Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Hargai hak cipta

Dulu saat mengambil data dari internet, saya tidak pernah mencantumkan sumbernya. Tidak pernah saya kutip karena memang saya malas menuliskan kutipannya. Sampai pada akhirnya seorang guru terkesan dengan presentasi kelompok saya dan menanyakan “dapat dari mana kamu Pris ini?”, saya jawab dengan gampang, “Internet bu”. Ehh ibunya nyolot “Ya internet itu kan banyak, yg spesifik dong. Lain kali tulis sumbernya, kalau orang lain pengen cari kan gampang. Jadi bisa dapat sumber yg bagus juga”.

Nahh.. yang selanjutnya adalah menuliskan kutipan di skripsi. Menulis kutipan di skripsi itu benar-benar menyebalkan. Karena harus mecicili  sampai detail terkecil. Mengingat kampusku dulu adalah kampus yang super teliti dengan hak cipta, jadilah setiap kali dapat di internet tidak bisa serta merta asal ambil saja. harus ditelisik hingga akar-akarnya. Alhasil saya berbulan-bulan cuman melototi sumber referensi *lupa isi skripsi*.

Dan itupun terjadi ketika saya menulis blog ini. Dulunya saat saya mengambil tulisan orang lain, atau gambar orang lain, jarang saya cantumkan sumbernya. Tapi untung saja kebanyakan foto disini adalah sumber pribadi. Jadi nggak perlu mencicili lagi untuk mengedit tulisan lama.

Tapi sejak itu saya jadi terbiasa untuk mencantumkan sumber referensi. Karena referensi itu sangat menolong kita untuk membuktikan bahwa omongan kita bukan bualan semata. Dan orang tidak akan bisa membantah perkataan kita yang ada buktinya. Jadilah kita aman.

Selain itu, kita menghargai hak cipta orang lain. Saya juga pernah merasa “Gimana kalau tulisan kita yang diambil orang lain tanpa mencantumkan sumber aslinya?”. Agak sedih ya. Karena jika orang lain membaca karya kita yang ada di laman orang lain, dan dilain kesempatan pembaca tersebut menemukan tulisan kita, ujung-ujungnya mereka mikir “Ah ni orang jiplak tulisan orang itu”. Padahal tulisan kita yang original.

Oleh karena itu seyogyanya kita harus mencantumkan sumber asli jika kita memang merefer pada karya tersebut. Hargai hak cipta karya anak negeri. Dengan menghargai hak cipta orang lain, kita tidak akan kehilangan apapun kok. Jangan jadi maling lah ya yang suka ambil punya orang lain tanpa ijin. Malah kita menjadi orang yang spesial karena menghargai orang lain adalah sama dengan menghargai diri sendiri.

Have a nice day :)

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Tentukan Jangka Waktu Investasi

Seperti Ganesha bukan? Dewa ilmu pengetahuan dan lambang kecerdasan. Favorit gw. Tapi ini speaker sih 😆   "Aku mau investasi" "Oke bentuknya apa dan berapa lama?" "Hmm ya pokoknya apa lah yang cocok buatku" Ya you kira I dukun? Selain menentukan profil resiko , acara yang perlu untuk dipikirkan adalah menentukan berapa lama jangka waktu investasi. Ada yang membagi kedalam dua kategori yaitu pendek dan panjang, ada pula yang membaginya ke tiga kategori yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Nah kebutuhan ini hanya investor yang tahu. Tentunya tiap orang nggak bisa disamakan kebutuhannya.  Jangka pendek biasanya berkisar tidak lebih dari 5 tahun. Biasanya deposito dan obligasi dimasukkan dalam kategori ini. Biasanya yang jangka pendek ini selalu mendapat return pasti, karena selalu pasti jadi resikonya sangat rendah sekali. Kemudian jangan lupa untuk mengecek apakah return yang ditawarkan masih mampu untuk menghalau laju inflasi untuk beberapa tahun ...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...