Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Good eater



Before I met HJ, I was a good eater. And still am. I can eat everything and a lot. Magically, it won’t make me gain much. This is one of miracle in my life *lebay*. But it is. I really eat a lot and can eat almost everything. Have no allergy to any foods (alergi cuman obat antalgin aja, jadi kalo sakit gigi jangan dikasih ini). Am I happy? So much happy. Nggak ada yang namanya sungkan buat makan banyak, sikat abis deh semuanya. Banyak yang heran kok bisa makan banyak dan nggak jaim banget kalo makan. Soalnya aku juga nggak suka orang yang jaim kalo pas makan. Itu makanan buat dimakan, bukan diliatin dan dibuat mainan. 

 first dinner at Chill Out, Gili Air.
setelah kita makan ini, perjalanan balik ke hotel kita beli es krim Gili gelato. Sumpah demi Tuhan itu es krimnya enakkkk banget, dan satu scoop 20ribu. Kita berdua langsung jatuh cinta sama Straciatella-nya. enak banget, sampe mbaknya itu apal banget sama kita berdua gara-gara sehari bisa dua kali beli, dan tiap hari. kita sampe pesen-pesen 'mbak sisain straciatellanya ya buat nanti'. tapi sayang nggak ada fotonya hohoho

Then I met HJ. I always think that man always eat a lot, and that is normal since men in my family always eat a lot. But, HJ really beat me up. I mean, he REALLY eat a lot and stay still. Not even gain that much. Yesterday his dad told me, ‘HJ will make you fat. You shouldn’t follow what he does. He can always eat a lot and will not gain, he is like his mother. Eat a lot but gain nothing’. Walah ini mah aku banget. Cuman aku aja yang rekor dalam setaun ini naek 7kilo. Tapi ya emang ditargetkan sih. Resolusi 2017, semoga berat badan stay still di 50kg.

first breakfast at Biba Beach Village, Gili Air

Jadi tiap kali kita makan berdua gitu, nggak pernah nyisa makanan. Kenapa? Karena kalo makananku nggak abis, pasti dia yang abisin. Dia selalu minum 2 gelas. Minimal satu gelas setengah. Yang setengah nyuri-nyuri dari gelasku. Udah punya sepiring makanan sendiri juga masih aja ngembat punya tetangganya. Tapi aku suka, dia makan apa aja bisa. Sama kayak aku. Kecuali yang asem banget sih kalo aku. Dia makan pedes aja masih ok. Wow banget deh.

 one of Majapahit Hotel menu 

Selama di Lombok, saking cintanya dia sama seafood, hampir tiap waktu kita makan seafood. Tadinya janjiin mau makan pizza aja, eh liat seafood yang menggoda langsung belok. Besoknya tetep janjiin pizza, tapi ya ujung-ujungnya seafood yang membelokkan hatinya. Seafood aja terus sampe kayak udang itu muka dia. 

lupa namanya apa, makanan itali katanya dia sebagai pengganti nggak jadi makan pizza. ah come on!

two times having dinner here, dont really remember the name at Gili Air

Trus dia bilang gini ke aku, ’aku suka deh kalo makan sama kamu’. Kenapa cobak bilang gini? Dia jawabnya ‘karena kamu pemakan segala, makan apa aja bisa asal halal. Makan juga banyak, nggak menye-menye lah kamu itu kalo makan’. Iya beneran deh kita berdua kalo makan itu nggak pernah menye-menye. Dia aja makan lontong balap, yang kebetulan enak, dipuji berhari-hari. Makan pecel depan kosku juga gitu, dipuji berbulan-bulan. Banyak yang heran kok dia bisa makan makanan indonesia. Dan dia simply said ‘tasty, so why I cant eat them?’
sop buntutnya Hotel Majapahit

Jadi kapan waktu kita get lost dan nggak peduli satu sama lain? Ya pas makan. Apalagi kalo makan seafood. Kita berdua langsung fokus ke seafood-nya, nggak toleh kanan kiri. Noleh kalo piringnya sendiri abis. Maksudnya kali aja piring tetangga masih banyak dan butuh bantuan. 

ikan baronang bakar, di Pantai Nipah, Lombok
 

 ayam taliwang, Lombok

Next will post about Ikan Bakar Cianjur. Dan aku tiba-tiba random banget kangen makan es krim Gili Gelato yang straciatella. Serius itu enak banget. 

Comments

  1. Replies
    1. Aku nulis ini aja ngelap iler pake serbet juga kok 😂😂

      Delete
  2. Ayam taliwang'a merah gitu kaya yg pedas :G

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha merah membara!!! Nggak pedes banget kok, buat aku sih haha. Kalo buat dia ya bs bkin kringetan. Tapi abis juga sih 😆

      Delete
  3. Replies
    1. Itu semacem kentang sama kerang. Hemmmm heemm enak lho 😂😂

      Delete
  4. omigoooottttt... itu makanan ratcuuunnn semua.
    apalagi yg kerang ituuu, endeeeeessssss..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Omegottt racunnn!!! Iya racun, inget kolesterol, darah tinggi, hahaha

      Endesss semuanya mbakk, apalagi lobster e hemmm

      Delete
  5. Soal makan aku paling rakus. Tak pernah jaim. Embat dan sikat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus itu!! Orang aja banyak yg ga bs makan, sekalinya bs makan dikasih makan ya jangan menye menye lah yaa hoho

      Delete
  6. Ngiler:(

    Aku juga sama nih, paling seneng kalo makan tapi berat badan tetep gitu-gitu aja. :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngelap ilerrrrrr

      Iya itu emang paling enak, bisa makan banyak tp nggak naek2 beratnya haha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men