Skip to main content

Sayang Bumi Sayang Anak

Sharjah - UAE Gw suka banget belanja online. Ya karena praktis aja. Tentu saja gw juga suka banget belanja langsung on the spot  kalau lagi stress dan lagi ada waktu buat muter-muter. Tapi... ternyata gw jadi kesel tiap abis belanja online, gw harus berurusan dengan plastik-plastik bekas belanja.  "Dih plastik lagi." Emang, beberapa barang tentu saja perlu plastik/ bubble wrap  ekstra. Tapi banyak dari belanjaan gw yang nggak perlu itu semua. Tebel banget. Gw paham juga beberapa toko lebih milih dibungkus plastik tebel biar tokonya nggak dikomplain. Tapi bagi gw, udah kebangetan.  Gw tau kita nggak bisa sepenuhnya nggak pakai plastik. Kita masih akan pakai plastik. Konsekuensinya, ya kita harus tau sampah plastik ini harus diolah gimana biar nggak kebuang sia-sia. Mana nggak bisa terurai ratusan tahun lagi.  Masalahnya, plastik ini seringkali nggak bisa dipake lagi karena selotip yang muter. Susah lah di- breakdown lagi biar bisa dipakai ulang. Akhirnya, tentu saja dibuang pe

Generasi Gawai

Membaca postingan mas Riza dan mas Bumi tentang anak kecil yang kecanduan gadget, saya jadi mikir. Saya punya adek kecil, sekarang umur 10taun. Saya sadar dia pasti dikategorikan generasi gadget. Sempet resah karena dia udah pegang hape dan tablet. Well.. sebenernya itu hape juga dipake mama sih. Tapi tablet dikondisikan untuknya.

Saya menolak dia difasilitasi gadget. Meskipun dia termasuk anak supel dan banyak temannya serta jarang pulang kerumah, tetap saja saya kawatir kan. Gadget tetep kayak setan. Apalagi di jam belajar.

Yang kemudian saya melihat dia bermain tabletnya dan menulis sesuatu. Penasaranlah, saya tanya ngapain. Eh ternyata dia lagi belajar dan materinya didapet dari gurunya. Materinya berupa soft file, dan dibuka di tablet. Widihh, keren pisan ini gurunya bisa provide materi tambahan begini.

Ini nih kuisnya, karena penasaran akhirnya saya coba main sejarah.

Kemudian, beberapa saat yang lalu, dia mengerjakan soal di aplikasi yang ada di tabletnya. Kirain sih mau nge-game, ternyata eh latihan ngerjain soal. Jadi semacam kuis begitu, kayak who wants to be a millionare gitu deh modelnya. Tapi materinya pelajaran SD

Dapet 85 lho sejarah, dan bahasa Inggris dapet 100 haha

Manfaat? Iya manfaat kalo begini.

Bagi saya, gadget bisa jadi tak terhindarkan untuk generasi seangkatan adek kecil ini. Kalo dibiarin pake gadget tanpa pengawasan, jadinya anak makin rusak. Rusak matanya, rusak kehidupan sosialnya, rusak cara mikirnya. Tapi kalau dikontrol dan dibatasi, bisa jadi manfaat juga kok. Asal bener-bener dibatasi dan dikontrol. Kaya adek kecil ini. Siapa juga yang berani ngelawan mama yang nyeremin? 😄

Dan setelah dia belajar tambahan materi dan belajar jawab soal di kuis itu, dia ada peningkatan hasil belajar lho. Unbelivable! Why? Karena dia itu paling mualesssssss kalo suruh belajar. Males semales malesnya deh. Cewe padahal. Dan dia akhir akhir ini sering nongol di best 10 yang mana itu juga bikin dia heran kok dia bisa best 10. Padahal dua mbaknya kalo diluar best 10 bisa nangis semaleman.


Punya anak kecil ato adek kecil yang difasilitasi gadget? Jangan lupa dikontrol ya. Kita mungkin bisa bijak dalam menggunakannya, tapi mereka masih belum bisa bijak menggunakan gawai.

Comments

  1. Ah iya ada aplikasi beginian. Gw pernah ngerjain soal sejarah, setelah dihitung dapet 30 ! Wkwkwkwk

    Kelalen semua saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. 30?????? 😂😂😂
      Bangsa yg besar adlaah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk memahami sejarahnya 😝

      Delete
    2. La wong pertanyaane isine raja-raja di kerajaan jaman dulu. Emang jek kelingan mbak?

      Delete
    3. Inget dongggg!! Makanya dapet 85 tuh, adekku yg ngerjain aja dpt 60 hahaha

      Delete
  2. Apa ya nama aplikasinya? Jadi pengen ikutan download nih, soalnya keponakanku yang masih SD sering buka-buka Smartphone juga.
    Biasanya kalau bukan main game, ya buat nonton youtube doang :|
    Mending aplikasi begini kemana-mana, sekalian dia belajar kan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduhh bentar aku tanyain adekku dulu deh ya haha aku cm make aja mbak, dia jg dpet ya dari temennya. Jd nanti aku introgasi dulu deh hehe

      Ponakannya suruh manfaatin gadget buat beginian aja mbak, manfaat 😁

      Delete
  3. wah recomended tuh, dulu sebelum masuk pesantren, adeku sering banget maenin gadget. pas diintipin lagi liat profil fb cowok hidih alamaak masih bau kencur juga
    emang penting banget ya ngawasin anak2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak penting banget. Anak kecil jaman skrg ini rada serem mbak. Efek sinetron hohoho

      Delete
  4. pernah tak rekomin ke anak2
    dan beberapa waktu pas tak cek gimana maen soalnya di rumah
    yang ada pada ngkatamin COC
    #yasudah

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan jangan mereka kalo diuji dapet nilainya sama kyak adekku, 60 hahaha

      Padahal ini menarik lho buat dijdiin belajar skalian mainan. Aku aja seneng

      Delete
  5. perlu diawasi dan dibatasi untuk anak kecil,
    apalagi banyak banget aplikasi game yang ydk cocok buat anak2

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is.  After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing. Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a