Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Banting Setirnya Perhotelan

Artotel Beach Club yang nggak pernah sepi

Pandemi udah lebih dari setahun dan masih aja nggak tau ini kita kapan bakalan usai. Gw tinggal di Bali dan gw tau gimana setahun setengah ini geliat pariwisata yang hidup segan matipun tak mau. Lingkungan gw lebih ke arah Sanur jadi gw tau gimana ngeliat sepinya Sanur di awal pandemi hingga sedikit ramainya Sanur saat ini. 

3 bulan awal pandemi, hampir semua tutup. Sepi mamring kalo kata orang Jawa. Jalan kaki aja cuma mentok bertiga. Bahkan ada yang berendam di pantai pun masih pakai masker. Sepi banget. BANGET. Jadi kalau gw keluar rumah buat jalan-jalan pasti ke Sanur karena sepi dan ngerasa aman aja sih. Nggak bergerombol. 

Memasuki masa 3-6 bulan pandemi, hotel-hotel mulai membuka sistem sewa jangka panjang. Harganya? Tutup mata deh, saking hancurnya. Hotel yang biasanya seminggu 7 juta, ini bisa sebulan 7 juta. Ada juga yang sewanya 3juta/bulan dan bener-bener di hotel bintang 4. Sewa dibikin mingguan dan bulanan. Saat itu masih banyak ditempati para WNA yang nggak sempet pulang karena tetiba penerbangan ditutup semua. Jadi hotel-hotel tersebut masih bisa bernafas. Setidaknya bisa menutup pengeluaran yang pasti harus dibayar.

Lalu, banyak dari mereka yang pulang kampung dan hotel jadi agak sepi lagi. Gimana caranya bertahan? Dibukalah sewa kolam renang mulai dari harga 20 ribu - 150 ribu. Mulai dari fasilitas berenang saja, hingga ada yang mendapatkan handuk, kopi dan makan siang lengkap. 

20 ribu aja

Di sini paket berenang 85 ribu dapat makan, minum dan handuk

Hotel-hotel bintang 3-5 yang bukan merupakan homestay milik orang Bali sendiri satu persatu mulai berguguran. Memang ada yang tutup mulai awal, ada yang tutup mulai pertengahan dan satu persatu bangkrut. Bangkrut dalam artian bener-bener nggak ada yang merawat sama sekali, rusak sana sini. Kalau yang homestay milik pribadi biasanya banyak yang masih bertahan karena ya itu juga rumah yang punya. Crazy rich lah intinya mereka ini. Meski nggak ada yang mampir atau beli, mereka tetap buka.

Restoran yang tadinya jual harga mahal, sekarang terpaksa nurunin harga bahkan paket makanan mereka. Dulunya yang standar per menu 50 an, sekarang bikin rice box harga 10-15 ribuan. Ada yang bener-bener enak banget. 

ricebox 10 ribuan, ayam sambel matah

Gimana kondisi Sanur saat ini? Rame lho. Dalam artian banyak hal baru yang berkembang dari tutupnya usaha mereka sebelumnya. Rame pengunjung. Banyak yang jualan baju secondhand (my luv). Gw bisa bilang harga-harga yang mereka tawarkan ini sangat terjangkau. Bisa dibilang normal malah. Jadi mungkin dulu nggak bisa beli sesuatu di tempat wisata karena "mahal" atau harga turis, sekarang, bisalaaahhh. 

Tetep jaga kesehatan ya guys. Semoga kenistaan ini segera usai 💚

Comments

  1. dibelitung juga mbak, hotel pada sesak nafas. dihantam pandemi ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sesek banget ini yang pariwisata. di Bali krasa banget karena yg dijual cuma itu hehehee tapi kreatif juga sih mereka buka sistem sewa pool gini. meskipun ga nginep tapi mereka keluar duit sewa plus beli makan lah minimal. ada yang muter duitnya.

      Delete
  2. Sedih sekali ya Bali ..
    Mudah² segera bergeliat kembali.
    Di Bali itu every day is holiday.
    Sudah lama sy gak ke Bali, mudah²an bisa ke sana lagi kalau sudah kondusif dan sudah tak ada lagi aturan ini itu yang merepotkan dan menambah biaya.

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aakk bener banget. kondisi saat ini di Bali sih, kalau secara keseluruhan kurang tahu ya. tapi kalau daerah dps ke sanur sih orang2nya kebetulaan taat pake masker. ga ada bule yang gila juga hehehe

      semoga segera usai ya. aturan ina inu memang menambah biaya perjalanan banget :(

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...