Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Gedung baru #recently

Ceritanya belum satu bulan di gedung baru. Masih belajar adaptasi ditempat baru, orang baru, aturan baru. Susah ya, untuk mengenali ratusan orang dengan ras yang sama. Bukan maksudnya rasis sih, tapi emang orang kantor banyak yang satu ras kulit putih, jadi lebih susah bedainnya kecuali yang sering ketemu di toilet, pantry atau sering fotokopi.  

---
Eh ada mantannya penyanyi G lho disini?
Oiya, masa sih yang mana? satu ruangan kah?
Iya itu yang putih tinggi ganteng.
yaelah buuukkkk disini mah semua pada tinggi dan putih, ganteng mah relatif -_-
---

Posisi meja kerja juga bukan lagi berbentuk kubikal seperti gedung lama, tapi seperti gambar dibawah ini nih yang mirip seperti customer service gitu. Bedanya ndak cuma sebaris aja, tapi puluhan baris dan setiap baris meja untuk 6 orang. Ada sih pembatasnya, tapi pendek banget cuman buat nempel kertas-kertas kecil gitu. karena pendek, posisi menentukan prestasi dong. I mean posisi menentukan berat badan. How come? Karena bersanding dan berhadapan dengan orang yang hobi snacking all the time itu pengaruhnya ke timbangan di klinik. Seriusan, disini bentar udah naik 2kilo. Jam ngemilnya dimulai pukul 10 pagi, lanjut 3 siang sampai pulang. Tapi karena saya termasuk tim internasional, otomatis cemilannya internasional juga donngg a.k.a sering dibawain cemilan ala negara affiliate yang gabung sama kantor Surabaya. Efeknya, nggak pernah sepi dari cemilan bentuk apapun.

ini kantornya Google yang ada di Zurich, pinjem di sini

Karena sedang belajar adaptasi, ada satu hal yang menurut saya aneh.Dengan posisi meja kerja seperti itu, tiba-tiba ada orang nyanyi 'Happy birthdayyyy to you.... happy birthday....blablabla', saya sebagai pendatang ya kaget dong. Kita berdua puluh sempet cari-cari darimana sumber suara itu. Eh ternyata dari meja baris nomer satu dengan posisi meja saya di meja baris 20. Jauh tho, tapi kan kaget aja. Nah liat orang yang lainnya kayak ndak ada respon sama sekali. Cuma diem malah serius kerja. Ya lebih heran lagi ya, yang baris 1 huru hara, yang baris 20 kerja serius banget gara-gara case fatal. Kan aneh tho.

Besoknya eh ada lagi yang ulangtahun. Masa iya dalam seminggu aja yang ulangtahun ada kali 5 orang. berkali-kali mereka kasih surprise party dan kita serius kerja. Ketiga kali udah mulai terbiasa dan akhirnya saya menjadi seperti 'mereka'. Nggak peduli dan cuek. ibarat kata nih, lu huru hara terserah elu, yang jelas gue kerja. urusan kita beda. Sebenernya udah denger dari temen yang duluan di gedung itu, tapi baru ngerasain sendiri sekarang. Dan itu aneh banget. Berasa kayak ada gap diantara kita gitu.

tumben aja ini cemilan sempet difoto sebelum diabisin. biasanya juga bablasss blas kecuali ibu spv yang rajin fotoin cemilan sebelum dibagi-bagi. btw green tea cookiesnya green tea banget  

Tapi yaweslah, namanya juga kerja bareng orang banyak. Karakternya juga beda-beda. Yang terbaru sih pada gempar nyari pokemon. Di kantor nggak ada, kecuali di deket mesin kofax di deket lobi. Selainnya nggak ada. Takut mungkin kalo karyawannya bakal masuk keruang manager gara-gara pokemon hihii

 salah satu sudut digedung baru




Sedang berusaha menyamankan diri digedung baru dengan cara sedia bantal, sendal, loker penuh cemilan, sama pasang foto dimeja hahahaha

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...