Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

[Piknik] Tradisional ditengah modern : Desa Sade



First destination after attending the wedding was Sade village. Desa ini semacem desa adat suku sasak asli begitu. Letaknya nggak jauh dari Bandara, sekitar 30 menit aja. Jadi ibarat kata nih, kalo nggak ke destinasi wisata laennya selama di Lombok gapapa deh yang penting harus ke desa ini. Kita kesana kan bareng sodaranya si suaminya Prisca ini, mereka sih lebih ke pantai aja, kalo aku mah ngotot ke desa ini pokoknya. Gatau sih, suka aja sama yang berbau tradisional dan asli gitu. Mumpung kan keluar Jawa, wajib liat yang asli-asli. 






Berangkatlah kita dari Selong, menuju bandara terlebih dahulu. Harus nganterin si sodara-sodara balik ke Jawa dulu, sisanya yang masih terbang jam sore ya jalan-jalan dulu. Cus lah kita ke desa sade. Ini desa masuk iklan btw yang bikin salah paham si Prisca. Dikiranya aku tau desa ini dari iklan, padahal aku udah tau dari jaman SD. Ilmu sosialku melekat banget deh kalo soal adat dan tradisional begini. 


 
Satu jam dari Selong, nggak begitu jauh. Tapi karena cukup pagi berangkatnya, ya kita dijalan merem semua. Setengah jam dari bandara menuju desa ini, kita datang sekitar jam setengah 8. Masih sepiiiiii banget. Seger. Adem. Masih banyak juga yang masih tutup. Jadi rumah mereka masih nggak buka, tenunan sih masih tetep dipajang, tapi nggak liat satupun yang nenun. Agak kuciwa sih. Eh beberapa menit kemudian ada orang yang nenun karena ada yang pengen tau, nimbrung juga akhirnya. Yaaa sekiranya cukup lah buat ambil foto sama videonya. 



Sayangnya ya karena masih banyak yang aktifitas dirumah macam cuci baju, masak, jadinya nggak bisa ngobrol nanya-nanya banyak hal ke mereka. Tapi ada tv kok, pas lewat denger upin ipin tayang hahaha. Trus kita telusuri aja deh itu, eh ketemu rombongan yang laen lagi. Disitu ada orang yang nunjukin isi rumahnya. Rumah asli desa Sade. Pernah liat di tv nggak? Harusnya pernah, dulu pas jamannya acara jalan-jalan itu sering nampilin desa ini. Dan pas dibuka seketika zzzzzzzzzz, bau eek kebo. Nggak bau buanget sih, tapi bau emang hahaha. Karena, saya inget itu lantai dibersihinnya pake eek kebo emang. Jadi ya bau dikit-dikit lah hoho.Nggak ambil fotonya karena gelap dan banyak anak kecil yang pengen selfie. Dimaklumin aja deh ya, masih anak kecil.

 






Oiya kita sempet beli kain tenunnya sih. Nggak tau itu emang harganya segitu apa gimana ya, yang jelas satu kain buat bawahan plus selendangnya bisa kita tawar 200ribu aja. Murah kan? Konon lebih murah dari desa Sukarare. Sempet juga beli pernak Pernik di sana, buat bawaan anak-anak kecil dirumah. Ya mereka kan doyan yang lucu-lucu ya. Ada yang 5ribuan, 20ribuan, dan ada yang masih bisa ditawar. Harga ikat kepala Lombok ditawarin 50ribu per pc, tapi setelah ditawar juga bisa jadi harga setengahnya. Beda ya kalo oleh-olehnya udah masuk toko. Harganya jadi 50ribu. 




Penjual yang kita datangi bilang ‘nggak apa-apa mbak kalo disini budayanya harus di tawar, kita malah seneng sekali kalau mbak mau nawar disini’. Lahhh manis amat ya hahaha. Akhirnya yang nawar siapa saudara-saudara???? Candra! Suaminya another Prisca ini lebih sadiiisssss kalo nawar. Katanya bilang gini ‘tawar aja Pris, setengahnya lebih kalo tawar’. Alaamaakkk. Gapapa sih jadi dia yang nawarin hahaha


Seru aja sih, to be finally here. Mengunjungi tempat kecil dan asli ini. Btw, meskipun ini tempat kita sebut desa adat dan  masih asli, tapi didepannya ada minimarket lhooooo. Ya kan depannya bukan daerah adat lagi hoho. Eh satu lagi, ada masjid didalem desa ini. Masjidnya lucu banget. Adem gitu keliatannya. Dan dan dan banyak anjing berkeliaran. Anjing liar, bukan anjing pudel yang lucu nggemesin gitu. 


ini masjidnya lho




Was so happy that day, have you been there?

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Snailmail

I signed up in an international portal since I was at high school. I was a quiet one, not much talk especially with stranger. But since that day, I feel myself get easier to talk to strangers. In that portal, there are several options why you join there, including 'flirting', that is shown on the optional boxes. And I found something interesting, snailmail. I never heard about this before, but I thought it is like a mail that goes slower because snail always walking so slow. Then someone chatted me and told me that she want to snailmail. I asked her what is that and she said 'it is postcard swapping'.   was taken at Museum Angkut years ago. taken using my old unique phone Wow.. postcard swapping.. my granny and I did it long time ago before mobile phone was invented. Well I mean before we all use mobile phone to connect to each other. I have family in The Netherlands, and we only have a phone, if we call them using home phone it would cost a lot for even few minu...

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...