Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Terbiasa Manja

Orang Indonesia manja?? Kata siapa?? *kata saya barusan hehe*

Selama hampir 25 tahun menjadi orang Indonesia, bisa saya katakan iya. Orang indonesia itu terbilang manja. Gimana mau nggak manja, apa2 maunya instan. Sampe jadi PNS aja maunya instan *oops rasis! Nggak semua kok, tap banyak emang*.

Kenapa saya bilang orang Indonesia itu manja? Karena yaa jarak yg bisa ditempuh 10menit berjalan kaki aja naik motor. Alasannya satu, panas! *alesan gue tuh*. Indonesia kan panas ya saudara saudari. Nah ada lagi, kalau mau laundry pakaian maunya dijemput trus ntar dianter *aku banget*. Enak kan... baju kotor udah ada yg ambil, ntar kalau bersih juga dianter, kita tinggal bayar. Murah lagi. Gimana mau nggak manja?

Orang Indonesia juga kaya2 lho. Banyak dari mereka yg memiliki asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah tangga bukan kita yg menangani melainkan asisten yg kebanyakan dibayar dibawah UMR bahkan ada yg kurang beruntung akan diberikan bonus siksaan majikan. Nah kan. Manja banget ya kita.

Sebenarnya bukan apa2, kita memang smakin lama smakin ingin memudahkan diri sendiri. Karena kadang faktor keamanan juga menjadi salah satu alasan untuk melakukan hal itu *maksudnya laundry yg dianter jemput gegara ga tau alamat laundrinya dan itu slalu malem, daripada aku diculik kan mending diambil aja*. Bisa juga faktor malas! Ahh ini memang alasan utama dari semua kenyamanan yg kita rasakan.

No problem jika kita ingin nyaman. Masalahnya, jika suatu saat kita berada pada situasi yg tidak memungkinkan untuk bermanja -manja ria apa yg akan terjadi? Tentunya bingung dan kelabakan.

Sebaiknya kita semua menjadi seorang manusia yg fleksibel bisa melakukan apapun. Ada kalanya kita bersantai ria dg melakukan smua kemanjaan duniawi tersebut, namun ada kalanya juga kita harus bersusah payah mengerjakan semuanya sendiri. Demi siapa? Demi diri sendiri juga kok. Menempa mental itu saudara saudara.

Selamat pagi selamat beraktifitas bersama orang tersayang :)

Comments

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men