Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Kapan Nikah?



Sebentar lagi lebaran dan kumpul sama keluarga besar. Buat yang masih single, jangan lupa siapkan jawaban atas pertanyaan ‘KAPAN NIKAH?’. Saya udah siapin jawaban itu dari bertahun-tahun yang lalu hahahha...

karena ini adalah pertanyaan sadis dan membunuh bagi para jomblo/single/ yang statusnya belum taken by their partner.


That question always there since I was maybe 20 or 22. These people are really love to ask "When will you get married?", anytime anywhere. They start to ask this magical words. At first when they start to ask me this question, I thought like "Oh wow, is it the time for me to have this question? Ah maybe ". but yes, since that time, when I meet family or relatives even friends they will always ask "when you will get married?". dudududuuuu lalallalaaaaa... my answer always be like "NEXT YEAR". Actually I dont really understand why I told them next year, but that is better I guess than give them "I dont know" answer.

yea, Eid will come shortly. We will gather around with relatives and family. And I am ready for that question (again). after their question is answered with the same answer every time, they will ask again "You are not single right?". No no I am in relationship now, then they will say "get married then!". I will tell them like 'there are a lot to arrange and manage before married'. and they will easily say "that's not a difficult part". I have no idea why people love to ask other people to get married. Will you become our sponsor to have the wedding party??? hahahha

Sometimes I only tell them "Just be patient for the invitation next year", then I leave them. Hemmm they might not thinks that getting married isn't easy. The only thing the know is 'you have to be married soon and invite me, then if something goes wrong with your party we will talk about it behind you'. Diiihhh sebel dehhh, udah maksa, masih juga diomongin dibelakang.

Getting married isn't easy, especially for mixed couple. Oh yes, there are a lot to prepare for mixed couple. but they never know about that. never know. they only know that 'you must be outstanding on your wedding'. mboookkk tulung.

Yes, I almost 25. They will thinks that I have to be married soon. Hmmm hello... I am still happy like this, and I am still preparing for that. I only want to be married once. with someone only. That is why I don't want to rush. and yea the question about 'KAPAN NIKAH?' is kinda annoying lho saudara-saudara. untungnya pas ndak patah hati pas ditanya.

Anyway, I just wish that kind of question will be something like a wish that I will get married soon and maybe next year. But I wont invite too many people. I only invite those who are close to me or the precious ones.

Semoga berkah


for Frontsummer, I will invite you all but the invitation will be written in my blog, since I know that you all will come when you have time but I don't want to spend money to invite you using that kind of invitation letter :P

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...