Minggu, 14 Oktober 2018

Short Visit to Bentoel Museum

 

This is part of improving my photography skill. So my friend, Sunan, will be included here.




 

It was a sudden decision. So we decided to visit Bentoel Museum in Malang. It's like House of Sampoerna (which I never visit and only plan to visit but no action). Why did we want to visit this museum? Because the museum is actually the house of Bentoel's founder. Our mission lately is snapping pictures of old buildings and such around the city, as well as learning how to take beter pictures.


 
 
he is just happy and allow me to put his photo on my blog or another website and I like this shoot

There is no fee to visit this museum, it is enough to sign the guest book. And then you can explore what's inside. Actually, there are not many things inside. But the objects inside tell you about the history of the Bentoel brand and how it was founded. Ong Hok Liong used his own house as the first place to produce the cigarettes and it is located in Jalan Wiromargo (around pasar besar Malang).  He sold the cloves and tobacco that are ready to use (kretek), turns out people love it because they only needed to prepare the paper to smoke (klobot). The name of the company was Strootjesfabriek Ong Hok Liong.


When he used this old name of the company, the business was not so profitable. Then he went to Gunung Kawi to find a better name for this company and changed it into Bentoel. Bentoel brand grew bigger as it is always in the top 10 of tobacco company in Indonesia. (This is written in Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia - Emile Leushuis, as well as written in the big board in Bentoel museum)

 


There are so many photos of old times, and how this company grew up from a scratch to becoming part of British American Tobacco in 2009.

 
mesin linting. pakdhe punya beginian 

 

But what interests me more was the building. It is definitely the old building, old house, and how much I love old architecture like this. Why do I like old architecture like this? Because reminds me of the first ten years of my life when I used to live in a colonial-era house, similar like this. I was really sad when they sold our old house. So I keep looking for old architecture to get me back to my old time. Crazy huh?

 

 
I had this kind of windows with double protections

 

 
the door and window

This house is a typical old house with a big yard, big door and windows. I like the floor, the old design of the floor. Although for so many people this kind of houses are always scary but for me, it is so appealing. They always have a story in every corner of the house. Maybe, maybe if I have money I would love to build this kind of house 😍
Share:

Kamis, 04 Oktober 2018

Hoax Yang Makin Menggila

 

Kabar burung atau yang sering dikenal sekarang dengan sebutan HOAX mencapai level yang sangat melelahkan. Hoax memang sudah ada sejak dahulu kala, sejak dari awal ku mengenal HP. Hoax yang sering terjadi adalah SMS yang tersebar menggunakan nama nabi atau tuhan atau agama dan mewajibkan orang yang menerima SMS tersebut untuk menyebarkannya sebanyak puluhan kali. Jika tidak disebarkan dalam hari yang sama maka penerima pesan akan mengalami nasib buruk, bahkan meninggal dan tidak akan pernah bahagia. Serem kan?

Jadilah diriku yang masih SMP kala itu bingung sekali apa yang akan terjadi padaku dan juga orang yang kukenal jika ku tak segera broadcast pesan biadab tersebut dalam hari itu. Jikalau pulsa sedang cukup, maka sesegera mungkin kusebar. Jika tidak, yaaa segera ku berangkat beli pulsa. Bodohnya aku.

Nah, masuk SMA, ku mulai bertanya-tanya apa iya kalau pesan itu nggak disebarkan kita bisa celaka? Karena penasaran akhirnya ku tantang diriku. Tapi doa dulu dong, "Ya tuhan kalo emang nasibku baik dan buruk semua itu atas kehendakmu. Bukan karena sms sialan ini". Ketika mendapatkan pesan seperti itu, kucoba tak kusebarkan. Dan dalam jangka waktu tertentu tak ada kejadian yang membuatku terpuruk atau kejadian buruk menimpa. Smua normal. Normal sekali. Jadi ku berpikir "FFS why did I do that? Stupid!".

Dulu sih susah ya konfirmasi berita tertentu karena cyber police  masih nggak terlalu penting dan banyak. Tapi belakangan, dengan munculnya kegilaan hoax atas hal-hal konyol terciptalah cyber police (dan ini biasanya sesegera mungkin dikonfirmasi di akun Humas.pmj jika ada broadcast nyeleneh). Hoax yang rame kemaren adalah kasus RS yang katanya bonyok digebukin orang. Karena gw belajar dari pengalaman buat nggak segera percaya kabar atau pesan tertentu, jadilah gw santai aja bilang "Ya kalo emang dia digebukin, smoga pelakunya cepet ketemu dan cepet sembuh". Simpel kan?

Tapi kasusnya terbongkar terlalu cepat. Karena keesokan harinya RS mengaku itu bohong dan hoax. Alasan dihajar orang digunakan demi tidak membuat keluarganya khawatir karena hasil operasi sedot lemak (atau operasi apapun itu lah). Buat gw, gw lebih khawatir kalo tau mamak gw digebukin orang daripada tau bengkak karena operasi. Jadi menurut gw itu alasan absurd. Disaat dirinya yang dengan lantang selalu teriak tentang kabar bohong, hoax atau apapun itu tapi ternyata dia terpeleset sendiri dengan hoax yang tanpa sengaja diciptakannya sendiri.

Terlepas dari apapun alasan dibelakang RS mengaku digebuk orang, sangat disayangkan sekali ternyata jejeran orang teratas pun bisa membuat kabar bohong dan juga bisa membohongi orang-orang yang ada diatas sana. Sekali lagi, disini gw nggak tau dia beneran bikin berita bohong atau hanya intrik atau apapun itu, tapi hal ini benar-benar KONYOL.

Karena hal tersebut berkaitan dengan politik tentunya, dari kacamata pribadi gw hal ini adalah satu tindakan bego yang tidak dipikirkan rentetan yang ada di belakangnya. Yaaaa sudahlah yang jelas kita kudu jauh lebih pinter lagi dalam penggunaan IT dan tentunya lebih bijak lagi.

Buat Dokter Tompi si ahli bedah plastik, saya turut bersedih kemarin anda diserang diajarin politisi tentang hal yang menjadi ekspertise anda sendiri. Disini saya mikir, ibarat kata ada orang non eksak yang ngajarin saya gimana caranya nyari integral tingkat 3. Tapi saya tetap terhibur dengan cuitan para netijen di twitter terutama hashtag SaveRioDewanto. Karena seperti kata Netijen, kalau yang ngeluh soal mertua berarti belom pernah jadi seperti Rio Dewanto. Oh netijen ohh oh netijen

Jadi menurut gw sih, ketika kita dengar kabar yang kita sendiri nggak yakin itu bener apa nggaknya, jangan semakin memperkeruh keadaan dengan menyebarkannya plus menambah bumbu huru hara didalamnya. Karena gw yakin sih, diam lebih ok daripada menyebarkan sesuatu yang tak pasti 😁
Share: