Skip to main content

Sayang Bumi Sayang Anak

Sharjah - UAE Gw suka banget belanja online. Ya karena praktis aja. Tentu saja gw juga suka banget belanja langsung on the spot  kalau lagi stress dan lagi ada waktu buat muter-muter. Tapi... ternyata gw jadi kesel tiap abis belanja online, gw harus berurusan dengan plastik-plastik bekas belanja.  "Dih plastik lagi." Emang, beberapa barang tentu saja perlu plastik/ bubble wrap  ekstra. Tapi banyak dari belanjaan gw yang nggak perlu itu semua. Tebel banget. Gw paham juga beberapa toko lebih milih dibungkus plastik tebel biar tokonya nggak dikomplain. Tapi bagi gw, udah kebangetan.  Gw tau kita nggak bisa sepenuhnya nggak pakai plastik. Kita masih akan pakai plastik. Konsekuensinya, ya kita harus tau sampah plastik ini harus diolah gimana biar nggak kebuang sia-sia. Mana nggak bisa terurai ratusan tahun lagi.  Masalahnya, plastik ini seringkali nggak bisa dipake lagi karena selotip yang muter. Susah lah di- breakdown lagi biar bisa dipakai ulang. Akhirnya, tentu saja dibuang pe

Selamat hari guru


Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem.

dua pendidik dan pengajar saya. well, papa emang guru dan ngajar saya waktu SMP. dan mama, best educator who shape me! diambil dari DP WA mama yang saya yakin seyakin yakinnya ini gambar diambil hari ini karena ternyata mama doyan selfi bareng papa dan itu tiap hari dan tiap hari ganti DP WA pula 😏

Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua!

Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya. 

Apa yang dipikirin cuma membikin anak tidak bisa menjadi bisa aja? No! tentu saja tidak. Mendidik itu susah. Itulah kenapa banyak orangtua yang 'kurang sukses' menjadikan anaknya memiliki tata krama yang sepantasnya. 

Lah jadinya apa definisi guru sama pendidik tadi? Ya harusnya sih guru itu digugu dan ditiru, melihat definisi itu ya harusnya guru itu menjadi pendidik dan pengajar. Tapi sayangnya, banyak guru yang tidak peduli dengan moral anak didiknya bahkan menjadi seperti 'Ah yang penting udah ngajar, digaji, beres. Urusan moral? kan kalian punya orangtua'. Eh jangan salah, kadang anak itu lebih manut sama gurunya daripada orangtuanya sendiri. Contohnya saya dulu. waktu sekolah, rambut saya panjang dan saya pengen gerai ala model iklan sampo. Mama bilang 'dikuncir dong rambutnya, nanti dimarahin gurunya lho'. Saya nggak mau. Eh nyampe sekolah, langsung ditegur 'Pris, rambutnya kalo panjang dikuncir aja, jangan digerai, nanti kamu sibuk main rambut daripada belajar'. Cerita dong ke mama, malah dicaci maki saya sodara sodara. 'Rasain! udah dibilangin mama nggak percaya'. JLEB

Kenapa banyak anak didik yang tidak menyukai gurunya? Karena gurunya tidak melakukan pendekatan personal dengan baik. Anak didik saya lucu-lucu meskipun ada yang kuliah juga. Bahkan sampai selesai kelas pun dan berpisah dengan saya, mereka masih mengingat dan bahkan masih memanggil 'bu guru'. Feel appreciated? Yes. Karena ketika kamu diingat orang lain, berarti kamu pernah menjadi seseorang yang berkesan di hatinya dan harinya 😊

Saya setuju dengan quote, 'tugas seorang guru adalah mengajar dan mendidik, bukan mengerjakan tugas administrasi'. Setuju 1000%. Dulu ketika masih mengajar, saya paling males dengan yang namanya tugas administrasi macem bikin laporan, kasih nilai, itu semua abstrak. Sampai pernah lho kita diantara para pendidik gahol ngobrol cantik begini "Eh, kenapa sih nggak dibikin 2 jurusan aja. Jurusan pendidikan dengan spesifik jurusan, dan administrasi pendidikan tersebut'. Duhh girang kali saya kalo ada begitu ya. 

Menjadi seorang pendidik (sekaligus pengajar) itu, otaknya nggak pernah berhenti mikir. Dari pagi siang sore malem bahkan pas pacaran. Yang ada diotaknya cuma bagaimana anak didiknya bisa memahami hal yang kita ajarkan dan bermoral (sekaligus isi laporan, bikin perancangan dan menyiapkan materi 😑). Saya inget kata guru saya, 'Orang pinter kalo nggak bermoral itu bisa jadi orang paling mengerikan. Makanya, pinter dan moral itu harus jalan bersamaan biar kalian bisa menjadi wise'. Betul itu. Karena  otak nggak pernah berhenti mikir, akhirnya saya bisa tetep langsing 😄

gaya dikit boleh dong ya 😊 baru pertama ke kantor pake rok beginian dan bikin orang kantor heboh

Semua orang bisa menjadi 'guru yang administratif', tapi tidak semua orang bisa menjadi 'guru yang sekaligus mendidik dan mengontrol moralitas anak didiknya'. Teruntuk rekan-rekan guru, guru-guru yang ada di Indonesia, saya mohon, jadilah pengajar sekaligus pendidik. Karena nantinya pun saya akan menitipkan anak saya kepada anda-anda dengan harapan anda bisa mengajar sekaligus mendidik anak saya, dan bisa menjadi 'orang tua kedua' bagi anak saya.

Nambah harapan lagi boleh? Boleh ya. Saya berharap sebentar lagi profesi guru (pengajar dan pendidik) akan menjadi beken sebeken-bekennya. Menjadi profesi nomer satu dan dihargai keberadaannya. Bahkan diatas presiden deh, karena kalo nggak ada guru ya si anak mungil kecil tak berdosa itu nggak mungkin bisa pinter dan jadi presiden. Ya nggak? iya dong 😎

Selamat hari guru!! Untuk papaku, untuk guru-guruku, untuk rekan-rekan pendidik (termasuk aku yang dulu 😄), untuk semua guru yang ada diseluruh Indonesia. Semoga selalu menjadi orang yang selalu digugu dan ditiru 😄


Some articles you may like to read, about my ramblings when I was teaching : here, here, here, herehere, and here

Comments

  1. Wah papa mama nya kece ya ... pantes anaknya juga caem gtu...heheh

    Papanya guru ya... mamaku juga guru heheh kita samaan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahemm caem uhui 🤓

      Wahhh kita sama2 anak pejuang kecerdasan bangsa ya 😆

      Delete
  2. Setuju, terkadang ada guru yang lebih mementingkan bagaimana cara mengajar anak, sama kayak yang Mbak Prisca bilang di atas, mereka lebih fokus mengajari dari yang bisa ke tidak bisa. Padahal mengajar dan mendidik itu kan bukan hanya di kelas, di mata pelajaran tertentu dan tepat di waktu mengajar saja kan? Tapi di lain sisi, aku bersyukur karna sejauh ini hampir semua guru yang aku temui benar-benar menjadi panutan dan pendidik yang baik. hehe :D

    Selamat Hari Guru \:D/

    Btw, aku mau follow blog ini tapi engga ada widget untuk pengikutnya:((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur ya punya guru yang bener2 bs digugu dan ditiru. Jd guru itu tanggung jwabnya besar banget soalnya, harus kontrol moral diri sendiri jg haha *pengalaman*

      Wahh sik sik bentar ya, nanti tak munculin. Kmrn jg ada yg minta hoho

      Delete
  3. Aku adalah guru untuk Keenan...


    HAHAHAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Guru yang selalu ditanyain pertanyaan ajaibnya keenan dan bkin speechless ya??? Hahaha

      Mana keenanya? Nulis lagi dongggg. Aku ngefen berat deh sama dia

      Delete
  4. Replies
    1. Aku juga mau dong. Punya guru cantik pasti lebih asek.

      Delete
    2. Boleh! Masuk kelas matematika tapi ya? 😏

      Delete
  5. Selamat ya telah merasakan menjadi seorang guru walau cuma seumur jagung. Aku lebih lama lagi dan prustasi karena gaji pengajar kecil. Sehingga lari menjadi kuli kasar. Sampai sekarang tetap kuli. Jiwa pengajar nya turun dari orang tua ternyata. Pinjam roknya dong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Roknya disewain bang, biar ada profit dikit2 hahah

      Nahh sayangnya itu bang, profesi pengajar, guru, gajinya kalah sama smuanya. Padahal diluar negeri aja guru itu nmr satu ya

      Delete
  6. Saya juga setuju kalau tugas guru itu mengajar sekalian mendidik, tapi sedikit jarang ditemuin saat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena profesinya bukan panggilan dari hati??

      Delete
  7. Selamat hari guru... *telat.
    "Lebih baik telat daripada tidak sama sekali"

    Aku dulu juga pernah jadi pendidik meskipun nggak begitu lama.

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is.  After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing. Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3