Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2018

Boxing!

bisa wrap sendiri setelah 2 bulan Akhirnya gw nggak cuma mendambakan, "Ahh pengen boxing deh" tapi beneran bayar buat boxing. Udah beberapa bulan ngintip instagram tempat boxing deket rumah gw, udah berbulan-bulan disuruh H buat berangkat, akhirnya gw mantapkan hati "Yaudah lah cobain dulu sekali" yang ternyata gratis trial ya. Karena baru pertama kali, ya gw mau coba yang basic aja.  Setelah satu jam, penuh keringat, gw langsung aja "Mas, bayar dong bulanan".  Gw bener-bener orang yang nggak bisa olahraga sendirian. Karena kalo sendirian, gw pasti boongin diri gw sendiri "Ah kan ga ada yang liat, udah ah nggak kuat" konyol. Tapi kalau ada minimal, pelatihnya, kita udah engap pasti mereka teriak-teriak "10 MORE SECONDS! AYO AYO BISA!!!" Kek malu lah kalau nggak lanjut, yekan? Plank dari cuma bisa 10 detik, jadibisa 20 detik, 30 detik, jadi 40 detik, gara-gara "AYO KAK BISAAAAAA!!!" Antara sebel, kesel, tapi ya seneng 😆 Jadi m

Selamatkan Hidup Seseorang melalui #SebarkanBeritaBaik

  Beberapa tahun yang lalu, awal mengganasnya sosial media terutama whatsapp sebagai salah satu bentuk aplikasi pengganti sms, kegiatan bertukar pesan pun menjadi jauh lebih mudah. Tak terbatas seperti SMS, aplikasi-aplikasi yang muncul saat ini bisa membuat penggunanya mengirim ribuan karakter dalam sekali klik. Saya pun dulu, sering sekali asal copy-paste apapun yang dikirim orang tanpa konfirmasi kebenarannya. Contoh paling sederhana adalah pesan tentang keajaiban para nabi yang harus disebarkan melalui pesan berantai karena jika diabaikan besok kita bisa meninggal, atau tertimpa hal buruk yang ternyata jelas tak terjadi. Sempat berpikir apakah benar kalau kita tidak menyebarkan pesan tersebut, maka hal buruk akan menimpa kita? Karena penasaran pun saya akhirnya mencoba tidak mengirimnya dan ternyata tidak ada hal yang terjadi. Karena pada dasarnya bentuk pesan yang seperti itu digunakan untuk metode click bait untuk menghasilkan uang atau apapun itu dengan tujuan terte

Takut Ngomong Ah

    Hujan Locale Ubud Kemarin, kita lagi ngidam yang namanya fast food. Yang kadang belinya cuman setahun 2-3 kali aja. Demi memuaskan hasrat kita, akhirnya meluncurlah ke salah satu gerai fast food terkemuka di dunia ini yang tak akan kusebut merk nya. Srettt Malang macet shay... cuman sekilometer aja butuh waktu 15 menit. Mau jalan juga kemaren ujan. Yawes naksi aja. Nah sampailah kita disana. Gw kirain si bojo mau ngomong bahasa Indonesia ya secara dia harus latihan ngobrol trus pake bahasa Indonesia but.... nope. Doi kan rada cerewet ya, dia maunya saus yang mirip kek yang dijual di Ams sana. Mana ada! Kemudian dia bertanya kepada mbaknya, "What kind of sauce you have here?" Tak kusangka, pertanyaan sesederhana itu bikin mbaknya kelabakan. Reaksi pertama adalah senyum-senyum gajelas, deg deg, kemudian manggil temennya yang bisa bahasa Inggris. Eike udah laper bok, langsung aja gw terjemahin. Mungkin sih agak ga sopan (karena gw kalo laper tuh bukan gw). Abis

Karena Sekarang #LiburanJadiMudah

    Ubud Masih inget rasanya beberapa tahun lalu, terkadang rencana jalan-jalan hanya akan berakhir sebagai rencana belaka karena ketidaksanggupan mengatasi keribetan pesan tiket dan hotel. Kebanyakan dari proses itu harus dilakukan offline a.k.a harus pesan di travel agen. Tak jarang pula perjalanan tak berjalan sesuai harapan karena tidak singkronnya informasi yang didapat dari pihak travel agen dan pihak yang satunya. Oh betapa sulitnya!  Bulan lalu, saya dan suami berada di Bali selama satu bulan. Tiket dari Surabaya ke Bali saya pesan satu minggu sebelum berangkat, membayarnya pun menggunakan kartu kredit atau kartu debit yang tak perlu keluar rumah dan hanya klik klik klik. Beberapa tahun yang lalu, saya yakin saya nggak bernyali pesan tiket seminggu sebelum keberangkatan. Pasti pesan sebulan dua bulan sebelum keberangkatan. Saya tak pernah menyangka kemajuan teknologi benar-benar membuat #LiburanJadiMudah dan sangat membantu proses traveling yang sering saya lakuk

Sebulan Di Bali

Kita sebulan di Bali. Lebih tepatnya Ubud karena kita cinta Ubud. Tapi bukan tanpa alasan kita datang kemari ya. H ambil kelas bahasa Indonesia di Ubud. Disuruh milih Jawa Tengah atau Bali, ya mending milih Bali sih aku ya. Pengen keluar dari atmosfer Jawa yang padat dan sibuk. Mending juga nikmatin hamparan padi di Ubud lol. Nah kita juga sebulan ini jadi semacem pesakitan sih. H sakit duluan, demam plus pilek. Tau lah kalo pilek udah pasti nular ya. Apalagi seranjang. Udah pasti deh ketularan itu. Jadi aku ikut partisipasi. Sama-sama sakitnya, teller, pusing, demam, pilek. Sekolahnya dia juga bolos beberapa kali haha. Tapi tetep ya aku antar jemput persis ojek gitu. jadilah kulit ini semakin eksotis. Karena 2 minggu pertama udah kek pesakitan yang luntang lantung di Ubud, akhirnya minggu ketiga pun kita coba eksplor daerah Klungkung-karangasem. Kita stay di Sidemen. Pas di tengah sawah lagi. Pokoknya puas lah ngeliatin sawah mulu.  Hari pertama di Sidemen, sore ha