Sabtu, 29 Juli 2017

Jugun Ianfu Bukan Pelacur!



 
Mardiyem, mantan jugun ianfu (pic : santijehannanda.com)

Menyambung postingan sebelumnya tentang Nyai, yang beken di era penjajahan Belanda hingga Jepang menginvasi Indonesia (sekitar taun 1942), Jepang memiliki cara tersendiri untuk memenuhi hasrat para prajuritnya. 

Jugun Ianfu sebutannya.

Berbeda dengan memelihara gundik di masa penjajahan Belanda, Jepang cenderung menyediakan wanita-wanita Negara jajahan untuk memenuhi hasrat seksualnya. Jika prajurit Belanda direkomendasikan untuk memelihara satu gundik (yang mana gundik tersebut memang mau untuk dijadikan gundik karena pilihannya sendiri), maka pemerintahan Jepang dengan 'senang hati' memaksa wanita Indonesia untuk dijadikan 'ransum' prajurit. Saya sedih sih menyebutnya ransum, seolah mereka makanan yang disajikan untuk dilahap. 

Bagaimana dengan teknisnya? Jepang 'merekrut' wanita-wanita bahkan anak-anak pun tak lepas darinya. Ada yang kurang beruntung berusia 12 tahun, bahkan yang belum mengalami menstruasi sekalipun tak luput dari kejamnya Jepang kala itu. Kemudian wanita-wanita tersebut dikumpulkan di suatu barak. Diperiksa kesehatannya untuk kemudian diberikan satu kamar khusus untuk melayani tamunya. Tamu kemudian datang masuk menggunakan karcis yang dibeli dari tiketing yang ada di depan barak. Bagi tamu yang mampu membayar lebih, biasanya mereka membeli tiket untuk beberapa jam dan tipe tamu yang seperti ini yang disukai para Jugun Ianfu karena dengan melayani satu tamu selama berjam-jam bisa sedikit memberikan mereka waktu untuk rehat dari memberikan 'pelayanan seks'. 

Ada satu kesamaan antara jugun ianfu dan juga gundik Belanda, yaitu sarana untuk memelihara kesehatan para prajurit dari penyakit perempoan (penyakit menular seksual). Kesehatan para jugun ianfu dikontrol rutin setiap bulan, jika ada yang menderita penyakit menular maka dia akan diisolasi hingga sembuh.

Seorang mantan jugun ianfu berani menuturkan kejadian yang dialaminya kala itu. Setelah menutup kenangan menyedihkan selama puluhan tahun, akhirnya dia berani membukanya. Momoye sebutannya. Semua wanita yang diculik, diberikan nama Jepang sebagai nama kerjanya. Momoye bahkan belum mengalami menstruasi saat dijadikan jugun ianfu. Dia bahkan tak tau apa itu berhubungan badan. Hari pertamanya 'bekerja', dia pun langsung digarap hingga belasan orang hingga mengalami pendarahan parah.

Jika beruntung, akan ada orang yang membeli tiket berjam-jam untuk sekedar ngobrol tanpa melakukan hubungan seksual. Hal ini sedikit melegakan bagi mereka untuk sekedar beristirahat sejenak (selain ketika menstruasi). Para prajurit diwajibkan menggunakan kapotjes (kondom) untuk berhubungan seksual agar tidak menghamili jugun ianfu. Ada salah seorang prajurit yang menyukai momoye dan menolak untuk menggunakan kondom. Hingga beberapa saat kemudian momoye ditemukan hamil, yang diketahui oleh pemimpin barak, yang menyebabkan dia harus menggugurkan kandungannya. Membunuh bayinya, serta merusak rahimnya. 

Pandangan saya pribadi, pemerintahan Jepang ini jauh lebih kejam daripada Belanda. Jepang, jika melihat orang tionghoa, akan dengan senang hati memperkosa kemudian membunuhnya. Ibarat kata darah mereka halal untuk dinikmati. Hal ini tentunya mengingatkan saya akan film Korea yang berjudul My Way. Dimana orang tionghoa dan Korea berada dalam kekuasaan Jepang yang super kejam.

Lagi-lagi, pandangan orang Indonesia terhadap mereka sangatlah membebani mereka. Layaknya seorang Nyai, mereka pun tidak dihargai karena dianggap pelacur. Hanya saja nasib para nyai masih lebih beruntung daripada jugun ianfu karena mereka hanya mengabdi kepada satu tuan dan hidup serumah dengan nyaman bersama tuannya. Terkuak bahwa pemerintahan Jepang kala itu memang menyediakan rumah bordil, yang mana tentu saja dianggap ajang pelacuran. Namun bukan orang yang rela melacurkan diri, tapi memang orang-orang yang diculik dan dirampas kehidupannya untuk menjadi budak seks. 

Perbudakan ini berakhir setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia 2. Barak menjadi tak terurus, tak ada pula kontrol kesehatan, tamu sudah jarang berkunjung, semua sepi hingga mereka memutuskan untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri mereka dari perbudakan. 

 
Sampul buku (pic : erlangga.co.id)

Cerita ini digambarkan di buku yang berjudul Momoye : Mereka Memanggilku. Lagi-lagi, it's worth to read. Untuk mengenal sejarah melalui cerita. Untuk lebih mengenal dan memahami bahwa mereka bukanlah pelacur. Tapi mereka adalah korban perang. Korban perang yang dilupakan. 

Semoga Tuhan memberikan tempat yang indah disisinya, untuk mereka yang pernah dirampas kehidupan dan harga dirinya. 
Share:

Rabu, 26 Juli 2017

Mengenal Nyai, Eyang Buyut Orang Indo Kebanyakan

 
Bukan Nyai, hanya seorang nenek Indo yang lagi belanja di pasar beli pindang buat sarapan

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang darah campuran Eropa, saya pernah janji nulis tentang orang Indo dan Nyai, nenek buyut dari para Indo kebanyakan. Sekarang kita liat definisi dari Indo sendiri. Jadi Indo (Indo-Europeaan atau Eropa Hindia) adalah para keturunan yang hidup di Hindia Belanda (Indonesia) atau di Eropa yang merupakan keturunan dari orang Indonesia dengan orang Eropa (Kebanyakan Belanda, Jerman, Prancis, Belgia). Itulah kenapa saya agak risih mendengar orang menyebut Indonesia dengan singkatan Indo. Karena kedua hal itu beda definisi dan arti.

Sekarang apa itu Nyai? Apa definisi dari Nyai? Nyai adalah seorang perempuan pribumi (bisa jadi orang Indonesia asli), Tionghoa dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia Belanda. Hidup bersama atau samenleven yang artinya kumpul kebo, tidak menikah. Fungsinya nyai itu apa? Fungsinya diatas seorang baboe dan dibawah seorang istri, tapi wajib melakukan kewajiban seorang baboe dan istri. Karena memiliki istri bagi prajurit Belanda kala itu adalah hal yang mahal dan mustahil, tapi mereka juga memiliki hasrat untuk melampiaskan kebutuhan biologis mereka, akhirnya mereka diijinkan mengambil nyai. Awalnya nyai tidak diperbolehkan, namun karena sifat devoted nya seorang pribumi terhadap tuannya, yang mana itu artinya juga menjaga tuannya dari penyakit kelamin (bagi Belanda jaman dulu lebih baik mengobati prajurit yang terkena penyakit kelamin daripada harus mendatangkan prajurit baru lagi yang biayanya jauh lebih mahal dan tidak efisien), maka memelihara nyai pun akhirnya diijinkan.

Namanya juga hidup bersama, resiko untuk menghamili nyai nya sangat besar. Kurang disebutkan dalam buku tersebut tentang penggunaan kapotje (kondom), tapi yang jelas banyak dari nyai yang melahirkan anak lebih dari dua.

Menurut cerita dahulu, memiliki istri bagi prajurit artinya adalah menikah dengan seorang wanita kulit putih yang mana banyak menguras uang mereka dan juga kehidupan para istri Eropa yang selalu minta dimanjakan a.k.a diperlakukan ala putri. Bagi petinggi sih nggak masalah, yang masalah adalah bagi para prajurit rendahan. Mereka hanya mampu memelihara nyai, yang katanya dikasih uang berapapun akan ditrima dan akan dengan rela ikhlas mengurus tuan mereka layaknya seorang suami bagi mereka. Sifat ini masih diturunkan hingga generasi sekarang, yang mana istri akan secara otomatis berbakti kepada suami.

Bagi para prajurit yang terlanjur jatuh cinta kepada nyainya, dan juga berbaik hati kepada nyainya, sebut saja para nyai yang beruntung maka akan dinikahi dan status anaknya diakui. Dengan status anak yang diakui ini, maka secara otomatis sang anak akan ikut warga negara sang bapak. Tapi bagi nyai yang tidak beruntung, sang tuan akan mendepak nyai keluar dari rumahnya yang akan digantikan dengan istri Eropanya, dan nasib anak pun tak jelas karena tak mendapat pengakuan. Pun begitu dia bisa dipindahtangankan untuk menjadi nyai dari teman prajurit yang lain. Banyak dari mereka berusia muda dan memiliki tuan yang usianya jauh diatasnya. 

Kesannya enak banget sih para tuan itu, dapet yang enak-enaknya aja, lah nyainya? Habis manis sepah dibuang. Padahal juga belom sepah-sepah banget. Ada banyak tuan yang meninggalkan nyainya tapi tetap mengakui anaknya. Dan setiap anak yang diakui akhirnya harus dikirim ke Belanda untuk sekolah sejak usia 5 tahun. Meninggalkan sang ibu dan negeri ini. Banyak dari para nyai yang kehilangan kontak dengan anaknya sejak saat itu.

Ketika Jepang mengambil alih kuasa dari Belanda, para Indo yang ada di Indonesia harus dikirim kembali ke Belanda, demikian pula dengan pengiriman prajurit Belanda kembali ke Kerajaan Belanda. Bagaimana dengan nasib nyai? Nasib nyai itu kasian, apa lagi nyai yang kurang beruntung. Dia hidup di caci maki masyarakat yang menganggap hidup bersama dengan lelaki tanpa pernikahan adalah hal yang menjijikkan, sedangkan mereka juga membutuhkan uang untuk hidup. Belum lagi ketika dipisahkan dengan anaknya untuk kembali lagi ke Belanda, sedangkan sang ibu ditinggalkan di negeri ini sakit-sakitan. Sakit karena menahan rindu kepada anaknya, dan nelongso dicampakkan begitu saja oleh tuannya. Ada kemungkinan sang nyai menjadi jugun ianfu di jaman penjajahan Jepang (ada kemungkinan, karena hal ini tidak disebutkan, ini hanya pendapat pribadi). Banyak dari mereka mati karena sakit perasaan yang terlalu dalam. Tapi ada juga para nyai yang akhirnya memilih untuk pergi ke Belanda untuk berada bersama anak-anaknya (bagi yang mampu, karena tidak semua mampu).

Itulah kenapa banyak keturunan Indonesia dengan orang Eropa (terutama Belanda) yang berada di Belanda (dan juga di Indonesia). Seperti kata papa mertua saya, kamu akan merasa seperti dirumah jika ada disini, karena saking banyaknya juga sekarang orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda.

Pertanyaan saya, kenapa banyak bener orang Indonesia yang nikah sama orang Belanda? Termasuk gw 😁

Buku ini bener-bener menarik banget buat dibaca, apalagi buat history addict dan juga keturunan Indo, coba dibaca.

 
 Pic : bukukomunitasbambu.com

Data Buku
Judul : Nyai dan pergundikan Hindia Belanda(De Njai dalam bahasa Belanda)
Pengarang : Reggie Bay
Penjual : Online pas nemu di Tokopedia (nyarinya setaun lebih), tapi kemaren pas ke Gramedia ada nih buku, yang bikin pengen obrak abrik toko buku aja haha!
Harga : Gramedia 90,000 ; tokopedia kemarin pas beli IDR 70,000 belum ongkir
Rate pribadi : 4,8/5,

Worth to read banget buat nambah pengetahuan sejarah. Dijelaskan juga tentang bagaimana mereka mendoktrin pribumi agar mendorokan para Belanda, yang sayangnya masih menurun sampai saat ini karakter tersebut. 

Beberapa hal yang sekarang saya pahami kenapa itu terjadi saat ini :

1. Sifat mendorokan kulit putih yang diturunkan dari masa penjajahan. Nggak heran sampai sekarang sifat itu masih bisa dilihat. Bedanya, jaman dulu kumpul kebo dengan lelaki kulit putih bukan merupakan pilihan dan mereka dipandang tak terhormat, tapi sekarang adalah kebalikannya contoh : banyak bule hunter yang ngejar ras kulit putih demi mungkin demi kenaikan status agar dilihat terhormat. Ini menurut cara pandang orang Asia kebanyakan (ah bosen ah bahas dukanya kawin campur!)

2. Haram hukumnya menikahi kafir. Kafir dalam hal ini adalah orang yang bukan beragama katolik. Karena merek hanya ingin anak yang dihasilkan adalah murni katolik tanpa campuran ras Indonesia yang kebanyakan bukan katolik.

3. Pribumi dan tionghoa sama-sama direndahkan oleh ras kulit putih. Dari dulu mereka berjuang bersama lho. Herannya kenapa sekarang banyak orang musuhin orang tionghoa hayo?

4. Jaman dulu anak Indo tidak memiliki tempat di dua dunia, mereka dianggap anak pembawa karakter negatif dari kedua orangtuanya. Mereka dipercaya adalah turunan yang memiliki semua karakter buruk dari orangtuanya, hingga hal ini ditentang Douwes Deker (Multatuli). Nah bedanya sekarang, anak Indo gampang bener ya ngartis?

Jaman emang udah beda!


Jangan lupa share ceritanya kalau udah baca ya 😉
Share:

Bijak Bersosial Media

 

Judulnya basi sih. Tapi beneran ya, sosial media sekarang rawan berita hoax yang gampang sekali menyebar. Atau pengendalian emosi yang kurang berhasil menyebabkan merugikan orang lain. Ya sayapun masih belajar dong untuk mengendalikan diri dalam bersosial media, kadang pun masih 'alay' tapi sebisa mungkin nggak merugikan orang lain. Karena sekalinya 'booming' di media sosial lalu jatuh atau terkesan 'membohongi publik' maka siap-siap saja akan dirisak (seperti kasusnya Afi itu. Anyway saya nggak mau bahas itu kok).

Kemarin pagi saya baca berita ntah dimana lupa ya, intinya ada seorang penggunak FB yang merasa nggak puas dengan pelayanan dan harga sate yang dibelinya. Seketika dia posting tulisan dan foto yang merugikan penjualnya. Setelah saya baca, dia membeli sate satu porsi seharga 30 ribu dan 4 gelas teh seharga 20 ribu, total 50ribu. Bukannya mendapat simpati malah dirisak dengan komentar-komentar pengguna jejaring sosial lainnya. Pendapat saya sih, itu sate harganya masih wajar. Bukan karena saya mampu membeli kemudian saya bilang murah. Tapi sekarang, sate paling murah pun didaerah sekitar saya harganya 12-15ribu, sate yang gede enak dekat kos saya dulu harganya 25ribu (bener-bener puas banget makan ini sate). Tapi lagi-lagi ini soal pendapat pribadi tentang makanan yang affordable apa nggaknya.

Ada pula yang menyebarkan foto hoax. Masalahnya itu foto Bung Karno yang diedit sedemikian sehingga kemudian diberi caption dan justifikasinya menggunakan agama. Ini nggak banget. Sejarah emang misterius, tapi jangan lah diedit seenaknya. Nah akun IG Foto-foto bersejarah itu memposting foto hoax tersebut dan mengancam akan memperkarakannya jika akun yang bersangkutan tidak menghapus postingnya ttg itu. Saya kepo dong, saya cek IG nya, saya tinggalkan komentar di sana di beberapa foto, komen saya nggak nyinyir nggak menjatuhkan kok, nggak menggurui pula. Eh tetiba IGnya dikunci. Saya lihat teman saya komen tapi kok nggak bisa dilihat ya... eh ternyata kita di blok. Nah akun foto lama tadi update kalau IG yang menyebarkan foto hoax tadi dikunci dan tetap mengancam akan segera memproses hukum kalau tidak ada tindak lanjut dan itikat baik. Singkat cerita, akun yang bersangkutan meminta maaf dan menghapus postingan tersebut. Masalah yang ada disini adalah penggunaan media sosial sebagai sarana memecahbelah bangsa karena isinya menyebar kebencian dan menggunakan agama sebagai justifikasi perbuatan tak benarnya.

Ada pula seorang remaja ntah sedang kesurupan atau apa ya, tiba-tiba posting yang isinya penghinaan terhadap kepolisian RI. Aduh nak kamu tau nggak sih kalau kepolisian sekarang punya tim sendiri yang mengurus cyber crime? Polisi langsung bertindak dan memproses secara hukum remaja tersebut. Indonesia sekarang punya UU ITE yang bisa menjerat siapapun yang terbukti merugikan pihak lain. Meskipun dalam hal tersebut kita yang dirugikan dan kita meluapkan emosi dalam bentuk tulisan, tapi tetap saja UU ITE bertindak. 😓

Masih inget nggak sama kasus Prita yang 'mengeluh' soal layanan rumah sakit kepada temannya? Itu hanya via email, nggak ditulis seperti sekarang secara terbuka, tapi ya kasusnya akhirnya sampai sidang berkali-kali karena pihak RS merasa dicemarkan nama baiknya.

Saya pun masih belajar untuk bijak dalam menulis, terlebih saya sering menulis review dan pengalaman pribadi di blog ini. Kadang saya menulis keluhan saya terhadap sesuatu disini, tapi sebisa mungkin saya tidak menjatuhkan 'brand' tersebut. Itu pun saya juga masih cek kanan kiri barangkali ada yang merasakan dirugikan sama seperti yang saya alami.

Jadi intinya belajar terus dan terus aja sih. Karena omongan (atau tulisan) seringkali gampang menyakiti orang lain meskipun kita nggak sengaja juga melakukannya. Semoga kita bisa terus menulis hal-hal baik yang tidak merugikan orang lain.
Share:

Feeling

Some of the new feelings that I feel after I officially become a wife. 

First : Become more sensitive. Sensitive in every senses especially when there is something wrong ‘happen’ in my husband. Now I know why my mum can catch the ‘lies’ that my dad made. Because she feels it so easily. I think it is because of the bond you make when you are tied by a marriage. Besides, I get so easily sensitive when I don’t get to see my husband’s face in a day (Long distance relationship when you are married is harder than when you were dating). Like let say he is so busy and he can’t call me at night. I don’t want to be grumpy of course, but how can’t I? 😓 Am trying to learn.

Second : Praying for your husband more than you pray for yourself. Before I got married, I only pray for myself and my family. But then, a husband just get into the first list on my prayer now. I may be still a selfish one, I may not a perfect one, but by put him on my top list when I pray… that make me feel a bit better. I don’t ask that much for my husband. Only asking for Him to keep my husband safe, give him the easiest way in every steps he make, and keep his heart only for me (no other people between us). Somehow…it make me feel at ease. 

Any wife feel the same as me? or is it only me who feel it?
Share:

Jumat, 14 Juli 2017

Muterin Dubai Mall


Hemm.. jauh-jauh ke Dubai cuman ngemol? Yang bener aja? Haahah!

Kita take it easy aja hari pertama masih jetlag (aku!), jadinya kita nyantai aja. Lagian nggak banyak yang bisa dieksplor pas summer di Dubai. Panas men.

Akhirnya setelah sarapan kita jalan ke mall. Hotel ke mall cuman 10 menit jalan, tapi rasanya sejam jalan gara-gara panasnya nggak tahan. Penyesuaian suhu ya, dari suhu maks 33 langsung ke suhu 49an. Masuk ke dalam mall rasanya langsung dapet angin surga. Adem bener.

Kita jalan aja, liat-liat, cek buku (wajib), trus nonton, makan siang. Tadinya mau nonton Wonderwoman ya, eh ternyata telat jadinya nonton Superman homecoming. Konyol sih tapi nggak berniat review ya hoho! Nah setelah itu kita makan siang. Seafood kayaknya wajib ya buat dicobain. Kita berdua fond of it lah pokoknya.

 
jagungnya bener-bener yahud banget, super empukkk kerasa bawang putihnya juga merica.

Dubai mall itu beneran gedeeee banget. Udah gede, direction-nya juga nggak seberapa jelas, sampai ada petanya dalam mall. Ah peta mah biasa, mereka punya app yang bisa berlaku sebagai GPS. Kita berdua cuman bengong kek orang bego gitu sambil mikir 'Elu di dalem mol aja ada GPS nya lho, kurang canggih apa cobak' hahahah! Dulu aku pernah bayangin kalo ke Pasar Besar yang ada di Malang itu ada GPS nya pasti bakal gampang, soale aku selalu nyasar kalo dalam Pabes itu. Eh ternyata Dubai Mall punyaaaa.


ada rangka asli dinosaurus juga di satu spot mall ini

 

Beberapa hari disana, kita juga beberapa kali ngemol. Nonton (wonderwoman juga kita tonton), belanja makanan pesenan koleganya dia. Bener-bener belanja ambil ambil aja semua. Mumpung disini, di Afganistan mah ga bisa belanja seenak gini.

 
tenang aja kalo pengen pork, supermarketnya Dubai mall juga ada kok

Jadi dari sekian hari di Dubai itu, kita sering ngemolnya daripada diluarnya. Mau eksplor juga nggak punya nyali kalo pagi-siang gitu. Jam 5 juga udah terang jalanan, jadinya baru berani keluar sekitar jam 4 sorean gitu kalo mau eksplor tempat baru yang agak jauh dari hotel. Aktifitas outdoor lah kiranya. Tapi tenang.. kita ada beberapa kegiatan outdoor juga kok. Will be posted soon one by one.
Share:

Kamis, 13 Juli 2017

Memandang Burj Khalifa

 
View from Rove hotel 

Karena satu dan dua serta tiga alasan, akhirnya kita memutuskan untuk 'kencan' di Dubai. Nggak ada drama sepanjang perjalanan menuju Dubai, kecuali jalan panjang menuju gate. Duowooooo banget wes pokok e ya. Nggak di Soekarno Hatta, Changi maupun Dubai sana. Lumayan olahraga yes!

Sepanjang perjalanan ke Singapura, saya duduk sendiri. Jadi hepi lah bisa manjangin kaki. Begitu juga dg perjalanan menuju Dubai. Ah lega pokoknya bangku 3 dipake sendirian.

Aku nyampe duluan di Dubai, sekitar jam 1 siang. Sedangkan HJ sampai jam 9 malem. Nungguin dia dibandara sampe bego. Jadi ngapain aja aku disana? Jetlag, ngantuk. Jam biologis sih udah nunjukin jam 9 malem, tapi disana baru jam 4 sore sedangkan harus nunggu HJ sampe jam 9 malem disana kan. Hemmmm gimana cobak


Akhirnya menghibur diri dengan makan fast food, jalan-jalan muter bandara sampe oon, trus baca novel, trus ngeliatin orang-orang jalan, trus dengerin adzan yang super aduhaiiii enakkkk bener. Belom pernah denger di Indonesia adzan macem gitu. Bener-bener pengen dengerin adzan lagi lagi lagi. Baru kali ini ngerasa eager so much ke Islam yang nggak cuma di mulut aja.

Long story short, akhirnya kita ketemu. Tapi nggak ada adegan cipika cipiki cipok kanan cipok kiri soalnya prohibited daripada kita dipenjara gara-gara hal gitu ya. Kita langsung meluncur ke hotel, hotel langganan HJ yang bener-bener homey banget (ntar diceritain terpisah deh). Dan taraaaaa hotel kita ngadep Burj Khalifa. Gedung yang memiliki 3 waktu yang berbeda saking tingginya.


Share:

Met my Singaporean Friend

 
pardon me for sweaty oily face, bener-bener baru landing di Spore ga sempet mandi dulu haha

Ceritanya kita berdua ini kenal mulai taun 2014. Setaun sebelum kencan sama HJ. Kok bisa kita kenal? Ya biasa sih, surfing sana sini, terdampar di portal internasional, trus ketemu dia disana. Aku duluan yang kirim dia pesan, karena dia keliatan kayak artis Indonesia siapaaaa gitu (di fotonya masa lalu).

Nah dari situ lah kita ngobrol. Sharing berbagai macem hal deh pokoknya, dari mulai remeh temeh sampe obrolan serius macem politik, agama, relationship. Enak pokoknya diajak ngobrol. Sampe galo-galoan juga bareng soalnya ceweknya dia orang Bandung, sedangkan dia pelayar yang kerjanya 6 bulan sekali baru balik ke Singapura (kalau beruntung, kalau nggak ya setaun sekali baru pulang). Jadi dia lebih sulit ketemu ceweknya padahal secara lokasi lebih deket dia ke Indonesia kan daripada HJ ke Indonesia. Jadilah kita sering galo bareng kek orang tolol gitu. Galo merindu pasangan masing-masing.

Saking gerahnya dia dengerin galoanku, dia pernah hampir jodohin aku sama temennya sekapal. Orang Malaysia ceritanya. Katanya gampang lah serumpun hahaha. Tapi hatiku masih memihak meneer tersayang haha.

3 taun kenal, dan akhirnya baru kemarin bisa ketemu di Singapura. Waktu ke Singapura 3 bulan lalu, kita nggak bisa ketemu karena dia sibuk sekolah, dan aku sibuk urus visa (dan jalan-jalan tentunya bareng HJ). Nah kemarin, sempet transit semalem di Singapura sebelum ke Dubai, dia lagi free, akhirnya kita ketemuan. Dijemput dari bandara, dianter ke hotel trus kita chit chat beberapa jam.

Namanya udah kenal lama ya, meskipun belom pernah ketemu, rasanya nyambung aja obrolannya. Apalagi dia tanya banyak soal kawin campur gegara dia mau nikah tapi bingung. Jadi disini akulah advisornya (yang udah pengalaman ngurusin ribetnya kawin campur di Indonesia) haha!

So was a good short time to meet you, Syarif. Sempet video call juga sama HJ sebentar meskipun ngadat gara-gara tetering. Safe sail for you. Hope we could meet again together with Bunga and HJ (double date gitu ceritanya) 😍
Share:

Minggu, 02 Juli 2017

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget



 judulnya sombong bener ya hahaha! Pic taken from burjkhalifa.ae

Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat. Kenapa? Karena HJ dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari men! Dari yang biasanya 14 hari. Pilihannya cuman dua, ambil libur singkat atau mau panjang tapi nunggu 2-3 bulan. Mamamia… ga mau nunggu lama, ya udah lah ambil aja. Tapi nggak ke Indonesia. Eng ing engggg. Libur cuman 10 hari, mau ke Indonesia, 4 hari di jalan, jadilah cuman 5-6 hari disini. duhh. Sayang.

Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. WHAT? Apalah apalah 7 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Ga mungkin juga terbang ke Afganistan. Udah milih-milih Negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya HJ, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya HJ. Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang??

Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk record bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi HJ yang paspornya super sakti kemana-mana ga perlu visa (kecuali ke Saudi haha), dia ga pernah ada pengalaman bikin visa kecuali Visa Sosial Budaya kemaren, dan kerjaan dia cuman bikin gemasssss nyuruh-nyuruh nanya dubes segala. Over kuwatir kalo-kalo salah syarat. Tapi setelah searching sana sini akhirnya nemu bikin visa Dubai cepet, gampang, praktis, nggak lama pula.

Apakah itu?? 

Visa Dubai via emirates. Jadi kita yang terbang PP pakai emirates, pasti bisa apply visa dengan lebih mudah. Maksudnya begini, pas kita beli tiket emirates PP, trus kita masuk website emirates dan apply visa disana. jadi nggak apply visa via VFS yang ada di Jakarta. Prosesnya gampang. Yang diperluin cuman foto paspor dengan background putih, scan paspor depan belakang, sama scan booking hotel kalau bisa. Bayarnya pake kartu kredit. Udah itu aja, nggak perlu copy bank record selama tiga bulan pula. Caranya gimana? Cukup masukin kode booking di websitenya Emirates, trus manage booking, kemudian apply visa. Ikutin aja lah pokoknya. Tapi jangan lupa ukuran scan dan fotonya disesuaikan dengan request. Scan nggak boleh lebih dari 200kb, untuk fotonya nggak boleh lebih dari 40kb.

Berhubung saya nggak ada CC yang bikin HJ senewen, akhirnya dia yang ngurusin sekalian sama beliin tiket emirates. Nahh, anehnya tiket emirates dari Jakarta ke Dubai harganya PP 15 juta. Mahal banget cuiii, padahal sebelumnya sehari sebelumnya masih 8 juta. Yaaaudah deh saya milih lewat Singapura yang PP cuman 5 juta aja, yang di total dengan penerbangan dari dan ke Spore aja masih kurang dari 8 juta. Murah kan, untuk terbang sekelas Emirates. 

Setelah book tiket emirates PP, HJ mulai ngurusin visa Dubai via emirates. Nah tetep ya dagdigdug dong ya, nungguin tiap jam cek email hahaha. Sampe kata si suami, ‘udah tenang aja, pasti approve kok’. Akhirnya setelah 16 jam menanti, visa granted juga. Legaaaa.

Kenapa lebih cepet granted? Karena emirates bertindak sebagai sponsor kita selama di Dubai. Makanya gampang di approve. Tapi ya tetep aja ya, mereka tetep cek track record kita dong. Cuman berhubung saya baru kali ini nangkring di Dubai, jadi yaaaa seenggaknya masih bersih ya record di Dubainya haha 

Itu btw HJ milih yang express, makanya jadinya bisa kurang dari sehari. Normalnya sih sehari approved, maksimal 5 hari. Tenang aja, ada pilihan visa 96 jam, 30 hari, 90 hari. Jadi tinggal pilih sesuai kebutuhan ya. Sayangnya harga visa ini bisa dibilang mahal untuk ukuran single entry. Yang 96 jam saja sekitar 800ribu rupiah. Yang 30 hari sekitar 1,2 juta. Tapi yaaaa apalah apalahhh kita berdua LDR survivor, masih belum pensiun.

Update:
Pertama, Sejak akhir tahun 2017 FlyDubai juga bergabung dengan Emirates melayani sponsor visa. Jadi ada opsi selain flydubai yang bisa dipilih jika Emirates terlalu mahal.
Kedua, jangan pilih fasilitas evisa express jika kalian apply hari kamis karena jumat sabtu adalah hari libur. Bisa percuma evisa jadi hari senin dengan bayar seharga express (yang seharusnya bisa harga biasa).

Share: