Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Perlu saya follow back kah?

Dalam 2 hari ini, nggak tau kenapa, ada puluhan online shop yang tiba-tiba follow instagram saya. Emang sih akhir-akhir ini saya follow beberapa online shop baru dan unfollow online shop yang lama (gara-gara satu foto bisa di upload sampai 3kali disaat yang bersamaan). ah itu juga saya follow karena barangnya bagus dan ... pengen niruin buat jualan hahhaa

Yang follow pun macem-macem. Ada pas saya sering posting foto saya sama bayi, yang follow macam lapak klinik cepat hamil, cara cepat hamil, cara membesarkan payudara (wow), perlengkapan bayi. Kawin aja belom yak!! Nah pas saya sering upload foto yang penuh manusia berjilbab, eh yang follow macem xxxhijab, yyyhijab, zzzhijab syar'i, dan sejenisnya. Sekalinya saya follow desain undangan kawinan, eh yang follow berbagai macam lapak undangan dan souvenir nikahan. Giliran saya upload jajanan yang mengandung greentea, eh yang follow lapak yang jualan green tea. Mendadak beken, endorse dong!!!!

 gara-gara sering upload sama bebi unyuk satu ini nih, jadi difollow lapak perlengkapan bayi

Karena saya bukan penganut 'follow me, I will follow you back', jadilah saya biarin mereka di list follower saya tanpa saya follow back. Tapi saya fair kok, kalau ada yang follow ya saya cek out their page. Kalau cocok dan isinya menarik, serta mendatangkan informasi, ya saya dengan senang hati follow. Tapi kalau nggak cucok ya nggak saya follow back. Ngapain spamming kan, jadi ketinggalan update temen-temen deket deh gara-gara banyak akun jualan di timeline yang mendominasi.



Saya pun nggak sembarangan follow orang, karena pasti saya cek duluan isinya apa, ada manfaatnya nggak, spamming nggak, dan yang pasti saya inget kalau saya yang follow duluan. Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba ada akun jualan barang-barang bayi dan saya merasa aneh karena saya nggak pernah follow. Saya cek akunnya, eh ternyata dia nggak follow siapapun tapi followernya jutaan. Konyol nih, langsung aja unfollow. Kenapa? Karena pertama, kawin aja belom, nggak bakal deh nyari barang bayi saat ini. Kedua, itu spam tiba-tiba 'hack' akun saya, nggak suka lah saya. Itu mungkin semacem yang jualan akun aktif itu. Usaha mah gapapa, tapi ya jangan bikin jengkel orang lah ya.

Hal ini belaku juga lho buat temen sendiri. Ada temen yang nggak tau diri, sekali upload fotonya dia sendiri ehhhhh sepuluh foto sama baju, rambut, pose, cuman beda sudut senyumnya aja. Kalau nggak gitu dia selalu posting foto, biasa sih fotonya, tapi captionnya duh gustiiii alay. Sebel nggak tuh kalo follow yang begituan. Kecuali.... kalau emang yang di upload itu foto semacem portofolio. Itu saya suka, bisa jadi inspirasi dan penyebar keindahan kan. 

Ngomong-ngomong soal alay, saya juga pernah alay sih, tapi diusia saya dulu pas remaja. Jadi kalau ada postingan alay dan itu masih dibawah 18 tahun, menurut saya wajar. Tiap orang harus melewati fase alay untuk menjadi dewasa, kayak katanya Raditya Dika lah ya. Tapi kalau alay diusia 25 taunan apalagi kalo udah punya anak, itu kok gemes ya rasanya. Mungkin masa alay-nya belom kelar, mungkin lho yaaa!!!



abis bersih-bersih akun yang saya anggap 'spam' di semua akun media sosial, meskipun itu akun temen sendiri hahaha

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...