Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Ke Kampoeng Heritage Malang Yuk!

 

Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman ini nanya "Lu tau kampung heritage nggak? Yang ada di Malang?" Hohhh dimana yo?? Kagak tau dah. Nah pas maen kerumah temen, tak disangka tak dinyana rumah Desi disitu! Ya baru ngeh soalnya baru ada tulisan "WISATA KAMPOENG HERITAGE MALANG" di tembok depan rumah Desi. Beberapa kali kesana kok nggak ngeh kalo ada tulisan itu 😂

 
tulisan ini lho! Sumpah nggak ngeh 😂 tapi kata Desi emang baru sih  

nama-nama permainan jaman lawas. yang rumah kuning itu rumah 1870 tercatat sebagai rumah tertua di kampung ini


gobak sodor apa go back to door hayoo??

 
rumah penghulu  
 
Bulan April lalu, ada event di Kota Malang judulnya #SaveMalangHeritage. Berniat datang kesana, tapi ternyata gw bangun kesiangan 😅 not a morning person anymore btw. Yasudah acara lewat gitu aja. Nah kan minggu kemaren ini karena gw udah tau kalau rumah Desi ada di dalem Kampoeng Heritage, jadilah gw kesana bareng Sunan ini yang plek gw lah kalo soal vintage gitu.

 
Rumah Namsin. I was directed by a super perfectionist photographer. Gimana gaya gw? Persis emoji ini 😏 nggak ?

 
Rumah Namsin 
ngecatnya belum kelar ya, pas foto dibilangin sama tukangnya "Mbak ati2 yo iku jek tas tak cat" 😂 

Kita tadinya coba telusuri satu persatu dimulai dari gang rumahnya Desi, muter-muter situ kata mamaknya Desi kalo yang di gang 2 sama sebelah lebih bagus lagi. Akhirnya jalan lah kesana. Memang sih nggak semua rumah di kampung ini rumah lama, hanya ada beberapa aja yang didaulat sebagai rumah jaman lawas banget diantaranya Rumah 1870 warna kuning (yang kita mau foto trus gegara pagernya miring malah nggak jadi kita foto. geblek 😐), Rumah Namsin, pasar krempyeng (yang waktu kita kesana nggak ada apa-apanya, cuman pas event April aja dipake), dan banyak lainnya. Tapi karena kita bertiga buta arah bahkan si Desi yang tinggal disana aja nggak tau jadi kita nggak eksplor terlalu dalam.


travelingyuk.com

 
depan salah satu toko pasar krempyeng. sorry itu bukan ikutan sponsor rokok ya 😉

Berbeda dengan rumah-rumah kolonial di daerah Jalan Ijen yang cenderung megah mewah dengan halaman super luas dan rumah yang super gede, rumah-rumah disini adalah rumah kolonial khas kampung. Namanya juga kampung, ya bener-bener khas perkampungan dengan jalan yang sempit. Tapi seru kok jalan-jalan sore disini. Bisa sehat ya karena jalan lumayan panjang dan juga nyari rumahnya juga nyempil-nyempil butuh peta khusus wkwkw.


 
kalo dipikir-pikir lagi, kos gw di Malang dulu selama 6 tahun juga bentuknya begini. khas pagar sekaligus dudukan begini, ditambah bunga-bunga juga. Pantesan gw betah banget ya di kos itu dulu. kok sadarnya telat eeee  😂

 

Pemkot meresmikan Kampoeng Heritage ini sebagai salah satu destinasi wisata baru. Syukur-syukur kalo ntar jadi seperti Kampung Warna warni Jodipan yang ramai pengunjung. Karena salah satu tujuan diresmikannya wisata baru ini agar menambah penghasilan warga sekitar juga. Meskipun dari kunjungan kemarin rasanya masih belum terkoordinasi dengan baik sebagai tujuan wisata. Padahal sudah 4 bulan sejak diresmikan. Dan kemungkinan juga warga sekitar masih belum paham potensi kampung ini jika diolah dengan lebih serius.

 
Rumah depan pertigaan Jenki. Ini Sunan, fotografer perfeksionis yang gw kenal lol  


 


Pecinta sejarah, bangunan vintage, serta pengejar OOTD buat ngisi feed instagram pasti suka ke kampung ini. Dari dulu kebetulan gw suka banget sama hal-hal vintage atau lawas gitu. Dan bojoku kebetulan suka juga barang-barang vintage lawas ala kolonial alias ala negaranya. Jadi sering banget berburu bangunan-bangunan tua gitu. Sekitar Malang tengah kota udah ditelusuri, Surabaya juga. Nah yang pengen gw telusuri selanjutnya ini Semarang. Konon katanya banyak banget bangunan lawas disana, ala-ala Belanda gitu. Hun, ke Semarang tah iki ayok?

Jangan lupa juga kalo maen ke Malang, eksplor Kampoeng Heritage ini ya. Itung-itung selain belajar dan mengenal bangunan serta apapun yang lawas, kamu juga bisa jadi membantu perekonomian warga sekitar lho. Btw Kampoeng Heritage ini bersih banget lho. Serius!

bersih kan?

Btw kasih rekomendasi dong kota mana yang banyak bangunan lawas bersejarahnya 😁

Comments

  1. Orag ya, jane kui tukange pengen ngomong: 'Kene mbak tak cet sisan gen berasa heritage...'

    ReplyDelete
  2. Wuiih cakep-cakep bangunan vintagenya ini ! ...

    Sayang ya waktu aku ke Malang kemarin ngga tau info kampung ini, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh harus kesini kakak. Malang raya skrg mulai peduli sama wisata heritage lho :)

      Delete
    2. Mantap !.
      Terus terang aku salut dengan kepedulian pemda di beberapa kota, termasuk kota Malang ini ikut tergerak melestarikan bangunan-bangunan kolonial dan heritage.

      Siip, lokasi kampung wisata Heritage ini kumasukin catatan dan akan kudatangi saat ke Malang lagi ntar.

      Delete
    3. Iya kaka aku jg seneng malang udah mulai peduli sama heritage, beberapa jg direstorasi jd lebih terawat gt.

      Jgn lupa pkoknya kl kesini kudu eksplor heritage nya Malang 😁

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men