Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest.



Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek.





sampahnya nggak seharusnya disitu ya?

Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana.

Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mungkin. Trus lagi perhatikan mood si monyet kalo mau foto. Maksudnya yaaa jangan asal demi selfie aja tapi malah monyetnya marah-marah. kalo sampe marah, bahaya lho. Ditarik jatoh kejurang nanti. Udah banyak juga kan kejadian selfie berujung maut ya.

dia nggak minum kola kok, cuman air putih



Intinya sih satu, apapun yang kita lakukan, jangan lupa jaga alam dan seisinya ya. Bumi udah mulai sekarat lho. Plis jaga bumi 😙

Comments

  1. Replies
    1. Iya persissss
      Tapi nggak ada kolam e hahah

      Delete
    2. Aku suka photo header blog ini yang pertama, teras lebih menarik dan penuh misteri tanda tanya untuk admin blog ini.

      Delete
    3. Aku jg suka itu mas, ini gnti smntra soalnya pas itu ada eror mau gnti pake foto itu hahaha

      Nanti deh ak ganti lg, lebih ciamik 😂😂

      Delete
  2. Aku jadi ingat monyet Bali, tahu saja dia mana yang enak dan bikin hot :)
    Ah, sebenarnya harus ada larangan memberi makanan pada monyet, biar monyet tidak menjadi liar. Biar petugasnya saja yang memberi makan.
    Ih sampahnya, wah bikin serem. Yuk budayakan jangan membuang sampah sembarangan saat wisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah sih ngelarang orang indonesia hahaha
      Padahal pas itu kita udah bilang lho kalo jgn sembarangan kasih makan soalnya bisa bkin sampah. Mreka memang kreatif hahaha

      Delete
  3. seumur-umur belum pernah ketemu langsung dengan monyet. klo monyet darat iya banyak. Hahhah
    Jinakkah mereka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak mbak, aku taunya buaya darat aja lho hahaha

      Jinak mbak, baek pula. Maksudnya nggak nyuri2 gitu. Aku kan rada parno ya kalo nyuri2 gt eh ternyata jinak kok. Cuman kalo dikasih makan ya langsung direbut, makanya ktor begitu

      Delete
  4. Replies
    1. He'em mbak, ga tahan liatnya. Pada liar ngasih makan soalnya, jadi sampah dimana2 😕

      Delete
  5. saat baca sambil putar scrol mouse terus liat gambar. tau nggak, semakin diputar pikiran saya seakan masuk kehutan melwati jalanan kecil yang ada ditebing itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. brasa kayak ikutan masuk kesana yak? hoho
      monyetnya lho lucu2, ndak nakal

      Delete
  6. Replies
    1. Aku juga udah mepet2 mreka bilang ati2 sampahnya, yaaaa mana didenger. Penting bisa selfie cantik sama monyet

      Delete
    2. Lah itu kan memang keluarga sampean, pantes bisa poto cantik sama mereka

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Pengalaman Bikin (Free) Schengen Visa di VFS Swiss

I know this is so normal but anyway I like to compare the experiences because people might have different cases and because I have nothing to lose so... here's my experience for applying Schengen Visa via Swiss (VFS). Kenapa nggak via Belanda? Karena rencana kita berkunjung lamanya ke Geneve - Swiss (ada urusan kerjaan suami gw) dan kami belum tau akan ke Belanda apa nggak saat itu (nggak jadi sih soalnya mepet banget).  Seperti yang sudah sering dibahas orang lain perihal syarat dan ketentuan apply Schengen visa, gw nggak akan nulis itu ya. Udah ada di website VFS, lengkap. Gw cuma tambahin dikit-dikit aja infonya yang mungkin sama seperti kasus yang baca kalo emang kebetulan sama sih 😂 "Ok jadi total pembayarannya 280 ribu rupiah ya" "HAH?? Cuma 200an mbak??? Visanya gratis???" "Suaminya masih WN Belanda kan mbak?" "Iya" "Oiya itu gratis, bisa pake visa tipe C. Jadi cuma bayar biaya admin aja" ...