirian menyusul suami yang pergi ke Denpasar lebih dulu, dengan membawa 2 koper besar yang kira-kira beratnya 40 kg. Tapi rencana itu kita batalkan karena tangan kanan yang tidak bisa digerakkan, jadi saya harus ke Denpasar bersama suami saat itu juga. Saat itu juga, satu jam sebelum berangkat ke Denpasar, kita baru pesan hotel untuk 4 hari di Denpasar. 

Kemajuan teknologi ini sangat membantu saya yang belakangan ini sering melakukan perjalanan untuk bertemu suami. Kondisi LDR ini sering kita gunakan untuk bertemu saat suami libur, kadang di Indonesia kadang pula di negeri orang. Bagi saya, yang terpenting adalah bertemu suami. Bukan dimana tempatnya. Dan tentunya dengan masa libur suami yang tak bisa dipastikan sebulan sebelumnya, kita seringkali pesan tiket penerbangan paling cepat 2 minggu sebelum terbang, paling lambat satu minggu sebelumnya. Nekat! Tapi selamat 😄

 
Wat Arun

Jujur sih saya ingin sekali ke Korea Selatan (dan juga Utara). Tapi ke Korea ini belum pernah diturutin suami karena alasannya saya yang WNI ini butuh visa ke Korsel, ribet katanya. Kenapa harus Korsel? Karena saya menghabiskan sebagian besar masa kuliah saya belajar bahasa Korea dan berinteraksi dengan orang Korea. Hal ini tentu membawa kenangan sendiri untuk saya.

Nah, rasa-rasanya sih, kalau saya ke Korea saya bakal pergi sendirian atau dengan teman. Sepertinya sih nggak mungkin pergi bersama suami karena ya… suami tak menggilai Korea seperti saya. Tak pula dia doyan makanan Korea yang enak itu. Pokoknya sebisa mungkin dia menghindar kalau diajak ke Korea. Jadi lebih baik pergi bersama teman-teman yang punya rencana jalan ke Korea Selatan. 

 
Tbilisi, Georgia

Harga tiket PP Surabaya-Incheon kalau normal sih bisa sekitar 10 juta-an. Kalau beruntung seperti sahabat saya sih bisa dapat 5 juta PP Surabaya-Incheon. Makanya saya nunda-nunda terus karena ya sering nggak beruntung kalau soal berburu tiket murah. Jujur deh, saya ini tipe orang pemilih kalau soal terbang. Kalau terbang domestik yang hanya satu jam sih, nggak bakal terlalu milih. Tapi kalau terbang keluar negeri apalagi yang jarak tempuhnya lebih dari 5 jam, saya cenderung milih-milih soal pesawat. Karena nggak bisa dipungkiri ya, penerbangan lebih dari 5 jam itu sering bikin senewen pas sampai ditujuan. Jadi harus benar-benar pesawat yang bikin nyaman dan setidaknya nggak merusak mood selama perjalanan.  

Nah kemarin iseng browsing tiket ke Korea, tiba-tiba nemuin yang namanya Vizitrip. Setelah mengacak-acak isi website ini, ketemulah yang namanya trip ke Korea Selatan dengan harga yang cihuy masuk akal dan nggak bikin dompet nangis. Malah lebih murah kalau dihitung sih. Paket yang ke Korea ini pakai penerbangan yang nggak bikin diriku ini merengek nantinya haha! Tentunya bikin mata berbinar dan #LiburanJadiMudah 😎

Best friend yang pamer jalan ke Korea duluan

Vizitrip juga menyediakan banyak pilihan untuk open trip maupun group tour dan juga regular trip, yang tentunya bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemauan. Mau berangkat sendiri, ya ayo. Mau berangkat rame-rame ya monggo. Vizitrip juga menyediakan paket domestik dan luar negeri. Jadi tak usah takut ribet karena Trip Bareng Vizitrip bikin Liburan Jadi Mudah dong. 

Nah teruntuk suamiku tersayang, nanti jika tiba waktunya ku menjejakkan kaki di tanah Raja Sejong ini, dimohon untuk membantu menambah uang saku ya. Janji deh nanti istrimu bawakan sumpit asli Korea yang ramah lingkungan. Tak sabar rasanya ku menanti Trip Bareng Vizitrip yang bikin #LiburanJadiMudah 😍
Share:

Rabu, 13 Juni 2018

Sebulan Di Bali



Kita sebulan di Bali. Lebih tepatnya Ubud karena kita cinta Ubud. Tapi bukan tanpa alasan kita datang kemari ya. H ambil kelas bahasa Indonesia di Ubud. Disuruh milih Jawa Tengah atau Bali, ya mending milih Bali sih aku ya. Pengen keluar dari atmosfer Jawa yang padat dan sibuk. Mending juga nikmatin hamparan padi di Ubud lol.

Nah kita juga sebulan ini jadi semacem pesakitan sih. H sakit duluan, demam plus pilek. Tau lah kalo pilek udah pasti nular ya. Apalagi seranjang. Udah pasti deh ketularan itu. Jadi aku ikut partisipasi. Sama-sama sakitnya, teller, pusing, demam, pilek. Sekolahnya dia juga bolos beberapa kali haha. Tapi tetep ya aku antar jemput persis ojek gitu. jadilah kulit ini semakin eksotis.

Karena 2 minggu pertama udah kek pesakitan yang luntang lantung di Ubud, akhirnya minggu ketiga pun kita coba eksplor daerah Klungkung-karangasem. Kita stay di Sidemen. Pas di tengah sawah lagi. Pokoknya puas lah ngeliatin sawah mulu. 

Hari pertama di Sidemen, sore harinya kita coba ke Padangbai. Lewat jalur yang bisa mampir ke goa lawah. Sore ya, otomatis baliknya jadi malem. Si H ini lagi sombong-sombongnya nyetir skuter. Jadi kalau diduluin mobil dia emosi, ato kalo nggak gitu ada driver yang pelan ditengah gitu dia bawannya emosi yang akhirnya ugal. Serem lho. Aku sempet marah banget karena dia gitu. tapi dasar dia, gw bilang gitu dia ngiranya gw gak percaya dia buat nyetir. Ingin kuberkata (agak) kotor. 

Nah sore itu nggak tau kenapa sih, kok tiba-tiba ya punya feeling “duh masa iya sih jatoh ini”. yawes sembari berdoa semoga dilindungi juga kan. 

Malemnya pas balik ke Sidemen, harusnya ambil jalur kanan karena harus belok kanan tapi dia berhenti di kiri. Trus ngebut kenceng pas belok bruak. Kepleset lah kita. Kondisi gelap, kita ga kenal jalur juga, jalanan berpasir, dia juga terlalu miring. 

Disitu guys gw bener-bener makasih banget atas kekuatan helm gw. Beruntungnya nggak ada kendaraan apapun dibelakang kita, meskipun mreka Cuma klaksonin aja tanpa bantu sama sekali lol (ini juga kejadian di Indomart pas kita bersihin luka, posisi rame banyak orang dan tentunya diliatin juga sama mereka eh tapi nggak ada yang bantu hahaha dan tangan kanan gw cuma bisa 90 derajat aja kesegala arah jadi susah banget pas bantu ngobatin tangan H). 

Kita beruntung siih, kata orang Jawa gitu ya, seenggak beruntungnya kita, kita masih tetep beruntung. Yang lecet banyak si H, gw ga ada lecet tapi tangannya yang bisa dilurusin. Besoknya kita ke rumah sakit buat cek tangan. Disitu guys gw saranin banget lu semua pake yang namanya asuransi kesehatan ntah dalam bentuk BPJS, atau asuransi perjalanan atau apapun yang buat cover kesehatan lu. Sumpah kemaren abis 350ribu (keliatannya kecil kan? Padal juga lumayan itu) gara-gara BPJS gw belom gw transfer ke pribadi sejak resign lol. Parah ih.

Jadi hikmahnya, jangan balapan. Toh tujuan tiap orang beda-beda (wkwkw ga nyambung). Trus lagi, asuransi kesehatan itu penting. Kalau kalian mikir “Ah gw ga pernah sakit”, ihhh sapa tau lu bakal jatuh mendadak kek gw kan. Trus pake helm itu penting! Kita super beruntung banget karena semuanya lagi pake baju dan celana panjang semuanya yang bikin lecet jadi minim. Padal kita biasanya koloran aja. Trus lagi, jangan pernah remehin ‘co-pilot’ lu kalo lagi nyetir. Mata 4 lebih baik daripada mata 2.
Share: