Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2017

Perbedaan Fitur Valuta Asing Jenius BTPN dan Digibank DBS

Rove city center Seperti yang gw pernah bahas segala macam tentang Jenius, gw paling terkesima dengan fitur valuta asingnya , terlepas dari segala macam berita hilangnya duit dari rekening Jenius. Sekarang gw punya Digibank dari DBS sebagai pembanding. Nggak ada maksud buat buka DBS sebenernya, tapi karena punya kartu kredit DBS jadilah yaudah buka Digibank sekalian biar bayar tagihan lebih gampang juga.  Dari banyak opsi digital banking yang ada, gw hanya pakai dua ini dan ada beberapa perbedaan yang kerasa. Kali ini gw tulis soal valuta asingnya.  Jenius punya rekening valuta asing dengan mata uang USD, SGD, HKD, EUR, AUD, GBP, dan JPY. Sedangkan untuk Digibank , mereka punya mata uang asing  CAD, CHF, CNH, EUR, USD, HKD, JPY, NZD, SGD, AUD, dan GBP. Apa yang dimiliki Jenius, Digibank punya. Jadi untuk saat ini Digibank punya banyak mata uang asing daripada Jenius.  Persamaannya , keduanya perlu untuk diaktivasi. Bedanya , Jenius tidak memiliki nomer rekening sendiri dan gabung d

Jugun Ianfu Bukan Pelacur!

  Mardiyem, mantan jugun ianfu (pic : santijehannanda.com) Menyambung postingan sebelumnya tentang Nyai, yang beken di era penjajahan Belanda hingga Jepang menginvasi Indonesia (sekitar taun 1942), Jepang memiliki cara tersendiri untuk memenuhi hasrat para prajuritnya.  Jugun Ianfu sebutannya. Berbeda dengan memelihara gundik di masa penjajahan Belanda, Jepang cenderung menyediakan wanita-wanita Negara jajahan untuk memenuhi hasrat seksualnya. Jika prajurit Belanda direkomendasikan untuk memelihara satu gundik (yang mana gundik tersebut memang mau untuk dijadikan gundik karena pilihannya sendiri), maka pemerintahan Jepang dengan 'senang hati' memaksa wanita Indonesia untuk dijadikan 'ransum' prajurit. Saya sedih sih menyebutnya ransum, seolah mereka makanan yang disajikan untuk dilahap.  Bagaimana dengan teknisnya? Jepang 'merekrut' wanita-wanita bahkan anak-anak pun tak lepas darinya. Ada yang kurang beruntung berusia 12 tahun, bahkan ya

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

  Bukan Nyai, hanya seorang nenek Indo yang lagi belanja di pasar beli pindang buat sarapan Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti. Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe d

Bijak Bersosial Media

  Judulnya basi sih. Tapi beneran ya, sosial media sekarang rawan berita hoax yang gampang sekali menyebar. Atau pengendalian emosi yang kurang berhasil menyebabkan merugikan orang lain. Ya sayapun masih belajar dong untuk mengendalikan diri dalam bersosial media, kadang pun masih 'alay' tapi sebisa mungkin nggak merugikan orang lain. Karena sekalinya 'booming' di media sosial lalu jatuh atau terkesan 'membohongi publik' maka siap-siap saja akan dirisak (seperti kasusnya Afi itu. Anyway saya nggak mau bahas itu kok). Kemarin pagi saya baca berita ntah dimana lupa ya, intinya ada seorang penggunak FB yang merasa nggak puas dengan pelayanan dan harga sate yang dibelinya. Seketika dia posting tulisan dan foto yang merugikan penjualnya. Setelah saya baca, dia membeli sate satu porsi seharga 30 ribu dan 4 gelas teh seharga 20 ribu, total 50ribu. Bukannya mendapat simpati malah dirisak dengan komentar-komentar pengguna jejaring sosial lainnya. Pendapat saya sih,

Muterin Dubai Mall

Hemm.. jauh-jauh ke Dubai cuman ngemol? Yang bener aja? Haahah! Kita take it easy aja hari pertama masih jetlag (aku!), jadinya kita nyantai aja. Lagian nggak banyak yang bisa dieksplor pas summer di Dubai. Panas men. Akhirnya setelah sarapan kita jalan ke mall. Hotel ke mall cuman 10 menit jalan, tapi rasanya sejam jalan gara-gara panasnya nggak tahan. Penyesuaian suhu ya, dari suhu maks 33 langsung ke suhu 49an. Masuk ke dalam mall rasanya langsung dapet angin surga. Adem bener. Kita jalan aja, liat-liat, cek buku (wajib), trus nonton, makan siang. Tadinya mau nonton Wonderwoman ya, eh ternyata telat jadinya nonton Superman homecoming. Konyol sih tapi nggak berniat review ya hoho! Nah setelah itu kita makan siang. Seafood kayaknya wajib ya buat dicobain. Kita berdua fond of it lah pokoknya.   jagungnya bener-bener yahud banget, super empukkk kerasa bawang putihnya juga merica. Dubai mall itu beneran gedeeee banget. Udah gede, direction-nya juga nggak seberapa jelas, sam

Memandang Burj Khalifa

  View from Rove hotel  Karena satu dan dua serta tiga alasan, akhirnya kita memutuskan untuk 'kencan' di Dubai. Nggak ada drama sepanjang perjalanan menuju Dubai, kecuali jalan panjang menuju gate. Duowooooo banget wes pokok e ya. Nggak di Soekarno Hatta, Changi maupun Dubai sana. Lumayan olahraga yes! Sepanjang perjalanan ke Singapura, saya duduk sendiri. Jadi hepi lah bisa manjangin kaki. Begitu juga dg perjalanan menuju Dubai. Ah lega pokoknya bangku 3 dipake sendirian. Aku nyampe duluan di Dubai, sekitar jam 1 siang. Sedangkan HJ sampai jam 9 malem. Nungguin dia dibandara sampe bego. Jadi ngapain aja aku disana? Jetlag, ngantuk. Jam biologis sih udah nunjukin jam 9 malem, tapi disana baru jam 4 sore sedangkan harus nunggu HJ sampe jam 9 malem disana kan. Hemmmm gimana cobak Akhirnya menghibur diri dengan makan fast food, jalan-jalan muter bandara sampe oon, trus baca novel, trus ngeliatin orang-orang jalan, trus dengerin adzan yang super aduhaiiii enakkkk bene

Met my Singaporean Friend

Ceritanya kita berdua ini kenal mulai taun 2014. Setaun sebelum kencan sama HJ. Kok bisa kita kenal? Ya biasa sih, surfing sana sini, terdampar di portal internasional, trus ketemu dia disana. Aku duluan yang kirim dia pesan, karena dia keliatan kayak artis Indonesia siapaaaa gitu (di fotonya masa lalu).  Nah dari situ lah kita ngobrol. Sharing berbagai macem hal deh pokoknya, dari mulai remeh temeh sampe obrolan serius macem politik, agama, relationship. Enak pokoknya diajak ngobrol. Sampe galo-galoan juga bareng soalnya ceweknya dia orang Bandung, sedangkan dia pelayar yang kerjanya 6 bulan sekali baru balik ke Singapura (kalau beruntung, kalau nggak ya setaun sekali baru pulang). Jadi dia lebih sulit ketemu ceweknya padahal secara lokasi lebih deket dia ke Indonesia kan daripada HJ ke Indonesia. Jadilah kita sering galo bareng kek orang tolol gitu. Galo merindu pasangan masing-masing. Saking gerahnya dia dengerin galoanku, dia pernah hampir jodohin aku sama temennya sekapal. Ora

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

 judulnya sombong bener ya hahaha! Pic taken from burjkhalifa.ae Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat. Kenapa? Karena HJ dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari men! Dari yang biasanya 14 hari. Pilihannya cuman dua, ambil libur singkat atau mau panjang tapi nunggu 2-3 bulan. Mamamia… ga mau nunggu lama, ya udah lah ambil aja. Tapi nggak ke Indonesia. Eng ing engggg. Libur cuman 10 hari, mau ke Indonesia, 4 hari di jalan, jadilah cuman 5-6 hari disini. duhh. Sayang. Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. WHAT? Apalah apalah 7 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Ga mungkin juga terbang ke Afganistan. Udah milih-milih Negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya HJ, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya HJ. Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang pas