Minggu, 17 Februari 2019

Bogyoke Market

 

Masih tentang Yangon kemarin, ngomong-ngomong, Yangon ini kota yang ketika dikunjungi tuh rada susah nyari yang namanya souvenir. Gw bukan tipe orang yang suka beli-beli souvenir buat orang sekampung sih tapi gw selalu usahain beli buat orangtua gw dan juga om gw. Udah itu berdua doang, gw bahkan jarang banget beli buat gw sendiri kecuali kalo butuh dan unik. Cuma di Bangkok kemarin aja sih yang gila-gilaan belanjanya gw. Pertama kali khilaf 😁

 

Karena kegiatan belanja, beli-beli, liat-liat souvenir ini selalu nggak ada di agenda suami gw, jadilah gw slalu curi-curi waktu buat nginguk toko souvenir. Ini pertama kalinya rada susah nemuin toko souvenir ya di Yangon ini. Nggak ada tuh yang pinggir jalan toko souvenir berantakan gitu. Waktu coba cari, nemu satu yang menurut orang banyak ini pusatnya belanja barang-barang dari Myanmar.


Bogyoke Market namanya.

Pasar ini, yang kusuka tentu bangunannya dong. Bangunannya ala Inggris karena memang dibangun di masa kolonialisasi Inggris. Dulunya juga dipakai untuk pasar tapi ketika terjadi transisi kekuasaan ke Myanmar, pasar ini ganti nama jadi Bogyoke (baca : Bo cho).

 
lacquerware

Yang jadi andalan pasar ini adalah batuannya. Batu batu dari yang KW 1,2, Super hingga yang asli ada. Tapi bisa dilihat lah ya, kalo asli harus ada lisensi resminya. Dan itu, yaaa agak susah kalau belum cari yang sudah direkomendasikan. Selain batu-batuan ada juga lacquerware, ada juga longyi, banyak lah. Untuk harga lacquerware menurutku agak mahal sih, harganya sekitar 50 ribu sampai ratusan ribu tergantung besar kecil barangnya. Tapi lacquerware ini lucu gambarnya.

 


Nah gw juga dapet longyi sepasang, harganya 14ribu Kyat atau setara dengan 140ribu rupiah. Cantik longyi nya, gw bakal pake buat kondangan LOL.

Kalo mau yang lebih gampang lagi buat belanja, bisa mampir di New Bogyoke Market yang ada di seberangnya pas. Tapi disitu lebih banyak baju-baju aja sih. Gw lebih suka yang pasar lama, karena lebih krasa tuanya 😀 Lebih dapet feel heritage nya.
Share:

Kamis, 14 Februari 2019

It Is Not Chocolate's Fault!


Halo! Hari ini tanggal 14 Februari. Hari ini kelas ngajar gw penuh dari jam pagi sampe jam 8 malem dengan jeda 30 menit aja per kelasnya. Lumayan sih nggak terlalu ngotot meskipun full day.

How was your day? 

So I have been thinking of why people keep messing around with the issue of 14 Feb every year. It is not that I have nothing else to think but this is so damn interesting. It is ok not to follow what people do, or celebrating it. But do not blame the chocolate or flower as the symbol of maksiat 😋 I can't take this!

FYI I just bought my chocolate (I love Cadbury cashew nut in case you want to give me chocolate), I had 10% off (Lai Lai), even if you buy 2 big bars then you will get one free (Indomart). So thoughtful. How can you say no to this kind of discount huh?

This is a kind of big deal for most people (or let say western people). My friends asking me if I am celebrating it and I said that I barely do that. Yea how can I do that if I dont have my husband here? And they were all like "What? You never celebrate it?" So far that I remember, no. Only got a bunch of chocolate from my coworkers and that was all. And Oh favorite pain in the ass!

Maybe you people worried that the rate of free sex will get higher during 14 Feb, but oh dont you know that people do that freely even if it is not 14 Feb? Sex is the basic human rights! Is the condom selling get higher on February? Then it is a really big business. I have read that people in America spend more than 100 dollar for 14 Feb, to celebrate it. Chocolates and flowers prices are getting more expensive during this day and that is why my friend told me that he is happy enough to be a single right now so he can save money LOL.

Nas Daily once made the video about this and said that 14 February is a big business. They sell chocolates, flowers, everything related to love~valentine things. And they earn a lot! Interesting right?

But I wonder why they put discount on the chocolate here if it is a big business?

Well anyway, I bought myself a bar of chocolate not because I want to celebrate but I am craving for chocolate suddenly (as well as craving for sex and attention and cuddle LOL!). But wait a minute, what is so wrong with me celebrate it? Nada!

For you who are celebrating it, please enjoy it. For you who does not, then dont bother the ones who enjoy it 😂 As simple as that haha!

Have a good weekend ahead 
Share:

Anak Cashless


Gw pengguna OVO, Go-pay, dan banyak segala kegiatan cashless lainnya. Seorang kolega pun bertanya tentang kegiatan cashless ini dan gw dengan enaknya aja jelasin kan. Termasuk di dalamnya segala kegiatan perbankan dengan berbagai kartu dan jenisnya dan enak nggak enaknya. Disitu juga berbagai macam jenis investasi dan beberapa pos penting yang harus dimiliki.

Eh kok ya, disuatu sore yang ramai, tiba-tiba dari jarak 2 meter dia cerita tentang cashless ini ke kolega lainnya dan menyebutkan "Takoko Prisca talah, de e paham banget ngene iki" yang artinya "Tanya aja Prisca, dia paham bener urusan ginian"

LAH! Nama gw disebut-sebut eh?

Trus gw baru sadar gitu, kok bisa ya dompet gw tebel kartu-kartu gitu, HP penuh aplikasi cashless. Emang sih, cashless itu enak banget. Selama ini sih emang enak banget buat gw karena gw bukan tipe orang yang suka nyimpen duit banyak di dompet. Tinggal tap tap klik klik udah deh kebayar. Bayarnya penuh pula. Kalo sabun harganya 5,315 rupiah ya bayarnya bisa penuh segitu. Jadi nggak pake alesan "yang 200 disumbangkan ya?". Bukan berati ga mau nyumbang ya, tapi kalo nyumbang pun pengen kejelasan dan customer berhak dapet kejelasan dong.

Cuma ya pembayaran cashless begini ini biasanya sangat tergantung dengan sistem, sangat. Bisa jadi hapenya yang ga responding, bisa juga sinyalnya yang ewww, bisa juga sistem utamanya sana yang 404. Semua tentu ada pros cons nya. Jadi nggak serta merta kalo cashless ini enak juga.

Tapi yaaaaa kalo beli bakso cambah di gerbang UM Jalan Semarang, emangnya udah pake OVO abangnya? 😃

Kamu lebih demen cashless apa bayar manual?

Btw, cuma anak UM dan sekitarnya yang tau tentang Bakso cambah UM 😂
Share:

Rabu, 13 Februari 2019

Pake Jenius

 

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta kartu Starbucks nya.

Btw, Jenius ini enak banget sumpah. Barusan gw coba pake beli lagu di itunes, pake fasilitas semi kartu kreditnya ini. Eh bisa. Jadi gw ga perlu pake kartu kredit gw, tinggal pake kartu e-card nya dan di top up sesuai kebutuhan. Jadi nggak takut di pake orang lain karena baru bisa dipake kalo ada saldonya. Ah enak deh pokoknya. Ini semacem debit card nya luar negeri. Debit card Indonesia kan masih belum terlalu mampu dijadikan seperti kartu kredit untuk pembayaran beberapa hal. Nah kalo yang ini bisa. Terbantu banget gw bisa pake ini. Positifnya kita bisa set limit kita sesuai jumlah duit yang kita punya, jadi nggak seperti kartu kredit yang bisa "ngutang" dulu. Ini jadi solusi orang yang nggak pengen punya kartu kredit tapi perlu kartu kredit untuk pembayaran (biasanya pembayaran global).

Dibalik kartunya ini ada nomer CVV yang karena itulah bisa difungsikan seperti kartu kredit. Berlaku pula untuk e-card nya. 

Kalo soal bebas biaya bulanan dan transfer sih, sejauh ini oke ya. Siapa yang nggak suka gratisan hayo? Bebas biaya tarik tunai juga di ATM manapun. Bisa sampai nol juga. Nggak ada limitnya. Jadi ya sejauh ini kusuka banget kartu ini.

 Don't put all your eggs in one basket

Jenius ini bagian dari bank digitalnya BTPN, yang menurut gw pinter banget strategi marketingnya (kalo sampe gw kepincut berarti pinter banget marketernya). Dan sejauh ini emang kartunya representable banget. Bisa request dengan mudah 4 kartu tambahan lainnya yang bisa kan dibikin pos-pos pengeluaran terpisah. Bisa dikontrol dari aplikasi, bisa di blokir dan diaktifkan dengan beberapa kali klik. Gini gw jadi mikir buat non aktifin beberapa kartu gw.

    

Karena bank nya digital, jadi untuk ngisi duitnya ya harus transfer. Nggak terima duit cash katanya. Tapi karena semua aktifitas perbankanku pake transfer ya udah oke oke aja. Katanya pula beban ongkir dari kartu kita yang lain katanya sih ongkosnya dibalikin gitu. Tapi ku tak tau ya. Ku tak begitu mendalaminya hoho!

Nah katanya nih kalo dipake diluar negeri juga lebih enak. Aku penasaran kan jadinya. Ntar deh kalo keluar negeri pengen cobain kartu ini beneran lebih nyaman dan mudah nggak.

Tulisan ini nggak dibayar, karena kalo gw demen banget dan bener-bener rekomendasikan barang bagus pasti gw bisa tiba-tiba jadi marketer hoho!
Share:

Selasa, 12 Februari 2019

Workout

 

Dulu liat orang workout ato ke gym tiap hari gitu mikir "Ngapain sih susah amat begitu. Nggak capek apa?" Tapi setelah kujalani sendiri, uh lalaaa, enak sekali ternyata.

Tipe-tipe males olahraga kek gw gini harus cobain workout 25 minutes. 25 menit aja cukup. Ada banyak kok tuntunan video workout, tinggal pilih mana yang cocok. Gw ikutin T25mins si Shaun T. Nah si hari pertama kan kardio ya, itu 25 menit aja udah gila keringetnya.

Tapi... setelah hari pertama kalo badan udah lama vakum ya jangan protes kalo bakal sakit-sakit semua sampe 3 hari. Temen gw bilang itu namanya DOMS (Delayed Onset Muscles Soreness), efek abis workout. Karena workout itu kan sebenernya ototnya "dirusak" jadi kalo hari pertama udah kardio hari kedua ga boleh kardio juga. Harus ganti yang di latih bagian yang lain. Kalau di T25 sih Kardio, Speed 1.0, Total Body Circuit, AB Intervals, apa lagi ya kalo jumat ini biasanya dua kali workout yang tentunya nggak gw lakuin dong. Karena menggemaskan lelahnya.

Temen gw nih yang nyuruh banget. Kalo gw berkelit udah dipelototin, "KATANYA PENGEN FIT?!" Ya tuhan ini anak manusia jahat banget. Tapi ya gimana lagi kalo nggak gitu ya emang malah ga olahraga. Jadi ya biasanya sih abis kerja gw workout, jam 9an atau jam 10an gitu work out.

Bersyukur sih ada yang maksa workout. Gw sadar gw nggak suka dipaksa tapi untuk perkara workout gw bersyukur banget ada yang maksa. Dan setelah masuk minggu kedua ini gw udah mulai krasa aneh kalo nggak workout sehari haha! Udah mulai terbiasa dan itu ternyata enak banget.

Cuma 25 menit sehari, nggak lebih lama dari bikin satu tulisan di blog juga kan?

Jadi, kamu workout juga nggak?
Share:

Songs Recently

I am not really listening into music. So I actually dont know much about it. But recently I am listening to these songs. Tennessee Whiskey and Blue aint your color is the country songs, while Nobody is R&B song.

Tennesee Whiskey by Chris Stapleton

Nobody by Keith Sweat
this is a very sensual song 😃

Blue Ain't Your Color by Keith Urban

Share:

Senin, 11 Februari 2019

Pendidikan Seksual Masih Tabu?

Sempol

Kalau mendengar kata seksual, banyak orang yang masih tabu untuk bahkan mengucapkannya. Padahal pendidikan seksual sudah harus dikenalkan ke anak sejak dini. Lho Kan anak kecil masih nggak paham? YA caranya dong! Masa iya anak 5 taun tiba tiba dibilang jangan have sex sebelum waktunya. Kan ya nggak mungkin.

Beberapa tahun lalu, anak manager gw masih umur 5 tahun. Lagi gemes gemesnya dan dia cinta banget sama gw. Dia pasti bilang kalau dia pacar gw. Nah karena sesuatu hal, gw tepok lah pantatnya itu. Dia tiba tiba bilang jangan pukul pantatku, lari ke mamanya dan bilang kalo pantatnya abis gw tepok. Besoknya mamanya bilang ke gw "Pris, si kakak bilang kalo pantatnya abis lu tepok. Katanya kamu disuruh bilangin kalo itu nggak boleh". OMG really? Ya emang karena mamanya udah pernah bilang ke si kakak kalau ada orang yang pegang pantat, titit, maupun badan dia terutama bagian yang sensitif tanpa ijin dari pemilik tubuhnya, kamu harus lawan dan nggak boleh diem aja. Meskipun itu mama papa tetep nggak boleh kalo tanpa ijin kamu. Jangan lupa juga buat lapor mama papa kalo ada yang begitu.

Wah beneran di praktekin dong. Meskipun gw yang waktu itu dianggap sebagai pacarnya, gw tetep dilaporin mamanya waktu gw tebok pantat dia LOL. Ceritanya disini.

Nah itu kan sudah merupakan salah satu pendidikan seksual yang diterapkan ke anak sejak usia dini. Bukan perkara tiba tiba melarang tidak boleh berhubungan seksual saat anak usia lima tahun. Namanya juga pendidikan, wong belajar matematika aja dimulai dari belajar angka sampai pada akhirnya SMA belajar tentang integral. Baby step dong.

Perkaranya masih banyak orangtua yang merasa tabu untuk memberikan pandangan tentang seksual kepada anak. Akibatnya? Ya tuh banyak anak hamil diluar nikah yang tanpa tau resiko tapi karena kepo akhirnya mencobanya. Bisa jadi juga mereka sudah tau resikonya bisa hamil atau tertular penyakit kelamin, tapi namanya orang kalo ngelakuin sesuatu diam diam tuh biasanya lebih wow rasanya.

Perkara having sex sebelum atau sesudah nikah itu hak kalian ya. Yang jelas buat gw, saran gw, lakukan hubungan itu saat kalian sudah siap secara mental. Nggak siap secara mental meskipun sudah menikah malah fatal akibatnya. Bisa jadi trauma. Beri tau aja soal berhubungan intim yang aman, ini maksudnya sebelum melakukan dengan seseorang kalian harus tau apakah dia membawa STD atau tidak. Siapa juga yang mau kan ditulari penyakit seksual. Gw sebelum sama suami gw, pertama gw tanya dulu soal itu. Karena itu penting. Jangan mentang mentang karena cinta trus oke oke aja ditularin. Iya kalo sama sama cintanya, nah kalo yang satu brengsek dan cuma pengen nularin sakit aja? Yang rugi juga kalian.

Bisa jadi banyak orangtua yang malu menceritakan tentang hal tersebut dan beranggapan "Ah ntar juga udah tau sendiri pas udah gede" Ya masalahnya banyak yang sok merasa dewasa saat mereka baru di usia 17. Iya gw dulu juga gitu, begitu nginjek 17 tahun dapet KTP udah ngerasa jagoan aja. "Gw udah dewasa nih!". Tapi naif lol

Berkaca dari diri sendiri, dan diri teman teman, gw pernah punya temen yang udah praktek dan kebobolan akhirnya keluar dari sekolah. Dari situ gw mikir, "Kalo gw ngelakuin sekarang, trus gw yang minim informasi soal penyakit menular dan cara mencegah kehamilan, trus gw kebobolan, berarti gw harus jadi mama muda yang bego soal apa2 trus ntar gimana cara gw didik anak gw kalo gw sendiri aja belom bisa mendidik diri gw sendiri?". That was my thoughts. Yang padahal juga nggak bakal ngelakuinnya juga karena ya ngapain, belom siap dan belum mau. Dipaksapun nggak bakal mempan, nggak akan luluh kecuali pas emang siap dan mau. Dan tentunya belum tau rasanya makanya nggak ketagihan. 

Gw mikir aja gw punya the rest of my life untuk berhubungan badan sama partner gw ntar. Yang penting sekarang gw didik diri gw sendiri lah. Kalau gw sendiri nggak pinter ya anak anak gw ntar nggak bisa gw didik dengan benar dong!

Jadi disini sekali lagi gw nggak larang kapan kalian mau have sex, gw juga nggak encourage kalian buat have sex sebelum nikah, yang penting lakukan dengan hati hati, lakukan ketika kalian sudah siap, lakukan ketika kalian sudah tau resikonya apa. Jangan maunya enaena aja tapi pas kebobolan eh dibuang bayinya. Kesian tau!

Be responsible on what you are doing!
Share:

Senin, 04 Februari 2019

Cant Stand The Crowds


I am not a party person. I hate loud music, loud voice, everything loud I hate that. This is the reason I hate to go to the night clubs. For what? Party? Dancing? Drinking? Then what? Going home with a super headache head? If I go to the place like that, my introvert side will pop up and make me tired in no time.

My friends in Surabaya once took me to a night club. I thought hmm okay why not, lets see what will happen there. But nah, I did not enjoy any moments of it. It was fun to be with them, but I did not enjoy the music or whatever crowds was. But that kind of loud music I can handle if it is only one source of loud music. What I cant handle is when I am in the middle of crowds with so many sources of voice (although it is not loud but crowded), that is the worse. Worse ever.

When we were in Istanbul, there was an underpass filled with so many vendors, countless people, so noisy, too crowded, so many languages spoken there, too hot, it is even make me feel tired by thinking about that again now. The underpass was not that far, probably less than 50 meters. But it took ages for me to pass it. I could not handle it. Covered my ears, walked fast, and once I made it to the end of the underpass, I sat in the corner and cried. I really cried. It was too much that I cant handle ever.

My husband of course did not understand why I cried. Maybe he thought that I was just exaggerate it. I can imagine if he cant understand it. I cant control myself even after I got out. It was really too much. I also did not understand why I cried, but lately I think about it and it is probably because I have a little bit of me being introvert. My husband can handle it, but I cant.

Once we passed it, I was too afraid to go back there and walk through the underpass again. I did not exaggerate it, it was too scary for me to go back again. But eh we walked through it again and I took a very deep breathe then walk in a not~very quick steps but did not stop. I control my pace so I can survive. After a few minutes I survived. I almost cried again but I can handle it. I just stopped, stood for awhile, taking breathe before continue the walk. Then I got ice cream to chill myself.

Today, I had my Nederland class, she suddenly act exactly like me when I am in the middle of the crowds. We had a really tough morning, this morning kinda busy with classes in the second floor so can you imagine the voices of people speaking English, Nederland, Japanese, I even mumbling myself with Korean, in one place? That was hard. It influence me and made me cant focus on my first 15 mins. We closed the door and said that we cant handle this crowds. The noise from every sources in one place is killing us. It may sounds childish, but every people has its own problem.

I found a way to control my feelings. When I go to the crowds place unintentionally, I always have my headphone with me and I choose to listen to the songs or audiobook, a bit louder. So what comes from my headphone will beat the crowds. So far it helps. 

So when you are with someone who cant handle this situation, do not get mad. They probably struggling inside to deal with it. Ask them, and take them to a less crowd place to take a breathe and control their feeling inside. It helps a lot.
Share:

Sabtu, 02 Februari 2019

Books in 2019

So I have a list of books that I want to read. I do have a pile of unread books at the bookshelves but I dont see why not of buying reading something new and fresh 😎

Here is the books I want to finish in 2019 :

Arok Dedes by Pramoedya Ananta Toer



Becoming by Michele Obama


Dunia Sophie by Jostein Gaarder (I have this years ago but havent finish it yet)



Underwood and Flinch by Mike Bennett (have the audio book already)

What other books you can recommend me to read this year? I need some recommendations
Share:

Love~Hate Tinggal di Surabaya

 

Dulu, dulu banget, gw benci sama yang namanya Surabaya. Airnya nggak seger, udaranya kotor, gotnya ampun bau bener, nyamuknya ganas, tikusnya segede kucing, tata kotanya nggak karuan berantakannya, panasnya ngalahin Jakarta, ampun lah. Nggak akan pernah mau kalo diajak ke Surabaya dari dulu. Nggak sanggup.

Tapi nasib berkata lain, 2 tahun lalu kusempatkan diri tinggal di kota ini, selama hampir dua tahun. Kota yang dulunya kubenci, lambat laun mulai kucintai. Terutama ketika Bu Risma, si ibunya wong Suroboyo ini memegang kendali Surabaya. Surabaya begitu berbeda, ntah berapa ratus derajat.

Rumah kos desain kolonial, membuatku betah disana. Ah aura setiap rumah memang berbeda. Hati yang memilih. Tak bisa dipungkiri. Terutama setelah berkencan dengan suami yang pecinta sejarah dan bangunan kolonial, smakin ku menyadari ternyata Surabaya itu spesial dengan segala rupanya yang sedang berbenah.

Salah satu hal paling berkesan buat gw selama gw di Surabaya adalah tidak keringnya seragam kerja gw yang semaleman dijemur diluar, tapi hanya butuh satu jam diungkep dalam kamar. Satu jam, exactly satu jam, seragam itu kering dan bisa dipakai. Durasi pengeringan mulai dari jam 6 hingga jam 7 pagi dan gw berangkat kerja jam 7.30 dengan seragam yang kering hanya dalam waktu satu jam. Ntah itu karena saking tipisnya seragam atau saking panasnya Surabaya 😁


Setelah meninggalkan Surabaya, kurasakan aku sangat merindukannya. Suroboyo Bus yang naiknya pake botol plastik, daerah Tunjungan yang semakin asri berbenah dan direstorasi, rumah kos beserta penghuninya, pentol gila yang hanya ada di Surabaya, Royal Plaza yang sumpeknya minta ampun pas weekend, frontage Ayani yang salah belok 3 cm aja udah diklakson sampe bikin jantungan, berangkat kerja seger bersih wangi sampe kantor yang cuma 10 menit jauhnya berbasah basah keringat pagi hari, lalapan cak gondrong di Kutisari, Kutisari kosku, kenangan ketika berkencan, Hotel Majapahit, semua makanan enak yang super murah dijual ditempat yang tak terduga, semua hal yang berhubungan dengan Surabaya, aku merindukannya.

Mungkin ini benar adanya, bahwa :

You will realize how important something (someone) is when it is gone.

Dari seorang yang lagi rindu Surabaya karena merasa Malang sedang sumpek sumpeknya 😄
Share:

Jumat, 01 Februari 2019

Catatan Pengajar Homescholing


Homescholing mulai menjadi satu pilihan akhir akhir ini. Kebutuhan akan homeschooling dirasakan menjadi mendesak kala seorang siswa merasa dirinya tidak bisa lagi keep up  dengan keadaan yang ada di sekolah dengan berbagai alasan seperti kemampuan menangkap materi yang sangat lambat, faktor kesehatan, faktor bullying, kasus yang terjadi disekolah hingga kasus drop out dan lain sebagainya.

Dulu banyak yang merasa kalau homeschooling adalah suatu hal yang aneh karena ya kasian aja anaknya nggak bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang lain atau teman temannya. Tapi masalahnya, biasanya temannya yang menyebabkan mereka minder. Percaya nggak sih, mungkin dulu gw juga pernah bully orang secara sengaja atau nggak sengaja yang menyebabkan mereka merasa dirinya lemah. Mungkin banyak dari kita pernah melakukan perisakan kepada teman kita dulu, tanpa kita sadari kita anggap mereka mampu menerimanya padahal tidak semua orang bermental baja. Bisa jadi. Jadi jangan kemudian beranggapan kalau anak tidak bisa bersosialisasi kalau tidak di sekolah normal.

Salah satu murid HS gw memang sungguh spesial. Hanya orang yang kuat dan suka mengajar yang akan mampu bertahan. Meskipun dia lambat di pelajaran normal, dia ikut kegiatan ekstra seperti badminton. Klub badminton menjadi pilihannya dan dia sangat suka dengan kegiatan badminton. Apakah dia bermain sendiri? tentu tidak. Dia bersosialisasi dengan banyak orang.

Kebutuhan akan homeschooling meningkat akhir ini dan menyebabkan tanya diantara kita 'Kenapa ya? Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan kita?' Bisa jadi. Murid terlalu banyak mempelajari hal yang diluar kemauan dan kebutuhannya menyebabkan mereka tidak bisa keep up dengan segala kegiatan di sekolah umum.

Karena sekolahnya dirumah, atau dengan kata lain diluar sekolah formal, orangtua harus pintar dalam mencari pengajar yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan siswanya. Eh jangan salah ya, homeschooling tidak melulu karena telat menangkap materi tapi ada juga yang homeschooling karena terlalu pintar dan selalu ingin lebih memuaskan hasrat belajarnya.

Seorang teman mengisahkan kekhawatirannya akan bagaimana anaknya nanti jika sekolah di sekolah umum. Seketika pun aku berceloteh 'Why bother with being ordinary if you can be extraordinary?' Kalau sekolah umum tidak memuaskanmu, homeschooling aja. Toh nggak ada buruknya juga. Semuanya tergantung preferensi dan kebutuhan kamu nantinya.

Keuntungannya ya dengan homeschooling, siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya dan memiliki waktu lebih untuk berkembang. Sapa tau nanti jadi seorang yang bekerja dari hobinya. Ya ndak?

Konsekuensinya, homeschooling itu lebih mahal karena bayarnya per pertemuan sama seperti les. Satu bulan saja bisa diatas 1,5juta. Jadi tetap kembali lagi ke preferensi dan kebutuhan masing masing orang. Jika dirasa tak mampu, ya usahakan gimana caranya bisa keep up disekolah formal.

Sekolah di sekolah formal maupun homeschooling sama sama bagusnya kok. Tinggal yang paling pas dihati dan dikantong yang mana aja. Tinggal pilih aja. Jadi balik lagi sesuai kemampuan juga. Dan yang terpenting adalah soal bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Begitu.

Udah gitu aja. Catatan dari seorang pengajar homeschooling matematika 😃

Eh btw, gambar diatas udah representatif kek Najwa Shihab Belom???? 😂
Share:

Netflix Series To Watch

Netflix itu racun. Ya gimana, distraksi terbesar dalam melakukan apapun dong. Seriesnya bagus-bagus. Nah beberapa ini series yang seru banget buat ditonton.

Kim's Convenience 


Series yang ini ceritanya tentang keluarga Korea yang migrasi ke Amerika dulu kala. Jadi gaya ngomongnya yang manggil bapak dan ibunya dengan sebutan ala Korea sedangkan kedua anaknya nggak terlalu bisa bicara bahasa Korea. Mereka punya toko yang nggak pernah tutup sama sekali.

Lucunya, si bapak ini benci banget sama Jepang karena jaman dulu pas penjajahan waktu dia masih kecil dan merasakan akhir dari masa pendudukan Jepang. Ada mobil parkir depan tokonya kalau toyota daihatsu atau merk Jepang lainnya, suruh lapor polisi. Tapi kalau merk Hyundai, KIA gapapa 😂 Bapaknya ini patriaki sekali. Sedangkan anak-anaknya tumbuh dan besar di Amerika yang otomatis membentuk pergaulan dan cara pikir ala Amerika pada umumnya, bukan Asia.

Konfliknya seru. Ringan, kehidupan sehari-hari. Cuma yang kadang bikin nggak nyaman gimana cara mereka ngomong bahasa Korea yang terkesan dipaksakan. Karena ya mungkin karena si bapak dan ibu ini meskipun ada darah Korea tapi mereka besar di Kanada. Gaya bicara bahasa Inggrisnya pun untuk mereka berdua masih sangat Korea-English dengan medok ala Korea nya.

Udah masuk season 3 nih 

Sex Education

 
Maeve - Otis - Eric 
Eric (sahabatnya Otis dari kecil) yang gay

Ini series setting British dengan logat British tentunya. Mamanya si Otis ini adalah seorang sex counselor. Masalah utama Otis ini ndak bisa masturbasi, bisa dibilang dia memiliki ketakutan akan seks karena trauma. Nah gw suka banget sama Maeve, seorang jenius yang secara nggak sengaja discover skill nya Otis untuk jadi "counselor" dan dijadiin bisnis lah sama dia. Otis sih akhirnya ada rasa sama Maeve, tapi eh Maeve nya nggak sadar aja. Coba deh nonton. Seru. Ceritanya anak SMA sih tapi agak beda ya karena SMA sana nggak sama kek SMA sini lol.

Ada banyak scene ranjang dong. Tapi nanti lebih ke penyelesaian masalah yang penyebab utamanya sesungguhnya adalah soal komunikasi dan mengkomunikasikan apa yang kita inginkan. Bagus deh. Baru mau masuk season 2.


Grace and Frankie

 

Nah kalo yang ini sungguh konyol. Ceritanya tentang 2 orang istri (mereka berdua berteman tapi nggak terlalu dekat juga, bahkan agak saling benci) usia 70 tahunan yang diceraikan suaminya yang ternyata kedua suaminya saling cinta selama 20 tahun. Jadi kedua suami ini menyembunyikan jati diri gay nya ini selama puluhan tahun dan akhirnya mereka sepakat menceraikan istri-istri mereka, si Grace dan Frankie ini.

Nah karena si suami tinggal bersama, akhirnya Grace dan Frankie merasa saling "membutuhkan sandaran" karena baru saja mengalami kejadian buruk di saat bersamaan, jadilah mereka tinggal bersama. Nah drama-drama setelah perceraian ini yang lucu.

Bayangkan lah gimana gilanya dua orang wanita tua yang tinggal bersama, baru saja menjanda, mencoba untuk bangkit lagi. Dan hey they are not young anymore. Serunya disitu sih.

Udah ada 5 season, dan aku baru nonton satu season.

Tapi dua series ini bukan cerita tentang gay kehidupan orang gay gimana gitu. Set gay cuma buat bumbu aja. Tapi buat yang anti gay ya ndak usah ditonton series ini kalau nda nyaman 😃 
Share:

2019 January Well Spent


I plan nothing for 2019. I do have plans but I dont write it down, just let it be a secret and I will write them down when they are accomplished. But I always plan to be a better person (of course). So remaining plans I had on my 2018 was doing sport regularly (become healthier) and able to speak Dutch. Nah, I did no sport last year.

So here I am, spent my January by starting to take my Dutch class seriously, and last night I did my 25 mins workout. Ugh it was killing! My legs and butt are so sore today. But I felt lighter after did the workout. So I guess that is a good feeling eh?

It is all about consistency

January well spent. Being so busy with classes from 8 to 8. Crazy month. Busy asf. So many reports to be done, learning Dutch seriously, have to prepare myself for Korean test in a few months, writing more, learn photography more, read more books and audiobook, listening to the podcast also. I am busy man! I am making myself busy! 😎

Books I want to read for February will be Arok Dedes ~ Pramoedya and Becoming ~ Michele Obama.

I am so happy that I seriously starting my Dutch class and doing this workout. I hope that this year I will be able to talk to my parents in law in Dutch, and consistent in doing the sport or workout. And hey! Be sexier ! LOL
Share:

Kamis, 31 Januari 2019

Tetralogi Buru : Buku Wajib Bacaan Orang Indonesia


Akhir-akhir ini sedang menyelesaikan bacaan Tetralogi Buru yang mana itu (menurut gw) merupakan buku wajib untuk dibaca orang Indonesia. Semacem buku sejarah tapi bentuknya nggak keliatan kalo lagi bahas sejarah. Bahkan kata Soesilo Toer aja bilang "Pram itu, bikin buku sejarah non fiksi tapi dibikin kayak fiksi. Nah yang fiksi dia bikin kayak non fiksi. Tau Minke kan? Dia itu nyata, tokoh asli, tapi Pram aja bikinnya kayak fiksi".  Statement ini semakin menguatkanku mengidolakan Nyai Ontosoroh sepenuhnya.

Diawal-awal emang krasa banget kebimbangan seperti "Ini buku kisahnya beneran nggak sih? Nyata nggak sih tokohnya?" Perlahan tapi pasti jadi mikir "Ah nggak lah kalo ini fiksi, semua cerita-cerita tentang negeri ini pernah gw baca dan datanya cocok kok". Penggunaan bahasanya pun cukup sekali, tidak terlalu tua tidak terlalu muda. Standar tapi tetap kerasa klasiknya. Terjemahan Bahasa Inggrisnya pun juga asik nggak kaku seperti buku-buku lawas. Ya memang sih ada beberapa kata yang masuk kosakata jadul seperti gubermen, tabik, sepku, dll. Kata-kata yang digunakan kala itu tetap ditulis seperti aslinya. Kata-kata yang bisa kita cari cepat di KBBI online untuk mengetahui artinya.

Buku ini selalu kubawa ke kantor untuk baca, kemudian muncul lah seorang history geek lainnya dan menyambar "Re-read ato baru pertama baca?" Gw jawab baru pertama baca. Hiyaaaaaa dicacimaki gw. Gw juga sih nyesel banget kenapa juga baru 2018 akhir gw baca buku ini. Bener-bener buku yang harus dibaca orang Indonesia. Mungkin buku ini harus mulai digunakan di sekolah-sekolah untuk belajar sejarah. Karena sejarah kan nggak semua orang suka. Justru malah kebanyakan orang benci sejarah karena kemasannya yang kurang menarik saat dipresentasikan.

At Kampoeng Heritage,

Ah ku terlalu jatuh cinta kepadanya. Pram pernah bilang, negarawan, politisi itu harus pernah baca buku Max Havelaar. Karena disitu dituliskan betapa hidup rakyat sengsara karena kegilaan orang orang yang ada di pemerintahan yang korup dan tidak peduli dengan rakyat, tapi hanya peduli dengan dirinya sendiri dan juganya memperkaya dirinya sendiri. Serius ya, untuk orang yang nggak tersentuh dengan membaca kondisi rakyat kala itu bener bener berhati setan. Setan bangsat yang nggak akan pernah tersentuh atau peduli dengan keadaan orang lain yang tidak memiliki kuasa apapun. Politisi harusnya baca buku itu. Dan politisi juga harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kalau ndak gitu ya jadinya hanya peduli dengan dirinya sendiri.

Mungkin orang berpikir bahwa membaca buku sejarah itu tidak penting tapi menurut gw penting banget. Biar jiwanya sadar dan nggak hanya materi atau dirinya sendiri saja yang dipikirkan, tapi ini semacam pengingat untuk diri sendiri bahwa apa yang kita rasakan sekarang juga merupakan kerja keras dari nenek moyang kita dulu berdarah darah demi mengibarkan bendera merah putih, menjadi negara berdaulat. Lah trus kita harus lakukan apa untuk maintain kemerdekaan yang sudah kita punya ini? Ya jadilah orang yang berguna, jangan saling sindir jangan saling menyakiti meskipun berbeda. Terimalah orang lain yang berbeda dari kita, apapun pilihan politiknya, apapun ras, agama, pendapat dan semuanya yang berbeda dari kita. Asal, tidak saling melangkahi prinsip masing masing, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormati keputusan orang lain.

Inget ya, negeri ini diperjuangkan oleh orang orang yang berbeda keyakinan, berbeda ras, berbeda segalanya, yang mereka tau mereka menginginkan satu hal yang sama. Kemerdekaan Indonesia. Janganlah kita sakiti spirit dan perjuangan mereka dengan saling julid karena berbeda keyakinan atau pendapat.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan (dan sejarah bangsanya).

Seperti kata mas Riza, abis baca tetralogi Buru ini kita bakalan berasa pinter 😎 Jadi gimana? yang belum baca buruan baca deh.
Share:

Book : Dilihat Dari Rumah Kaca


Setelah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, tetralogi terakhir dari Buru ini adalah Rumah Kaca. Berbeda dengan buku sebelumnya, Rumah Kaca ini mengambil seorang lain untuk membaca situasi yang dihadapi oleh Minke. Menelisik siapa saja tokoh tokoh yang diceritakan Minke di 3 buku sebelumnya. Apakah fakta ataukah hanya karangan belaka.

Buku ini auranya berbeda dari tiga buku sebelumnya. Karena di buku sebelumnya kita bisa mendalami sosok Minke dengan segala kegalauannya, disini kita memang memandang orang lain dari Rumah Kaca kita. Dari kacamata dengan data yang ada untuk digali lebih dalam. Kata salah satu kolega, ini closure dari ketiga buku sebelumnya.

Minke memang luar biasa, di masa segitu, Minke berani bersuara dengan tulisan termasuk hal yang sangat berani. Tantangannya dibredel atau yaaa minimal diasingkan lah, paling parahnya dihilangkan. Karena ketakutan akan mempengaruhi kekuasaan kolonial.

Tidak banyak yang bisa kutulis tentang buku keempat ini. Karena semua cerita sudah tercakup di tiga buku sebelumnya. Yang jelas di buku ini pembaca diajak untuk refleksi tentang apa yang dialami Minke di tiga buku sebelumnya. Sosok Minke yang bisa dibilang kontroversial dimasanya. Seperti kata mertua gw :
Menjadi berbeda di Indonesia itu sulit, kamu harus kuat Pris. 
Terima kasih Minke, Terima kasih Pramoedya. Masterpiece ini harus dibaca semua orang. Kita beruntung pernah memiliki kalian 💗
Share:

Rabu, 30 Januari 2019

Coffee Is Life

 
Kafe in town, Yangon
Ngopi sek cek waras!

Dari dulu kalo denger ajakan itu pasti yang kebayang kopi kapal api dalam cangkir kecil, hitam, panas, sedikit gula. Dulu waktu kecil, nggak boleh minum kopi terlalu banyak karena katanya nanti nggak bisa tidur. Iya doktrinasi. Ternyata kafeinnya kopi nggak begitu ngaruh buat gw.

Trus lama-lama penasaran dan pengen dong cobain kopi, yang akhirnya jadi keterusan. Dibilang kecanduan sih nggak, cuman kalo nggak minum kopi jadinya pusing. Susah ya, lebih jadi obat pusing sekarang daripada obat ngantuk. Akhirnya tiap hari setidaknya minum kopi satu gelas lah.

Semakin kesini kegiatan berkopi ini mengalami pergeseran menurut gw. Awalnya hanya minuman penghangat rumah sore hari, bisa jadi ditambah rokok yang "katanya" enak, lama-lama jadi kebiasaan yang digandrungi anak muda bahkan disambi dengan mengerjakan tugas kuliah.

Nongkrong cantik kata anak-anak muda sekarang ini. Bisnis kedai kopi menjamur. Mulai dari kopi belasan ribu hingga puluhan ribu pun banyak peminatnya. Mulai dari kafe super elit hingga tren kopi di pinggir jalan tanpa mengurangi estetika kecantikan dalam kegiatan berkopi. Dagang pun jadi bergeser dari jual kopi menjadi menjual tempat ngopi. Bukan soal kopinya tapi lebih ke tempat dan wifinya. (Kenapa kok jadi kepikiran buku Max Havelaar ya ... hmmm)

Tempat ngopi favorit gw di Malang :

Maxx Corner. Pertama kali buka gw sering banget kesini. Kek tiap hari aja begitu. Rasa kopinya oke harganya juga 18ribu. Sekarang 22ribu sih. Mbak mas-masnya kenal gw jadi tiap pesen nggak pernah ditanya namanya siapa lagi.


Kedai Tjap Giling. Seriusan ini baru pertama kali kesini, deket dari rumah. Yang bikin suka ya karena kedainya dibangun di rumah lama. Sepertinya sih malah ini emang dirumahnya sendiri. Rumah-rumah lawas yang nggak modern sama sekali, tapi dijadiin kedai yang hmmm make me can't say no. Dan ternyata kopinya awenak, donatnya juga awenakk! Kopi harganya mulai 12 ribu yang espresso, kalau yang latte sekitar 18ribuan. Donat enaknya cuma 4ribu! Rasa kopinya beneran enak wes, pas. Nggak berat nggak terlalu enteng. Tapi kalo americano katanya lebih berat dari yang tempat lain.

 

 

Pesenkopi. Pesen kopi ini tipe-tipe kopi take away dengan harga 10ribu (kalau online 12 ribu). Kopinya light banget. Ini biasanya kubeli saat pengen ngopi tapi nggak boleh ngopi yang berat-berat banget karena perkara lambung. Dijualnya ada waffle dan brownies, doi mulai banyak cabang dimana-mana yang emang praktis dan hmm bisnis menggiurkan lol.

IG : pesenkopi

Nggak fanatik starbucks karena nggak terlalu cocok sama kopinya (dan juga mahal). Maksudnya ya biasa aja, bisa didapetin rasa yang sama dengan harga yang jauh lebih murah. Tapi gw paling suka sama Chai tea nya. Ini teh rempah-rempah ini harganya 20ribu disitu dan cocok buat pas batuk pilek. Angetnya enak dan pas banget.

Tapi most of the time, sukanya ngopi kapal api ditambah susu yang dibikin dirumah. Bisa diminum setiap hari, dan murah pula 💗

PS : Favorit disini lebih ke soal harga dan rasa ya, bukan ambience nya (meskipun ambience di Maxx dan Tjap Giling itu enak juga kok, typically me). Kalo mau beli ambience nya biasanya sih kopinya nggak terlalu istimewa, tapi harganya diatas 30ribuan. Yaaa ntar gw tulis terpisah aja kali ya 😃
Share:

Senin, 28 Januari 2019

Ini Dutch, Bukan Deutsch


Hari ini kelas Bahasa Belanda yang kedua dan ehmmm lagi lagi bacanya seperti Jerman. Ntah kenapa, terlalu lama terkontaminasi Jerman bertahun tahun jadi bikin lidah ini ngomongnya persis Jerman meskipun tulisannya Belanda. 

Trus jadi mikir hari ini, kayaknya ngomongnya lebih gampang Jerman daripada Belanda deh ya. Ya mungkin karena kebiasaan juga akhirnya juga begitulah. Baca vokal dobel malah diganti hurufnya, padahal vokal dobel di bahasa ini dibacanya panjang (contoh heeft dibacanya bukan hift tapi heift). Tapi ya lidah tidak bertulang. Mlungker mlungker. 

Duits yang harusnya dibaca Dauts, gw baca Deutsch (Doits). Artinya sih sama, tapi bacanya bego. Gini jadi mikir sejenak "oh begini ya rasanya murid gw yang gw suruh baca Korea dengan benar yang kedengeran kek mandarin" Lidah dan otaknya beda arah. 

Ini senin, dan hari ini juga gw punya kelas pertama Bahasa Belanda, trus langsung ngajar Korea. Lidah rasanya harus di setel ulang biar ganti nada. Itu ternyata cukup menantang lol. Tapi seru sih. Sekarang PR gw harus rajin baca. Baru kemarin nyuruh murid gw latihan baca novel Korea sekarang gw yang disuruh baca. Udah lupa rasanya jadi murid gimana 😂

Lucunya, yang ngajar kalo gw udah kebangetan banget dia bilang "Gapapa wis kamu kan dari selatan, masih lah ada logat logat aksen baca memper Jerman". 

Iya jadi PR ku hari ini dan selanjutnya adalah belajar membaca 😀
Share:

Sabtu, 26 Januari 2019

Akhirnya Ambil Kelas Belanda Juga

 

Akhirnya jumat kemarin ambil juga kelas Bahasa Belanda secara resmi LOL. Ini demi bertanggungjawab ke diri sendiri dan juga demi konfirmasi tentang banyak hal yang tidak bisa dikonfirmasikan ke mertua karena ya mereka hanyalah native speakers yang kurang paham soal literatur. Sama lah seperti kita yang ditanya soal bahasa Indonesia pasti juga mikir dulu.

Oh iya, kelas bahasa ini gw ambil ditempat gw ngajar. Mumpung lah. Gw ambil kelas dari dasar dulu, meskipun banyak darinya sudah kupahami tapi mending belajar dari awal, menyamakan persepsi aja biar teratur lah ya.

Nah, karena gw ngomong sehari-hari (bahasa asing) pakai bahasa Korea, Inggris, dan juga pasif Jerman, mau ga mau bahasa ini mempengaruhi cara belajar Bahasa Belanda gw. Gampangnya ya, Bahasa Korea nya iya itu kan "Ne", sedangkan "Nee" dalam Bahasa Belanda itu artinya Nggak. Jadi sering banget gw maunya bilang "Ja" tapi malah bilang "Ne" karena mix sama Bahasa Korea. Nah pas mau ngomong "nggak" pakai Bahasa Belanda, gw salah ngomong pake "Nein" (bahasa Jerman).

Lebih sering lagi gw mix sama cara pengucapan Bahasa Jerman. Karena udah terlalu nyantol dipikiran kalau dua bahasa ini agak mirip. Misal mau bilang "Vriend" (dibaca : Frin) dalam Bahasa Belanda eh malah yang keluar cara ngomongnya "Freund" (baca : Froin). Dan banyak lagi lainnya. Apalagi kemarin temen gw ngajar bilangnya kalo logat gw krasa kek logatnnya Orang Jerman. Mungkin aja karena gw lama banget nangkring bareng orang-orang yang ngomong bahasa itu, dan juga mertua gw kan tinggalnya nggak jauh dari Jerman juga. Jadi ya latah. Gw gampang latah kok.

Tapi soal kosakata, nggak perlu khawatir. Beruntungnya banyak bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Belanda. Jadi ya nggak terlalu PR banget kalo soal ini. Ada tas, tegel, dongker, wastafel, klompen, kantoor, gratis, hem, portret, bioskop (bioscoop), dan banyak lagi lainnya. Cari aja sendiri lah. Biasanya pas ngobrol sama mertua, mereka bingung cari bahasa Inggrisnya apa eh ternyata lebih mirip bahasa Indonesia malahan. Jadi ya di sisi ini jauh lebih mudah 😁

Jadi sepertinya salah satu target tahun ini bisa ngobrol sama mertua pake Bahasa Belanda bakalan tercapai karena merekalah terutama papa mertua yang paling semangat kalo bisa ngobrol pake bahasanya 💓

Share:

Rabu, 23 Januari 2019

Dampa Seafood - Dubai

 

Dubai itu mahal. Biaya hidupnya disana. Ya namanya juga negerinya orang kaya. Meskipun ya masih ada juga yang orang pinggiran. Itu ada, tapi ya yang tajir melintir juga nggak dikit juga. Jadi harga makanan disana juga cenderung mahal juga. Ada yang bilang Dubai ini kota artificial yang mahal banget. Nggak salah juga sih. Eh tapi harga yang murah banget adalah bensin! Bahkan lebih murah daripada air mineralnya. Bensin seliternya 2 dirham sedangkan harga air mineral 600ml itu sekitar 2-5 dirham (apalagi yang Evian tuhh dih mahal bener).

Makanan siap saji seperti McD, Subway saja harganya di kisaran belasan hingga 20an dirham yang setara dengan 50ribu hingga 100ribu rupiah. Itu yang fast food, belum lagi yang makanan yang porsinya beneran sepiring semangkuk gitu. Harganya pasti diatas 20 dirham seporsinya.

Ini pandangan mahal ini bukan karena di konversi ke rupiah ya, tapi residen Dubai sendiri bilang kalo makanan di Dubai itu termasuk mahal kalau nggak pandai cari yang murah dan enak. Jadi bukan karena beda konversi ya.

Tapi, ada lho Seafood di Dubai yang harganya tergolong murah banget dan bisa dimakan berdua ataupun satu kampung. Tau kan kalo yang namanya makanan laut itu nggak murah kecuali kalau tempatnya pinggir laut pas? Ya kan? Nah tempat ini jadi tempat favorit kita di Dubai. Menggeser semuanya deh. Karena seafoodnya murah, enak, banyak pula. Sampai kita aja mikirin berapa profit yang mereka dapet kalo makanannya dijual semurah ini di Dubai. Harga makanannya sekitar 20 dirham hingga 50an dirham. Tapi jangan salah, satu porsinya itu bisa dimakan paling nggak bertiga lah. Kalo makannya normal ya, bukan porsi kuli ala gw dan suami. Itu juga free nasi sepuasnya. Bener-bener kalo keliatan nasi mau abis langsung ditambahin sama pegawainya.

 

Favorit kita berdua kepiting bumbu cajun plus jagung cajun. Suami gw yang ga favorit jagung aja sampe rebutan jagung cajunnya. Sumpah ini nulis sambil bayangin cajunnya eerrrrrr. Satu panci kepitingnya itu sekitar 35 dirham (setara 140 ribu). Satu panci ini isinya tiga kepiting jumbo. Mana dapet 3 kepiting jumbo disini 140ribu juga kan? Beberapa waktu lalu makan seafood di Malang, bertiga abis 300ribu tapi kepitingnya mini dan cuma 2, sisanya kerang-kerangan dan kurang puas.

 

Luar biasanya nih minumannya porsinya literan gila. Satu liter dan dua liter aja. Harganya 11-15 dirham. Nggak ada gelas tuh, minumnya di toples. Jadi seliter bisa diminum berdua kan kalo mau sharing. Sopo sing kate ngombe banyu seliter dewean sak dok sak nyeng?

 
sex appeal nama minuman ini. favorit.

Biasanya kita bayar sekitar 50 dirham (200ribu) berdua. Kalo lagi rakus bisa 75dirham. Itu 50dirham aja udah luar biasa kenyang dan puasnya. Inget ya, ini porsi kuli untuk orang yang doyan banget seafood. Jadi kalo makan biasa aja bisa kurang dari itu berdua. Setelah makan segitu puasnya cuma 200ribu, lalu kita bandingkan dengan seafood di Singapura yang abis lebih dari 500ribu dengan rasa yang nggak terlalu oke dan juga porsi yang sedikit. Kek nyeselnya tujuh turunan pernah makan disana 😁

Itu juga Dampa - Bodega Seafood ini letaknya di Deira. Deira ini masih lebih terjangkau daripada kawasan downtown yang jejeran Dubai Mall itu. Tapi sumpah kebangetan ini murah dan enaknya. Kita kalo suka banget sama makanannya, murah, enak, pasti kita puji-puji sampe berasa kek di endorse wkkwkw!

Oiya, Dampa-Bodega ini waiting list nya lumayan panjang kalo dateng diatas jam 7 malem ya. Kalo beruntung ya ndak pake antri. Kalo ndak beruntung ya minimal nunggu 30menit lah. Pertama kali dateng sih kita beruntung, besoknya kita waiting list, trus besoknya lagi kita dateng pas jam makan siang.  Seenak itu sampe kita makan disana 4 kali berturut-turut dan nggak bosen (juga hemat biaya makan juga). Lokasi juga deket hotel, tinggal jalan 10menit.

Kalo musim "dingin", banyak yang pilih makan diluar daripada dalam. Karena seger juga dan nggak mungkin bisa stay diluar kalo musim "panasnya" Dubai dateng. Nggak kebayang makan diluar disuhu 35-50 derajat. Oh iya! Pegawainya semuanya cowok dan ntah kenapa penampilan mereka seger-seger banget. Seragamnya pun fresh. Dan makanan ini katanya, asli Filipina. Dan makannya pun disuntek di meja.

PS : akulaper ngebayangin cajun 💩 rindu lah sama makanan ini errrrr gojek gojek
Share:

Minggu, 20 Januari 2019

Listening to the Audiobook

My friend told me about LibriVox. An audio book, have you heard about it?

I've heard about that but never really try it. I even wonder why people listening to the podcast. It's like a radio listening to the people talking. But now I get it why!

I am listening to the audiobook of Underwood and Flinch. It is about vampire story. The reader is the book author (not always but this book is), he makes it really nice to listen. It has 45 chapters and I am listening to the third chapter now. It is brilliant. I know it's late but it is brilliant! I can even listen to that while I am on my way to work, walking, shopping, everything. Literally like listening to the music haha! I am not really into music so this is a new option for me.




Of course, this is brilliant since I can read the book but don't really read it myself. So it's kinda cute when the reader gets so emotional and he played as male and female characters so he needs to distinguish his voice. And OH! There is also an erotic scene. I listened to this in chapter 2 and it was like errr giving you a new sensation of listening to the erotic scene. You know if you watch porn, then you can just see it and most of the time you won't care about how it sounds and focus more on the acting. But the audiobook, you hear it and you imagined it and geli 😂

This is definitely a new option for me to read a book since I can do something else while listening to it. So far, I found only books in English but maybe I just don't know yet if there are books in other languages also. Or maybe they do exist, in the different app of the audiobook.

So have you tried this?
Share: