Minggu, 27 Maret 2016

Cegah Demensia dengan Menulis

Bagi sebagian orang, menulis bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Bukan hal yang asyik juga untuk dilakukan. Tidak semua orang menyukai hal yang sangat saya sukai ini. Dengan berbagai alasan, menulis menjadi sesuatu hal yang membosankan dan menyulitkan. Bagi saya, hanya satu hal dalam menulis yang sangat menyulitkan saya, menulis puisi. Saya bisa menulis semua hal yang langsung, jelas dan tertuju dengan pasti, tapi lain halnya dengan menulis puisi atau hal abstrak lainnya versi sastrawan. See, biarpun saya hobi menulis, tapi saya juga masih memiliki momok tersendiri dalam menulis. Beruntungnya, menulis puisi hanya ada dikelas bahasa Indonesia hehe.

Saya cenderung menulis hal-hal sosial disekitar. Menulis hal disekitar bisa jadi menjadi hal yang mudah. Hmm jangan salah. Menulis semudah apapun selalu membutuhkan pemikiran yang rumit. Rumit dalam artian menulis bukan asal tulis. Apalagi sekarang ada hukum-hukum terkait tulisan terutama dalam bentuk digital dan terlebih lagi itu sesuatu yang merendahkan atau menjelekkan hal lain. Meskipun dalam tulisan tersebut tidak dimaksudkan untuk menjelekkan pihak lain, namun jika pihak yang merasa diperbincangkan dalam tulisan tersebut bisa saja menuntut kita secara hukum. Itulah mengapa kita harus berpikir sebelum mempublikasikan tulisan kita. Berpikir jangka panjang.

Ada hal lain yang membuat menulis sangat direkomendasikan sebagai gaya hidup. Menulis bisa mencegah demensia, sama halnya seperti membaca. Demensia adalah penyakit penurunan daya ingat atau yang lebih dikenal dengan sebutan pikun.  Demensia kebanyakan mendera para manula. Tapi bukan berarti yang muda pun tidak bisa pikun. Pikun dikarenakan otak yang tidak lagi bekerja dan berpikir dengan kompleks. Itulah mengapa sangat penting melatih kemampuan otak untuk kembali berpikir walaupun bukan hal yang sangat kompleks.

Nenek saya sudah berusia sekitar 72 tahun, tapi masih terlihat segar dan trendi. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pikun. Karena nenek saya rajin membaca meskipun tidak menulis. Membaca Al-Quran, membaca buku-buku saya yang ada dirumah. Saya sering membeli buku yang mudah dibaca. Jadi itu akan membantu otaknya terus bekerja dan terhindar dari demensia. Oiya nenek saya juga suka menyalurkan hobinya yang lain, cerewetin orang. Rupanya itu juga yang membuatnya sehat.

Simply, write what you think and think what you write.

Share:

Sabtu, 19 Maret 2016

[Tradisi Budaya] Menilik tradisi Lamongan

Jika proses lamaran pada umumnya adalah sang lelaki yang melamar wanita, sedikit berbeda halnya dengan Lamongan. Di Lamongan, sangatlah wajar jika para wanita yang melamar lelakinya. Hal itu masih terjadi hingga saat ini.

Agak sedikit kaget ketika mendengarkan cerita dari seorang teman yang berasal dari sana. Karena penasaran, saya akhirnya bertanya apakah nanti dia juga melakukan hal yang sama. Namun ternyata kekasihnya ingin melamarnya. Berbeda dari tradisi asal mereka.

Prosesi lamaran pun, umumnya di Indonesia lelaki datang kerumah wanitanya dan memberikan hantaran seperlunya. Nah kalau di Lamongan, wanitanya nanti akan menghantar juga kerumah lelakinya dengan hantaran yang lebih banyak dari hantaran lelakinya. Ini sih berdasarkan kasus teman saya dan dia pun mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi di Lamongan.

Setelah melamar, prosesi selanjutnya adalah menikah. Ini juga nggak kalah ramainya. Umumnya, para undangan mendapatkan souvenir atau kue dalam kardus kecil untuk dibawa pulang setelah kondangan. Namun untuk resepsi di desa teman saya yang wanita, lagi-lagi sedikit berbeda. Setelah pulang kondangan, yang mereka bawa berupa minyak goreng seperempat liter, mi kriting seperempat kilo, dan beberapa sembako lainnya. Sehingga 'terkesan' budget yang dikeluarkan untuk resepsi lebih besar daripada jumlah amplopan. No offense ya. Jika memang niatnya mencari untung, ohh anda tidak akan bisa. Jika niatnya hanya syukuran dan berbagi, ya benar-benar harus menyiapkan budget yang besar.

Setiap kali mengunjungi teman yang ada di Lamongan, saya selalu terkesan dengan hal baru yang berbau tradisi.

Ada satu hal lagi yang ntah bagaimana, namun menurut saya itu salah satu bentuk gagal paham. Dont mean to offense ya, tapi yang ini benar-benar unik. Pertama kali kesana, kami jalan-jalan pagi. Kala itu saya belum berjilbab. Saya menggunakan celana olahraga yang panjang dan kaos yang pantas. Namun semua mata orang di desa memandangi saya dan salah seorang teman lainnya. Penasaran, saya pun bertanya kepada teman saya kenapa. Diapun menjawab jika berjilbab adalah penting disana. Tidak masalah apakah menggunakan celana atau rok pendek dengan kaos pendek, yang penting kepala tertutup jilbab. What??? Jadi nggak penting kamu pakai baju dan celana pendek asalkan kamu berjilbab.

Hmmm... agak gagal paham 😯

Nahh kemarin kan si dia abis lairan. Pulang dari sana, kami diberikan bingkisan seperti sabun deterjen setengah kilo, pewangi cucian, dan juga permen satu bungkus. Dan semua dibungkus kertas kado. Saya cuman bisa mikir, "selalu ada hal yang unik dari Lamongan setiap kali berkunjung".

Satu tempat di Indonesia memiliki tradisi yang unik dan berbeda. Cuman bisa bayangin aja, ada berapa macam wilayah di Indonesia? Dikalikan dengan tradisi tiap daerah, betapa kayanya tradisi dan budaya Indonesia ini..

Share:

Jumat, 18 Maret 2016

Belajar investasi emas

Dalam rangka penghematan dan mensukseskan tabungan dalam jumlah yang banyak, akhirnya saya memutuskan untuk menabung emas. Bukan karena apa-apa, tapi saya paling nggak tega sama yang namanya duit nganggur. Sekali keliatan nganggur, dalam sekejap bisa berubah menjadi beberapa barang yang tidak memiliki nilai jual kembali seperti baju, kaos, sepatu, tas, pentol, koloke, fastfood dan beberapa kios makanan lainnya. Mending kalo beli kiosnya invest jadi pengusaha, la ini cuman beli makanannya aja. Investnya di timbangan aja jadinya. Invest jarum timbangan berubah memberat.

Jadi, ceritanya, sudah berbulan-bulan kerja dan tabungan hanya sebesar 50ribu rupiah. Cuman buat ini aja sih, saldo mengendap rekening gaji hahaha. Nahh, akhirnya, baru bulan ini bisa saving more karena kebetulan gaji juga udah naik biar dikit disyukuri lahh bisa dapet satu gram emas murni hohooo. Karena gaji sudah naik dan bisa nabung lebih, akhirnya tangan gatel kan. Pertengahan bulan ini melihat uang masih segitu rasanya pengen ke mol nyamperin food court nya trus hedon nggemukin badan disana. Tapi untungnya niat itu tidak terlaksana. Yang terlaksana adalah membeli emas.

“Pokoknya aku nggak mau tau yang penting aku harus keluar malam ini dan beli perhiasan. Daripada duit keluar ga jelas gitu”
“Oke aku temenin, tapi kita makan dulu”, jawab seorang teman
Nah kebetulan, si Prisca juga sama-sama lagi gatel nabung emas. Akhirnya termotivasi kan untuk ikutan melaksanakan niat mulia sejak 6 bulan yang lalu. Berangkatlah saya menuju toko perhiasan terdekat. Dekat dan bagus. Setelah melihat menimbang dan membandingkan harga, akhirnya pilihan jatuh kepada cincin emas putih. Nggak gede sih, tapi pas. Pas dihati, di jari dan di dompet. Sesuai budget yang ditargetkan. Woro-woro lah ke Prisca satunya. Eh ternyata dia besoknya berangkat ke Pegadaian buat nabung emas.

ini bentuk tabungan emas di Pegadaian, dan baru pertama buka 50ribu aja. Perbedaan dengan tabungan bank ada di saldonya. Saldo bukan berupa rupiah tapi gram

Hmm start to question things ya saya ini.

Ternyata..

Pegadaian syariah memberikan fasilitas untuk menabung emas. Saya kurang tahu untuk Pegadaian secara umum karena ini pengalaman membuka tabungan emas di Pegadaian Syariah. Sempet bingung juga karena mikir ini sama nggak ya seperti kredit emas yang target per sekian bulan atau tahun itu. Setelah Tanya sama mbaknya, ternyata mereka memiliki kedua produk tersebut. Nah kalau yang kredit emas seperti itu prinsipnya secara sederhana kita membeli emas misal 5 gram, tapi kita cicil selama 6 bulan. Jika harga emas per gram misal 530ribu rupiah, berarti uang yang harus kita bayarkan adalah sekitar 2 juta sekian plus margin 3% dari Pegadaian *udah males ngitung, biarpun eks mahasiswa matematika. Yang penting hitungan kasarnya seperti itu*. Jika kreditan sudah lunas masa mencicilnya, barulah emas batangan baru bisa kita ambil lengkap dengan sertifikatnya. Nah kredit emas seperti itu juga ditawarkan di bank-bank yang ada di Indonesia *yang sempat membuat saya tertarik juga sih tahun kemarin*. Untuk lebih jelasnya silakan buka web Pegadaian atau Tanya langsung ke pegawai Pegadaian. Saran sih, pilih cabang yang gede aja, cari yang ramah, biar niat nyicil emasnya kesampaian.

Untuk produk yang saya jalani saat ini adalah tabung emas. Sebenarnya konsepnya sama dengan kredit emas. Hanya saja, sederhananya seperti ini, kita nabung dalam bentuk uang di bank biasanya, nah kali ini kita nabung bentuknya emas di Pegadaian. Bingung? Saya juga bingung nulisnya. Let me try to explain more. Saya berikan contoh yang saya alami saja ya, begini ceritanya :

“Mbak, aku juga mau dong buka rekening tabungan emas”, ini karena waktu itu nganter Prisca ambil rekening yang baru dibuatnya kemarin
“Oh iya mbak, silakan isi form ini, dan KTPnya ya mbak”, formnya sederhana, nggak serumit form buka rekening bank. KTP diberikan ke mbaknya, dan beberapa menit kemudian…
“Udah mbak, ini aku setor 50ribu dulu ya”, saya menyetorkan uang 50ribu
“Ini termasuk biaya admin apa beli emasnya aja mbak?”
“Ohh emasnya aja mbak, biaya adminnya berapa mbak?”
“Biaya admin 5ribu, untuk materai 6ribu. Jadi total 11 ribu ya mbak”,
“Oh oke mbak”, kusodorkan uang 50ribu + 11ribu ke mbaknya. Satu menit kemudian
“Mbak, harga emas perhari ini satu gramnya 530,200 rupiah. Gimana kalau mbak nambah uang 3,200 biar tabungan mbak jadi genap 0,1 gram?”, mbaknya kurasakan sedang menawarkan win win solution untukku
“Oh gitu ya mbak? Oke deh”, saya tambahkan uang 3,200rupiah. Total 64,200 rupiah. Lagian juga di rekening biar keliatan cantik kan, 0,1 gram emas. Bukan 0,099 gram emas
“Ok mbak, besok rekeningnya bisa diambil disini ya mbak”, oke no problem balik lagi kesini besok sebelum kerja
Done, less than 15mins.

Nah, besoknya masih penasaran. Abis dikasih rekening tabungan emasnya, akhirnya saya Tanya lagi sama mbaknya.

“Oh iya mbak, ini berarti tabungan emas itu kita setor uang dan mendapatkan sejumlah emas yang sesuai dengan harga emas per hari itu kan mbak?”, hanya untuk memastikan
“Iya mbak, jadi misal mbak setor uang 500ribu dan saat itu harga emas per gramnya 500ribu, jadi nanti mbak otomatis nabung 1 gram emas. Kalau besoknya setor lagi 500ribu tapi harga emas per hari itu 600 ribu, berarti mbak dapet emas kurang dari satu gram”, cuman manggut-manggut belagak paham aja sih saya
Sesampainya dikantor baru bisa mikir, jadi yang biasanya kita nabung berupa uang, kali ini diganti emas. Udah gitu doang. Dan harga beli emasnya tergantung sama harga emas per hari itu. Ini emas murni ya, antam. Bukan perhiasan. Kalau perhiasan beda lagi ceritanya.

Oh iya, setelah kita menabung sekitar 10 gram misal, nah tabungan itu bisa diambil kapanpun terserah kita. Minimal pengambilan 5gram. Maksud saya cetak dalam bentuk batangan. Karena saya baru mulai, jadi belum berpengalaman mencetak emas batangan. Ntar deh nulis lagi kalau udah pengalaman ngambil antamnya.
Keuntungan dari menabung emas hasilnya tidak bisa dirasakan dalam jangka waktu dekat. Menurut saya hanya bisa dirasakan nanti setelah bertahun-tahun kemudian. Karena harga emas yang fluktuatif tapi cenderung meningkat dari masa ke masa. Seorang teman pernah membeli perhiasan dari jaman SMP, dan baru menjualnya saat ini yang notabene sudah belasan tahun dari awal pembelian. Pembelian dahulu hanya sekitar satu juta, sekarang diuangkan sudah menjadi belasan juta. Itu merupakan salah satu manfaat investasi emas.
Jadi akhirnya saya pun bertindak, daripada uang ngendon di bank malah habis buat jajan yang nggak penting, lebih baik di invest dalam bentuk emas. Karena mau invest property juga duitnya nggak ada hehehhee..
Dengan invest emas yang sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, siapa tau 10tahun lagi sudah bisa bikin rumah kos-kosan 10kamar, ya nggak sihh??? *obsesi jadi ibu kos*.

Update : biaya pemeliharaan tabungan selama satu tahun sebesar 30ribu. Biasanya sih dibayar di awal pembukaan rekening, tapi punya saya katanya sih gratis tahun pertama jadi ntar dibayar taun depan. Ntah gratis atau apa ya, yang jelas 30 ribu is not a big deal lah ya kalau masanya jg setahun. Harga per gramnya Pegadaian bukan termasuk harga cetak emas, berbeda dengan keluaran antam yang memang sudah include harga cetak emasnya. Kalau sekilas dilihat memang terkesan murah Pegadaian, tapi sebetulnya lebih mahal kalau kredit. Murah sih, kalau buat nabung pergram tiap bulan.

Saran :  kalau ada duit lebih banyak bisa dibuat beli 5 gram emas, lebih baik langsung eksekusi beli langsung antam aja. jangan ditabungin. karena harga di Pegadaian kalau beli 5gram emas ya kalkulasi dari harga per gramnya misal harga per hari ini 580, kalau beli 5gram ya jadi 2,900,000. Sedangkan jika membeli di antam, semakin banyak gram yang kita beli, harganya semakin turun. Ibarat dagang, beli satu empat ribu, beli 3 dapet cuman 10 ribu. Harga harian emas batangan antam bisa di cek di logammulia.com. Jangan lupa, harga perdaerah juga berbeda lho

Emas memang tidak akan membuat anda kaya, tapi akan menjaga kekayaan anda. Good luck !

 
Btw, saya berhasil mempengaruhi teman-teman saya untuk investasi emas lho hahaha! muka persuasif yang nggak mau rugi sihhh
Share:

Kamis, 17 Maret 2016

[Piknik] Deburan ombak Pantai Ngliyep

Pantai Ngliyep adalah salah satu pantai yang terletak di laut selatan. Tepatnya di Malang Selatan. Sebenarnya bukan hanya pantai ini saja, namun beberapa jajaran pantai yang tak kalah cantiknya. Terletak sekitar 30menit dari rumah nenek, jalan menanjak dan menurun menjadi variasi menuju Ngliyep. Tapi jalanan tersebut sudah lebih baik daripada belasan tahun yang lalu. Masih saja curam, namun kondisi jalan sudah baik dan wajar untuk dilewati.

Sepanjang perjalanan, kanan kiri jalan, disuguhi dengan pemandangan rumah pedesaan dan juga hutan. Hijau. Iya hijau lho, seger banget, bikin mata seger dan adem.

Tiket masuk terbilang murah, pastinya berapa saya lupa, tapi tidak lebih dari 20ribu. Serta membayar tiket parkir mobil. Ada dispensasi khusus bagi pemilik KTP warga sekitar, biaya masuk jauh lebih murah daripada warga selain domisili asli. Kurang tahu kalau tiket untuk mancanegara, mungkin agak lebih mahal.

Belasan tahun sejak kelas 4 SD, akhirnya saya kembali lagi ke pantai ini. Pantai yang sudah menjadi agak lebih baik dan teratur daripada belasan tahun yang lalu. Kali ini adalah kali pertama adik terkecil saya bermain di pantai. Karena pertama kali, dia takut sekali menyentuh air laut dengan alibi takut terseret jauh.

Datang pukul 8 pagi, pantai masih sepi dan air sudah terasa dingiin sekali. Ombak pun masih bersahabat dengan kita. Deburannya masih normal dan berubah sedikit ganas pukul 11. Saya anti berenang di pantai. Bukan apa-apa, tapi karena nggak bisa renang. Jadi hanya main dipinggiran pantai. Bersama dengan adik saya yang kedua, seperti anak kembar sedang menikmati air hehe..

Karena iseng, akhirnya kami berdua mengambil sampah dipinggir pantai. Karena itu sampah plastik beneran jijik banget ada disana. Bahkan ada sampah kondom dipinggiran pantai. Sempet banget sih 'main' di pinggir pantai. Ya terserah sih, tapi jangan dibuang sembarangan dong sampahnya.

Ada banyak plang bertuliskan bahaya, larangan berenang di laut, dan beberapa larangan lainnya tapi tidak ada larangan membuang sampah disana. Hmm padahal menurut saya itu larangan paling penting, mengingat negara kita adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua dilautan. Speechless.

Puas menikmati pantai, nggak usah kawatir lapar. Karena banyak kantin yang menjual makanan dengan harga yang normal. Kami memesan tuna bakar seberat 2 kilo atau lebih, hanya seharga kurang dari 50ribu (seinget saya lho ya, nggak ikutan bayar sih). Tapi termasuk kategori murah kok untuk makanan. Tapi lebih baik tanya harganya dulu deh daripada nanti nyesel karena kemahalan. kalau mau lebih murah lagi, bawa bekal dari rumah, jangan lupa tikernya, digelar pinggir pantai, duuhh enaknya piknik dengan orang tercinta.

Share:

[Piknik] Mengintip Merapi dari Ketep Pass

Berencana melihat gunung Merapi dari Ketep Pass, berangkatlah kita dari Borobudur menuju Ketep Pass menggunakan motor. Sumpah jauh banget. dari Borobudur ke jalan gede aja setengah jam, dan menuju Ketep Pass juga sekitar setengah jam. Melalui jalan berkelok-kelok dan menanjak, untung saja si motor bebek bisa diajak kompromi. Sehingga kita bisa sampai diatas dengan selamat hehhee

*yang nggak selamat itu warna kulitnya si dia, terbakar gosong sempurna*

Jalan menuju sana merupakan jalan pegunungan yang menanjak berkelok-kelok. Lebih mudah jika menggunakan motor menuju Ketep Pass. Bisa juga sih menggunakan mobil, tapi jalanan sangat kecil, berkelok-kelok, menanjak menurun, jadi kalau supirnya amatiran sepertiku yaaa nggak bakalan bisa lah nyetir disana. Bisa-bisa malah nabrak rumah orang lagi.

Lebar jalan mungkin sekitar 5 meteran untuk 2 arah. Jadi ya bisa dibayangkan bagaimana kecilnya. Untuk orang yang sudah terbiasa mah nggak masalah. Tapi untungnya, meskipun beberapa sisi jalan ada yang rusak, namun 80% jalanan beraspal bagus kok. Layak untuk dilalui.

Sisi kanan kiri sepanjang perjalanan, tentu saja hamparan hijau daerah pegunungan. Sejenak ketika memasuki daerah Ketep, saya pun membayangkan saya sedang berada di daerah yang gunungnya pernah mengamuk beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, ada juru kunci yang tidak mau mengungsi karena menganggap Merapi butuh dia untuk menjaganya yang berakhir dengan hilangnya nyawa sang juru kunci akibat sapuan abu panas gunung Merapi. Agak ngeri sih waktu itu. Tapi Merapi sudah berbenah. Jadi tidak ada bekas yang terlalu terlihat dari letusan itu. *Dan saya lupa siapa nama mbah fenomenal itu*

Sampai di Ketep Pass, tempat pengamatan gunung Merapi, seperti biasa harga tiket masuk lokal dan mancanegara dibedakan. Beda harga maksudnya. Lokal hanya membayar sekitar 6ribu atau berapa, dibawah 10ribu seingat saya. Sedangkan mancanegara membayar sekitar 24ribu. Lagi-lagi itu tiket weekend *kapan lagi bisa halan-halan kalo nggak weekend*. Setelah membayar tiket masuk dan parkir motor, kami menuju kantin. Ya gegara si dia pengen ngopi cantik sambil menikmati Merapi.

Oiya, tiket sudah termasuk free softdrink.

Sayangnya, saat itu sedang mendung. Jadi Merapi bersembunyi tepat dibalik awan. Antara bagus nggak bagus sih. bagus karena mendung, means nggak terlalu terik. Nggak bagus karena kita jadi nggak bisa liat Merapi dari dekat. Yahh apa boleh buat, akhirnya bisa melihat dan menikmati Merapi dari dekat bersama kekasih heehe. Eh iya, ngopi cantik sambil makan mendoan yang cuman seribuan lho. Lagi-lagi, harganya masih normal untuk ukuran tempat wisata.

Disana ada fasilitas museum dan movie. Waktu membeli tiket bapaknya sempet nanya nama dan asal saya, sempet mikir juga ngapain sih nih orang nanya-nanya. Eh ternyata itu digunakan untuk memanggil kita ketika kita nggak juga hadir di teater mereka untuk melihat film dokumenter tentang Merapi.

"Ibu Prisca dari Malang", gue kira cuman halusinasi ternyata beneran hahaha

Kemarin nggak sempet masuk museumnya, nggak sempet liat-liat karena si dia pengennya cuman liat Merapi dari dekat. Ya ujung-ujungnya kita foto-foto sih.

Dan yea, sepanjang perjalanan hawa menuju Merapi sangat segar sekali. Kanan kiri hijau, liat anak-anak sekolah bergerombol jadi ingat masa muda haha.. Mereka juga rajin menyapa si dia dengan panggilan mister lah, difoto eh mereka keranjingan. Lucu aja liatnya

*no picture, saya lupa taro fotonya dimana*

Share:

Rabu, 16 Maret 2016

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 

Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menawar harga becak. Karena dulu saya ditawari seharga 50ribu. Setelah ditawar akhirnya mendapat harga setengahnya. 

Yang kedua adalah menggunakan taksi. Jika titik keberangkatan dari sekitar Malioboro atau Jogja, menuju kesana taksi tidak akan menggunakan argo karena akan terjadi tawar menawar harga. Hati-hati dengan harga yang ditawarkan supir taksi. Bisa sangat mahal, tergantung bagaimana cara menawar kita. Karena saat itu saya dengan pasangan yang bule, sewaktu berangkat saya diberikan harga 150ribu dan dari Prambanan menuju bandara Adi Sutjipto diberikan harga 110ribu. Saya jadi mikir, yang berangkat tadi seharusnya bisa cuman dapet 100ribu nih. Tapi ya sudahlah, nggak ada protes dari si dia, jadi ya oke lah nggak banyak cingcong. Untuk kendaraan pribadi, tergantung bensinnya hehehe.. yang jelas dari arah Jogja menuju Prambanan menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Tiket masuk weekend untuk turis lokal dibandrol dengan harga 30ribu rupiah. Sedangkan untuk turis mancanegara seharga hampir 300ribu rupiah. Tempat membeli tiketnya pun berbeda antara yang lokal dan mancanegara. Dan pengalaman membeli tiket dengan mas pacar di loket lokal, diliatin sama orang-orang dari ujung atas sampai bawah. Oh iya, untuk anda yang merupakan turis mancanegara, selain menggunakan tiket standar yang seharga hampir 300ribu, manfaatkan kartu pelajar anda untuk mendapat harga khusus. Pengalaman mas pacar yang masih memegang kartu alumni kampusnya, dia bisa mendapatkan harga spesial khusus pelajar dengan cara “I am a Amsterdam university student, give me a student ticket”. Nah lhooo… harganya cuman 126ribu rupiah. Lumayan kan… Manfaatkan kartu anda hehehe

Untuk anda yang membawa banyak barang-barang seperti backpacker, jangan khawatir. Ada tempat penitipan tas didekat loket lokal. Manfaatin aja daripada bawa barang piknik keliling candi. Lokasi candi nggak kecil yaaa, dijamin capek deh serius. Jadi lebih baik manfaatkan penitipan barang gratis yang harus diambil sebelum pukul 5 sore. Bawa aja dompet dan barang penting lainnya. saya cuman bawa dompet, tablet, hape, air sama payung (nggak cuman deh kalo ini), sedangkan dia membawa dompet, kamera, dan buku panduan wisata (yang terakhir ini nggak penting banget menurutku hehee).

Jangan lupa bawa payung. Bukan karena takut hujan, tapi kepanasan hehehe. Maklum aja lokasi candi yang sama sekali nggak ada tempat berteduhnya, kecuali deretan pohon dan hijau-hijauan sebelum masuk pelataran candi. Si dia yang awalnya hanya ingin melihat candi dari kejauhan dan duduk-duduk di gazebo sekitar 100meter dari candi akhirnya menyerah dan ingin melihat candi lebih dekat. 

Dengan berbekal payung, akhirnya saya memakai paying untuk menghindari terpapar sinar UV berlebih. Meskipun pada akhirnya payung sukses terbalik karena anginnya yang lumayan kencang sekali. But it help a lot lho.
Yang saya suka dari candi Prambanan adalah bentuknya. I mean dia banyak, dan menyebar. Tidak seperti candi Borobudur yang hanya satu ting ditengah-tengah. Beberapa Candi utama terlihat besar, dan ada banyak candi kecil-kecil disekitar pelataran Prambanan. Mungkin itu adalah candi Sewu. Tapi mereka semua sudah tidak berbentuk. Hanya berbentuk batuan kecil-kecil. Kemungkinan besar mereka rusak karena efek gempa tempo hari di Jogja. 

Hampir setiap candi utama terdapat arca di dalamnya. Dan bagi saya, ini adalah spot yang paling horror. Gimana mau nggak horror, lokasinya gelap, arcanya mistis. Saya yang merasa horror, tapi dia santai-santai aja. Dasar beda mindset ya hehehe.. Setelah menyusuri candi dari ujung sampai ujung, ada beberapa spot lain seperti museum, kantin, tempat oleh-oleh, bahkan tempat kijang dikandangkan. Bukan dikandangkan sih, tapi dipagari tempat mereka dan kita bisa memberikan mereka makan dengan cara membeli sayuran yang sudah terjual disekitar kijang-kijang tersebut.

Harga souvenir terbilang masuk akal, sekali lagi masuk akal untuk daerah wisata. Dan juga harga makanan di kantin yang juga standar. Sepiring pecel dihargai sepuluh ribu, es teh seharga 5ribu dan air mineral juga 5ribu. Masuk akal kan??
Pintu keluar dekat dengan deretan kantin-kantin. Jangan lupa untuk mengambil barang yang tadi dititipkan. Sediakan sunblock dan payung atau apapun untuk menghalau panasnya terpaan sinar matahari. Karena panasnya benar-benar menggosongkan untuk kulit sejenis kulit saya yang Indonesia banget. 

Lagi-lagi, yang didapat dari kunjungan ini hanya bersyukur dan bersyukur. Diberikan kelengkapan fisik untuk melihat indahnya Prambanan dan bersyukur berkesempatan melihatnya. Meskipun setiap kali berkunjung kesana masih nggak habis-habisnya berpikir cara mereka, manusia jaman dahulu membangun candi yang super kokoh tersebut. Cukup ngebayangin ngangkut batu seberat segede gaban gitu ke puncak candi dimana jaman itu belum ada buldoser ataupun lem super canggih untuk menempelkan satu batu dengan batu lainnya.



Prambanan dari kejauhan


Bongkahan batu yang hancur, dan makin hancur gegara gempa


Traveling kali ini, nggak ke Bromo yang dingin atau candi yang panas, dampaknya sama-sama sukses menggosongkan wajah.
Share:

[Piknik] Menjejakkan kaki di Bromo

Puluhan tahun hidup sebagai warga Jawa Timur, namun baru pertama kali menjejakkan kaki di Gunung Bromo. Bertepatan dengan upacara Kasada yang terjadi satu tahun sekali dan bertepatan dengan bulan purnama (semoga nggak salah kasih info), sekitar akhir bulan Juli tahun 2015. 

Gunung Bromo merupakan gunung yang bertetangga dengan gunung Semeru. Jika kita pergi kesana, maka akan melihat banyak tulisan BTS -yang saya kira Behind The Scene-, ternyata adalah Bromo Tengger Semeru. Tidak hanya melihat gunung Bromo seorang, disana kita akan disajikan jejeran gunung-gunung kecil disana.

Ok.. first of all mari dimulai dari berangkat ke Bromo. Menuju Bromo bisa menyetir motor sendiri, bisa juga menyewa tour dari titik keberangkatan (seperti yang saya lakukan), bisa menggunakan ojek seharga 100ribu per ojek sepuasnya, bisa menyewa jeep dari titik mula menuju Bromo (dengar-dengar sih harganya 600ribu/jeep, satu jeep bisa untuk 4-6 orang tergantung ukuran badan orangnya heheh). Jeep yang saya maksud disini adalah jeep tertutup. Untuk jeep terbuka biasanya digunakan para pendaki Semeru untuk menuju titik awal pendakian. Harganya pun relatif sama, 600ribuan.

Nah, yang menggunakan jasa tour, harga tentu berbeda antara turis lokal dan mancanegara. Untuk turis lokal, seharga 300ribu dan 700ribu untuk mancanegara saat weekend. Untuk weekday tentu lebih murah. Jika menyetir motor sendiri, silakan siap dengan berbagai bentuk jalan yang aduhai sekali untuk dilewati motor. Jalannya benar-benar tidak wajar untuk dilalui dengan motor. Tapi teman-teman saya sangat hobi sekali menyetir motornya kesana. Untuk sewa ojek dan jeep, saya kurang pengalaman dengan kedua hal tersebut. Tapi kisaran harga sewanya kurang lebih segitu sih.

Untuk tiket masuk yang menggunakan sewa jeep, sudah free karena harga tersebut sudah termasuk tiket masuk. Kalau moda yang lainnya, mungkin masih perlu membayar karena kita hanya menyewa moda mereka untuk menuju Bromo. Jadi perlu tambahan biaya untuk tiket masuk.

Karena menggunakan jasa tour Bromo, jadi saya akan menulis pengalaman menggunakan jasa tersebut. Berangkat dari Malang kota tengah malam sekitar pukul 12, kemudian menuju Nongko Jajar (seinget saya sih). Menembus dinginnya malam Kota Malang, lebih tepatnya Nongko Jajarnya, benar-benar menusuk tulang. Awalnya sih masih biasa, tapi lama-lama saking dinginnya sampai oksigen yang terhirup terasa sangat dingin dan menusuk hidung.  Sekitar 2-3jam sampai di Penanjakan 1.
Penanjakan 1 merupakan titik untuk melihat matahari terbit. Bagi yang tidak membawa perlengkapan dingin, bisa menyewa disana. Atau membeli kaos tangan, topi atau syal. Harganya termasuk masuk akal untuk daerah wisata. Bisa dibilang normal. Untuk topi seharga 25ribu, kaos tangan seharga 5ribu. Masuk akal kan?

Sesampainya di Penanjakan 1, jeep diparkir dan kita harus berjalan menuju titik penanjakan 1 untuk melihat matahari terbit. Karena gelap dan terlalu semangat, akhirnya nggak kerasa kalau ternyata jeep diparkir jauuuhhhh dari titik Penanjakan 1. Sadarnya pas balik dari Penanjakan dan nyari mobilnya nggak ketemu-ketemu hehehehe

2 jam berselang, matahari mulai menampakkan cahayanya. Cantikkkk sekali. Beneran deh cantik banget. Belum lagi dikasih surprise pemandangan pagi yang makin membuat hati ini bersyukur karena diberi kelengkapan fisik untuk merasakan anugrah Yang Maha Kuasa. Mempertanyakan banyak hal termasuk perkampungan mereka yang dekat dengan gunung dan dari atas Penanjakan terlihat kabut yang begitu tebal. Nggak kebayang betapa dinginnya hari-hari mereka. Hamparan gunung kecil-kecil termasuk gunung Batok yang bentuknya lucu dan unik.

Turis pun berebut mengambil foto-foto terbaik mereka, terlebih saat itu adalah saat upacara Kasada digelar. Ramainya nggak ketulungan. 

Jadi ceritanya, upacara Kasada ini terlihat seperti orang-orang Tengger yang melempar sesajen ke kawah gunung Bromo yang mana kawah tersebut menjadi our next destination. Menuju ke puncak gunung Bromo perlu menaiki puluhan anak tangga. Ini udah termasuk fasilitas paling enak dari pendakian, karena selama pendakian, dari tempat parkir jeep menuju kawah Bromo perlu waktu sekitar setengah jam berjalan. Debunya oh wow deh, jadi lebih baik sediakan masker. Teman seperjalanan tidak membawa masker, kebetulan masker yang saya bawa ada 4, saya tawarkan kepada mereka katanya “No, its ok. I don’t need it”. Dan saya cuman bisa ngomong “Okay just ask me if you need it”. 5 menit kemudian, “Pris, I think I need it now”. Nah loooo

Perjalanan menuju puncak itu benar-benar melelahkan. Walaupun sudah ada fasilitas tangga, tapi sebelum menuju tangga harus melewati bukit-bukit dan tanjakan-tanjakan sekitar Bromo. Capek deh beneran. Mana tanjakannya berdebu gak karuan, belum lagi jalannya rebutan sama kuda-kuda yang disewa orang males jalan, uyel-uyelan sama banyak orang (datengnnya sih pas acara Kasada tapi karena saking pasnya sampai males banget uyel-uyelan sama orang yang nggak doyan antri. Bad habbit lah). Tapi pas ada ditangga apalagi tangga bagian atas, yang bisa terucap hanya Allahuakbar dan Alhamdulillah. Itu bener-bener cantiiikkkk banget dari atas. Sepanjang perjalanan menuju kawah, teman Belanda menanyakan sejarah Kasada dan kenapa dilempar ke kawah yang malah bikin kotor? Saya pun dobel tugas jadi tour guide. Untungnya masih inget pelajaran sejarah pas SD. Jadi nggak malu-malu banget pas ditanyain sejarahnya hehehe. Mereka heran melihat kambing diarak menuju kawah dan menanyakan “Are you sure you want to throw that goat to crater?”, sayapun menjawab “Yeah of course… hmm maybe”. Dan mereka menyahut “No way… better give it to people than throw it to crater”, gue cuman ngakak beneran deh.

Sesampainya diatas, kami menikmati pemandangan dari atas dan juga melihat kearah kawah. Banyak warga yang memasang terpal untuk menangkap barang sajen. Kabarnya sih mereka adalah warga dari jauh yang miskin dan ingin mendapatkan rejeki lebih dari upacara Kasada itu. Datang jauh-jauh hari dan pulang beberapa hari kemudian.

Oiya, disekitar kawasan Bromo ada pura untuk ibadah warga Tengger. Kurang tau pasti berapa jumlahnya. Dan jangan kawatir kelaparan karena ada penjual makanan disekitar sana dengan harga yang sangat masuk akal sekali. Segelas kopi seharga 5ribu dan segelas pop mi yang besar seharga 10ribu. Masuk akal banget kan?

Setelah menikmati kawah Bromo, kami menuju destinasi selanjutnya yaitu pasir berbisik. Disitu, lagi-lagi saya menceritakan kepada mereka maksud dari Pasir berbisik serta ada film dengan judul yang sama dan mengambil lokasi di Pasir berbisik tersebut. Puas foto-foto di pasir berbisik, kami ditawarkan menuju bukit teletubies. Bukit ini terlihat seperti bukit yang ada di film teletubies. Tapi karena sudah lelah, akhirnya kami hanya melewati saja dan melanjutkan pulang. Bahkan ditawari ke air terjun pelangipun sudah tak tahan.
Memilih untuk pulang karena merasa sudah cukup dan sangat lelah, akhirnya jeep melewati jalan yang aduhai bahkan lebih aduhai dari saat berangkat. Dan kamipun pulang melalui desa tertinggi, desa Ngadas. Uademmmm banget. Oiya, meskipun hawa di gunung Bromo adem pada dini hari, namun pagi hari hawa sudah berganti segar dan teriknya ya ampun deh. Melalui desa Ngadas dan keluar melalui Tumpang. Mata sudah nggak kuat rasanya, akhirnya sepanjang perjalanan pulang Cuma bisa merem dan bapak supirnya bilang, “mbak, turun dimana ya?”.


#bagi yang berencana ke Bromo, nggak perlu budget tinggi untuk sampai disana. Tergantung darimana titik awal keberangkatan saja sih. Kalau titik awal dari Malang kota, bisa murah kok. Bahkan teman yang sudah pahan jalur Bromo dan memilih menyetir tidak menghabiskan dana lebih dari 100ribu kok. Karena harga disana pun masih bisa dibilang normal, kecuali harga untuk pipis yang 10ribu per pipis. Siapkan baju dingin, kaus kaki dan tangan aja jika berencana ke Penanjakan karena menurut saya itu adalah titik terdingin. Dan siapkan baju kece untuk foto-foto dibawah heeheee.. karena baju dingin akan dilepas jika sudah berada dipelataran di Bromo. Menghabiskan sedikit waktu di Bromo, sukses membuat saya menghitam dan pilek. Oh iya, yg sukses menyertai juga adalah pasir. Ntah seberapa banyak pasir yang numpang di sepatu, tas, celana sama jaket. Tau taunya pas nyuci kerasa berat semuanya#





Sesaat sebelum matahari terbit


Surprise yang disajikan setelah matahari officially terbit


Tangga menuju puncak Bromo


Warga yang siap menerima sajen yang dilempar. Ini dipinggir kawah lho FYI yaa


Warung super simple yang menyediakan cemilan dengan harga yang wajar


Melihat Bromo dari puncak, sepertinya jutaan orang sedang berada disatu tempat yang sama


Menuruni puncak Bromo. Saya kliatan keciiiilll banget


Pura yang ada didekat Bromo


Pasir berbisik


Ini kawah Bromo. Terpal itu untuk menampung sajen yang dilempar


Kabut dari atas Bromo

*foto dokumen pribadi*




Sepertinya cocok jadi tour guide hehee
Dan masih punya PR ngajak mas bule ke Bromo :)
Share:

Selasa, 01 Maret 2016

Berusaha bertindak normal

Kenapa mantan kekasih selalu menggangu? Sebut saja selalu mengubungi disaat yang tidak tepat.

Hanya ada dua jawaban.
Pertama, dia ingin kembali mengulang hubungan baru dengan orang yang sama.
Kedua, ingin merusak hubungan sang mantan kekasih dengan pasangan barunya.

Yang pertama tidak akan menjadi masalah jika keduanya masih sama-sama sendiri atau single. Namun akan menjadi masalah ketika sang mantan kekasih sudah memiliki hubungan yang baru dengan orang lain.

Yang kedua sudah jelas bermasalah karena pasti tujuannya negatif. Merusak, definisi dalam bahasa apapun juga pasti bermakna negatif. Merusak bisa berupa mengunggulkan diri sendiri, bahkan hingga mencaci maki pasangan baru dari mantannya dengan cara mengatakan bahwa dirinyalah yang lebih baik dan lebih cantik. Pembunuhan karakter banget

Jika memang dia bertujuan baik, tentunya dia memiliki otak untuk berpikir bahwa dia berpotensi menimbulkan masalah bagi hubungan orang sehingga dia harus berhati-hati dalam menghubungi sang mantan.

Tapi jika dia bertujuan jelek dan tidak punya otak untuk berpikir, dia tidak akan pernah memperdulikan bagaimana perasaan si pasangan baru. Karena yang dia pikirkan hanya bagaimana cara dia kembali menjalin hubungan dengan mantannya.

Nah apesnya kalau dia seorang wanita. Semua wanita memiliki perasaan ekstra. Perasaan yang tidak pernah bisa dibohongi. Walaupun lelaki mengatakan hal itu tidak akan berpengaruh baginya, tapi berpengaruh ke mental wanitanya. Bukan apa-apa, tapi orang yang seperti itu adalah orang sakit jiwa.

Apa yang bisa saya lakukan? Bersabar. Ya sabar. Apa lagi?

Ingin hati rasanya mencaci maki dirinya. Namun saya masih memiliki otak dan masih bisa berpikir normal untuk membiarkannya. Dan berusaha percaya kepada pasangan saya. Toh saya sudah memiliki cintanya dan saya juga sudah memilih untuk mencintainya dan mempercayainya.

Keinginan untuk mencacinya sudah hilang. Hanya ingin mengatakan sesuatu untuknya dari hati seorang wanita kepada sesama wanita.

Bayangkan bagaimana jika hal itu terjadi kepada anda? Bagaimana perasaan anda? Apakah anda akan marah? Apakah akan baik-baik saja?

Karena sebagai wanita, meskipun saya mengatakan baik-baik saja, tetap saja dalam hati hal itu terasa menyakitkan. Ya, itu menyakitkan. Namun saya akan berusaha bertindak dan berpikir normal. Karena saya bukanlah dia yang tidak punya otak.

Lets try to be more 'normal' and wise. Just another thoughts of someone who really love hers.

Share: