Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide.

This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know. 

What can I say, it's an expensive hobby. 

I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well.

I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood. 

Cimol hides himself in his favorite spot, on Kodak 200

I used this film camera because my grandma had it. But it was for me only for point and shoot. I was still a child. All I know, if I press the shutter, it takes the photos. After using so many type of camera, I realized one amazing thing with this film camera. Snapping pictures becomes intentional. It slows me down. I really love the feeling.

I had to really put it into my perspective, into the viewfinder, and then had to imagine how the photo would turn out. There is this anticipation feeling that lingers. I needed to wait until the 36th shot, then developed the film roll. 

Toko Oen on Kodak 200

Malang on Kodak 200

The first shot was blank. I am not sure why, maybe because I did it wrong the first time. Instead of my sister, my photo came out first. My sister took the second shot of me, and that came up as the first photo that is 1/3 baked.

on Kodak 200

I used Kodak 200 as my first roll. The photos look very vintage, very warm, very humane. 

We're so used to digital life lately that everything is just one snap away and we probably going to forget about that. I have somewhere around 50K photos over the span of 12 years using the same account for my phone. That is indeed too many. I don't remember that many. Sure I have my favorite photos, but I tend to not delete the photos. I take photos as much as I want (probably not that I need).

on Kodak 200

Sambo on Fujifilm 200

Sanur on Fujifilm 200

 
Bali on Fujifilm 200

By using the film camera, it forces me to be careful. Not in a sense that I will mess it up but more like "Let's snapping the one that really matters". That way I don't waste the film and I will remember what I actually snap. 

Do I take the same photos by phone? Obviously. 

I am not saying that taking photos with modern camera mean less than film camera. There are moments where I would love to snap it using my film camera instead of phone or modern camera. I am just following what I feel. When I feel like to slowing down then I grab my film camera.

Also because I like it. I do what I like anyway 😉

Have you tried taking photos using the film camera?

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...