Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Recehan

Seinget saya sih udah pernah nulis soal ini


Seperti biasa, recehan bukan menjadi pilihan setiap orang karena udah pasti berat kalo banyak, keliatan kurang kece yang cenderung berujung pada pertanyaan :

abis ngamen dimana?
Hyaaaa.... selalu gitu deh. Tapi saya yang terinspirasi dari film Journey to the center of the earth gegara mereka bisa nuker uang recehan lima toplesnya dengan tiket perjalanan ke Reykjavik dari hmmm dari mana ya itu?? Amerika?? kayaknya sih Amerika, itu inspiring banget dehh buat saya. Sejak saat itu mendedikasikan diri untuk menabung recehan. Biarpun nggak nabung, tapi disimpen gitu, siapa tau bisa kelliling Eropa gara-gara recehan hohoho

 bayangin aja kalo itu receh lima ratus apa seribuan gitu, ada lima toples gede krupuk gitu, kayaknya bisa buat keliling Eropa. btw ini lho recehan yang ada di film Journey to the center of the earth.

Saya sudah lama suka nyimpen recehan. Sampai teman-teman yang tau kebiasaan saya, suka 'buang' recehan mereka ke saya. Dikira duit receh mah nggak berharga ya. Padahal seperti kata pepatah, 'sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit'. Saya punya receh 100, 200, 500, dan 1000. Kalau yang 500 sama 1000 sih bisa keliatan agak gede jumlahnya. Nah kalau yang 200an ini. Biasanya dibawa mama ke pasar sih buat ditukerin karena yang namanya duit di pasar itu pastiii laku berapapun nominalnya. Duit 200 receh bisa buat jatah pengamen di pasar. kata mamak begitu

udah waktunya setor yang 200an ke mama hahah

Dulu sebelum pindah ke Surabaya, ada beberapa toples uang receh. Kebetulan yang satu toples saya tinggal dirumah dengan harapan nanti saya bakal bawa ke Surabaya. Tapi karena berat, yawes tinggal aja wes. Nah saya liat tiap kali saya pulang kerumah, ini toples kok makin abis ya duitnya ya. Eh ternyata mama bikin pengakuan, "iya, diambil papa buat taro mobil. buat orang-orang ngamen, kalo nggak gitu ya buat ke toilet". Alamakkkk.. yawes gapapa wes yang penting manfaat deh ya.

Karena kebiasaan saya itu, sampai akhirnya saya punya klien lho. Klien yang nuker duit receh. Tiap bulan ato paling nggak 2 bulan, recehan di toples mini saya penuh dan itu sekitar 150ribu. Karena mengumpulkan receh bisa menjadi dana darurat, yang maksudnya bener-bener dana yang daruratttt banget tiap akhir bulan, lumayan kan bisa nambah duit jajan sampai 150ribu begitu. Keliatannya sih sepele, tapi ya lama-lama jadi banyak tho. Klien saya itu tak lain dan tak bukan adalah bapak nasi goreng depan kos. You are my savior pakkk

 

gegara beli sesuatu dapet botol unyu begini, sayang kalau nggak dimanfaatin. Akhirnya jadilah dia botol penyimpanan duit kertas. segala bentuk hal yang bisa bikin semangat dalam menabung itu perlu digalakkan kok :)



sedang menanti jatah menukar recehan ke bapak depan kos 
 

Comments

  1. Kalo udah banyak donasikan ke saya aja mbak

    Ntar saya kasih no rekening saya deh, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Donasi tmbhaan buat nikah?
      Sini maana nomer rekeningnya, aku transfer pake receh lho tapi

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter