Minggu, 17 Februari 2019

Bogyoke Market

 

Masih tentang Yangon kemarin, ngomong-ngomong, Yangon ini kota yang ketika dikunjungi tuh rada susah nyari yang namanya souvenir. Gw bukan tipe orang yang suka beli-beli souvenir buat orang sekampung sih tapi gw selalu usahain beli buat orangtua gw dan juga om gw. Udah itu berdua doang, gw bahkan jarang banget beli buat gw sendiri kecuali kalo butuh dan unik. Cuma di Bangkok kemarin aja sih yang gila-gilaan belanjanya gw. Pertama kali khilaf 😁

 

Karena kegiatan belanja, beli-beli, liat-liat souvenir ini selalu nggak ada di agenda suami gw, jadilah gw slalu curi-curi waktu buat nginguk toko souvenir. Ini pertama kalinya rada susah nemuin toko souvenir ya di Yangon ini. Nggak ada tuh yang pinggir jalan toko souvenir berantakan gitu. Waktu coba cari, nemu satu yang menurut orang banyak ini pusatnya belanja barang-barang dari Myanmar.


Bogyoke Market namanya.

Pasar ini, yang kusuka tentu bangunannya dong. Bangunannya ala Inggris karena memang dibangun di masa kolonialisasi Inggris. Dulunya juga dipakai untuk pasar tapi ketika terjadi transisi kekuasaan ke Myanmar, pasar ini ganti nama jadi Bogyoke (baca : Bo cho).

 
lacquerware

Yang jadi andalan pasar ini adalah batuannya. Batu batu dari yang KW 1,2, Super hingga yang asli ada. Tapi bisa dilihat lah ya, kalo asli harus ada lisensi resminya. Dan itu, yaaa agak susah kalau belum cari yang sudah direkomendasikan. Selain batu-batuan ada juga lacquerware, ada juga longyi, banyak lah. Untuk harga lacquerware menurutku agak mahal sih, harganya sekitar 50 ribu sampai ratusan ribu tergantung besar kecil barangnya. Tapi lacquerware ini lucu gambarnya.

 


Nah gw juga dapet longyi sepasang, harganya 14ribu Kyat atau setara dengan 140ribu rupiah. Cantik longyi nya, gw bakal pake buat kondangan LOL.

Kalo mau yang lebih gampang lagi buat belanja, bisa mampir di New Bogyoke Market yang ada di seberangnya pas. Tapi disitu lebih banyak baju-baju aja sih. Gw lebih suka yang pasar lama, karena lebih krasa tuanya 😀 Lebih dapet feel heritage nya.
Share:

Kamis, 14 Februari 2019

It Is Not Chocolate's Fault!


Halo! Hari ini tanggal 14 Februari. Hari ini kelas ngajar gw penuh dari jam pagi sampe jam 8 malem dengan jeda 30 menit aja per kelasnya. Lumayan sih nggak terlalu ngotot meskipun full day.

How was your day? 

So I have been thinking of why people keep messing around with the issue of 14 Feb every year. It is not that I have nothing else to think but this is so damn interesting. It is ok not to follow what people do, or celebrating it. But do not blame the chocolate or flower as the symbol of maksiat 😋 I can't take this!

FYI I just bought my chocolate (I love Cadbury cashew nut in case you want to give me chocolate), I had 10% off (Lai Lai), even if you buy 2 big bars then you will get one free (Indomart). So thoughtful. How can you say no to this kind of discount huh?

This is a kind of big deal for most people (or let say western people). My friends asking me if I am celebrating it and I said that I barely do that. Yea how can I do that if I dont have my husband here? And they were all like "What? You never celebrate it?" So far that I remember, no. Only got a bunch of chocolate from my coworkers and that was all. And Oh favorite pain in the ass!

Maybe you people worried that the rate of free sex will get higher during 14 Feb, but oh dont you know that people do that freely even if it is not 14 Feb? Sex is the basic human rights! Is the condom selling get higher on February? Then it is a really big business. I have read that people in America spend more than 100 dollar for 14 Feb, to celebrate it. Chocolates and flowers prices are getting more expensive during this day and that is why my friend told me that he is happy enough to be a single right now so he can save money LOL.

Nas Daily once made the video about this and said that 14 February is a big business. They sell chocolates, flowers, everything related to love~valentine things. And they earn a lot! Interesting right?

But I wonder why they put discount on the chocolate here if it is a big business?

Well anyway, I bought myself a bar of chocolate not because I want to celebrate but I am craving for chocolate suddenly (as well as craving for sex and attention and cuddle LOL!). But wait a minute, what is so wrong with me celebrate it? Nada!

For you who are celebrating it, please enjoy it. For you who does not, then dont bother the ones who enjoy it 😂 As simple as that haha!

Have a good weekend ahead 
Share:

Anak Cashless


Gw pengguna OVO, Go-pay, dan banyak segala kegiatan cashless lainnya. Seorang kolega pun bertanya tentang kegiatan cashless ini dan gw dengan enaknya aja jelasin kan. Termasuk di dalamnya segala kegiatan perbankan dengan berbagai kartu dan jenisnya dan enak nggak enaknya. Disitu juga berbagai macam jenis investasi dan beberapa pos penting yang harus dimiliki.

Eh kok ya, disuatu sore yang ramai, tiba-tiba dari jarak 2 meter dia cerita tentang cashless ini ke kolega lainnya dan menyebutkan "Takoko Prisca talah, de e paham banget ngene iki" yang artinya "Tanya aja Prisca, dia paham bener urusan ginian"

LAH! Nama gw disebut-sebut eh?

Trus gw baru sadar gitu, kok bisa ya dompet gw tebel kartu-kartu gitu, HP penuh aplikasi cashless. Emang sih, cashless itu enak banget. Selama ini sih emang enak banget buat gw karena gw bukan tipe orang yang suka nyimpen duit banyak di dompet. Tinggal tap tap klik klik udah deh kebayar. Bayarnya penuh pula. Kalo sabun harganya 5,315 rupiah ya bayarnya bisa penuh segitu. Jadi nggak pake alesan "yang 200 disumbangkan ya?". Bukan berati ga mau nyumbang ya, tapi kalo nyumbang pun pengen kejelasan dan customer berhak dapet kejelasan dong.

Cuma ya pembayaran cashless begini ini biasanya sangat tergantung dengan sistem, sangat. Bisa jadi hapenya yang ga responding, bisa juga sinyalnya yang ewww, bisa juga sistem utamanya sana yang 404. Semua tentu ada pros cons nya. Jadi nggak serta merta kalo cashless ini enak juga.

Tapi yaaaaa kalo beli bakso cambah di gerbang UM Jalan Semarang, emangnya udah pake OVO abangnya? 😃

Kamu lebih demen cashless apa bayar manual?

Btw, cuma anak UM dan sekitarnya yang tau tentang Bakso cambah UM 😂
Share:

Rabu, 13 Februari 2019

Pake Jenius

 

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta kartu Starbucks nya.

Btw, Jenius ini enak banget sumpah. Barusan gw coba pake beli lagu di itunes, pake fasilitas semi kartu kreditnya ini. Eh bisa. Jadi gw ga perlu pake kartu kredit gw, tinggal pake kartu e-card nya dan di top up sesuai kebutuhan. Jadi nggak takut di pake orang lain karena baru bisa dipake kalo ada saldonya. Ah enak deh pokoknya. Ini semacem debit card nya luar negeri. Debit card Indonesia kan masih belum terlalu mampu dijadikan seperti kartu kredit untuk pembayaran beberapa hal. Nah kalo yang ini bisa. Terbantu banget gw bisa pake ini. Positifnya kita bisa set limit kita sesuai jumlah duit yang kita punya, jadi nggak seperti kartu kredit yang bisa "ngutang" dulu. Ini jadi solusi orang yang nggak pengen punya kartu kredit tapi perlu kartu kredit untuk pembayaran (biasanya pembayaran global).

Dibalik kartunya ini ada nomer CVV yang karena itulah bisa difungsikan seperti kartu kredit. Berlaku pula untuk e-card nya. 

Kalo soal bebas biaya bulanan dan transfer sih, sejauh ini oke ya. Siapa yang nggak suka gratisan hayo? Bebas biaya tarik tunai juga di ATM manapun. Bisa sampai nol juga. Nggak ada limitnya. Jadi ya sejauh ini kusuka banget kartu ini.

 Don't put all your eggs in one basket

Jenius ini bagian dari bank digitalnya BTPN, yang menurut gw pinter banget strategi marketingnya (kalo sampe gw kepincut berarti pinter banget marketernya). Dan sejauh ini emang kartunya representable banget. Bisa request dengan mudah 4 kartu tambahan lainnya yang bisa kan dibikin pos-pos pengeluaran terpisah. Bisa dikontrol dari aplikasi, bisa di blokir dan diaktifkan dengan beberapa kali klik. Gini gw jadi mikir buat non aktifin beberapa kartu gw.

    

Karena bank nya digital, jadi untuk ngisi duitnya ya harus transfer. Nggak terima duit cash katanya. Tapi karena semua aktifitas perbankanku pake transfer ya udah oke oke aja. Katanya pula beban ongkir dari kartu kita yang lain katanya sih ongkosnya dibalikin gitu. Tapi ku tak tau ya. Ku tak begitu mendalaminya hoho!

Nah katanya nih kalo dipake diluar negeri juga lebih enak. Aku penasaran kan jadinya. Ntar deh kalo keluar negeri pengen cobain kartu ini beneran lebih nyaman dan mudah nggak.

Tulisan ini nggak dibayar, karena kalo gw demen banget dan bener-bener rekomendasikan barang bagus pasti gw bisa tiba-tiba jadi marketer hoho!
Share:

Selasa, 12 Februari 2019

Workout

 

Dulu liat orang workout ato ke gym tiap hari gitu mikir "Ngapain sih susah amat begitu. Nggak capek apa?" Tapi setelah kujalani sendiri, uh lalaaa, enak sekali ternyata.

Tipe-tipe males olahraga kek gw gini harus cobain workout 25 minutes. 25 menit aja cukup. Ada banyak kok tuntunan video workout, tinggal pilih mana yang cocok. Gw ikutin T25mins si Shaun T. Nah si hari pertama kan kardio ya, itu 25 menit aja udah gila keringetnya.

Tapi... setelah hari pertama kalo badan udah lama vakum ya jangan protes kalo bakal sakit-sakit semua sampe 3 hari. Temen gw bilang itu namanya DOMS (Delayed Onset Muscles Soreness), efek abis workout. Karena workout itu kan sebenernya ototnya "dirusak" jadi kalo hari pertama udah kardio hari kedua ga boleh kardio juga. Harus ganti yang di latih bagian yang lain. Kalau di T25 sih Kardio, Speed 1.0, Total Body Circuit, AB Intervals, apa lagi ya kalo jumat ini biasanya dua kali workout yang tentunya nggak gw lakuin dong. Karena menggemaskan lelahnya.

Temen gw nih yang nyuruh banget. Kalo gw berkelit udah dipelototin, "KATANYA PENGEN FIT?!" Ya tuhan ini anak manusia jahat banget. Tapi ya gimana lagi kalo nggak gitu ya emang malah ga olahraga. Jadi ya biasanya sih abis kerja gw workout, jam 9an atau jam 10an gitu work out.

Bersyukur sih ada yang maksa workout. Gw sadar gw nggak suka dipaksa tapi untuk perkara workout gw bersyukur banget ada yang maksa. Dan setelah masuk minggu kedua ini gw udah mulai krasa aneh kalo nggak workout sehari haha! Udah mulai terbiasa dan itu ternyata enak banget.

Cuma 25 menit sehari, nggak lebih lama dari bikin satu tulisan di blog juga kan?

Jadi, kamu workout juga nggak?
Share:

Songs Recently

I am not really listening into music. So I actually dont know much about it. But recently I am listening to these songs. Tennessee Whiskey and Blue aint your color is the country songs, while Nobody is R&B song.

Tennesee Whiskey by Chris Stapleton

Nobody by Keith Sweat
this is a very sensual song 😃

Blue Ain't Your Color by Keith Urban

Share:

Senin, 11 Februari 2019

Pendidikan Seksual Masih Tabu?

Sempol

Kalau mendengar kata seksual, banyak orang yang masih tabu untuk bahkan mengucapkannya. Padahal pendidikan seksual sudah harus dikenalkan ke anak sejak dini. Lho Kan anak kecil masih nggak paham? YA caranya dong! Masa iya anak 5 taun tiba tiba dibilang jangan have sex sebelum waktunya. Kan ya nggak mungkin.

Beberapa tahun lalu, anak manager gw masih umur 5 tahun. Lagi gemes gemesnya dan dia cinta banget sama gw. Dia pasti bilang kalau dia pacar gw. Nah karena sesuatu hal, gw tepok lah pantatnya itu. Dia tiba tiba bilang jangan pukul pantatku, lari ke mamanya dan bilang kalo pantatnya abis gw tepok. Besoknya mamanya bilang ke gw "Pris, si kakak bilang kalo pantatnya abis lu tepok. Katanya kamu disuruh bilangin kalo itu nggak boleh". OMG really? Ya emang karena mamanya udah pernah bilang ke si kakak kalau ada orang yang pegang pantat, titit, maupun badan dia terutama bagian yang sensitif tanpa ijin dari pemilik tubuhnya, kamu harus lawan dan nggak boleh diem aja. Meskipun itu mama papa tetep nggak boleh kalo tanpa ijin kamu. Jangan lupa juga buat lapor mama papa kalo ada yang begitu.

Wah beneran di praktekin dong. Meskipun gw yang waktu itu dianggap sebagai pacarnya, gw tetep dilaporin mamanya waktu gw tebok pantat dia LOL. Ceritanya disini.

Nah itu kan sudah merupakan salah satu pendidikan seksual yang diterapkan ke anak sejak usia dini. Bukan perkara tiba tiba melarang tidak boleh berhubungan seksual saat anak usia lima tahun. Namanya juga pendidikan, wong belajar matematika aja dimulai dari belajar angka sampai pada akhirnya SMA belajar tentang integral. Baby step dong.

Perkaranya masih banyak orangtua yang merasa tabu untuk memberikan pandangan tentang seksual kepada anak. Akibatnya? Ya tuh banyak anak hamil diluar nikah yang tanpa tau resiko tapi karena kepo akhirnya mencobanya. Bisa jadi juga mereka sudah tau resikonya bisa hamil atau tertular penyakit kelamin, tapi namanya orang kalo ngelakuin sesuatu diam diam tuh biasanya lebih wow rasanya.

Perkara having sex sebelum atau sesudah nikah itu hak kalian ya. Yang jelas buat gw, saran gw, lakukan hubungan itu saat kalian sudah siap secara mental. Nggak siap secara mental meskipun sudah menikah malah fatal akibatnya. Bisa jadi trauma. Beri tau aja soal berhubungan intim yang aman, ini maksudnya sebelum melakukan dengan seseorang kalian harus tau apakah dia membawa STD atau tidak. Siapa juga yang mau kan ditulari penyakit seksual. Gw sebelum sama suami gw, pertama gw tanya dulu soal itu. Karena itu penting. Jangan mentang mentang karena cinta trus oke oke aja ditularin. Iya kalo sama sama cintanya, nah kalo yang satu brengsek dan cuma pengen nularin sakit aja? Yang rugi juga kalian.

Bisa jadi banyak orangtua yang malu menceritakan tentang hal tersebut dan beranggapan "Ah ntar juga udah tau sendiri pas udah gede" Ya masalahnya banyak yang sok merasa dewasa saat mereka baru di usia 17. Iya gw dulu juga gitu, begitu nginjek 17 tahun dapet KTP udah ngerasa jagoan aja. "Gw udah dewasa nih!". Tapi naif lol

Berkaca dari diri sendiri, dan diri teman teman, gw pernah punya temen yang udah praktek dan kebobolan akhirnya keluar dari sekolah. Dari situ gw mikir, "Kalo gw ngelakuin sekarang, trus gw yang minim informasi soal penyakit menular dan cara mencegah kehamilan, trus gw kebobolan, berarti gw harus jadi mama muda yang bego soal apa2 trus ntar gimana cara gw didik anak gw kalo gw sendiri aja belom bisa mendidik diri gw sendiri?". That was my thoughts. Yang padahal juga nggak bakal ngelakuinnya juga karena ya ngapain, belom siap dan belum mau. Dipaksapun nggak bakal mempan, nggak akan luluh kecuali pas emang siap dan mau. Dan tentunya belum tau rasanya makanya nggak ketagihan. 

Gw mikir aja gw punya the rest of my life untuk berhubungan badan sama partner gw ntar. Yang penting sekarang gw didik diri gw sendiri lah. Kalau gw sendiri nggak pinter ya anak anak gw ntar nggak bisa gw didik dengan benar dong!

Jadi disini sekali lagi gw nggak larang kapan kalian mau have sex, gw juga nggak encourage kalian buat have sex sebelum nikah, yang penting lakukan dengan hati hati, lakukan ketika kalian sudah siap, lakukan ketika kalian sudah tau resikonya apa. Jangan maunya enaena aja tapi pas kebobolan eh dibuang bayinya. Kesian tau!

Be responsible on what you are doing!
Share:

Senin, 04 Februari 2019

Cant Stand The Crowds


I am not a party person. I hate loud music, loud voice, everything loud I hate that. This is the reason I hate to go to the night clubs. For what? Party? Dancing? Drinking? Then what? Going home with a super headache head? If I go to the place like that, my introvert side will pop up and make me tired in no time.

My friends in Surabaya once took me to a night club. I thought hmm okay why not, lets see what will happen there. But nah, I did not enjoy any moments of it. It was fun to be with them, but I did not enjoy the music or whatever crowds was. But that kind of loud music I can handle if it is only one source of loud music. What I cant handle is when I am in the middle of crowds with so many sources of voice (although it is not loud but crowded), that is the worse. Worse ever.

When we were in Istanbul, there was an underpass filled with so many vendors, countless people, so noisy, too crowded, so many languages spoken there, too hot, it is even make me feel tired by thinking about that again now. The underpass was not that far, probably less than 50 meters. But it took ages for me to pass it. I could not handle it. Covered my ears, walked fast, and once I made it to the end of the underpass, I sat in the corner and cried. I really cried. It was too much that I cant handle ever.

My husband of course did not understand why I cried. Maybe he thought that I was just exaggerate it. I can imagine if he cant understand it. I cant control myself even after I got out. It was really too much. I also did not understand why I cried, but lately I think about it and it is probably because I have a little bit of me being introvert. My husband can handle it, but I cant.

Once we passed it, I was too afraid to go back there and walk through the underpass again. I did not exaggerate it, it was too scary for me to go back again. But eh we walked through it again and I took a very deep breathe then walk in a not~very quick steps but did not stop. I control my pace so I can survive. After a few minutes I survived. I almost cried again but I can handle it. I just stopped, stood for awhile, taking breathe before continue the walk. Then I got ice cream to chill myself.

Today, I had my Nederland class, she suddenly act exactly like me when I am in the middle of the crowds. We had a really tough morning, this morning kinda busy with classes in the second floor so can you imagine the voices of people speaking English, Nederland, Japanese, I even mumbling myself with Korean, in one place? That was hard. It influence me and made me cant focus on my first 15 mins. We closed the door and said that we cant handle this crowds. The noise from every sources in one place is killing us. It may sounds childish, but every people has its own problem.

I found a way to control my feelings. When I go to the crowds place unintentionally, I always have my headphone with me and I choose to listen to the songs or audiobook, a bit louder. So what comes from my headphone will beat the crowds. So far it helps. 

So when you are with someone who cant handle this situation, do not get mad. They probably struggling inside to deal with it. Ask them, and take them to a less crowd place to take a breathe and control their feeling inside. It helps a lot.
Share:

Sabtu, 02 Februari 2019

Books in 2019

So I have a list of books that I want to read. I do have a pile of unread books at the bookshelves but I dont see why not of buying reading something new and fresh 😎

Here is the books I want to finish in 2019 :

Arok Dedes by Pramoedya Ananta Toer



Becoming by Michele Obama


Dunia Sophie by Jostein Gaarder (I have this years ago but havent finish it yet)



Underwood and Flinch by Mike Bennett (have the audio book already)

What other books you can recommend me to read this year? I need some recommendations
Share:

Love~Hate Tinggal di Surabaya

 

Dulu, dulu banget, gw benci sama yang namanya Surabaya. Airnya nggak seger, udaranya kotor, gotnya ampun bau bener, nyamuknya ganas, tikusnya segede kucing, tata kotanya nggak karuan berantakannya, panasnya ngalahin Jakarta, ampun lah. Nggak akan pernah mau kalo diajak ke Surabaya dari dulu. Nggak sanggup.

Tapi nasib berkata lain, 2 tahun lalu kusempatkan diri tinggal di kota ini, selama hampir dua tahun. Kota yang dulunya kubenci, lambat laun mulai kucintai. Terutama ketika Bu Risma, si ibunya wong Suroboyo ini memegang kendali Surabaya. Surabaya begitu berbeda, ntah berapa ratus derajat.

Rumah kos desain kolonial, membuatku betah disana. Ah aura setiap rumah memang berbeda. Hati yang memilih. Tak bisa dipungkiri. Terutama setelah berkencan dengan suami yang pecinta sejarah dan bangunan kolonial, smakin ku menyadari ternyata Surabaya itu spesial dengan segala rupanya yang sedang berbenah.

Salah satu hal paling berkesan buat gw selama gw di Surabaya adalah tidak keringnya seragam kerja gw yang semaleman dijemur diluar, tapi hanya butuh satu jam diungkep dalam kamar. Satu jam, exactly satu jam, seragam itu kering dan bisa dipakai. Durasi pengeringan mulai dari jam 6 hingga jam 7 pagi dan gw berangkat kerja jam 7.30 dengan seragam yang kering hanya dalam waktu satu jam. Ntah itu karena saking tipisnya seragam atau saking panasnya Surabaya 😁


Setelah meninggalkan Surabaya, kurasakan aku sangat merindukannya. Suroboyo Bus yang naiknya pake botol plastik, daerah Tunjungan yang semakin asri berbenah dan direstorasi, rumah kos beserta penghuninya, pentol gila yang hanya ada di Surabaya, Royal Plaza yang sumpeknya minta ampun pas weekend, frontage Ayani yang salah belok 3 cm aja udah diklakson sampe bikin jantungan, berangkat kerja seger bersih wangi sampe kantor yang cuma 10 menit jauhnya berbasah basah keringat pagi hari, lalapan cak gondrong di Kutisari, Kutisari kosku, kenangan ketika berkencan, Hotel Majapahit, semua makanan enak yang super murah dijual ditempat yang tak terduga, semua hal yang berhubungan dengan Surabaya, aku merindukannya.

Mungkin ini benar adanya, bahwa :

You will realize how important something (someone) is when it is gone.

Dari seorang yang lagi rindu Surabaya karena merasa Malang sedang sumpek sumpeknya 😄
Share:

Jumat, 01 Februari 2019

Catatan Pengajar Homescholing


Homescholing mulai menjadi satu pilihan akhir akhir ini. Kebutuhan akan homeschooling dirasakan menjadi mendesak kala seorang siswa merasa dirinya tidak bisa lagi keep up  dengan keadaan yang ada di sekolah dengan berbagai alasan seperti kemampuan menangkap materi yang sangat lambat, faktor kesehatan, faktor bullying, kasus yang terjadi disekolah hingga kasus drop out dan lain sebagainya.

Dulu banyak yang merasa kalau homeschooling adalah suatu hal yang aneh karena ya kasian aja anaknya nggak bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang lain atau teman temannya. Tapi masalahnya, biasanya temannya yang menyebabkan mereka minder. Percaya nggak sih, mungkin dulu gw juga pernah bully orang secara sengaja atau nggak sengaja yang menyebabkan mereka merasa dirinya lemah. Mungkin banyak dari kita pernah melakukan perisakan kepada teman kita dulu, tanpa kita sadari kita anggap mereka mampu menerimanya padahal tidak semua orang bermental baja. Bisa jadi. Jadi jangan kemudian beranggapan kalau anak tidak bisa bersosialisasi kalau tidak di sekolah normal.

Salah satu murid HS gw memang sungguh spesial. Hanya orang yang kuat dan suka mengajar yang akan mampu bertahan. Meskipun dia lambat di pelajaran normal, dia ikut kegiatan ekstra seperti badminton. Klub badminton menjadi pilihannya dan dia sangat suka dengan kegiatan badminton. Apakah dia bermain sendiri? tentu tidak. Dia bersosialisasi dengan banyak orang.

Kebutuhan akan homeschooling meningkat akhir ini dan menyebabkan tanya diantara kita 'Kenapa ya? Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan kita?' Bisa jadi. Murid terlalu banyak mempelajari hal yang diluar kemauan dan kebutuhannya menyebabkan mereka tidak bisa keep up dengan segala kegiatan di sekolah umum.

Karena sekolahnya dirumah, atau dengan kata lain diluar sekolah formal, orangtua harus pintar dalam mencari pengajar yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan siswanya. Eh jangan salah ya, homeschooling tidak melulu karena telat menangkap materi tapi ada juga yang homeschooling karena terlalu pintar dan selalu ingin lebih memuaskan hasrat belajarnya.

Seorang teman mengisahkan kekhawatirannya akan bagaimana anaknya nanti jika sekolah di sekolah umum. Seketika pun aku berceloteh 'Why bother with being ordinary if you can be extraordinary?' Kalau sekolah umum tidak memuaskanmu, homeschooling aja. Toh nggak ada buruknya juga. Semuanya tergantung preferensi dan kebutuhan kamu nantinya.

Keuntungannya ya dengan homeschooling, siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya dan memiliki waktu lebih untuk berkembang. Sapa tau nanti jadi seorang yang bekerja dari hobinya. Ya ndak?

Konsekuensinya, homeschooling itu lebih mahal karena bayarnya per pertemuan sama seperti les. Satu bulan saja bisa diatas 1,5juta. Jadi tetap kembali lagi ke preferensi dan kebutuhan masing masing orang. Jika dirasa tak mampu, ya usahakan gimana caranya bisa keep up disekolah formal.

Sekolah di sekolah formal maupun homeschooling sama sama bagusnya kok. Tinggal yang paling pas dihati dan dikantong yang mana aja. Tinggal pilih aja. Jadi balik lagi sesuai kemampuan juga. Dan yang terpenting adalah soal bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Begitu.

Udah gitu aja. Catatan dari seorang pengajar homeschooling matematika 😃

Eh btw, gambar diatas udah representatif kek Najwa Shihab Belom???? 😂
Share:

Netflix Series To Watch

Netflix itu racun. Ya gimana, distraksi terbesar dalam melakukan apapun dong. Seriesnya bagus-bagus. Nah beberapa ini series yang seru banget buat ditonton.

Kim's Convenience 


Series yang ini ceritanya tentang keluarga Korea yang migrasi ke Amerika dulu kala. Jadi gaya ngomongnya yang manggil bapak dan ibunya dengan sebutan ala Korea sedangkan kedua anaknya nggak terlalu bisa bicara bahasa Korea. Mereka punya toko yang nggak pernah tutup sama sekali.

Lucunya, si bapak ini benci banget sama Jepang karena jaman dulu pas penjajahan waktu dia masih kecil dan merasakan akhir dari masa pendudukan Jepang. Ada mobil parkir depan tokonya kalau toyota daihatsu atau merk Jepang lainnya, suruh lapor polisi. Tapi kalau merk Hyundai, KIA gapapa 😂 Bapaknya ini patriaki sekali. Sedangkan anak-anaknya tumbuh dan besar di Amerika yang otomatis membentuk pergaulan dan cara pikir ala Amerika pada umumnya, bukan Asia.

Konfliknya seru. Ringan, kehidupan sehari-hari. Cuma yang kadang bikin nggak nyaman gimana cara mereka ngomong bahasa Korea yang terkesan dipaksakan. Karena ya mungkin karena si bapak dan ibu ini meskipun ada darah Korea tapi mereka besar di Kanada. Gaya bicara bahasa Inggrisnya pun untuk mereka berdua masih sangat Korea-English dengan medok ala Korea nya.

Udah masuk season 3 nih 

Sex Education

 
Maeve - Otis - Eric 
Eric (sahabatnya Otis dari kecil) yang gay

Ini series setting British dengan logat British tentunya. Mamanya si Otis ini adalah seorang sex counselor. Masalah utama Otis ini ndak bisa masturbasi, bisa dibilang dia memiliki ketakutan akan seks karena trauma. Nah gw suka banget sama Maeve, seorang jenius yang secara nggak sengaja discover skill nya Otis untuk jadi "counselor" dan dijadiin bisnis lah sama dia. Otis sih akhirnya ada rasa sama Maeve, tapi eh Maeve nya nggak sadar aja. Coba deh nonton. Seru. Ceritanya anak SMA sih tapi agak beda ya karena SMA sana nggak sama kek SMA sini lol.

Ada banyak scene ranjang dong. Tapi nanti lebih ke penyelesaian masalah yang penyebab utamanya sesungguhnya adalah soal komunikasi dan mengkomunikasikan apa yang kita inginkan. Bagus deh. Baru mau masuk season 2.


Grace and Frankie

 

Nah kalo yang ini sungguh konyol. Ceritanya tentang 2 orang istri (mereka berdua berteman tapi nggak terlalu dekat juga, bahkan agak saling benci) usia 70 tahunan yang diceraikan suaminya yang ternyata kedua suaminya saling cinta selama 20 tahun. Jadi kedua suami ini menyembunyikan jati diri gay nya ini selama puluhan tahun dan akhirnya mereka sepakat menceraikan istri-istri mereka, si Grace dan Frankie ini.

Nah karena si suami tinggal bersama, akhirnya Grace dan Frankie merasa saling "membutuhkan sandaran" karena baru saja mengalami kejadian buruk di saat bersamaan, jadilah mereka tinggal bersama. Nah drama-drama setelah perceraian ini yang lucu.

Bayangkan lah gimana gilanya dua orang wanita tua yang tinggal bersama, baru saja menjanda, mencoba untuk bangkit lagi. Dan hey they are not young anymore. Serunya disitu sih.

Udah ada 5 season, dan aku baru nonton satu season.

Tapi dua series ini bukan cerita tentang gay kehidupan orang gay gimana gitu. Set gay cuma buat bumbu aja. Tapi buat yang anti gay ya ndak usah ditonton series ini kalau nda nyaman 😃 
Share:

2019 January Well Spent


I plan nothing for 2019. I do have plans but I dont write it down, just let it be a secret and I will write them down when they are accomplished. But I always plan to be a better person (of course). So remaining plans I had on my 2018 was doing sport regularly (become healthier) and able to speak Dutch. Nah, I did no sport last year.

So here I am, spent my January by starting to take my Dutch class seriously, and last night I did my 25 mins workout. Ugh it was killing! My legs and butt are so sore today. But I felt lighter after did the workout. So I guess that is a good feeling eh?

It is all about consistency

January well spent. Being so busy with classes from 8 to 8. Crazy month. Busy asf. So many reports to be done, learning Dutch seriously, have to prepare myself for Korean test in a few months, writing more, learn photography more, read more books and audiobook, listening to the podcast also. I am busy man! I am making myself busy! 😎

Books I want to read for February will be Arok Dedes ~ Pramoedya and Becoming ~ Michele Obama.

I am so happy that I seriously starting my Dutch class and doing this workout. I hope that this year I will be able to talk to my parents in law in Dutch, and consistent in doing the sport or workout. And hey! Be sexier ! LOL
Share: