Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

[Piknik] Tradisional ditengah modern : Desa Sade



First destination after attending the wedding was Sade village. Desa ini semacem desa adat suku sasak asli begitu. Letaknya nggak jauh dari Bandara, sekitar 30 menit aja. Jadi ibarat kata nih, kalo nggak ke destinasi wisata laennya selama di Lombok gapapa deh yang penting harus ke desa ini. Kita kesana kan bareng sodaranya si suaminya Prisca ini, mereka sih lebih ke pantai aja, kalo aku mah ngotot ke desa ini pokoknya. Gatau sih, suka aja sama yang berbau tradisional dan asli gitu. Mumpung kan keluar Jawa, wajib liat yang asli-asli. 






Berangkatlah kita dari Selong, menuju bandara terlebih dahulu. Harus nganterin si sodara-sodara balik ke Jawa dulu, sisanya yang masih terbang jam sore ya jalan-jalan dulu. Cus lah kita ke desa sade. Ini desa masuk iklan btw yang bikin salah paham si Prisca. Dikiranya aku tau desa ini dari iklan, padahal aku udah tau dari jaman SD. Ilmu sosialku melekat banget deh kalo soal adat dan tradisional begini. 


 
Satu jam dari Selong, nggak begitu jauh. Tapi karena cukup pagi berangkatnya, ya kita dijalan merem semua. Setengah jam dari bandara menuju desa ini, kita datang sekitar jam setengah 8. Masih sepiiiiii banget. Seger. Adem. Masih banyak juga yang masih tutup. Jadi rumah mereka masih nggak buka, tenunan sih masih tetep dipajang, tapi nggak liat satupun yang nenun. Agak kuciwa sih. Eh beberapa menit kemudian ada orang yang nenun karena ada yang pengen tau, nimbrung juga akhirnya. Yaaa sekiranya cukup lah buat ambil foto sama videonya. 



Sayangnya ya karena masih banyak yang aktifitas dirumah macam cuci baju, masak, jadinya nggak bisa ngobrol nanya-nanya banyak hal ke mereka. Tapi ada tv kok, pas lewat denger upin ipin tayang hahaha. Trus kita telusuri aja deh itu, eh ketemu rombongan yang laen lagi. Disitu ada orang yang nunjukin isi rumahnya. Rumah asli desa Sade. Pernah liat di tv nggak? Harusnya pernah, dulu pas jamannya acara jalan-jalan itu sering nampilin desa ini. Dan pas dibuka seketika zzzzzzzzzz, bau eek kebo. Nggak bau buanget sih, tapi bau emang hahaha. Karena, saya inget itu lantai dibersihinnya pake eek kebo emang. Jadi ya bau dikit-dikit lah hoho.Nggak ambil fotonya karena gelap dan banyak anak kecil yang pengen selfie. Dimaklumin aja deh ya, masih anak kecil.

 






Oiya kita sempet beli kain tenunnya sih. Nggak tau itu emang harganya segitu apa gimana ya, yang jelas satu kain buat bawahan plus selendangnya bisa kita tawar 200ribu aja. Murah kan? Konon lebih murah dari desa Sukarare. Sempet juga beli pernak Pernik di sana, buat bawaan anak-anak kecil dirumah. Ya mereka kan doyan yang lucu-lucu ya. Ada yang 5ribuan, 20ribuan, dan ada yang masih bisa ditawar. Harga ikat kepala Lombok ditawarin 50ribu per pc, tapi setelah ditawar juga bisa jadi harga setengahnya. Beda ya kalo oleh-olehnya udah masuk toko. Harganya jadi 50ribu. 




Penjual yang kita datangi bilang ‘nggak apa-apa mbak kalo disini budayanya harus di tawar, kita malah seneng sekali kalau mbak mau nawar disini’. Lahhh manis amat ya hahaha. Akhirnya yang nawar siapa saudara-saudara???? Candra! Suaminya another Prisca ini lebih sadiiisssss kalo nawar. Katanya bilang gini ‘tawar aja Pris, setengahnya lebih kalo tawar’. Alaamaakkk. Gapapa sih jadi dia yang nawarin hahaha


Seru aja sih, to be finally here. Mengunjungi tempat kecil dan asli ini. Btw, meskipun ini tempat kita sebut desa adat dan  masih asli, tapi didepannya ada minimarket lhooooo. Ya kan depannya bukan daerah adat lagi hoho. Eh satu lagi, ada masjid didalem desa ini. Masjidnya lucu banget. Adem gitu keliatannya. Dan dan dan banyak anjing berkeliaran. Anjing liar, bukan anjing pudel yang lucu nggemesin gitu. 


ini masjidnya lho




Was so happy that day, have you been there?

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter