Skip to main content

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

[Movie review] Copy of my mind

Akhir bulan tiba-tiba keinget kalau punya janji nonton bareng si kembaran. Ada satu film Indonesia yg udah dapet 3 penghargaan diluar negeri. Jadi yaa oke lah, coba deh nonton ini. Copy of my mind.

Diperankan Chico Jericho dan Tara Basro. Durasinya lama menurutku sih, karena nonton selama 2 jam dari jam 14.25 sampai jam 16.25. A film by Joko Anwar menceritakan tentang si Alek pembuat subtitle film bajakan dan si Sari yg kerja di salon. Karena si Sari yg doyan banget nonton film, jadilah dia suka beli film bajakan yg akhirnya ngebuat mereka berdua terlibat seklumit kisah ranjang.

Menurut sinopsis, film ini nyeritain tentang mereka berdua yg kemudian nemuin video anggota dewan atau apalah itu namanya sama mafia hukum diskusi tentang suap menyuap untuk sesuatu. Videonya ditemuin Sari di sel tahanan si Ibu Mirna, mafia hukum ini. Yg bikin saya heran nih, di sel tahanan khusus itu Ibu Mirna punya ruangan lebih mirip seperti kos-kos an daripada penjara pada umumnya. Ruang kamar yg memiliki kamar mandi dalam, difasilitasi tv dan perangkatnya, lengkap dah bahkan sampai facial aja bisa tiap minggu. Canggih kan. Saya jadi mikir, masa iya sih ada sel tahanan macem begini di penjara2??? Kok mereka enak banget ya? Bukannya tahanan harusnya tujuannya bikin mereka sengsara dan tobat?? Entahlah, bukan ahlinya..

Ketika melihat film ini, saya mikir, ini film lamaaaaa banget. Lama di pencitraan Alek dan Sari ini. Kesannya jadi bertele-tele begitu. Membuang banyak waktu pada mereka berdua. Kecuali kalau memang sutradara menginginkan fokusnya pada sejoli ini. Karena kasus yg soal video suap menyuap tadi hanya berlangsung sekitar 30menit akhir dan endingnya pun menurut saya dan teman saya yg nonton itu masih sedikit gantung. Atau memang dibikin begitu ya??

Ehh iya... ada adegan ranjangnya juga yg nggak disensor. Nggak keliatan sihhh tapi menurut saya, itu tumben-tumbenan film indonesia bisa ada adegan ranjang begitu ya? Sempet mikir tapi daripada mikir ya mndin dinikmati aja kali yaaa... FYI badannya Chico Jeriko itu bagus juga ternyta ya hahaha

Film ini benar-benar ambil seting Jakarta yg nyempiiiillll banget. Jadi ingat kos yg sempat saya tinggali selama 2 hari di Jakarta. Benar-benar orang Jakarta yg keliatan sebenernya. Bukan Jakarta yg dilihat sebagai kaum parlente.

Yang saya suka dari film ini, settingnya. Setingnya benar-benar alami kehidupan sehari-hari dengan macetnya Jakarta, ruwetnya Jakarta, dan benar-benar kehidupan 'penguasa'yg jika diusik bisa menyewa pembunuh bayaran. Ok thats a life yg bener-bener nyata menurut sudut pandang saya sebagai penonton.

Overall, film ini menurut kacamata saya cukup bagus meskipun endingnya gantung. Karakter Alek itu bener-bener cowo jantan, dan Sari itu cewe yg cukup tegar di kerasnya Jakarta. Ngebayangin hidup sendirian di Jakarta ala film itu, mungkin saya nggak bakal sanggup.

Ok, I think this is an ok movie. It must be a very good movie since this movie got 3 awards abroad. Kalau penasaran, ya nonton sana ya.. ini kan hanya dari sudut pandang saya. So yea, for me it is an ok movie. Yang pasti Chico Jeriko nya ganteng. Udah itu pasti dah hahaha


Picture taken from internet



*Pulang nonton, ehhh Surabaya banjir dimana-mana. Kayaknya sih deres banget ujannya*

Comments

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad