Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

[Piknik] Belajar Menenun di Sukarara

Setelah melihat pembuatan kerambah di Banyumulek, kita geser langkah kaki kita menuju Desa Sukarara. Waktu pertama kali ke Lombok, kita hanya sempat ke Desa Sade tanpa ke Sukarara. Katanya sih Sukarara motifnya lebih cerah gitu.



Disana, ada display beberapa ibu-ibu yang lagi nenun dan pake baju tradisional gitu. Kitapun disambut bapak pemandu yang secara otomatis manduin kita. Dan you know what, kita difoto sama salah satu pemandu disana buat koleksi pribadi dia sendiri dan seneng gitu katanya liat aku sama HJ. Lapo coba seneng iku?

 
Dijelaskanlah semua hal yang berhubungan dengan Desa Sukarara ini. Kalau Desa Sade mempertahankan desain rumah adat dan keadatannya, Sukarara lebih ke sentra tenunannya. Jadi semacem workshop tenunan Lombok.



Aku sempet nenun lho. Dengan harapan nggak merusak tenunan si ibu, akhirnya aku cobain nenun. Sambil nenun sambil mikir juga ini bikin motifnya gimana, kok bisa rapi begini. Benangnya dimasuk-masukin pokoknya sama si ibu terus 2 kali hentakan buat ratain benangnya biar nempel sama desain sebelumnya. Yes! I didnt screw it up!


mukaknya nggak ramah banget ya aku? hahaha




Trus kita berdua diajak kedalam workshop buat liat-liat kain yang udah jadi. Harga paling murah sih sekitar 250ribuan gitu, yang paling mahal ada kali 8-10 juta gitu deh. Kita cuman liat-liat aja sih didalemnya. Udah nggak pengen beli, udah banyak pengeluaran haha

Motif kainnya jauh lebih beragam dan cerah daripada yang ada di Desa Sade. Jadi lebih banyak pilihan aja kalau mau beli kain. Jujur bagus-bagus, tapi bawaan udah banyak jadi ogah mau bawa barang lagi. Bisa dimarahin HJ aku nanti 😄



Photos are taken by me and HJ  

Comments

  1. bagus ya motifnya kayak bentuk rumah. Nama motifnya apa ya mba ?

    Btw gimana rasanya nenun, pegel-pegel gak tuh mba. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gatau hahaha
      Oon ya nggak nanya, tp ada satu jenis yg itu bagus dan paling mahal. Namanya subhanellah. Tapi aku ga liat sihh

      Karena cm lima menit, ya ga pegel haha
      Tapi kayake pegel lho, punggungnya cm disanggah yg bawahnya aja. Kayak nyandar gt, tp kcil. Lima jam ya teler

      Delete
  2. Waaahhhh seru banget punya pengalaman belajar menenun gitu. motifnya bagus dan lucuuu.. pasti itu bikinnya sakit mata gegara detailnya agak njlimeett... hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sakit mata bangetttt. Padahal cm tinggal jedok jedokin aja, tp pas masukin motifnya, yg warna itu jg sempet salah

      Kamu di bali tinggal loncat kan ke lombok haha

      Delete
  3. duh duduk selonjoran gitu emang enak
    tp klo aku sambil ngemil kuaci aja xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerrrrr. Apalagi sambil liat dan dengerin philpop yak 😋

      Delete
  4. Wah, pengalamannya seru nih. Bikin kain tenun gitu sambil selonjoran. Btw, apa punggungnya gak capek ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sejam ya capek hahaha
      Tapi seru lho, cobain deh kesana
      Mata capek lah dkit hahhaa

      Delete
  5. Aku juga gitu. Kalo ke work shop mung liat-liat tok. Meh tuku kok yo larang, hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini