Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Tentang donasi

Dulu pas nge-mol itu pernah didatengi mbak-mbak yang ramahhh banget kemudian menghentikan langkahku menuju toko buku. Nah si mbak tiba-tiba memulai presentasinya :


dia : Siang mbak, bisa minta waktunya sebentar *saya mulai menaruh curiga*

aku : iya mbak, ada apa ya? 

dia : begini mbak, kami dari organisasi xxx, udah pernah denger belom mbak?

aku : ohh iya pernah denger *saya tuh polos, kalau ada obrolan yang menyangkut hal yang saya tau pasti langsung nyambung dan jadi ramah banget malah lebih ramah dari dia*

dia : wah kebetulan banget nih mbak, jadi disini kami mau mempresentasikan nih mbak, mbak pasti tau dong ya keadaan alam kita gimana nih ya sekarang? ada berapa banyak sisa hutan yang kita punya sekarang ini ya. Kan sayang ya mbak, kalau alam kita rusak ini juga kasian anak cucu kita ntar gimana nasibnya blablablabla *ini orang beneran deh gaya presentasinya persuasive banget*

aku : iya mbak tau, kalau saya ndak sayang lingkungan, mana mungkin saya pake tas ini *dasar rempong, sekali topik nyambung, eh ngobrol tiada henti. ceritanya sih sekalian pamer tas non plastik yang barusan beli bulan-bulan kemaren*

dia : nah makanya mbak, disini kami ingin mengajak mbak untuk ikut berperan dalam melestarikan alam. Melalui yayasan kami, mbak cukup menyisakan uang sebesar lima ribu rupiah setiap harinya, dan nanti akan di debet setelah 30 hari sebesar seratus lima puluh ribu. 

 terpaksa gegara lupa ndak bawa slingbag. tapi kece juga kan..

 green is an attitude, if you know what I mean

Jelas kan, tujuan dari presentasinya tuh itu sebenernya. Minta debet 150ribu perbulan yang sistemnya setiap bulan, uang sebesar itu akan di debet dari rekening kita secara otomatis. Bisa debet bisa kartu kredit juga. Nah dia debetnya di awal bulan atau akhir bulan. Tapi kalau rekening kita ndak ada isinya, ya ndak akan terdebet otomatis dan tidak berlaku kelipatan. Ceritanya sih ini katanya bakal ada email konfirmasi, tapi sampai sekarang ya ndak ada tuh email konfirmasi.

Nah karena terhipnotis presentasi mbaknya, akhirnya saya daftar dong. Jadi member. Sebenernya yang bikin saya daftar itu karena ini organisasi besar dan hampir semua orang tau organisasi ini. 

Cerita lah ke temen-temen, eh tiba-tiba dibilang “awas lho tipu-tipu. Ada banyak laporan tipuan yang debetnya lebih dari jumlah yang disepakati”. Mampusssss dah. Daripada dikasih orang tipu-tipu ya mending buat nabung emas lah, biar kata cuman dapet 0,3gram. Untungnya, rekening saya itu nggak satu, dan bukan rekening utama yang saya daftarin. Yawes, langsung saya kosongin deh rekening itu.

Nah minggu kemaren, saya jalan-jalan lagi ke toko buku. Eh tetiba ada mbak-mbak nyamperin. Haduhh emang muka saya nih muka dermawan apa ya?? Kok rajin banget disamperin orang minta sumbangan begini. Karena saya udah pengalaman, akhirnya saya bilang gini “Aduh maaf ya mbak, saya harus tanya suami saya dulu, karena apapun keputusan harus nanya dulu ke suami saya. Saya nggak bisa ambil keputusan sendiri mbak”. Dianya mungkin ngerasa kalo saya ndak bakalan kasih kali ya, tapi nomer saya udah dicatet kok sama mbaknya. Nggak tau deh kalau nanti sms ato telpon ke nomer saya.

Ternyata eh ternyata, pas abis cerita si mas, ini praktek ndak cuma ada di Indonesia aja, tapi di Belanda juga ada praktek seperti ini. Ntah ini sebenernya tipu-tipu apa gimana ya, tapi yang jelas ada mereka pakai teknik payment tiap minggu atau bulanan dengan cara debet langsung atau melalui kartu kredit. Oh Oh Oh


kata si mas hihihihi

Saya bukannya pelit atau nggak mau donasi ya. Tapi untuk donasi macam hal seperti itu, bukankah lebih baik kalau didonasikan secara langsung? Atau yaa minimal kita yang datang ke lembaga/yayasannya. Karena sudah barang tentu lembaga yang kita datangi adalah yang bertanggung jawab, bukan tipu-tipu.


 mending kita tabung duit kita macam recehan itu, dikumpulin dalam satu toples trus kalau udah banyak tinggal sumbangin ke yang membutuhkan. ya nggak?? (gambar pinjem sini)



Yuk ah jangan makin merusak alam. Sayangi lingkungan sayangi masa depan
 

Comments

  1. Gua sih biasa donasi ke Tzu chi atau ke vihara belakang rumah. Sejauh ini yg penting ada niat baik, terserah uangnya mau diapakan. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah terserah ya duitnya mau diapaain
      Cuman syg aja kl niat baeknya ndak trsalurkan semestinya :D

      *serasa donasinya gambling -_-

      Delete
  2. Untung muka gw muka melas, jadi gak pernah ditawarin kaya gitu

    Mending langsung kasihin ke masjid atau panti asuhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada untungnya jugak kan pnya muka melas hahaa

      Iya biasanya aku jg gt. tiap bulan uda ada jatah buat dikasi lngsg. Kalo lewat beginian rempong ciiinn

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Gojek ke bandara juanda

While waiting, jadi mending berbagi sedikit soal gojek. Karena saya adalah pengguna setia gojek, saya pengen cobain ke bandara pake gojek. Awalnya saya kira tidak bisa *itu emang sayanya aja sih yang menduga nggak bisa*, trus tanya temen katanya bisa karena dia sering ke bandara pakai motornya. Nah berarti gojek bisa dong?? Sebelum-sebelumnya kalo naek gojek selalu bayar cash, tapi kali ini pengen cobain top up go pay. Minimum top up 10ribu. Jadi saya cobain deh 30ribu dulu. Eh ternyata lagi ada promo 50% off kalo pake go pay. Haiyaaaaa kenapa ga dari dulu aja ngisi go pay hahaha. Dari kantor ke bandara juanda sekitar 8km. Kantor saya sih daerah rungkut industri. Penasarannn banget ini abang mau lewat mana ya. Tertera di layar 22ribu, tapi karena pakai go pay diskon 50% jadinya tinggal 11ribu. Bayangin tuhh... pake bis damri aja 30ribu hahaha. 11ribu udah nyampe bandara. Biasanya 15ribu ke royal plaza dari kantor haha. Lagi untung. Bagus deh. Nah sepanjang perjalanan, saya mikir ter