Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

Hati-hati predator anak

Menguak kejahatan kepada anak2 yg makin marak terjadi. Banyak kasus kekerasan yg terjadi kepada anak2 mulai dari penculikan, kekerasan seksual hingga pembunuhan. Mengapa hal itu sering terjadi? Ah manusia jaman sekarang banyak yg mengalami 'gangguan jiwa'.

Berbagai macam motif melatarbelakangi hal tersebut, sebut saja yg paling gampang meminta tebusan uang. Lagi2 faktor ekonomi. Jika pihak korban tidak bisa memberikan uang tebusan, pelaku tak segan membunuh korbannya. Ada lagi yg menculik karena motif kelainan seksual, biasanya kasus pedofilia. Yg diinginkan hanya merasakan nikmatnya duniawi dg anak2 yg tak mengerti apa2. Ada lagi yg menculik demi menjual bagian tubuh si anak. Bayangkan, satu buah ginjal berapa ratus juta harganya?

Well... sebenarnya hal itu tidak terjadi baru2 ini saja, karena sebenarnya hal itu terjadi sejak saya masih kecil pula. Tapi saat itu motifnya lebih ke pencurian perhiasan yg dikenakan. Sejak kasus penculikan terjadi, semua perhiasan saya dilepas mama dan diganti plastik *cuman giwang aja sih, nggak pakai gelang cincin dan kalung kok*. Semua orangtua melakukan hal yg sama. Namun setelah isu mereda dan kami dirasa sudah bisa membedakan hal yg seperti itu, perhiasan kembali ke tubuh kita haha

Hanya saja, kejahatan kepada anak2 makin marak belakangan ini. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, anak2 makin mudah saja digiring untuk menuruti para predator. Selain itu kurangnya pendidikan seksual kepada anak sejak dini juga dipercaya sbg salah satu faktor yg menyebabkan mereka mudah dirayu dan dilecehkan secara seksual oleh orang. Warga kebanyakan masih berpikir jika memberikan pendidikan seksual adalah hal yg tabu. Helloooo dunia sudah semakin gila, jgn berpikir jika itu tabu. Tabu atau kehilangan anak??

Karena sejatinya pelaku kebanyakan adalah orang yg dekat disekitar anak. Hal tersebut tidak akan menimbulkan kecurigaan kepada anak sekalipun karena menganggap orang tersebut adalah orang yg dekat dengannya. Bukan mencurigai orang sekitar, namun apa salahnya jika meningkatkan kewaspadaan dari lingkungan sekitar kita.

Jaga dan beri pengertian yg mudah diterima oleh si kecil. Jika kita serius dan sayang kepada si kecil, janganlah menganggap tabu hal2 yg selalu dijadikan alasan tabu. Anak2 memiliki hak untuk hidup aman dan nyaman serta menikmati hidupnya dg bahagia.

Ayo jaga si kecil!!
Jangan lupa doa juga ya bunda :)

Comments

Popular posts from this blog

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...