Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda. Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami. Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah. Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...
my new passport holder yang gw kira bisa diisi sama buku nikah juga biar praktis. ternyata lebih kek sampul We decided to go to Bangkok on 30 Dec 2017. So we were celebrating new year together, with two other friends as well (Ramy and Paul). They wanted to have a New Year's dinner in a nice restaurant so we found one and hoped it wasn't close yet because we were there around 10 at night. We ordered like everything there, I can't say no to tasty foods (especially if they are not expensive). Only Paul little bit picky to food, so he ordered chicken and chicken and chicken (only few days before he left, he ate crocodile kebab and he said that was tasty). So I listened to everything they are talking about since mostly they talked about things that I don't really know but I enjoyed it because I am good at listening people I guess. And we were done with dinner 15 mins before midnight. The waiter gave us something to celebrate new year. I thought that there will ...