Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

[Movie review] Copy of my mind

Akhir bulan tiba-tiba keinget kalau punya janji nonton bareng si kembaran. Ada satu film Indonesia yg udah dapet 3 penghargaan diluar negeri. Jadi yaa oke lah, coba deh nonton ini. Copy of my mind.

Diperankan Chico Jericho dan Tara Basro. Durasinya lama menurutku sih, karena nonton selama 2 jam dari jam 14.25 sampai jam 16.25. A film by Joko Anwar menceritakan tentang si Alek pembuat subtitle film bajakan dan si Sari yg kerja di salon. Karena si Sari yg doyan banget nonton film, jadilah dia suka beli film bajakan yg akhirnya ngebuat mereka berdua terlibat seklumit kisah ranjang.

Menurut sinopsis, film ini nyeritain tentang mereka berdua yg kemudian nemuin video anggota dewan atau apalah itu namanya sama mafia hukum diskusi tentang suap menyuap untuk sesuatu. Videonya ditemuin Sari di sel tahanan si Ibu Mirna, mafia hukum ini. Yg bikin saya heran nih, di sel tahanan khusus itu Ibu Mirna punya ruangan lebih mirip seperti kos-kos an daripada penjara pada umumnya. Ruang kamar yg memiliki kamar mandi dalam, difasilitasi tv dan perangkatnya, lengkap dah bahkan sampai facial aja bisa tiap minggu. Canggih kan. Saya jadi mikir, masa iya sih ada sel tahanan macem begini di penjara2??? Kok mereka enak banget ya? Bukannya tahanan harusnya tujuannya bikin mereka sengsara dan tobat?? Entahlah, bukan ahlinya..

Ketika melihat film ini, saya mikir, ini film lamaaaaa banget. Lama di pencitraan Alek dan Sari ini. Kesannya jadi bertele-tele begitu. Membuang banyak waktu pada mereka berdua. Kecuali kalau memang sutradara menginginkan fokusnya pada sejoli ini. Karena kasus yg soal video suap menyuap tadi hanya berlangsung sekitar 30menit akhir dan endingnya pun menurut saya dan teman saya yg nonton itu masih sedikit gantung. Atau memang dibikin begitu ya??

Ehh iya... ada adegan ranjangnya juga yg nggak disensor. Nggak keliatan sihhh tapi menurut saya, itu tumben-tumbenan film indonesia bisa ada adegan ranjang begitu ya? Sempet mikir tapi daripada mikir ya mndin dinikmati aja kali yaaa... FYI badannya Chico Jeriko itu bagus juga ternyta ya hahaha

Film ini benar-benar ambil seting Jakarta yg nyempiiiillll banget. Jadi ingat kos yg sempat saya tinggali selama 2 hari di Jakarta. Benar-benar orang Jakarta yg keliatan sebenernya. Bukan Jakarta yg dilihat sebagai kaum parlente.

Yang saya suka dari film ini, settingnya. Setingnya benar-benar alami kehidupan sehari-hari dengan macetnya Jakarta, ruwetnya Jakarta, dan benar-benar kehidupan 'penguasa'yg jika diusik bisa menyewa pembunuh bayaran. Ok thats a life yg bener-bener nyata menurut sudut pandang saya sebagai penonton.

Overall, film ini menurut kacamata saya cukup bagus meskipun endingnya gantung. Karakter Alek itu bener-bener cowo jantan, dan Sari itu cewe yg cukup tegar di kerasnya Jakarta. Ngebayangin hidup sendirian di Jakarta ala film itu, mungkin saya nggak bakal sanggup.

Ok, I think this is an ok movie. It must be a very good movie since this movie got 3 awards abroad. Kalau penasaran, ya nonton sana ya.. ini kan hanya dari sudut pandang saya. So yea, for me it is an ok movie. Yang pasti Chico Jeriko nya ganteng. Udah itu pasti dah hahaha


Picture taken from internet



*Pulang nonton, ehhh Surabaya banjir dimana-mana. Kayaknya sih deres banget ujannya*

Comments

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...