Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Akhir-akhir ini sedang menyelesaikan bacaan Tetralogi Buru yang mana itu (menurut gw) merupakan buku wajib untuk dibaca orang Indonesia. Semacem buku sejarah tapi bentuknya nggak keliatan kalo lagi bahas sejarah. Bahkan kata Soesilo Toer aja bilang "Pram itu, bikin buku sejarah non fiksi tapi dibikin kayak fiksi. Nah yang fiksi dia bikin kayak non fiksi. Tau Minke kan? Dia itu nyata, tokoh asli, tapi Pram aja bikinnya kayak fiksi". Statement ini semakin menguatkanku mengidolakan Nyai Ontosoroh sepenuhnya. Diawal-awal emang krasa banget kebimbangan seperti "Ini buku kisahnya beneran nggak sih? Nyata nggak sih tokohnya?" Perlahan tapi pasti jadi mikir "Ah nggak lah kalo ini fiksi, semua cerita-cerita tentang negeri ini pernah gw baca dan datanya cocok kok". Penggunaan bahasanya pun cukup sekali, tidak terlalu tua tidak terlalu muda. Standar tapi tetap kerasa klasiknya. Terjemahan Bahasa Inggrisnya pun juga asik nggak kaku seperti buku-buku lawas. Ya m...