Skip to main content

Sayang Bumi Sayang Anak

Sharjah - UAE Gw suka banget belanja online. Ya karena praktis aja. Tentu saja gw juga suka banget belanja langsung on the spot  kalau lagi stress dan lagi ada waktu buat muter-muter. Tapi... ternyata gw jadi kesel tiap abis belanja online, gw harus berurusan dengan plastik-plastik bekas belanja.  "Dih plastik lagi." Emang, beberapa barang tentu saja perlu plastik/ bubble wrap  ekstra. Tapi banyak dari belanjaan gw yang nggak perlu itu semua. Tebel banget. Gw paham juga beberapa toko lebih milih dibungkus plastik tebel biar tokonya nggak dikomplain. Tapi bagi gw, udah kebangetan.  Gw tau kita nggak bisa sepenuhnya nggak pakai plastik. Kita masih akan pakai plastik. Konsekuensinya, ya kita harus tau sampah plastik ini harus diolah gimana biar nggak kebuang sia-sia. Mana nggak bisa terurai ratusan tahun lagi.  Masalahnya, plastik ini seringkali nggak bisa dipake lagi karena selotip yang muter. Susah lah di- breakdown lagi biar bisa dipakai ulang. Akhirnya, tentu saja dibuang pe

Bicara tentang kontrasepsi



Kontrasepsi apa yang cocok buat saya? Ya yang alami aja lah ya

Saya belum menikah sih. Tapi sudah dipaksa mikir sampai sejauh ini. Yaaaaaaaaaa itu karena ini penting juga buat sex life. Penting! Penting! Jadilah saya terpaksa nyari-nyari informasi yang berkaitan dengan kontrasepsi.

Menyoal kontrasepsi, hmmm ini sebenernya udah jadi concern saya sejak saya mengenalnya untuk pertama kali. Waktu SMA maksudnya. Sejak pertama belajar dan mengenal alat kontrasepsi, saya seketika itu berpikir ‘No way, there is no safe contraceptive’, meskipun kondom aman tapi kata penggunanya itu ‘nggak enak’. You got what I mean?

 bapak-bapak jangan teledor ya kalo nyimpen hehee 
(cartoonstock.com)

Jadi bukan karena saya islam dan menolak menggunakan kontrasepsi karena saya tidak ingin menolak rejeki. Eyyy no!!! bukan begitu. Saya memang ingin memiliki anak 2 atau 3 tapi kan bukan berarti nolak rejeki jadinya nggak mau pakai alat kontrasepsi. Hemmmmmmmmm ini sih kata beberapa orang kalo orang yang agamanya dalem banget katanya nolak kontrasepsi. Kurang tau juga sih, tapi yang jelas alasan saya menolak kontrasepsi ya murni karena health reason.

Pertama kali mengenal alat kontrasepsi, saya seketika mengatakan ‘No pills’. Iya, efeknya terlalu menyeramkan. Saya mengenal bagaimana reaksi badan saya, itulah kenapa saya keukeh nggak mau pil. Seorang teman mengeluhkan sakit pinggang yang luar biasa, migren yang selalu rajin menghampiri, mood swings ini udah jelas, dan yang bener-bener amazing banget itu gara-gara sakit pinggang dia selalu pakai koyo. Dan itu sehari bisa habis satu pak. Itu pinggang ato apa sih. Padahal yang dipakai koyo cabe. Panasnya banget kan. Setelah itu dia konsultasi dokter, dokternya bilang ‘Mbak, tolong hentikan pil KB ini mbak. Otherwise you will get a heart attack. You are close to it now’. jederrrrrrr kaget lah dia. Nggak keren kan kena serangan jantung gara-gara pil KB. Nah berhentilah dia dari konsumsi pil KB. Yang menyebabkan budget beli koyo juga berhenti total. Dia sembuh total dari sakit pinggang konyol itu.

picsource : cartoonstock.com

Alat KB lain yang saya kira kategori aman itu IUD. Katanya buku paket di SMA begitu. Rada aman. Jadilah saya agak observasi. Kayaknya sih aman. Kayaknya. Ehhh ternyata, belum satu bulan temen lairan, dia langsung pasang IUD. Eh IUD nya ilang gatau kemana. Harusnya ada ditempatnya, eh jalan-jalan. Kata dokternya ‘Yaudah mbak, tunggu aja 7 taun lagi’. Ya kali kalo dia pengen punya anak lagi dalam jangka waktu 3 taun gimana? Susah kan. 

Ada lagi nih cerita serem IUD dari mamanya temen. Dia tiba-tiba WA bilang kalo mamanya mau operasi untuk mengambil IUD yang hilang. Hemmm saya penasaran kan efeknya apa selama IUD ilang itu? Katanya sakit perut sewaktu menstruasi dengan tingkat sakit hampir menyamai kontraksi pas lairan. Pinggang juga sakit. Sering pingsan, dan masih banyak gejala lainnya. Serem kan. Berkali-kali si tante masuk rumah sakit gara-gara sakit tak tertahankannya. Duhh duh IUD coret

Dari dulu, jika memang harus menggunakan kontraseptif, saya selalu memilih yang alami. Maksudnya system kalender. Itu jaman saya SMA sih, sistem alami cuman kalender ini aja. Tapi high risk. Bisa bobol. Nah tapi masih keukeh pakai system alami. Sampai sekarang pun saya masih belajar tracking cycle of menstrual. Karena emang siklusnya nggak pasti, paling cepet 28 hari, paling lama 41 hari. Duhh nyerinya itu lho yang bikin senewen cantik. 

Untuk tracking fertile period, saya pakai app Kindara. Dia ada juga alatnya buat bantu cek suhu tubuh dll. Tapi karena saya belum perlu, at least saya belum mau hamil atau mencegah kehamilan kan sekarang, jadi saya cuman pakai appnya untuk tracking masa menstruasi yang loncat loncat kayak ballerina. 

Kindara lengkap dengan alat yang namanya Wink buat kayaknya sih buat tes suhu badan dll gitu. Dan jujur saya sih masih nggak bisa baca grafiknya. suka pusing sendiri kalo baca. picsource : kindara.com


Kemaren-kemaren udah dipaksa sama si mas buat mikirin soal kontrasepsi, alat yang mana yang mau dipake. Nah saya bilang aja, ‘gapapa aku pake alat kontrasepsi, tapi jangan protes kalo migrenku makin parah, tiap hari mood swing, pinggangku parahnya ga ketulungan dan libidoku menurun’. Wes langsung dia nyari info soal kontrasepsi alami. Dia terlalu sayang untuk menyiksaku seperti itu hihihi

Kabarnya, bakal ada pil untuk cowok. Dia bilang sih mau pake kalo emang beneran jadi. Rencananya sih taun depan produksi. Ya saya bilang aja 'ok nggak apa-apa asal nggak ada side effectnya. Kalo ada efeknya mending nggak usah sama sekali deh'. Karena hal yang berhubungan dengan hormonal itu susah. Nanti bisa jadi saya normal tapi dia yang mood swing. Wahhh ya syusahhh.

Ada sih beberapa alat yang bantuin ngecek suhu tubuh, kadar ini itu, tapi ya mahal. Ohh at least mahal juga sekali beli kan, no side effects juga. Jadi kayaknya ini bakalan jadi pilihan kontrasepsi deh. Ribet sih, tapi sehat. Daripada praktis tapi membunuh perlahan. Sekarang sih lagi ngincer satu alat buat natural birth control. Ntar deh kalo beneran udah pake alatnya, pasti langsung share ke sini. Tapi ya masih bertahun-tahun lagi hahaha


Ini bukan promosi apapun, cuman sharing kok. Kali aja bisa jadi pertimbangan. bukan endorseeeeeeeee

Comments

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

The Reward of Teaching

Buku belajar Bahasa Indonesia dalam berbagai bahasa. I've become a teacher since semester 9. That being said, my teaching journey started in 2013. Took hiatus for 2 something years then I came back to these exam sheets, students, books, and social interactions. Didn't even want to become one but I fell in love right after I jumped in.  I guess I need to ask to apologize to my dad. I was mad at him a long time ago because he asked me to be one lol. Well, maybe I just didn't like the idea of being a teacher in a class where your students don't even care about you telling stuff in front of the class. That actually made me realize that I prefer to teach whoever wants to learn. Although sometimes I just need to teach without knowing what's their reasons to learn, and that is also fine. I do what I had to do. That is why I hate grading because I don't mind giving them a perfect score but what's the point if they know nothing after the course ended? I never teach a

Feeling Balanced

Never thought that I could feel this balanced. I now understand what zen is.  After all ups and downs that made me question my existential (probably won't be the last), I am starting to feel only love and less hate. As if love and compassion filling my heart every day. It's easy to annoy me normally, but so far, this past couple of months I feel less annoyed. So weird, crazy, yet amazing. Say, when I hear people talking about things I prefer not to talk about, like polygamy, I don't feel hate anymore. Usually, I'll say bad words, cursing them, you name it. But last night I watched a video about that and it made me feel "HA HA HA Stupid ignorant reasons" that was it. I thought I'll be emotional and angry, but I didn't. I even take pity for them. I know it's their right to do so, but the youngest wife wanted to go to college, and instead, she is married to that old guy who promised her to pay for her college. But that never happens (yet) even after 3

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik' Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_- Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya. Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kala