Skip to main content

Merah Putih

Gw sama Indonesia itu ibarat dua sejoli dalam love and hate relationship. Gw terlahir di tanah yang diperjuangkan orang-orang terdahulu. Nggak keitung berapa juta nyawa hilang untuk itu. Gw bersyukur gw nggak perlu lagi bawa bambu runcing untuk merebut negeri ini dari tangan penjajah. Sejak sebelum nikah gw mulai "berteman" dengan birokrasi dua negara. Birokrasi dari Belanda, tentu saja tidak seribet birokrasi di negeri ini. Segala macam email akan segera dibalas dan dibantu untuk dihubungkan ke pihak terkait atau yang menangani itu. Bahkan untuk permintaan Schengen visa tipe kunjungan keluarga di masa pandemik ini diberikan high priority dan email dibalas dalam sekejap. Sedangkan di Indonesia, aaahhh yaaa gitu dehh.

Tapi, nggak akan pernah gw pungkiri tiap kali gw denger lagu Indonesia Raya gw selalu mewek. Tiap kali liat bendera Indonesia, gw diam sebentar  berterima kasih atas nikmat bisa tinggal di negeri ini tanpa perlu memegang senjata. Gw bener-bener marah saat suami g…

[Piknik] Tradisional ditengah modern : Desa Sade



First destination after attending the wedding was Sade village. Desa ini semacem desa adat suku sasak asli begitu. Letaknya nggak jauh dari Bandara, sekitar 30 menit aja. Jadi ibarat kata nih, kalo nggak ke destinasi wisata laennya selama di Lombok gapapa deh yang penting harus ke desa ini. Kita kesana kan bareng sodaranya si suaminya Prisca ini, mereka sih lebih ke pantai aja, kalo aku mah ngotot ke desa ini pokoknya. Gatau sih, suka aja sama yang berbau tradisional dan asli gitu. Mumpung kan keluar Jawa, wajib liat yang asli-asli. 






Berangkatlah kita dari Selong, menuju bandara terlebih dahulu. Harus nganterin si sodara-sodara balik ke Jawa dulu, sisanya yang masih terbang jam sore ya jalan-jalan dulu. Cus lah kita ke desa sade. Ini desa masuk iklan btw yang bikin salah paham si Prisca. Dikiranya aku tau desa ini dari iklan, padahal aku udah tau dari jaman SD. Ilmu sosialku melekat banget deh kalo soal adat dan tradisional begini. 


 
Satu jam dari Selong, nggak begitu jauh. Tapi karena cukup pagi berangkatnya, ya kita dijalan merem semua. Setengah jam dari bandara menuju desa ini, kita datang sekitar jam setengah 8. Masih sepiiiiii banget. Seger. Adem. Masih banyak juga yang masih tutup. Jadi rumah mereka masih nggak buka, tenunan sih masih tetep dipajang, tapi nggak liat satupun yang nenun. Agak kuciwa sih. Eh beberapa menit kemudian ada orang yang nenun karena ada yang pengen tau, nimbrung juga akhirnya. Yaaa sekiranya cukup lah buat ambil foto sama videonya. 



Sayangnya ya karena masih banyak yang aktifitas dirumah macam cuci baju, masak, jadinya nggak bisa ngobrol nanya-nanya banyak hal ke mereka. Tapi ada tv kok, pas lewat denger upin ipin tayang hahaha. Trus kita telusuri aja deh itu, eh ketemu rombongan yang laen lagi. Disitu ada orang yang nunjukin isi rumahnya. Rumah asli desa Sade. Pernah liat di tv nggak? Harusnya pernah, dulu pas jamannya acara jalan-jalan itu sering nampilin desa ini. Dan pas dibuka seketika zzzzzzzzzz, bau eek kebo. Nggak bau buanget sih, tapi bau emang hahaha. Karena, saya inget itu lantai dibersihinnya pake eek kebo emang. Jadi ya bau dikit-dikit lah hoho.Nggak ambil fotonya karena gelap dan banyak anak kecil yang pengen selfie. Dimaklumin aja deh ya, masih anak kecil.

 






Oiya kita sempet beli kain tenunnya sih. Nggak tau itu emang harganya segitu apa gimana ya, yang jelas satu kain buat bawahan plus selendangnya bisa kita tawar 200ribu aja. Murah kan? Konon lebih murah dari desa Sukarare. Sempet juga beli pernak Pernik di sana, buat bawaan anak-anak kecil dirumah. Ya mereka kan doyan yang lucu-lucu ya. Ada yang 5ribuan, 20ribuan, dan ada yang masih bisa ditawar. Harga ikat kepala Lombok ditawarin 50ribu per pc, tapi setelah ditawar juga bisa jadi harga setengahnya. Beda ya kalo oleh-olehnya udah masuk toko. Harganya jadi 50ribu. 




Penjual yang kita datangi bilang ‘nggak apa-apa mbak kalo disini budayanya harus di tawar, kita malah seneng sekali kalau mbak mau nawar disini’. Lahhh manis amat ya hahaha. Akhirnya yang nawar siapa saudara-saudara???? Candra! Suaminya another Prisca ini lebih sadiiisssss kalo nawar. Katanya bilang gini ‘tawar aja Pris, setengahnya lebih kalo tawar’. Alaamaakkk. Gapapa sih jadi dia yang nawarin hahaha


Seru aja sih, to be finally here. Mengunjungi tempat kecil dan asli ini. Btw, meskipun ini tempat kita sebut desa adat dan  masih asli, tapi didepannya ada minimarket lhooooo. Ya kan depannya bukan daerah adat lagi hoho. Eh satu lagi, ada masjid didalem desa ini. Masjidnya lucu banget. Adem gitu keliatannya. Dan dan dan banyak anjing berkeliaran. Anjing liar, bukan anjing pudel yang lucu nggemesin gitu. 


ini masjidnya lho




Was so happy that day, have you been there?

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik'
Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_-



Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya.

Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kalau novel ini ri…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…