Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Ke Kampoeng Heritage Malang Yuk!

 

Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman ini nanya "Lu tau kampung heritage nggak? Yang ada di Malang?" Hohhh dimana yo?? Kagak tau dah. Nah pas maen kerumah temen, tak disangka tak dinyana rumah Desi disitu! Ya baru ngeh soalnya baru ada tulisan "WISATA KAMPOENG HERITAGE MALANG" di tembok depan rumah Desi. Beberapa kali kesana kok nggak ngeh kalo ada tulisan itu 😂

 
tulisan ini lho! Sumpah nggak ngeh 😂 tapi kata Desi emang baru sih  

nama-nama permainan jaman lawas. yang rumah kuning itu rumah 1870 tercatat sebagai rumah tertua di kampung ini


gobak sodor apa go back to door hayoo??

 
rumah penghulu  
 
Bulan April lalu, ada event di Kota Malang judulnya #SaveMalangHeritage. Berniat datang kesana, tapi ternyata gw bangun kesiangan 😅 not a morning person anymore btw. Yasudah acara lewat gitu aja. Nah kan minggu kemaren ini karena gw udah tau kalau rumah Desi ada di dalem Kampoeng Heritage, jadilah gw kesana bareng Sunan ini yang plek gw lah kalo soal vintage gitu.

 
Rumah Namsin. I was directed by a super perfectionist photographer. Gimana gaya gw? Persis emoji ini 😏 nggak ?

 
Rumah Namsin 
ngecatnya belum kelar ya, pas foto dibilangin sama tukangnya "Mbak ati2 yo iku jek tas tak cat" 😂 

Kita tadinya coba telusuri satu persatu dimulai dari gang rumahnya Desi, muter-muter situ kata mamaknya Desi kalo yang di gang 2 sama sebelah lebih bagus lagi. Akhirnya jalan lah kesana. Memang sih nggak semua rumah di kampung ini rumah lama, hanya ada beberapa aja yang didaulat sebagai rumah jaman lawas banget diantaranya Rumah 1870 warna kuning (yang kita mau foto trus gegara pagernya miring malah nggak jadi kita foto. geblek 😐), Rumah Namsin, pasar krempyeng (yang waktu kita kesana nggak ada apa-apanya, cuman pas event April aja dipake), dan banyak lainnya. Tapi karena kita bertiga buta arah bahkan si Desi yang tinggal disana aja nggak tau jadi kita nggak eksplor terlalu dalam.


travelingyuk.com

 
depan salah satu toko pasar krempyeng. sorry itu bukan ikutan sponsor rokok ya 😉

Berbeda dengan rumah-rumah kolonial di daerah Jalan Ijen yang cenderung megah mewah dengan halaman super luas dan rumah yang super gede, rumah-rumah disini adalah rumah kolonial khas kampung. Namanya juga kampung, ya bener-bener khas perkampungan dengan jalan yang sempit. Tapi seru kok jalan-jalan sore disini. Bisa sehat ya karena jalan lumayan panjang dan juga nyari rumahnya juga nyempil-nyempil butuh peta khusus wkwkw.


 
kalo dipikir-pikir lagi, kos gw di Malang dulu selama 6 tahun juga bentuknya begini. khas pagar sekaligus dudukan begini, ditambah bunga-bunga juga. Pantesan gw betah banget ya di kos itu dulu. kok sadarnya telat eeee  😂

 

Pemkot meresmikan Kampoeng Heritage ini sebagai salah satu destinasi wisata baru. Syukur-syukur kalo ntar jadi seperti Kampung Warna warni Jodipan yang ramai pengunjung. Karena salah satu tujuan diresmikannya wisata baru ini agar menambah penghasilan warga sekitar juga. Meskipun dari kunjungan kemarin rasanya masih belum terkoordinasi dengan baik sebagai tujuan wisata. Padahal sudah 4 bulan sejak diresmikan. Dan kemungkinan juga warga sekitar masih belum paham potensi kampung ini jika diolah dengan lebih serius.

 
Rumah depan pertigaan Jenki. Ini Sunan, fotografer perfeksionis yang gw kenal lol  


 


Pecinta sejarah, bangunan vintage, serta pengejar OOTD buat ngisi feed instagram pasti suka ke kampung ini. Dari dulu kebetulan gw suka banget sama hal-hal vintage atau lawas gitu. Dan bojoku kebetulan suka juga barang-barang vintage lawas ala kolonial alias ala negaranya. Jadi sering banget berburu bangunan-bangunan tua gitu. Sekitar Malang tengah kota udah ditelusuri, Surabaya juga. Nah yang pengen gw telusuri selanjutnya ini Semarang. Konon katanya banyak banget bangunan lawas disana, ala-ala Belanda gitu. Hun, ke Semarang tah iki ayok?

Jangan lupa juga kalo maen ke Malang, eksplor Kampoeng Heritage ini ya. Itung-itung selain belajar dan mengenal bangunan serta apapun yang lawas, kamu juga bisa jadi membantu perekonomian warga sekitar lho. Btw Kampoeng Heritage ini bersih banget lho. Serius!

bersih kan?

Btw kasih rekomendasi dong kota mana yang banyak bangunan lawas bersejarahnya 😁

Comments

  1. Orag ya, jane kui tukange pengen ngomong: 'Kene mbak tak cet sisan gen berasa heritage...'

    ReplyDelete
  2. Wuiih cakep-cakep bangunan vintagenya ini ! ...

    Sayang ya waktu aku ke Malang kemarin ngga tau info kampung ini, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh harus kesini kakak. Malang raya skrg mulai peduli sama wisata heritage lho :)

      Delete
    2. Mantap !.
      Terus terang aku salut dengan kepedulian pemda di beberapa kota, termasuk kota Malang ini ikut tergerak melestarikan bangunan-bangunan kolonial dan heritage.

      Siip, lokasi kampung wisata Heritage ini kumasukin catatan dan akan kudatangi saat ke Malang lagi ntar.

      Delete
    3. Iya kaka aku jg seneng malang udah mulai peduli sama heritage, beberapa jg direstorasi jd lebih terawat gt.

      Jgn lupa pkoknya kl kesini kudu eksplor heritage nya Malang 😁

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya