Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Gempa Malang hari ini

'Eh barusan kerasa gempa nggak? kenceng banget lho'

Mulai lah bersautan chat dari teman-teman di segala jenis media sosial. Itu salah satu bentuk positifnya media sosial ya.

"Info Gempa Mag:6.2 SR, 16-Nov-16 22:10:11 WIB, Lok:9.32 LS,113.12 BT (127 km Tenggara KAB-MALANG-JATIM), Kedlmn:69 Km ::BMKG" --> gempa tidak berpotensi tsunami karena gempa masih dibawah 7SR dan tidak jelas ada gempa susulan karena tidak bisa diprediksi [ini kata kepala BMKG Karangkates]. Ini live update dari kompas tv

Bapaknya bilang 'tidak usah panik, silakan masuk kembali kedalam rumah dengan hati-hati. karena ini gempa sudah terjadi' ya kali pakkk. Tapi makasih pak infonya, agak bikin saya tenang



Yang saya khawatirkan, keluarga saya yang ada di Malang. Keluarga saya rata-rata di Malang. Malang pun mayoritas dekat laut. Dan setiap kali gempa di Malang ini selalu bikin deg-deg takut tsunami. BBM lah dengan sepupu disana, dia bilang kencenggggggg banget. Waduh, mana dibilang mau ada susulan lagi. Lebih mengkhawatirkan karena si mbah putri itu sudah tua dan udah nggak bisa jalan lagi. Nggak kuat jalan lagi. Jadinya harus ada laki yang nemenin, in case aja deh ya, in case butuh respon cepet buat nggendong.

Tiba-tiba adek di Jakarta kirim pesan, nanya sih lebih tepatnya, krasa gempa apa nggak. Nah Sidoarjo sih kerasa, tapi Surabaya di posisi saat ini saya menulis, tadinya sempet berasa halusinasi dan spontan bilang 'kok kayak gempa sih', tapi nggak ada getar sama sekali. Padahal Sidoarjo kenceng katanya. Intinya sih nggak halusinasi saya. Beneran gempa. Nah si adek ini bilang 'wes mbak, jangan tidur. Katanya ada gempa susulan'. Ya kaliiiii nggak boleh tidur, udah nggantuk juga.

Setelah memastikan orangtua di Pandaan yang katanya kerasa. Saya mah yakin orang dirumah udah pada molor, di WA nggak ada yang respon sama sekali tuh. Paling juga kucing-kucingku yang bisa respon. Yawes nanya ke temen katanya agak kenceng, tapi nggak ada kerusakan. Yawes agak damai lah.

Nah sepupu yang di Kediri belom bales. Soalnya katanya sih disana kenceng juga lumayan. Ya udah pasti ini mbak sepupu udah molor. Dia mana pernah begadang cantik.

Yang agak kurang ajar, temen-temennya si adek yang pada kuliah di Malang. Tiba-tiba bilang minta maaf kalo ada salah soalnya ini gempa kenceng banget, takut ada apa-apa. Malah nyaranin ngumpul di lapangan Rampal biar selamet semuanya. Malah sempet-sempetnya bercanda 'semoga gempanya udah mencapai KKM jadinya nggak perlu remidi susulan lagi'. Ini sumpah ya, kreatif juga sih untuk menghibur diri sendiri.

Sampai tulisan ini diposting *ahemm gaya*, saya malah nggak jadi ngantuk dan ini pas pukul 0:00. Yakpa iniii besok juga harus kerja semoga gak molor dah bangunnya hahaha

Yawes, agak tenang barusan denger update dari kepala geofisika Karangkates malang kalau nggak usah khawatir. Semoga semua keluarga dan teman-teman dilindungi dan aman-aman wae lah. aamiin..

Comments

  1. Gempa nyampe KKM, hahahaha


    Remidi nak, kamu harus remidi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah makanyaaaaa.. Untung gempanya udah KKM semalem haha

      Delete
  2. Alhamdulillah gempa tidak berpotensi tsunami .... Semoga aja gak ada gempa susulan

    ReplyDelete
  3. Iya bener banget... adek ku yang kuliah dimalang juga ngerasa kalo gempa... dia pikir gempa buatan... taunya benerannn...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gempa buatan ini semacem truk gandeng yg muat barang berat trus lewat depan rumah kali ya??? Hahha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men