Skip to main content

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Tentang donasi

Dulu pas nge-mol itu pernah didatengi mbak-mbak yang ramahhh banget kemudian menghentikan langkahku menuju toko buku. Nah si mbak tiba-tiba memulai presentasinya :


dia : Siang mbak, bisa minta waktunya sebentar *saya mulai menaruh curiga*

aku : iya mbak, ada apa ya? 

dia : begini mbak, kami dari organisasi xxx, udah pernah denger belom mbak?

aku : ohh iya pernah denger *saya tuh polos, kalau ada obrolan yang menyangkut hal yang saya tau pasti langsung nyambung dan jadi ramah banget malah lebih ramah dari dia*

dia : wah kebetulan banget nih mbak, jadi disini kami mau mempresentasikan nih mbak, mbak pasti tau dong ya keadaan alam kita gimana nih ya sekarang? ada berapa banyak sisa hutan yang kita punya sekarang ini ya. Kan sayang ya mbak, kalau alam kita rusak ini juga kasian anak cucu kita ntar gimana nasibnya blablablabla *ini orang beneran deh gaya presentasinya persuasive banget*

aku : iya mbak tau, kalau saya ndak sayang lingkungan, mana mungkin saya pake tas ini *dasar rempong, sekali topik nyambung, eh ngobrol tiada henti. ceritanya sih sekalian pamer tas non plastik yang barusan beli bulan-bulan kemaren*

dia : nah makanya mbak, disini kami ingin mengajak mbak untuk ikut berperan dalam melestarikan alam. Melalui yayasan kami, mbak cukup menyisakan uang sebesar lima ribu rupiah setiap harinya, dan nanti akan di debet setelah 30 hari sebesar seratus lima puluh ribu. 

 terpaksa gegara lupa ndak bawa slingbag. tapi kece juga kan..

 green is an attitude, if you know what I mean

Jelas kan, tujuan dari presentasinya tuh itu sebenernya. Minta debet 150ribu perbulan yang sistemnya setiap bulan, uang sebesar itu akan di debet dari rekening kita secara otomatis. Bisa debet bisa kartu kredit juga. Nah dia debetnya di awal bulan atau akhir bulan. Tapi kalau rekening kita ndak ada isinya, ya ndak akan terdebet otomatis dan tidak berlaku kelipatan. Ceritanya sih ini katanya bakal ada email konfirmasi, tapi sampai sekarang ya ndak ada tuh email konfirmasi.

Nah karena terhipnotis presentasi mbaknya, akhirnya saya daftar dong. Jadi member. Sebenernya yang bikin saya daftar itu karena ini organisasi besar dan hampir semua orang tau organisasi ini. 

Cerita lah ke temen-temen, eh tiba-tiba dibilang “awas lho tipu-tipu. Ada banyak laporan tipuan yang debetnya lebih dari jumlah yang disepakati”. Mampusssss dah. Daripada dikasih orang tipu-tipu ya mending buat nabung emas lah, biar kata cuman dapet 0,3gram. Untungnya, rekening saya itu nggak satu, dan bukan rekening utama yang saya daftarin. Yawes, langsung saya kosongin deh rekening itu.

Nah minggu kemaren, saya jalan-jalan lagi ke toko buku. Eh tetiba ada mbak-mbak nyamperin. Haduhh emang muka saya nih muka dermawan apa ya?? Kok rajin banget disamperin orang minta sumbangan begini. Karena saya udah pengalaman, akhirnya saya bilang gini “Aduh maaf ya mbak, saya harus tanya suami saya dulu, karena apapun keputusan harus nanya dulu ke suami saya. Saya nggak bisa ambil keputusan sendiri mbak”. Dianya mungkin ngerasa kalo saya ndak bakalan kasih kali ya, tapi nomer saya udah dicatet kok sama mbaknya. Nggak tau deh kalau nanti sms ato telpon ke nomer saya.

Ternyata eh ternyata, pas abis cerita si mas, ini praktek ndak cuma ada di Indonesia aja, tapi di Belanda juga ada praktek seperti ini. Ntah ini sebenernya tipu-tipu apa gimana ya, tapi yang jelas ada mereka pakai teknik payment tiap minggu atau bulanan dengan cara debet langsung atau melalui kartu kredit. Oh Oh Oh


kata si mas hihihihi

Saya bukannya pelit atau nggak mau donasi ya. Tapi untuk donasi macam hal seperti itu, bukankah lebih baik kalau didonasikan secara langsung? Atau yaa minimal kita yang datang ke lembaga/yayasannya. Karena sudah barang tentu lembaga yang kita datangi adalah yang bertanggung jawab, bukan tipu-tipu.


 mending kita tabung duit kita macam recehan itu, dikumpulin dalam satu toples trus kalau udah banyak tinggal sumbangin ke yang membutuhkan. ya nggak?? (gambar pinjem sini)



Yuk ah jangan makin merusak alam. Sayangi lingkungan sayangi masa depan
 

Comments

  1. Gua sih biasa donasi ke Tzu chi atau ke vihara belakang rumah. Sejauh ini yg penting ada niat baik, terserah uangnya mau diapakan. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah terserah ya duitnya mau diapaain
      Cuman syg aja kl niat baeknya ndak trsalurkan semestinya :D

      *serasa donasinya gambling -_-

      Delete
  2. Untung muka gw muka melas, jadi gak pernah ditawarin kaya gitu

    Mending langsung kasihin ke masjid atau panti asuhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada untungnya jugak kan pnya muka melas hahaa

      Iya biasanya aku jg gt. tiap bulan uda ada jatah buat dikasi lngsg. Kalo lewat beginian rempong ciiinn

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Dapet Visa UAE (Dubai) Gampang Banget

Dubai creek Beberapa waktu yang lalu, kita pusing berat karena H dapet libur kali ini cuman 10 hari. 10 hari dari yang biasanya 14 hari. Akhrinya diputuskan untuk tetap mengambil libur tapi nggak ke Indonesia.  Ternyata, beberapa hari kemudian, dia bilang, kalau liburnya malah jadi 7-8 hari aja. Mau ga mau saya yang harus kesana. Maksudnya terbang mendekatinya. Udah milih-milih negara mana yang harganya rasional, yang ga banyak makan waktu buat terbangnya H, dan tentunya ga ribet urus visa buat pemegang paspor hijau yang ga sesakti paspornya H.  Btw warna paspor Indonesia jadi biru ya sekarang?? Pilihan jatuh ke Dubai. Pemegang paspor hijau harus bikin visa, ya pusing lagi deh cara bikin visa Dubai nih gimana. Apa iya sesusah bikin visa schengen, visa US, visa lainnya. dari persyaratan sih standar ya, termasuk  record  bank account selama 3 bulan. Emang nggak pernah bikin visa Dubai sebelumnya ya, apalagi H yang paspornya super sakti kemana-mana (hampir) ga perlu visa, dia ga pernah ad

Catatan Kuliah (6) : Masuk bareng, keluar bareng (?)

Sanur Sebagai mahasiswa yang masih belum mengenal kerasnya kehidupan kala itu, kita berikrar "Kita masuk bareng kita juga harus keluar bareng." Naif? Iya tentu. Maklumin aja namanya juga mahasiswa baru kan. Maunya yang  flawless  terus. Tapi apa salahnya sih berdoa baik kali aja malaikat mengamini lol.  Ternyata, kenyataannya, tentu saja tidak. Iya kalau semua  setting  nya  default  semua mahasiswa tidak ada kesulitan yang berarti, dosen nggak resek, mahasiswa juga nggak resek, data nggak resek, pasti lulus bareng kita. Kehidupan perkuliahan keras di akhir hahaha Gw dari awal masuk kampus ngerasa kalo gw nggak akan lulus tepat waktu. Aneh ya, harusnya orang mikir lulus tepat waktu tapi gw udah ada feeling. Dan gw berusaha keras buat nggak terlalu jatuh dalam angka. Ya maksudnyaaaa karena gw anak minor komputasi jadi gw udah bisa tebak lah data yang gw pake pasti agak makan waktu. Jadi  range  kelulusan adalah 7 semester, 8 semester, 9 semester, diatas 9 semester. Temen gw ya