Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Generasi Gawai

Membaca postingan mas Riza dan mas Bumi tentang anak kecil yang kecanduan gadget, saya jadi mikir. Saya punya adek kecil, sekarang umur 10taun. Saya sadar dia pasti dikategorikan generasi gadget. Sempet resah karena dia udah pegang hape dan tablet. Well.. sebenernya itu hape juga dipake mama sih. Tapi tablet dikondisikan untuknya.

Saya menolak dia difasilitasi gadget. Meskipun dia termasuk anak supel dan banyak temannya serta jarang pulang kerumah, tetap saja saya kawatir kan. Gadget tetep kayak setan. Apalagi di jam belajar.

Yang kemudian saya melihat dia bermain tabletnya dan menulis sesuatu. Penasaranlah, saya tanya ngapain. Eh ternyata dia lagi belajar dan materinya didapet dari gurunya. Materinya berupa soft file, dan dibuka di tablet. Widihh, keren pisan ini gurunya bisa provide materi tambahan begini.

Ini nih kuisnya, karena penasaran akhirnya saya coba main sejarah.

Kemudian, beberapa saat yang lalu, dia mengerjakan soal di aplikasi yang ada di tabletnya. Kirain sih mau nge-game, ternyata eh latihan ngerjain soal. Jadi semacam kuis begitu, kayak who wants to be a millionare gitu deh modelnya. Tapi materinya pelajaran SD

Dapet 85 lho sejarah, dan bahasa Inggris dapet 100 haha

Manfaat? Iya manfaat kalo begini.

Bagi saya, gadget bisa jadi tak terhindarkan untuk generasi seangkatan adek kecil ini. Kalo dibiarin pake gadget tanpa pengawasan, jadinya anak makin rusak. Rusak matanya, rusak kehidupan sosialnya, rusak cara mikirnya. Tapi kalau dikontrol dan dibatasi, bisa jadi manfaat juga kok. Asal bener-bener dibatasi dan dikontrol. Kaya adek kecil ini. Siapa juga yang berani ngelawan mama yang nyeremin? 😄

Dan setelah dia belajar tambahan materi dan belajar jawab soal di kuis itu, dia ada peningkatan hasil belajar lho. Unbelivable! Why? Karena dia itu paling mualesssssss kalo suruh belajar. Males semales malesnya deh. Cewe padahal. Dan dia akhir akhir ini sering nongol di best 10 yang mana itu juga bikin dia heran kok dia bisa best 10. Padahal dua mbaknya kalo diluar best 10 bisa nangis semaleman.


Punya anak kecil ato adek kecil yang difasilitasi gadget? Jangan lupa dikontrol ya. Kita mungkin bisa bijak dalam menggunakannya, tapi mereka masih belum bisa bijak menggunakan gawai.

Comments

  1. Ah iya ada aplikasi beginian. Gw pernah ngerjain soal sejarah, setelah dihitung dapet 30 ! Wkwkwkwk

    Kelalen semua saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. 30?????? 😂😂😂
      Bangsa yg besar adlaah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk memahami sejarahnya 😝

      Delete
    2. La wong pertanyaane isine raja-raja di kerajaan jaman dulu. Emang jek kelingan mbak?

      Delete
    3. Inget dongggg!! Makanya dapet 85 tuh, adekku yg ngerjain aja dpt 60 hahaha

      Delete
  2. Apa ya nama aplikasinya? Jadi pengen ikutan download nih, soalnya keponakanku yang masih SD sering buka-buka Smartphone juga.
    Biasanya kalau bukan main game, ya buat nonton youtube doang :|
    Mending aplikasi begini kemana-mana, sekalian dia belajar kan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduhh bentar aku tanyain adekku dulu deh ya haha aku cm make aja mbak, dia jg dpet ya dari temennya. Jd nanti aku introgasi dulu deh hehe

      Ponakannya suruh manfaatin gadget buat beginian aja mbak, manfaat 😁

      Delete
  3. wah recomended tuh, dulu sebelum masuk pesantren, adeku sering banget maenin gadget. pas diintipin lagi liat profil fb cowok hidih alamaak masih bau kencur juga
    emang penting banget ya ngawasin anak2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak penting banget. Anak kecil jaman skrg ini rada serem mbak. Efek sinetron hohoho

      Delete
  4. pernah tak rekomin ke anak2
    dan beberapa waktu pas tak cek gimana maen soalnya di rumah
    yang ada pada ngkatamin COC
    #yasudah

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan jangan mereka kalo diuji dapet nilainya sama kyak adekku, 60 hahaha

      Padahal ini menarik lho buat dijdiin belajar skalian mainan. Aku aja seneng

      Delete
  5. perlu diawasi dan dibatasi untuk anak kecil,
    apalagi banyak banget aplikasi game yang ydk cocok buat anak2

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini