Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Bye Privacy

Toilet di Sanur

Semenjak perkembangan teknologi makin ugal-ugalan, yang kita serahkan adalah privasi kita. Gw rasa nggak semua dari kita cukup jeli dan cukup sabar buat bacain T&C aplikasi yang kita unduh. Main iya iya oke oke aja biar cepet bisa dipake. Iya nggak?

Oh jangan salah, gw suka banget dengan teknologi. Gw bukan orang yang demen ribet jadi kalau dipermudah teknologi, gw bakalan pake pasti. Terutama yang untuk mempermudah hidup. Gw suka kepraktisan dalam hidup.

Makin gw sadar soal privacy breach akhir-akhir ini. Gw pernah instal salah satu app untuk Shopify, app tersebut plugin untuk chat service gitu. Ketika kita tes, ternyata si owner bisa lho ngeliat apa yang diketik, dihapus dan hendak dikirimkan dari user ini. Mirip seperti kita sedang ujian, tapi kertas jawaban kita diliatin sama pengujinya. Otomatis ketauan dong mau ngetik apa, sopan gaknya, mau maki apa gak. Ketauan. Ngeri.

Lalu berlanjut dengan aplikasi lain yang kami perlukan, yaitu konversi mata uang. Apa yang mereka inginkan? Standar lah, geolokasi, data customer, email dan tetek bengeknya. Tentu saja ini untuk melihat perilaku konsumen dalam hal belanja online, agar bisa ditampilkan iklan yang sesuai. Jangankan yang udah dicek, mau beli apa masih dalam kepala aja udah kebaca sama google.

Jadi mikir, gw terlahir tanpa chip di kepala gw kan?

Ada yang tau nggak kecerdasan buatan soal fake video, fake image yang hasilnya keliatan banget aslinya? Orang-orang pada main filter instagram, snapchat, face swap, apapun itu dengan menggunakan wajah mereka untuk ditempel di badan orang lain. Lucu sih. Seringkali emang bikin ngakak, gw suka ngeliatnya juga. Tapi gw nggak pernah pake sekalipun. 

Lebih lucu lagi, wacana soal paspor yang menggunakan retina scan banyak yang nentang katanya privacy breach, tapi face swap juga ikutan main. Mending juga kalo data-data penting gitu gapapa pake scan sidik jari atau retina.

Masih banyak juga pengguna yang kalau dapat pertanyaan iseng dari orang yang nggak gitu kenal juga masih dijawab aja. Nama ibunya siapa, nama hewan piaraannya apa, lebih parah lagi ada yg mau kasih foto KTP dan selfie 😑 Eh iya, kemaren di twitter ada yang foto bungkus nasi kucing pake KK 😂 Gak satu hey, seloyang 😂 Ini gimana sih, kitanya yang abis belanja online aja nama langsung dibakar disobek. Mbok ya kalo ada fotokopian data macem gitu mbok tolong dibakar aja. Jangan dikiloin dong, ngeri banget.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah? Hmm... pilihannya ya nggak pake teknologi apapun (yang mustahil banget) atau berhati-hati dalam menggunakan apapun terutama yang terkoneksi dengan internet. 😅 Jangan lupa pasang dobel otentikasi kalau ada. Meskipun sekarang kebanyakan juga semua dobel otentikasi sih. 

Pokoknya harus hati-hati banget guys 😉 

Comments

  1. Teman saya baru kebobolan dengan cara sadar, dia melakukan transaksi pinjol, uang nya raib digasak penelpon yang meretas akun banknya.

    Diawali dari akun Shopee yang dibobol, pelaku tahu transaksi dari akun Shopee si teman saya ini, lalu diarahkan ke pinjaman online, di sana dia diiming-iming yang akhirnya membuat akal sehatnya tertutup. Dana 10jt raib, gitu saja, padahal sudah sempat masuk rekening pribadi, tapi rekening pribadi langsung digasak maling itu, habis bis.

    Perkembangan teknologi perlu disiasati dengan kecerdasan pula pemakaianya, dan harus logika juga. Jika gak ya kemakan teknologi itu sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun 😱 semua hal yang behubungan dengan uang dan internet ini juga makin lama makin sensitif banget. Harus bener-bener diamati, hati-hati juga. Gila bisa sampe dibobol begitu :(

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men