Rabu, 28 November 2018

Jancok!

 

Adakah yang bereaksi "Ih dosa mengumpat!" ketika mendengar kata ini?

Kata sumpah serapah ini beken di Jawa Timur. Mungkin bagi orang luar Jatim ada yang nggak tau atau bahkan nggak kenal kata ini. Kalaupun kata ini terdengar di luar Jatim, bisa dipastikan pembawanya adalah orang Jatim (atau orang yang pernah tinggal di Jatim dan terpengaruh oleh orang sekitarnya) terutama Surabaya, Malang, Pasuruan dan sekitarnya.

Pertama kali kenal kata ini dan mengucapkan kata ini, waktu SMP. Karena waktu SD deket rumah, orangtua, guru-guru jadinya agak saru mengucapkannya. Waktu SMP, sekolah agak jauh dikit, kenal "berandalan" yang bawaannya cak cuk an akhirnya ikutlah ngomong cak cuk an. Tapi tetep dong nggak dibawa kerumah, karena pernah ketahuan dan ditabok aja mulut ini.

Banyak versi asal mula kata Jancok ini. Ada yang versi Belanda, versi Jepang, Arab, Jawa sendiri, apapun versinya, masyarakat kala itu setuju bahwa kata ini sebagai kata umpatan yang universal.

Selayaknya Bahasa Jawa dengan tingkatan bahasa dan kesopanannya, sumpah serapah ini pun memiliki tingkatannya tersendiri. Jasik adalah tingkatan terendah dari sumpah serapah ini. Kata ini diucapkan ketika ingin mengumpat tapi tak ingin terdengar mengumpat (atau nggak pengen dimarahin orangtua), biasanya bernada guyonan. Satu level diatasnya ada kata Jancik, yang masih sedikit terdengar sopan ala kupu-kupu yang amarahnya nggak sebegitu kuat. Diatasnya lagi ada kata Jancuk, yang level marahnya udah lumayan, udah agak mendidih. Nah kalo Jancok udah mulai panas bener ini. Kata ini biasanya diucapkan ketika marahnya udah meledak-ledak. Sedangkan ada satu kata buyutnya lagi nih yang super marah banget yaitu Mbokne Ancok. Iya, kalo udah ngomong kata ini biasanya si pembicara sudah amat sangat marah. Nggak bisa lah disiram pake air buat menyadarkannya. Biarkan aja dia meluapkan emosinya dulu.

Level Jancik, jancuk, jancok digunakan untuk penanda level kepedasan nasi goreng di banyak tempat.

Memang, kata umpatan ini seringkali dilarang orangtua untuk diucapkan. Sampe dibilang dosa lah kalo ngomong kata-kata ini. Bener-bener forbiden word to say. Padahal dosanya bukan di jancuk nya tapi di emosi, amarahnya. Tapi semakin mendewasa, semakin bisa kurasakan ada dualitas di satu kata ini. Satu bermakna umpatan, satu juga bermakna keintiman. Ungkapan kedekatan untuk biasanya memanggil "orang terdekatnya". Misal "Nang endi ae koen cok?" (translate : Kemana aja kamu hey?). Atau "Cuk cik angele ujiane iki" (translate : Duh susah bener ujiannya ya?). Terlebih lagi ketika berhasil memahami dan memaknai enaknya hidup woles, kata ini lebih terdengar positif dan santai menghadapi sesuatu (thanks to Sujiwo Tejo).

Dikirim teman, mungkin dari twiter. Ilustrasi ini keren banget menurut gw. Gambarnya di zoom aja biar keliatan besar dan jelas keterangannya.

Kenapa gw tulis soal kata ini? Karena kemaren dikirimi temen gambar diatas ini. Sebenernya keliatan seperti memberikan label dan stigma terhadap kota-kota di Indonesia. Nggak sebegitu bagus untuk melabeli, tapi ntah kenapa keterangan yang ada di situ juga ada benarnya juga. Tetep nggak semuanya ya, tapi gambaran umum yang sering terlihat di masyarakat karena terpengaruh budaya juga. 

Mata gw pertama langsung menuju NASI PADANG dong. Ketauan liatnya pas laper. Trus coba cek aja ke Jawa Timur yang isinya ternyata cuman cok, cuk, coeg, jancuk, dan berbagai turunannya. Nggak ada artinya, tapi bagi gw cukup menunjukkan betapa humorisnya orang Jawa Timur ini dalam menghadapi hidup πŸ˜‚ Somehow, gw bangga aja dengan kejancukan itu.

Jadi, menurutmu yokpo cok? πŸ˜‹
Share:

Sabtu, 24 November 2018

Book : Jatuh Cintaku Pada Bumi Manusia



Gw tau buku ini justru dari H. Iya dari siapa lagi? Dia bilang katanya buku ini bagus, dia pengen baca. Ada berbagai macam versi bahasa kan ini. Tapi tak kunjung beli hingga akhirnya kemarin kok penasarannya memuncak dan pengen lah beli, kubelilah Bumi Manusia ini. Maksud hati beli versi Bahasa Inggris tapi nggak ada dong, yasudah. Padahal kalo beli versi Inggris kan ntar H bisa baca juga. 

Tapi membeli buku ini dalam versi Bahasa pun tak kusesali sama sekali. Sungguh ini buku bagus banget. Gw baca sample dalam Bahasa Inggris di kindle, terjemahannya bagus bener. Sama sekali nggak merubah esensi dan feel yang ada di buku itu. Begitu gw baca versi bahasa Indonesianya, ya tuhan! Gw jatuh cinta! Bahasa yang digunakan Pak Pram ini aduhai. Gimana ya? Seperti digunakan bahasa baku ala roman romansa tapi masih renyah dibacanya. Nggak kaku. Pinter amat sih nulisnya. Gw jadi iri banget.

Caranya mengutarakan "bercinta"
 
Gw udah jatuh cinta banget dari segi bahasa, penulisan, dan gayanya. Setelah mengenal setting lokasi dan tahunnya, makinlah ku jatuh cinta. Settingnya di awal abad ke-20 yang mana pergundikan dilarang sejak puluhan tahun lalu tapi masih ada juga aksi tersembunyi menyimpan gundik. OMG merinding lah ku dibuatnya. Disitu juga diceritakan gimana sih seorang Jawa yang sungguh sebenernya nggak bodoh dibandingkan Eropa, cuma aja dilarang mengenyam pendidikan kecuali beberapa keluarga pejabat. Jadilah terkesan bodoh, ya padahal cuma nggak tau sama seperti orang Eropa aja.

Gimana perlakuan kepada perempuan. Duh gemes lah gw! Gimana "pribumi" dimusuhi dan dianggap rendah. Eh itu rumah juga rumah pribumi, yang cuma "tamu" malah gatau diri. Gila ya! Gemes kan jadinya gw nih.

Sosok Nyai Ontosoroh begitu menamparku. Perempuan yang "dijual" bapaknya buat dijadiin gundik, bisa "menampar" pandangan orang tentang perempuan kala itu. Perempuan lokal jaman dulu kalo udah dijadiin gundik, biasanya dimusuhi orang karena ya nggak nikah secara agama, seringnya juga berakhir dibaptis, dituduh cuma cari enaena dan harta aja. Padahal jadi gundik juga nggak seperti yang orang pikirkan. Kalo beruntung ya dijadiin istri, kalo nggak beruntung ya.... begitulah.


Uniknya, Nyai Ontosoroh ini luarbiasa pinter karena akses yang diberikan tuannya terhadap pendidikan. Intinya si nyai ini nggak cuma urus rumah dan enaena aja tapi sampai urus perusahaan besar pula. Jarang kali itu. Bisa lah berdiri di kaki sendiri, tabungannya aja udah ribuan gulden yang kala itu belanja sebulan aja cukup 10 gulden bahkan kurang. Sungguh menginspirasi.

Hayo tebak ini foto di Surabaya bagian mana? πŸ˜„
 
Latar lokasi cerita diambil di Surabaya, sekitaran Wonokromo pisan. Gimana makin ga cinta coba? Gw pernah hidup di Surabaya dan juga familiar dengan beberapa set masa lalu yang ada di Surabaya.

Tokoh utama si Minke sebenernya ya. Setelah mengenal Minke, sekarang gw paham kenapa beberapa waktu lalu banyak orang protes yang bakal memerankan Minke adalah si Iqbal Dilan. Ya kita tunggu aja ya Minke versi Iqbal ini apakah memuaskan pembaca Tetralogi ini.

Buku ini buku kedua tercepat yang selesai kubaca setelah Persepolis. Semalem udah setengah buku aja. Sebegitu menariknya 😍 Harganya yang versi Indonesia 140ribuan, yang kindle versi Inggris USD 13.99. Kalau yang paperbook versi Inggris di periplus sekitar 270ribuan. Kalo yang bajakan yaaa 30ribuan. Tapi ada juga yang jual e-booknya 30ribuan.

 

Intinya satu sih, gw nyesel ga baca buku ini dulu-dulu. Nggak sabar buat baca Anak Semua Bangsa  πŸ’— Btw tahun depan gw mau turunin aja deh reading challenge gw di goodreads. Masa iya 24 buku cuma kelar 7 buku πŸ˜“ Terlalu pemilih mah.

Gimana, ada yang udah baca buku ini juga?
Share:

Pentingnya Asuransi Kesehatan


Jujur sih gw kurang paham dengan scene menunggaknya tagihan BPJS ke rumah sakit/faskes yang ditunjuk. Tapi bisa jadi itu juga soal pengguna BPJS yang molor bayar atau malas bayar. Disini juga gw ngga bakal bahas masalah itu karena sangat diluar ranah saya (elahh iyalah gw idupnya sama angka dan huruf korea aja lol).

Histori pemakaian BPJS gw juga sebenernya peralihan dari ASKES (karena babe adalah PNS yang ASKES nya cover buat 2 orang anak juga hingga si anak lulus kuliah) ketika lulus kuliah. Karena selalu terbantu dengan ASKES, maka sesegera mungkin babe daftarin anaknya BPJS. Karena pribadi, kemudian kerja di kantor dan di cover kantor, jadi kudu dialihkan lagi dari BPJS pribadi ke BPJS yang ditanggung kantor dan prosesnya terkendala sekian bulan jadi harus bayar 1,5juta. Setelah dibayar langsung jadi tanggungan kantor (yg sebenernya juga gw ikutan bayar juga kan dipotong gaji). Setelah resign dan harus dipindah ke pribadi lagi, alhasil berbulan-bulan juga jadi bayar 1juta.

Dulu pengguna ASKES hanya pegawai negeri dan keluarganya saja. Masyarakat umum nggak bisa dapet asuransi kesehatan kecuali ikut asuransi swasta. Lambat laun ternyata dibikinlah sistem asuransi kesehatan khusus warga miskin. Agak aneh sih karena menurut gw asuransi kesehatan adalah hak semua warga. Nggak kaya miskin harus terjamin kesehatannya. Kemudian lahirnya BPJS ini yang mampu mengakomodir kebutuhan kesehatan bagi semua warga. Kaya miskin, pertanyaan pertama di rumah sakit adalah "Punya BPJS? Atau asuransi kesehatan?".

penampakan Kartu BPJS yang merge dengan KIS

Sebetulnya tulisan ini bukan soal BPJS, tapi tentang asuransi kesehatan. Banyak yang cerita ke gw kalo BPJS ini kurang ciamik. Ya lagi-lagi bukan urusan gw ya apa yg ada dibelakang layar mereka tapi selama mereka masih melayani dan fasilitas bisa gw pake yaudah. Asuransi kesehatan yang murah disini adalah BPJS dengan harga mulai 25ribu untuk kelas 3 hingga 80ribu untuk kelas 1. Yang membedakan bukan obat yang diberikan untuk penyakit yang sama tapi lebih kepada kamarnya. Bisa upgrade tapi selisih biaya ditanggung sendiri. Sedangkan untuk asuransi swasta biasanya tarifnya lebih mahal tapi servis juga agak lebih daripada BPJS. Kembali lagi soal harga tergantung kemampuan. Kalau mampunya pake yang murah yaudah yang murah aja, kalo mampunya pake yang mahal yaudah beli yang mahal.

Banyak banget temen yang nggak mau pake (dalam hal ini) BPJS karena pelayanannya katanya nggak bagus kalo dirumah sakit. Sedangkan kalo pake asuransi swasta gitu mereka ga sanggup bayar. Akhirnya mereka pake biaya sendiri yang biasanya mahal dong sekali periksa. Atau cerita lain yang nggak kalah seru adalah "Masa aku ga sakit masih harus bayar? Enak dong mereka pake duit kita terus? Lagian ngapain pake asuransi kesehatan sih, kek doain kita sakit aja". Elahhh bukan gitu juminten! Ya okelah nggak bisa disalahin juga dong mereka mikirnya gitu, tapi kok sedangkal itu sih.

Siapa coba manusia yang pengen sakit?? Nggak ada dong. Tapi beberapa bulan lalu ga ada angin ga ada ujan, cuma ada pasir aja dijalanan yang bikin suami gw nyetirnya nyelungsep yang akhirnya gw harus ke UGD di Bali. Eh keliatannya murah deh, tapi setelah dibayar rontgen dll abis juga 400ribu sekali periksa (gara-gara BPJS kondisi nonaktif). Yang kemudian setelah tangan gw sembuh, eh kaki gw ngajak masuk UGD juga di Surabaya. Sebulan itu masuk UGD dua kali dengan biaya yang kurang lebih sama. Ga ada yang tau kan? Kaki gw gatel aja pengen masuk UGD sampe berakibat nggak bisa jalan gitu.

Jadi pada dasarnya jarang banget orang yang seumur hidupnya nggak pernah sakit. Ya kan? Menurut gw, asuransi kesehatan itu perlu banget. Dan banyak orang yang nggak sadar akan pentingnya asuransi kesehatan. Cari aja asuransi kesehatan yang bisa cover kebutuhan dasar yang contoh scalling gigi dapet, nambal gigi dapet, lumayan lho sekali scalling kan 100-200ribuan. Ya kalo nggak sakit ya alhamdulillah, asuransinya bisa dipakai buat scalling tiap 6 bulan sekali kan.

Tapi kembali lagi, semua itu soal mindset masing-masing tentang asuransi kesehatan. Selama merasa nantinya mampu membayar biaya pas sakit tanpa menggunakan asuransi kesehatan ya kenapa nggak? Gw cukup terbantu dengan adanya asuransi kesehatan ini. Sekarang lagi mau dipindah faskes ke Malang deket rumah biar bisa urus gigi juga nggak harus pulang ke Pandaan dulu.

Jadi gimana? Kamu punya asuransi kesehatan juga nggak? πŸ˜„
Share:

Rabu, 21 November 2018

Korean TV Show

Dulu suka banget sama Runningman. Tapi sejak host nya ganti, jadi rada males akhirnya ya lama nggak nonton. Biasanya sih nggak hobi ikutin TV show karena kadang cuma prank aja, kalo nggak gitu game-game yang ntah kurang sreg lah.  Tapi ada dua TV Show yang gw ikutin dari awal.

Master In The House / All the butlers (집 사뢀 일체) 


Ngikutin ini awalnya karena Seunggi abis main jadi 였곡 itu. Jadilah masih pengen nonton ini orang. Tapi lama-lama keranjingan karena host nya sangar semua. Karakternya mengisi satu sama lain. Yang paling gw suka si μƒμœ€ (padahal awalnya nonton ini karena ada Seunggi). Dia lulusan SNU jurusan fisika, otaknya sungguh cerdas dan logis banget (dan juga nggak bisa sama sekali ngerasain sakit dan nggak enak). Sempet heran sih kok bisa ya dia tipe orang jenius tapi aktingnya juga dapet?


Show ini ceritanya mencari wisdom yang bisa didapatkan dari tuan rumah yang diundangnya. Tuan rumahnya selalu unik dan nggak kepikiran ternyata ada orang yang tipe seperti itu. Jadi ini seperti diceritakan aja gimana dia bisa sukses di hidupnya, gimana dia menjalani hidup, gimana hidup dia lah. Sukanya kalau pas ngundang penyanyi yang ternyata lagu-lagunya itu lagu yang gw suka banget meskipun nggak tau siapa yang nyanyi karena udah sering banget di remake. Penyanyi yang bikin jatuh cinta ada 이선희, 이문세. Dua penyanyi ini semacem lagu-lagunya udah remake berapa kali.

 Salah satu lagu Lee Sun Hee yang kusuka

Salah satu lagu Lee Moon Sae yang di remake BigBang dan kusukaa
btw banyak ost drama Reply 97-94 ini lagu-lagu lama

versi Bigbang (video lama kali ini)

Episode yang gw suka, episode istrinya Cha In Pyo pas di Amerika, sama episode Kim Byung Man (orang yang punya ratusan skill sampe bisa jadi pilot). Sejauh ini masih ada season 1 aja, dan semoga nggak cepet usai karena menarik ini karakter host nya dan juga tuan rumahnya.

The Great Escape (λŒ€νƒˆμ€„)


Kalo yang ini dikasih tau sama murid gw dan pas gw tonton ada Sindong Suju yang ternyata jenius banget. Ada Kang Hodong juga yang tandanya ini show pasti laku. TV show yang ini dia dikurung disatu tempat dan harus menemukan pintu keluarnya. Hint yang diberikan kru benar-benar luar biasa. Gw mikir satu set begini kok bisa ya kepikiran si tim kreatifnya.

Seru ngeliat mecahin hint yang diberikan secara tersembunyi. Yang gw suka disini tentunya Sindong karena jenius. Yang bikin konyol ngakak si petarung UFC Dong Hyun. Badan aja gede tapi penakut kali dia.

Tapi gara-gara show ini gw jadi ikutan mikir mecahin petunjuk tersembunyi yang diberikan.

Dua TV show ini ratingnya cukup tinggi sih disana. Karena ya emang bagus, nggak sekedar prank aja.

Ada yang nonton ini juga?
Share:

Selasa, 20 November 2018

Magical Places I Would Love To Come Back Again and Again

 

So far, there are three magical places that I would love to come back again and again. I thought they wouldn't be that special but I was wrong. They are :

Bromo


First time I went to Bromo was 5 years ago (I think) with my Korean friend and it was my birthday present lol. At that time Bromo look so stunning for me although it was a real hard work for me to reach the top of it. I know I am not a big fan of climbing the mountain (although Bromo has stairs there to reach the top, how lazy I am). Going to the top of mountain always tiring and was always give me feeling "Don't climb. You gonna be so tired". But it's all paid off when you reach the top. Waiting for the sunrise always challenging. It is always freezing cold, always crowded during a special ceremony, but again it will be paid off when you see the sun rising and see the villages down there. Whenever I met people who came from countries with 4 seasons, they said "It is cold Pris but not that cold". F*ck you dude! I cant feel my legs.

 
rindu bromo dan ingin mengunjunginya lagi

Ubud

 

Another magical place that I am in love with is Ubud. Definitely the land of the gods. A long time ago I wonder why people love to go back to Bali. Bali is a real mainstream island that I don't think I would come back because it is too mainstream. Oh well oh well I was wrong. I was there last time for a month and it was so great. And another month after that it always calls me back lol. Unfortunately, the seafood prices are still higher than Bangkok lol. But Ubud will always be my "home".

 

Istanbul

 

 
meskipun komposisi ga pas, pantat mereka kepotong, yasudahlah. kusuka tapi kecewa sama jepretan sendiri hmmm 

Istanbul is the real magic. Somehow, it dragged me back to thousand years ago where the byzantine conquers this city for so long. At first, I have no idea that it could be this magical. I went there to see my parents in law. I didn't expect it will be this magical for me. I was so excited to go there to see my parents in law but wasn't that excited about the city. At all. And especially after the airport mess (believe me this airport sucks), long line in immigration and mine took longer than other people (guess because so many Indonesians went to Syria from Istanbul), I wasn't really in the mood. But the moment I leave the airport, OMG! And when we stroll around the old city that evening to find some food for dinner, I knew that this city stole my heart. And so many cats, the nicest to the worse, the thin to the fat ones, the small to the big ones, they are all there. We spent almost 2 weeks there and I just love it. It is magical especially Hagia Sophia. Man this place is so 😍 A great building that witness the great time.



Those places always calling me to go back again and again. The list might goes on... but so far these three are magical. How about you?
Share:

Minggu, 18 November 2018

Maingalarpar Yangon


"Jadi besok ke Bangkok?"
"Iya trus lusanya ke Yangon"
"Myanmar?"
"Iyalah"
"What the why Yangon?"

Tak pernah terbayangkan akan mengunjungi negeri ini. Pernah sih ngebayangin, tapi cuma ke Bagan. Lainnya nggak. Kesini juga nggak direncanakan karena tiba-tiba ada kerjaan mendadak. Yaudah deh dateng lah kesini. Negeri yang terkenal dengan kasus Rohingya nya ini terkesan serem (Ya nggak?). Tapi Yangon.... aman-aman aja kok. Meskipun memang di beberapa wilayah memang restricted area yang tidak bisa dimasuki kecuali jika kalian adalah aid worker atau orang yang berkepentingan.

Banyak yang nanya kenapa kesana kan nggak bagus. Ya menurut kita sih, sejelek-jeleknya tempat pasti punya kecantikan tersendiri. Kecuali kalo emang kamu bisa masuk tapi nggak bisa keluar itu barulah bahaya. Ini juga karena dia ada kerjaan sih disana, jadi sekalian.

Yangon itu ibarat kotalamanya ASEAN. Cantik banget sumpah. Buat yang suka bangunan kolonial atau semacem heritage begitu, tampilan kota ini bener-bener luar biasa. Karena kolonialisasi Inggris beberapa waktu ya secara otomatis bangunan mereka ala Inggris juga. Kalau di Indonesia kan rata-rata model Belanda ya.

Sofaer Building, bangunan yang dibangun oleh trader yahudi asal Iraq
 
First impressions nya apa? Ini WOW banget.

Macet

Jakarta hobi macet kan? Ini lebih dari itu. Nggak ada taksi meter ya, jadi harus pinter-pinter nawar harga taksi.

Panas

Panasnya nggak bikin berkeringat banget, tapi bikin hampir pingsan. Kemaren coba strolling downtown nya sendirian. No wifi tentunya. Suhunya sih 30an lah standar asia tenggara, tapi teriknya luar biasa. Saking pusingnya sampe hilang arah ga bisa baca peta bahkan gatau sedang berada di posisi mana padahal maps ditangan dan dibuku. Tau kan kalo penduduk asia tenggara itu cinta mati sama AC? Nah AC disini kebanyakan menggila banget dinginnya. Coba bayangkan gimana rasanya abis panas banget diluar langsung masuk ke ruangan ber AC yang super dingin trus keluar lagi ke panas super? Sakit otak. Hampir pingsan lah kemaren itu, kayak badan nggak menerima keekstriman ini. Untung survive dan buru-buru balik hotel. Pingsan tengah jalan bahaya dah. Jadi hati-hati kena heatstroke dadakan. Tetap hidrasi tubuh, kalau perlu bawa payung karena hampir tiap orang pake payung.

 


Nyawanya 7

Karena, lampu stopan nggak fungsi lah buat orang yang mau nyebrang. Mereka trabas aja lah. Lebih parah dari sini sumpah. Mereka nyebrang ga liat kanan kiri tapi mobil yang kudu ekstra hati. Mobilnya nyetir super cepet, yang nyebrang santenya setengah idup nggak mau tau deh. Jadi menurut kita nyawa mereka ada 7. Takut nyebranglah aku.

 Masala chai ini enak, teh India gitu

Kumuh

 

Lingkungan kumuh dimana-mana. Jadi cukup berhati-hati saja ketika penasaran iseng cobain "teahouse" ala Myanmar dijalanan ini. Makanan harganya all you can eat cukup 1 dollar saja. Tapi ya kalau perutnya macem gw sih gapapa yang tahan banting, semua dimakan ga gampang sakit perut. Tapi kalau tipe-tipe yang mudah sakit, mending jangan deh. Karena ya gw liat sendiri dong, gelas bekas minum orang itu nggak pake dicuci sabun atau air mengalir gitu, tapi cuma dicelupin ke kobokan depan mata dan nggak diangkat tapi dibiarkan celup disitu. Kita kan nggak tau ya bakteria jenis apa yang ngetren disana, ngeliat gitu depan mata pasti lah langsung geli sendiri. Akhirnya nggak minum deh. Cemilannya sih okelah (menurut gw). Tapi kalo soal minuman di gelas orang itu hmmmm

 

Kyat dan Dollar

Mata uang resminya sih Kyat, tapi mereka menerima dollar juga (tentunya dollar yang mulus nggak lecek macem uang mereka). Biasanya sih pukul rata aja 1 dollar seharga 1500 kyat (kalau transaksi dengan orang biasa yang ada di jalanan). Kebanyakan harga yang dipakai di hotel atau tempat perbelanjaan (termasuk bandara) pakai dollar. Jadi otomatis rate nya jauh lebih mahal. Beli kopi misal, di hotel harganya 4dollar, dijadiin kyat jadi 7600 kyat. Padahal di coffee shop, si kopi harganya nggak lebih dari 5000kyat. Teh macem chatime gitu harganya 2000-3000kyat. Jadi kudu hati-hati kalau tag harga nya dalam dollar mereka biasa pasang rate sendiri yang lebih mahal.


 



Sopan

Meski begitu, mereka terbilang orang yang sopan. Nggak ada yang liatin aku sama suamiku pas jalan. Beda banget ya kalo jalan di Indonesia dari kaki sampe ujung rambut dipelototi lah pasti. Disini nggak. Mereka suka nyapa juga (ini sih kalo liat orang kulit putih, kalo kulit gw mah sama aja ya kek mereka), tapi nggak ada yang nganggep gw orang Burma. Lucu lho ini. Baru kali ini ke negara ASEAN tapi nggak disangka orang dari negara tersebut (cuma dibilang Malay aja, wajar sih).

 
murah senyum sekali


Imigrasi cepet

Sama seperti Brunei, imigrasi di Yangon ini termasuk super cepet banget. Hampir nggak ada yang antri (mungkin emang pas sepi juga sih), dan ada ASEAN lane nya yang berlaku buat orang ASEAN aja (kalo bangkok kan ASEAN lane juga dipake orang eropa). Jadi kemaren nggak antri sama sekali, malah gw nunggu H sekitar 10 menitan. Koper nggak ada delay sama sekali. Smooth banget lah.

 


Less scammer

Ini yang penting. Kepercayaan mereka mengajarkan untuk jadi orang baik dan nggak merugikan orang lain. Mereka bener-bener menerapkan itu. Beda dengan Bali kan? Kalo Bali masih banyak scammer yang tiba-tiba naikin harga apapun kalo ga gitu dimahalin karena jalan sama H. Disini nggak. Harga rasional wajar, nggak scamming sama sekali. Bener-bener mrasa dompet nikmat. Harga taksi standar, sedikit lebih murah dari Indonesia, harga makanan di mall aja kisaran 20ribuan-50ribuan (aku belum nemu makanan pinggir jalan yang enak dan ga bikin sakit perut). Merasa aman banget lah pokoknya dengan segala bentuk harga yang ditawarkan (Indomi aja cuma 3ribu).

 
teahouse ala Myanmar

Secara keseluruhan, Myanmar ini unik menurutku. Dan tentunya cantik πŸ’“

 
yang ambil fotonya rasanya ga ikhlas sampe bilang "bukan fotonya yang ngeblur tapi Tomnya yang gerak-gerak" πŸ˜‘ kalau foto ini di Siam Paragon-Bkk

PS : Maingalarpar adalah hallonya Myanmar

Share:

Kamis, 15 November 2018

How I Deal With Plastic Waste Recently

 
 
Ceritanya, kita udah berusaha untuk diet plastik. Mengurangi penggunaan plastik kresek ketika belanja (beneran bawa tas sendiri), mengurangi pemakaian sedotan plastik, mengurangi apapun yang menggunakan plastik. Sebisa mungkin begitu. Tapi akhir-akhir ini kusadari kalau ternyata sampah plastik rumah tangga itu nggak sedikit. Dikit-dikit buang plastik. Contoh aja ya, plastik deterjen sekilo itu paling nggak sebulan 2 kali, bungkus pewanginya sebulan juga 2 bungkus, trus plastik mi instan, plastik bungkus barang paketan, bungkus minyak goreng, botol plastik minuman, gelas plastik beli kopi atau minuman, botol plastik deterjen yang nggak ada isi ulangnya (meskipun ada juga bungkusnya plastik), botol-botol saus kecap dll, ada pula karton susu yang tiap minggu paling nggak satu karton satu liter itu. Seriously, ini banyak banget dong sampah plastik ini.

Miris kan, apalagi kita yang cuma remah-remah rengginang dalam kaleng kongguan ini bukanlah siapa-siapa, paling nggak harus berusaha lah nggak membebani bumi ini lagi dengan plastik yang nggak bisa dicerna bumi sampai ratusan tahun. Jadi jiwa kepedulian gw lagi membara, tercetuslah ide untuk membersihkan dan memilah waste ini. Jadi gw beli keranjang 3, sementara ini. Keranjang cucian kotor itu, gw isi plastik khusus botol, karton khusus karton susu itu, plastik-plastik bungkus barang rumah tangga semisal deterjen.


Rencananya, bakal dipake buat numpak Suroboyo Bus πŸ˜‚ btw ini bukan tulisan buat kompetisi Suroboyo Bus ya (wes telat!). Tapi emang tetiba kepikiran naik bis ini keliling Suroboyo cuma bayar pake plastik botol. Keren tah yo (kalo ga males ya otong2 botol plastik akeh teko Malang). Tapi kalau emang nggak gitu ya mau dijual ke Bank Sampah Malang deh. Berapa jumlah penjualannya? Ya paling sedikit banget, tapi fokusnya bukan ke duitnya tadi, tapi ke penyaluran sampah plastik yang larinya nggak ke sungai, laut atau manapun deh. Mungkin dijadikan hasta karya, bisa juga diolah jadi bentuk lain, bisa juga diapa-apain yang jelas nggak dibuang seketika.

Bumi lho yang menghuni ya kita-kita ini. Kalau kita nggak jaga, yo siapa yang mau jagain lho?? Ekosistem kalo seimbang, semuanya juga bakal imbang dan aman kan? Kesian lho liat ikan-ikan burung-burung laut isi lambungnya kok plastik semuanya πŸ˜” Ya emang sih yang sulit pasti konsistensi dalam menjaga niat mengurangi penggunaan plastik. Gw berterimakasih banget kalo pas beli-beli sesuatu ditawarin dulu "mau pake plastik nggak?" karena kadang orang asal aja kasih plastik dan nggak mau kalo dibalikin plastiknya.

Nggak usah ngotot banget deh ngurus yang besar, ngurus sampah plastik diri sendiri aja dulu. Perubahan besar dimulai dari perubahan kecil kan?

Btw McD udah mulai kasih tulisan "#MulaiTanpaSedotan" di deket tempat saos itu yang menurutku improvement. KFC juga kayaknya
Share:

Rabu, 14 November 2018

Tentang (Bahasa) Korea

 

Apa yang pertama kali kepikiran pas denger kata Korea? Hemm mungkin Kpop? Atau alay? Nggak bisa dipungkiri juga sih banyak KPopers yang sungguh ngegasnya luar biasa. Dulu kita termasuk golongan yang "selow". Cukup mencintai bias masing-masing di satu boyband dan berlaku adil kepada lainnya. Lambat laun, kelas kita mulai jadi random KPopers. Udah mulai oke lah welcome sama yang lainnya dan menikmati lainnya. Nah trus sekarang sih gw masih nonton drama Korea karena perlu tapi udah jarang banget update soal musik-musik dan idol terbaru. Jadi udah mulai netral.

Tapi gw bukan garis keras lah. Karena kalo yang garis keras pasti berusaha mati-matian beli album artis idolanya dan segala pernak perniknya dan bahkan rela mengeluarkan uang jutaan lah untuk konser dll. Nggak masalah. Asal duit mampu buat itu. Kalo gw cenderung cari untungnya dari suka Korea ini mulai dari bantu temen jualan merch Korea sampai ngajar Bahasa Korea dengan segala tetek bengeknya dong. Ga mau rugi.

Nah soal bahasanya, ini bahasa bener-bener kek bahasa penuh dengan perasaan. Makin lama makin sebel banyak banget aturan yang nggak baku. Tapi ya karena banyaknya itu sebenernya justru lebih gampang mendefinisikan atau mengetahui perasaan dan pandangan orang terhadap apa yang diutarakannya. Ribet juga kan?

Sampe sekarang gw masih belajar terus improve kemampuan ini. Daripada udah belajar tapi sia-sia nggak dapet apa-apa kan. Bahasa Korea ini mirip bahasa Jawa lah yang punya level ngoko sampai kromo paling alus. Kalau jelasin ke murid yang orang Jawa, gampang. Tapi kalau yang orang luar Jawa, bingung jelasinnya. Orang Korea cenderung nggak mau kalo nggak diperlakukan dengan sopan. Jadi ya jangan heran kalau pertama kali ketemu yang ditanyain umur πŸ˜ƒ


Bentuk tulisannya sih gampang banget, bacanya gampang, itulah alasan pertama kenapa gw belajar Bahasa Korea karena ya bacanya lebih gampang daripada Jepang dan Mandarin. Cuma cukup mampus aja pas masuk gramatikanya. Riweh.

Tapi meski begitu, makin lama makin banyak yang minat belajar bahasa ini lho. Bukan hanya untuk gaya-gayaan karena  KPopers tapi karena tujuannya untuk sekolah dan kerja. Dan udah semakin jarang banget gw ngajar orang yang murni cuma karena KPopers aja. Mereka pasti tujuannya kalo nggak sekolah, kerja, ya penunjang skill bahasa lainnya yang nanti bisa jadi kepakai suatu saat nanti.

Nah kalau kalian ingin melancarkan kemampuan bahasa kalian, rajin-rajinlah nonton drama, reality show atau film. Karena dialog drama sehari-hari akan sangat membantu menambah vocab baru dan juga mengenal ekspresi atau idiom yang mungkin nggak ada di buku. Kalau lagu... bisa sih, tapi lagu cenderung menyesuaikan irama dan nada jadi kurang memperhatikan estetika gramar bahkan sering penggal semau sendiri aja. Pengalaman lho kita berantem sama Orang Korea yag ngajarin kita gara-gara bahasa dalam lagu. Ngotot sama orang asli sana 😁

Tulisan ini ditulis dengan pengharapan Pemerintah Korea Selatan mengabulkan permintaan Presiden RI untuk mencabut visa ke Korea Selatan untuk WNI πŸ˜‡ Sungguh ku berharap sangat lol!
Share:

Selasa, 13 November 2018

Tergantung Caramu Melihat [A Documentary : Among The Believers]

 

Beberapa waktu yang lalu H kirim link dokumenter untuk ditonton. Gw suka sih nonton dokumenter gitu. Akhir-akhir ini gw nonton dokumenter juga di chanel Timeline di youtube. Film dokumenter yang dikirim H ini judulnya Among the believers. Ini soal konflik di perbatasan Pakistan-Afganistan.

tulisan ini penuh dengan spoiler dan pendapat pribadi

Dokumenter ini ceritanya soal kaum konservatif (yang egois) yang seperti kebanyakan selalu menginginkan memiliki negeri sendiri yang menjalankan hukum Islam 100%. Mereka berada di perbatasan Pakistan-Afganistan, tentunya dengan pengaruh Taliban disana. Perlu diketahui, Taliban sesungguhnya sudah binasa setahun setelah kejadian 9/11 di WTC USA. Tapi tahun 2011 mereka ternyata menghimpun masa yang sudah matang rupanya untuk melakukan invasi lagi agar menguasai Afganistan seperti yang mereka inginkan.


Nah, ceritanya ada kubu yang biasa aja, ada pula kubu yang konservatif tadi. Kubu konservatif ini memiliki sebuah madrasah yang kegiatannya hanya menghafal Al-Quran dengan doktrin "Kamu harus hafal Al-Quran agar kamu masuk surga". Sehingga para siswa pun dididik keras untuk menghafalnya tanpa mengetahui arti dari kitab suci tersebut. Untuk dapat sekolah di madrasah ini tidak dipungut biaya sama sekali sehingga kebanyakan yang masuk kesana adalah orang-orang miskin yang memiliki anak seusia SD-SMA.

Ada scene yang menurut saya lucu. Sebuah scene dimana ketua madrasah ini menyuruh seorang warga untuk memasukkan anaknya ke madrasah tersebut.

Ketua : Masukkan saja anakmu ke madrasah. Kamu kan miskin, madrasah gratis. Jadi dia bisa hafalin Quran
Bapak : Kalau dia masuk madrasah dan hanya menghafal quran saja, bagaimana cara dia mendapatkan uang untuk hidup nantinya?
Ketua : Ya balasannya kan surga, dia harus berjuang keras disini menghafal agar masuk surga. Surga jaminannya.
Bapak : Ya tapi gimana ya, apa nanti dia bisa dapat uang untuk menghidupi keluarganya?

Obrolan tersebut sangat lucu sekali. Dimana sang ketua mendoktrin yang penting surga, sedangkan si bapak berpikir rasional dan logis. Bagi saya, surga adalah bonus. Bonus dikala kita nggak akan berpikir tentang surga saat melakukan suatu kebaikan. Mungkin bagi mereka jalan masuk surga adalah dengan menghafal Al-Quran tanpa peduli apapun yang penting hafal Quran. Tentu saja, itu bisa jadi. Bisa jadi memang seperti itu adanya. Meskipun kita tidak memperlakukan dengan baik orang lain yang penting kita hafal Quran ya sudah, surga jaminannya. Bisa jadi, bisa tidak. Karena butuh mati dulu untuk membuktikan betul tidaknya.

Tapi bagi saya, surga akan jauh dari kita kalau kita tidak Hablumminallah dan Hablumminannas. Hubungan baik ke tuhan dan juga ke sesama. Bagi saya itu percuma kalau hanya berbuat baik ke tuhan saja tapi ke mahkluk hidup kita nggak baik. Sia-sia. Mungkin itu pula maksud dari tanda salib, dimana ada garis horizontal dan vertikal disana yang menyimbolkan hubungan kita dengan tuhan dan juga kepada sesama mahkluk hidup.

Lebih lucu lagi, seorang siswa di madrasah itu di tanya apakah mengetahui arti atau tafsir dari bacaan Quran yang di presentasikannya. Dia menjawab tidak tahu. Dia tidak tahu dan hanya menghafal saja, karena hanya dengan menghafal dia akan otomatis masuk surga. Madrasah pun melarang mereka menonton TV karena TV adalah buatan orang kafir. Segala macam hal dilarang-larang. Buku bacaan pun mengandung doktrin yang menyalahkan orang-orang kafir dan harus memerangi orang kafir. Sekilas ditunjukkan gambaran isi dari buku tersebut, buku itu benar-benar kuat sekali doktrinasinya. Orang yang terombang-ambing akan mudah dipengaruhi dan juga orang yang tak pernah melihat hal lain sudah pasti akan terdoktrin.

Di sisi lain ada seorang gadis berusia 12 tahun yang tadinya sekolah di madrasah dan kemudian melarikan diri karena tak tahan, akhirnya bersekolah di sekolah swasta yang lebih baik sistem dan pengajarannya. Namun sayang sekali, sekolah itu diserang pihak konservatif (soal politik). Kemudian si gadis harus putus sekolah dan menerima nasib untuk dinikahkan muda. Awalnya memang si ayah gadis menolak menikahkannya, tapi karena dia sudah tak bersekolah lagi ayahnya terpaksa menerima lamaran pihak laki-laki. Yang bikin muak adalah si ibu datang dan bilang "Aku udah tua, aku gak kuat bayar pembantu, jadi aku minta anakmu buat jadi mantuku dan bantu-bantu kerjaan dirumah".

OMG! Hati gw hancur liat itu. Dia secara terang-terangan minta anaknya jadi mantu sekaligus 'pembantu'. Gimana nasib gadis-gadis yang ingin belajar tapi terhalang soal beginian? Jujur ini bikin sakit hati. Lingkaran setan begini ini nggak akan pernah selesai kalau perang nggak selesai.

Jujur aku muak! Muak dengan segala jenis doktrinasi agama, politik, atau apapun itu. Pendoktrinan atas agamanya yang paling benar sendiri (yang secara otomatis mengatakan agama lain adalah salah), perebutan kekuasan pemerintahan sah untuk diganti dengan hukum yang mereka anggap benar. Ya tuhan, disini ku berpikir "Apakah aku berpikir benar? Atau memang mereka yang benar dengan merampas hak orang lain?" Bisa jadi agamanya memang benar, tapi yang menungganginya yang salah.


Tentunya disini kita tahu bahwa cara orang menginterpretasikan sesuatu tidak pernah sama satu lain. Meskipun opini saya berbeda, saya tetap hargai orang yg memiliki opini lain. Hanya yang saya tegaskan, saya akan keras kepada orang yang melanggar hak orang lain atau memaksakan pendapatnya untuk dilakukan atas dasar pendapat dia yang paling benar. 

Hidup katanya cuma sekali ya, ngapain dibikin sulit sih?

Yang males baca opini ini, bisa langsung menuju youtube aja ya. Recomended banget buat referensi dan membuka mata

Share: